25 Februari 2017

Visit Tidore Island - Pulau Misteri Yang Menyimpan Sejuta Pesona


Peta Potensi Wisata Tidore

Pulau Misteri - begitu saya menyebut Pulau Tidore. Entah kenapa sebutan itu langsung menempel di kepala saya setelah menjajal permainan mistis khas Tidore, Baramasuwen. Permainan mistis?? Ya!, Orang diluar Tidore menyebut permainan ini dengan nama Bambu Gila, sedangkan orang asing menyebutnya Crazy Bamboo *ini sama saja sih ya, bambu gila juga maksudnya J

Saya sudah lama mengenal permainan ini sejak kecil di sebuah acara televisi, dan waktu itu saya penasaran, “Masa iya sih selonjor bambu dibawa tujuh orang saja pada enggak kuat, kayak di film-film Mak Lampir saja yang pada nggak kuat ambil Cemeti Amarasuli, atau kaya di film Tutur Tinular yang pada rebutan Pedang Naga Puspa” begitu batinku bicara saat melihat atraksi Bambu Gila via layar televisi.

Konon, bambu yang cuma selonjor itu seolah ada kekuatan diluar nalar saat dimainkan, sehingga terasa berat. Tadinya saya pikir cuma mitos, Eternyata beneran, saya mencobanya sendiri saat permainan itu digelar di sebuah acara Blogger gathering bersama Ngofa Tidore (anak anak Tidore) di daerah Depok tempo hari. Kebetulan di akhir acara ada atraksi Baramawuen. Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan langsung mengajukan diri menjadi peserta permainan.

Mencoba Permainan Baramasuwen

Permainan ini dipimpin oleh seorang Pawang dan diikuti oleh empat sampai tujuh orang yang memegang selonjor bambu dengan panjang tujuh ruas. Masing-masing peserta berpegangan pada satu area ruas bambu. Kalo bambu nya sih saya lihat menggunakan jenis bambu tali. Ituloh, bambu yang biasa dipakai untuk atap rumah. Bambu jenis ini memang terkenal bagus dan awet, memiliki ruang yang lebar di tengahnya, namun struktur kulitnya kuat, dan tahan rayap.  Selain kami dan si Pawang, di sebelah sana juga ada beberapa orang yang bertugas menabuh Tifa, musik tradisional Tidore. Musik Tifa akan ditabuh selama permainan berlangsung.

Apa yang saya rasakan saat memainkan Baramasuwen?

Saya tadinya mengira peserta permainan Bambu Gila itu dalam kondisi tidak sadar, ternyata setelah merasakan sendiri, kami memainkannya dalam kondisi sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Setelah semua pemain siap pada posisinya, permainan dimulai. Si Pawang mulai menyalakan arang batok kelapa dan menaburkan serpihan kemenyan ke dalam wadah mangkok. Asap dan wangi kemenyan mulai terasa menyengat. Si Pawang kemudian membacakan mantera dan mengipas asap kemenyan dengan telapak tagannya ke arah tujuh ruas bambu, kipasan kemenyan diarahkan ke area batas ruas bambu yang dipegang oleh para peserta. Bersamaan dengan itu, alat musik Tifa mulai ditabuh perlahan, kemudian semakin cepat dan nyaring. Saat itu saya belum merasakan beratnya bambu.

Setelah selesai membagikan asap kemenyan, si Pawang kemudian menuju ujung barisan peserta dan menempelkan telapak tangannya di ujung bambu, mulutnya terlihat komat kamit membaca sesuatu. Kamipun mulai merasakan bambu yang kami pegang semakin berat. Selama permainan berlangsung, musik Tifa terus berkumandang, semakin lama semakin cepat, dan gerakan bambu mengikuti ritme tabuhan Tifa. Saya dan keenam peserta lainnya mengikuti kemana batang bambu bergerak. Anehnya, ketika si pawang mengangkat mangkuk yang berisi arang dan kemenyan, bambu yang kami pegang seakan terbawa ke atas, begitu juga saat mangkuk digerakkan ke bawah. Kamipun hanya bisa mengikuti kemana arah bambu, sambil berusaha memegang erat batang bambu yang beratnya setara satu orang dewasa. Yang membuat kami kewalahan adalah, gerakannya kadang berpindah pindah, kadang dari ujung sebelah kanan, dan sesekali pindah ke sebelah kiri. Posisiku kebetulan berada di tengah, jadi tidak begitu terasa terombang ambing.

Sesekali tangan si Pawang melakukan gerak isyarat menghalau bambu, dan kamipun ikut  terpental seperti mendapat serangan tenaga dalam. Terang saja, hanya beberapa menit kami memainkan permainan ini, keringat bercucuran.

Melihat kami merasa kelelahan, si Pawang pun menyudahi permainan, mengambil posisi di ujung bambu sambil komat kamit. Bobot bambu yang kami pegang pun kembali seperti semula.
Meski permainan telah usai, dan sudah kembali ke rumah, rasa penasaran masih terus menghinggapi batin  ini. Difikir secara logika koq ngga nyambung-nyambung yah... *ah, sudahlah....

Mending nonton atraksi Baramasuwen yang kami mainkan bersama Ngofa Tidore ini yuk..!



Tidore Menyimpan Sejuta Pesona

Suerr..., selain permainan Bambu Gila, banyak hal yang membuat saya kagum dan penasaran dengan Tidore. Saya mengenal Tidore hanya lewat buku-buku sejarah waktu SD. Diceritakan disana, bahwa Tidore adalah sebuah kerajaan kecil di daerah Maluku, Nusa Tenggara Timur, yang dijajah oleh Portugis dan Spanyol pada abad ke XV. Saat itu wilayah kekuasaan kerjaan Tidore sedang jaya jayanya. Wilayahnya meliputi pulau Tidore, sebagian wilayah pulau Halmahera, dan beberapa wilayah di Irian Barat atau Papua.

Istana Kerajaan Tidore

Tidore tidak sendiri, di Kepulauan Maluku setidaknya ada 3 kerajaan kecil lainnya yang bernasib sama, dijajah oleh bangsa Eropa, yaitu Ternate, Bacan, dan Jailolo. Keempat kerajaan kecil di kepulauan Maluku itu menjadi tanah jajahan bangsa Eropa karena menyimpan sumber daya alam yang pada zaman itu sangat diperlukan oleh mereka, yaitu rempah rempah. Konon, rempah-rempah dari daerah ini bernilai tinggi.

Eropa yang berhawa dingin sangat membutuhkan konsumsi makanan yang bisa menghangatkan tubuh, dan rempah-rempah menjadi bahan dasarnya. Bangsa Eropa rela melakukan perjalanan laut ribuan mil hanya untuk mendapatkan rempah sebagai bumbu makanan. Dari sekian banyak rempah-rempah di dunia, rempah-rempah dari kepulauan Maluku menjadi salah satu produk yang bergengsi. Cengkeh dan Pala adalah komoditi utama Pulau Tidore.

Konon di Eropa sana, olahan rempah dari Maluku menjadi produk berkelas yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan ningrat saja. Cengkeh misalnya, dibuat rokok cerutu yang hanya dipakai oleh kalangan tertentu. Orang Eropa yang merokok dengan cerutu hasil olahan Cengkeh Tidore memiliki prestise dan gengsi yang tinggi saat menikmatinya. Cerita rokok istimewa ini saya tahu dari ahli sejarah kenamaan, JJ Rizal.

Tak heran jika nama Tidore familiar di kalangan bangsawan Eropa. Ibarat medsos, Tidore kala itu menjadi viral dan jadi trending topic disana... hmm.. kebayang aja kalo sudah ada google, pasti tuh Tidore pasang Adsense.. xixixi ^_^

Apa saja yang menjadi daya tarik Tidore?

Dari hasil diskusi kami dengan Ngofa Tidore, di Tidore ada banyak sekali potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan, salah satunya adalah potensi wisata. Hanya sayangnya, akses menuju kesana masih minim.

Meski minim infrastruktur transportasi menuju kesana, ibarat membeli paket KFC, wisata yang ada di Tidore itu seperti paket komplit, karena hampir semua spot wisata ada Tidore, dari mulai wisata alam, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata religi, hingga wisata edukasi. Jarak antar spot wisata juga tidak terlalu jauh, karena Pulau Tidore sendiri bisa di kelilingi hanya dengan waktu singkat, sekitar satu jam perjalanan darat.

Apa saja yang menarik di Tidore? Yuk, simak informasi yang saya dapatkan dari hasil saya ngariung bareng Ngofa Tidore.

Hopping Island di 3 Pulau Eksotis

Pulau Tidore dikelilingi oleh tiga pulau yang memiliki daya tarik untuk disambangi. Tidak afdhol rasanya jika berkunjung ke Tidore tanpa menyambangi pulau-pulau ini. Di sekitaran pulau ini ada 6 spot diving yang recommended untuk di explore.

#1 - Pulau Failonga - Meski pulau Failonga tidak berpenghuni, tapi pulau ini aman untuk dijelajah, karena memiliki pasir pantai yang halus dan berwarna putih, sehingga ramah di kaki . Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal boat dari Ternate atau Tidore. Ibarat di Sulawesi, Failonga adalah “Bunaken” nya Tidore. Pemandangan bawah laut di sekitar pulau ini sungguh memukau. Tahu sendiri kan kalo wilayah Tidore itu adalah wilayah gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi, jadi bekas letusan di zaman purbanya menyisakan pemandangan bawah laut yang sangat indah.

#2 - Pesona Pulau Mare - Selain Failonga yang memiliki pemandangan bawah laut, Pulau Mare juga tak kalah menawan. Jika Failonga hanya memiliki satu spot diving, Pulau Mare memiiki 2 spot diving yang recommended. Dan jangan heran jika saat diving nanti kita bertemu dengan kawanan lumba-lumba, karena memang Pulau Mare adalah tempat peristirahatan lumba-lumba. Pulau ini berpenghuni, dan penduduknya memiliki keahlian membuat gerabah. Konon tanah di pulau ini memiliki tekstur tanah lempung terbaik di wilayah Tidore. Pulau Mare bisa ditempuh dengan perjalanan laut 30 menit dari pelabuhan di Tidore Selatan.

#3 - Pulau Maitara Yang Melegenda - Tahu gambar gunung di pecahan uang seribu? Ternyata itu gambar pemandangan alam pulau Maitara yang dipotret dari Ternate, saya juga baru tahu loh hi hi. Pulau ini lokasinya berada diantara wilayah Ternate dan Tidore. Hanya butuh waktu 3 sampai 5 menit saja menggunakan speed boat. Di Pulau Maitara, begitu turun gunung, kita akan langsung bertemu pantai. Kebayang kan setelah turun dari kemping di puncak gunung langsung njebur ke laut itu rasanya seperti apa...

Selain 3 pulau eksotis yang mengelilinginya, pesisir pulau Tidore juga menyajikan panorama alam yang menarik untuk dinikmati. Pantai Rum dan Pantai Woda adalah dua pantai yang ramai dikunjungi wisatawan. Selain itu, pemandangan Teluk Guraping juga tak kalah indah untuk memanjakan mata yang butuh piknik kayak saya *KodeKeras :D :D

Tidore dicipta saat Tuhan sedang tersenyum :)


Wisata Alam dan Agro Wisata

Selain wisata laut, wisata pegunungan juga menjadi daya tarik Tidore. Tau sendiri kan gunung-gunung berapi disana sudah tidak aktif lagi, jadi aman untuk di jelajah.

#1 -  Gurabunga, Negeri Diatas Awan - Jika di dataran tinggi Dieng ada Desa Sikunir yang lokasinya paling puncak dan dijuluki Negeri Diatas Awan, di Tidore ada Desa Gurabunga. Jika beruntung dan cuaca cerah, dari puncak Gurabunga ini wajah Tidore bisa terlihat seperti gelaran karpet berwarna hijau, lengkap dengan warna birunya langit dan lautan, seolah mereka intim menyatu. Uniknya, keajaiban pemandangan itu bisa dinikmati dengan view 360 derajat.  

#2 – Air Terjun Sigela – Sesuai namanya, air terjun ini berlokasi di desa Sigela, kecamatan Oba, 4 jam perjalanan dari pelabuhan Sofifi, Tidore. Daya tarik air terjun ini adalah airnya yang sejuk dan pemandangan alam sekitar yang masih asri dan hijau.

#3 – Tayawi – Jika Bali memiliki Bali Bird Park, di Tidore juga punya Tayawi sebagai wilayah konservasi flora dan fauna. Disinilah tempat penangkaran burung-burung langka khas Tidore seperti burung bidadari, kakaktua, nuri, dan 109 jenis burung langka lainnya. Sekitar wilayah ini juga terdapat air terjun yang tak kalah keren dibanding Sigela, yang memiliki ketinggian hingga 30 meter.

#4 – Kalaodi – Berada di ketinggian 700 mdpl, Kalaodi menjadi daerah yang sejuk dengan pemandangan alamnya yang masih “perawan”. Kalaodi terkenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah. Durian asal Kalaodi menjadi buah favorit para pelancong yang singgah di Ternate. Dari Kalaodi, terlihat pemandangan langka berupa gunung, pulau, dan laut yang seolah menyatu. Pulau yang terlihat dari Kalaodi adalah Pulau Maitara, Pulau Halmahera, dan Pulau Failonga. Gemerlap kota Ternate juga bisa disaksikan dari puncak Kalaodi.

Selain keempat agro wisata diatas, beberapa wisata alam alinnya juga tersedia di tanah Tidore, seperti Luku Celeng dan sumber mata air Akesahu. Konon, Akesahu menjadi spot favorit buat kaum jomblo dan pasangan muda mudi, sebab disana berlaku mitos, bagi siapa saja yang mengikatkan kain merah pada akar pohon yang tumbuh di sekitar sumber mata air Akesahu, maka hubungannya akan langgeng. Saran saya sih buat kalian para cowok yang jomblo, jangan sekali-kali kesana berdua sama temen cowok kamu, siapa tahu temen kamu iseng mengikat kain merah di akar pohon sana, kan bisa berabe :D :D :D

Ragam Tradisi Unik dan Atraksi Menegangkan Khas Tidore

Oiya, selain wisata pantai dan wisata Alam, Tidore juga menyimpan tradisi unik yang dikemas dalam sebuah acara ritual khusus, dan menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri.

#1 - Atraksi Ratib Taji Besi, Debus Ala Tidore - Atraksi ini mirip dengan permainan Debus di Banten, hanya saja ini versi masyarakat Tidore. Di Indonesia, atraksi permainan seperti ini hanya ada di 3 daerah, yaitu di Banten, Aceh dan Tidore. Peralatan utama yang dibutuhkan untuk permainan Debus ala Tidore ini adalah dua buah batang besi bulat sebesar jari tangan, yang ujungnya dibuat tajam dan runcing, sedangkan ujung lainnya dibalut dengan kayu berbentuk bulat sebesar kepalan tangan, sehingga pas dipegang oleh tangan pemain. Besi ini nantinya akan di tusuk-tusuk oleh pemain ke sekujur tubuhnya.

Sama dengan permainan Bambu Gila, Ratib Taji Besi dimainkan oleh empat hingga tujuh orang, dan dipimpin oleh seorang Syeikh atau tetua adat yang memimpin permainan. Biasanya syeikh mengenakan jubah berwarna putih. Selain atraksi tusuk menusuk besi ke anggota tubuh, atraksi Ratib Taji Besi juga diselingi dengan atraksi lainnya, seperti menelan api, dan memasukkan api ke dalam jubah. Atraksi ini berlangsung selama 5 hingga 30 menit untuk setiap pemain, dan siapapun boleh menjadi pemain.

#2 – Ritual Lufu Kiye – Acara ritual ini sangat ditunggu-tunggu, baik oleh wisatawan maupun oleh masyarakat Tidore sendiri. Sebab, ritual ini adalah semacam ritual napak tilas perjalanan sejarah Tidore dan hubungan kekeluargaannya dengan saudara kuartetnya, yaitu Ternate, Bacan, dan Jailolo. Ritual ini digelar diatas laut. Biasanya digelar saat ulang tahun kota Tidore, dan dihadiri oleh orang penting pemerintahan serta seluruh elemen masyarakat. Ritual dengan mengelilingi perairan Tidore ini berlangsung sangat meriah namun penuh khidmat.

#3 - Ritual Dola Ora dan Kota Ora – Nah kalo ritual ini lahir pasca datangnya agama Islam di Tidore. Ritual ini digelar untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW di bulan Maulud. Biasanya masyarakat akan berkumpul di alun-alun dan acara diakhiri dengan makan malam bersama. Yang menarik, mereka ramai-ramai makan tumpeng raksasa yang tersaji di tengah alun-alun. Siapa saja boleh mengambilnya.

#4 - Ritual Tobo Safar – Sesuai namanya, ritual ini diadakan di bulan Safar (bulan kedua penanggalan Masehi). Jika di Bali ada upacara melasti dimana seluruh masyarakat diwajibkan mandi bersama di laut untuk membersihkan diri dari dosa, kurang lebih ritual ini juga memiliki makna filosofi yang sama. Prosesi ini dilaksanakan hampir di seluruh tempat di kota Tidore. Kebayang kan ramenya seperti apa.

#5 - Ritul Salai Jin – Meski namanya agak menyeramkan, tapi sebenarnya makna ritual ini adalah ungkapan rasa syukur atas hilangnya penyakit akibat ulah makhluk jin jahat. Yang menarik dari ritual ini adalah ragam peralatan yang digunakan, dimana menggunakan peralatan kerajinan dan makanan khas Tidore.

Ragam Kuliner Khas Kota Bumbu Masak (Tidore)

Tidore terkenal dengan kota bumbu masak, karena komoditi utamanya adalah rempah-rempah. Dari rempah-rempah pula nama Todore dikenal seantero jagad raya, hingga ke daratan Eropa. Nah, karena bumbu untuk masak nya tinggal ambil, kebayang kan kulineran di Tidore itu rasanya bagaimana. Kalo soal makanan, saya banyak stok nih fotonya, tapi jangan ngiler yah, apalagi mimpiin pengen kesana, kayak saya he he he *KodeKerasLagi :D :D :D

Aneka Rempah Khas Tidore

Aneka Kue Khas Tidore
Kue Apang Koe


Tarian Adat dan Wisata Sejarah

Saya mengenal dua tarian khas Tidore, yaitu tarian Soya Soya dan tarian Barakati. Tarian Soya soya dibawakan oleh kaum laki-laki dan tarian Barakati dibawakan oleh kaum perempuan.
Tarian soya soya mengisahkan tentang peperangan, dan diiringi oleh musif tifa dan gong. Dahulu tarian ini dilakukan untuk menyambut pasukan yang akan pergi dan pulang ke medan peperangan. Sekarang tarian ini digunakan untuk menyambut tamu-tamu istimewa pada upacara adat Tidore. Sekilas gerakan tarian ini sangat sederhana, hanya gerakan maju mundur cantik mirip syahrini, tapi begitu dicoba, sepertinya saya perlu latihan lama. *KodeKerasKetiga :D :D :D

Berbeda dengan Soya Soya, tarian Barakati musiknya lebih variatif, karena menggunakan musik pengiring lebih banyak, yaitu Tifa, Saragi, dan Rebab. Tarian ini digunakan untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Tidore. Sesuai namanya, Barakati bermakna keberkahan dan perlindungan Tuhan YME, dengan harapan si tamu akan selamat selama di Tidore samapi kembali ke tempat tujuan dengan selamat.

Ini dia tarian Soya-soya yang sempat saya dokumentasikan saat menyambut Sultan Tidore



Aah... Tidore, hanya mendengar sepenggal kisah dari putra pribumi mu saja, saya jadi ingin bisa segera menginjakkan kaki ini ke hamparan tanahmu yang menawan, dan mencicipi hasil alam mu yang melegenda. Semoga suatu saat nanti keinginanku ini terwujud... (ini bukan kode keras, tapi do’a).

Selain seabreg keunikan yang sudah saya ceritakan, masih banyak tempat-tempat menarik yang ada di Tidore, terutama tempat-tempat bersejarah yang katanya berceceran disana. Seperti benteng Tahula dan benteng Torre, Kadato Kie, Monumen pendaratan Spanyol, dan museum Sonyinge Malige.

Tapii.... sepertinya kalo mau cerita tentang sejarah dan benda peninggalannya, kayaknya saya musti kesana deh ya... biar ceritanya lebih detil dan meyakinkan. *KodeKerasEmpat :D :D

Tulisan ini diikutkan Lomba Blog Visit Tidore Island 2017

 Informasi Lomba Blog Visit Tidore

Buat kalian yang mau ikutan ke Tidore bareng saya, yuk ikut lomba menulis tentang Tidore. Informasi selengkapnya bisa klik banner diatas yah....!
Posting Komentar