21 Maret 2018

Berobat TB Gratis di Seluruh Indonesia


Berobat TB Gratis di Seluruh Indonesia

“Di Seluruh Indonesia Biaya Pengobatan TB Gratis”. Begitu pernyataan Pak Anung, Dirjen P2P Kemenkes RI dalam acara Lokakarya Bloggers “Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat” di kantor Kemeneterian Kesehatan Republik Indonesia, Gedung dr. Tajudi lantai 3, dalam rangka menyambut hari Tuberculosis dunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2018 nanti.

Gue dan puluhan blogger yang hadir disana ikut merasa senang mendengar kabar gembira tersebut. Betapa tidak, untuk menyembuhkan penyakit TB diperlukan pengobatan rutin sedikitnya selama 6 bulan tanpa jeda. Selama itu pula, si pasien harus mengkonsumsi sejumlah obat yang diracik khusus, sehingga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Bahkan untuk penderita TB yang resistant terhadap obat, mereka harus menjalani pengobatan selama kurang lebih 2 tahun tanpa jeda. Sungguh sesuatu yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Sebab selain mendapatkan stigma negatif mengenai penyakit TB, si pasien juga harus memikirkan biaya pengobatan-nya.

Anung Sugihartono, Dirjen Kemenkes RI

Tahukah kamu berapa biaya berobat seorang pasien TB sekali checkup? Dari pengalaman seorang teman penderita TB, paling tidak keluar biaya 500 ribu, itu diluar biaya transport dan mungkin akomodasi bagi yang tinggal di daerah terpencil.

Untuk mengkomparasi pernyataan dari pak Dirjen dengan kenyataan di lapangan, gue langsung melakukan konfirmasi dengan beberapa teman di media sosial, dimana mereka adalah penderita TB, dan memang benar bahwa pengobatan TB itu GRATIS.

Berobat TB Gratis Seluruh Indonesia

WHO mencatat, setiap 3 menit sekali satu orang meninggal dunia disebabkan penyakit TB, dan Indonesia masuk 5 besar negara dengan penderita TB terbanyak didunia. Sebanyak 1,02 juta penduduk Indonesia tercatat sebagai penderita TB, dan 400 ribu orang lainnya diperkirakan terjangkit TB, namun mereka tidak teridentifikasi. Parahnya mereka “menyelip” diantara jutaan penduduk lainnya yang sehat, sehingga berpotensi menularkan kuman Microbacterium Tuberculesis, virus jahat penyebab penyakit Tuberkulesis atau TB.

Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB juga perlu mendapatkan perhatian. Banyak diantara masyarakat yang meyakini kalau TB adalah penyakit kutukan, penyakit turunan dan bahkan ada yang mempercayainya sebagai penyakit akibat guna-guna yang tidak ada obatnya. Mereka juga enggan periksa karena menilai pengobatan penyakit TB itu butuh biaya mahal. Padahal sudah jelas, seperti yang di katakan oleh pak Pandu, Komisi Ahli TB dari Kemenkes RI:

Penyakit TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Microbacterium Tuberculesis. Ciri-ciri tubuh yang sudah di gerogoti oleh kuman ini adalah batuk terus menerus (baik berdahak maupun tidak berdahak), demam (meski tidak terlalu tinggi), berkeringat tanpa sebab, nyeri di sekitar dada, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun”.

Pandu Riono, Ahli TB Indonesia

Jika mempunyai gejala seperti tersebut diatas, maka segeralah memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, untuk dilakukan Tes Cepat Molekuler (TCM). Tes ini langsung bisa diketahui hasilnya dalam waktu 90 menit saja. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan terserang TB, maka si pasien diwajibkan melakukan treatment pengobatan TB. Semuaya gratis ditanggung penuh oleh pemerintah.

Penularan dan Pencegahan TB

Virus TB mudah sekali menular melalui udara bebas, dan berkembang biak di organ penting seperti paru (TB Paru), Tulang (TB Tulang), dan bahkan Kulit (TB Kulit).

Parahnya, virus ini bisa melakukan hibernasi (bersemedi) didalam sel organ yang dihinggapinya, kemudian akan keluar dari sel dan kembali berkembang biak serta menyerang organ disaat kondisi imun si korban menurun. Oleh karenanya pengobatan penyakit ini tidak boleh setengah-setengah. Harus tuntas hingga organ yang diserang benar-benar bebas TB. Malahan jika pengobatannya setengah-setengah, si virus akan semakin kebal terhadap obat TB, dan proses penyembuhan menjadi lebih lama, yaitu 2 tahun. Biaya pengobatan jadi ikut membengkak 200 kali lipat.

Di sesi acara tanya jawab, salah satu rekan Blogger menceritakan mengenai kondisi temannya yang terkena TB tulang, kemudian menularkannya kepada istrinya, sehingga istrinya divonis terkena TB paru. Keduanya kini menjalani treatment pengobatan gratis dari pemerintah. Yang membuat mereka kawatir adalah anaknya akan terkena TB, sebab si istri sedang mengandung.

Namun jawaban pak Pandu membuat lega. Ternyata bayi yang dikandung oleh seorang ibu penderita TB tidak akan tertular TB, karena TB bukan penyakit turunan atau genetik. Penularan TB melalui udara, sedangkan bayi dalam kandungan tidak bernafas via udara. Hanya saja, ketika si bayi lahir, perlu diwaspadai supaya tidak terkena TB.

Tindakan pencegahan penularan virus TB :
  1. Meminum OAT secara legkap dan teratur
  2. Menutup mulutnya pada saat bersin dan batuk
  3. Tidak membuang dahak di sembarang tempat, harus dibuang di tempat khusus dan tertutup
  4. Menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti : menjemur laat tidur, membuka jendela dan pintu setiap pagi, makan makanan bergizi, tidak merokok dan minuman keras, dan olahraga secara teratur.
Etika batuk bagi penderita TB



Stigma Negatif dan Perlakuan Masyarakat Terhadap Penderita TB

Dulu, sebelum adanya program pengobatan gratis untuk pasien TB, seorang penderita TBC mengalami dua tekanan secara bersamaan, Yaitu tekanan biaya pengobatan dan stigma negatif yang akan diterimanya dari orang-orang terdekatnya, sehingga mengidap TBC adalah suatu ujian terberat dalam hidupnya. Namun dengan adanya obat TB gratis dari pemerintah, setidaknya beban penderita TB sedikit berkurang.

Permasalahan yang sekarang dihadapi adalah orang yang terkena TB hidupnya merasa minder karena mendapatkan perlakuan dan stigma negatif dari masyarakat. Orang disekitarnya merasa tidak nyaman dan takut tertular, sehingga cenderung menjauh dan bahkan mengisolasi si penderita.

Salah satu penderita TB SORO (TB dengan Sensitif Obat dan Resisten Obat), pak Edy menceritakan bagaimana mendapatkan stigma negatif dari orang di sekelilingnya. Bahkan mertuanya sendiri menjauhinya lantaran beranggapan bahwa sakit TB nya adalah penyait turunan dari keluaarga nya. Petugas di Rumah Sakit juga kerap membuat pak Edy minder. Setiap kali periksa, dirinya selalu ditempatkan di nomor urut terakhir, entah kenapa, padahal dia datang lebih awal.

Pak Edy harus berjuang melawan penyakitnya, sambil menjadi orangtua tunggal untuk kedua anaknya, karena istri yang dicintainya lebih dulu meninggal. Awalnya pak Edy terkena TB SO, namun karena berobatnya tidak tuntas, kemudian merembet ke TB SORO. Obat yang dikonsumsi nya mengandung efek insomnia, membuat waktu istirahatnya berkurang. Namun tekadnya untuk sembuh mengalahkan segala aral yang melintangi jalannya. Setelah berobat selama 21 bulan tanpa jeda, akhirnya pak Edy dinyatakan sembuh total dari TB.

Edi Junaedi, Penderita TB SORO

Beliau bersyukur dan berterimakasih kepada teman-teman dari PETA (Pejuang Tangguh), sebuah organisasi komunitas yang beranggotakan mantan penderita TB. Para anggota PETA getol memberikan supprot dan dorongan kepada para penderita TB agar kuat menjalani treatment pengobatan hingga sembuh. Maklum mereka merasakan betapa beratnya seorang penderita TB harus telaten melawan penyakitnya. Hingga hari ini, anggota TB seluruh Indonesia sudah mencapai 16 ribu orang yang siap menjadi kader untuk memberantas virus TB, dalam rangka mensukseskan program TOSS (Temukan, Obati Sampai Sembuh) TB.

Blogger Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat

Yuk kita dukung TOSS TB, menuju Indonesia bebas TB tahun 2050..! Obati TB sampai sembuh, GRATIS..!

12 komentar:

  1. mengkonsumsi obat TB memang butuh waktu, tapi saya yakin dengan dukungan keluarga dan sekitarnya,bisa melalui tahapannya agar bisa sembuh dan sehat lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah banyak contohnya mbak uci. teman teman dan keluarga dekat yang kena TB sembuh setelah istiqomah 6 bulan lamanya. ALhamdulillah.
      Thanks mba sudah mampir ke catatan kecilku ini.

      Hapus
  2. Kita kabar kan hingga pelosok negeri, TB bisa sembuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo sukseskan Indonesia Bebas TB 2050. terimakasih sudah mampir kemari :)

      Hapus
  3. Minimnya pengetahuan membuat mereka di kucilkan. Kasihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas kita untuk memberikan edukasi dan sharing lewat media digital mpok.
      terimakasih ya mpok ude mampir dimari, besok ane balik kunjung ke rumah mpok.

      Hapus
  4. Pengalaman pribadi mama aku pernah minum obat TB selama 6bulan dan alhamdulillah sembuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulllah semoga mamah nya diberikan kesehatan selalu, dan berkah di sisa usianya. aamiin.

      Hapus
  5. Batuk juga harus beretika ya, Ki. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan batuk mba, sejak kecil kita selalu diajarkan untuk beretika didalam setiap tingkah laku kita.

      Hapus
  6. Lewat tulisan ini masyarakat mendapat info yang benar tentang TB. So, ga perlu ada stigma negatif pada pasien TB. Mereka butuh dukungan untuk sembuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biarlah mereka para kader PETA berjuang dengan tindakan, kita berjuang lewat tulisan.
      Salam perjuangan berantas Virus TB. Indonesia bebas TB 2050

      Hapus

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....