06 Oktober 2016

7 Agenda Wajib Saat Berkunjung ke Situ Cisanti, Hulu Sungai Citarum

Telaga Cisanti - Nol Kilometer Sungai Citarum

Sabtu kemarin, saya dan teman-teman D’Traveler mengunjungi hulu sungai Citarum, di Kampung Pajetan, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sungai Citarum yang merupakan sungai terbesar di Jawa Barat ternyata di bagian hulu nya menyimpan keindahan dan panorama yang jarang di ketahui halayak. Beragam spot wisata bisa temukan disana, dari mulai wisata adventure, wisata religi, wisata sejarah, agro wisata, hingga wisata edukasi.

Situ Cisanti menjadi daya tarik utama (main spot) untuk menikmati keindahan panorama di kawasan hulu sungai Citarum di kaki gunung Wayang Windu. Tentunya ada beragam spot pendukung lainnya yang membuat saya dan teman teman D’Traveler merasa “betah” menginap disana, seperti: sumber mata air Pangsiraman, Petilasan Dipati Ukur, Hamparan Kebun Teh dan Sayur Mayur, serta Peternakan Sapi Comunal sebagai wisata edukasi.

Untuk bisa sampai di tempat ini, kita harus menempuh perjalanan darat selama 2,5 jam dari pusat kota Bandung, dengan medan turun naik menyusuri perbukitan. Lokasi Situ Cisanti yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl membuat suasana di sekitar situ terasa sejuk dan segar, penuh aroma pegunungan. Ditambah dengan lebatnya pepohonan yang menjulang tinggi mengelilingi situ, membuat lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melintas.

Meski hanya memiliki luasan 5 hektare, namun tak disangka Situ Cisanti menjadi satu-satunya sumber mata air yang menjadi hulu sungai terbesar di Jawa Barat, yaitu sungai Citarum, dimana aliran sungai ini telah mengasilkan listrik 5 Milyar Kwh per tahun yang mampu menerangi pulau Jawa dan Bali. Rupanya, Situ Cisanti menjadi muara kecil tempat bertemunya tujuh sumber mata air yang mengalir dari kaki gunung Wayang Windu.


Apa saja kegiatan yang bisa dilakukan disana? Yuk, simak cerita perjalanan saya dan teman-teman D’Traveler selama menginap disana!

#01 - Kemping Seru di Hutan Gunung Wayan

Camping di Hutan Gunung Wayang Windu

Karena lokasi Situ Cisanti dikelilingi oleh hutan lindung dan posisinya di atas bukit, maka menginap ala kemping menjadi pilihan tepat saat kami berkunjung kesana. Sejuknya suasana hutan seluas 7 hektare di gunung Wayang Windu membuat suasana kemping menjadi lebih seru. Untuk lokasi kemping, saya merekomendasikan tepian situ Cisanti untuk mendirikan tenda. Selain suasananya yang romantis dan sejuk, mendirikan tenda di sekitar Situ menjadikan suasana petualangan semakin terasa. Hanya saja, saya berpesan untuk tidak meninggalkan bekas sampah yang bisa mengotori air Cisanti, karen di bagian hilir Citarum sana sudah cukup banyak sampah yang mengotori aliran Citarum.

#02 - Mandi di Sumber mata air Pangsiraman 

Mandi di Sumber Mata Air Pangsiraman
Sebelum Mandi, minta do'a dulu ke Juru Kunci nya

Konon, sumber mata air ini dahulu pernah disinggahi oleh raja kerajaan Padjajaran, yaitu Prabu Siliwangi. Bekas jejak telapak kaki sang prabu yang membatu masih bisa di lihat di sekitar pemandian. Dari ketujuh sumber mata air yang ada di Wayang Windu, hanya dua mata air yang lokasinya paling dekat dengan situ, yaitu Pangsiraman dan satu mata air lagi di petilasan Dipati Ukur.  Keduanya berlokasi di ujung situ Cisanti, sebagai pintu gerbang akses menuju hutan larangan (hutan adat) masyarakat Kertasari.

Bagi saya, mandi di tempat ini tergolong spesial. Lebih dari 20 juta jiwa menggantungkan hidup dari sungai citarum yang mengalir dari sumbernya di kaki gunung Wayang hingga bermuara di perbatasan Karawang-Bekasi. Ketika kamu mandi di sumber mata air ini, kamu sudah menjadi “imam” bagi 20 juta orang, karena air bekas mandi kamu akan dipakai oleh jutaan orang di bagian hilir. Hi hi hi...

Selama berada di lokasi Pangsiraman, diberlakukan peraturan adat setempat yang menjadi kearifan lokal budaya masyarakat setempat, diantaranya : tidak boleh bersiul dan gaduh, tidak boleh menyebut atau memanggil sesuatu, dilarang keras memakai bahan-bahan kimia seperti sabun dan shampo, dan diwajibkan mandi dengan pakaian sopan. Tempat mandi antara laki-laki dan perempuan juga dipisah.

Meskipun aturan itu tidak tertulis, tapi sebagai pendatang, seyogyanya kita bisa menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal daerah setempat. Konon mitosnya, siapa yang mandi di tempat ini dia akan awet muda dan enteng jodoh. Itu sebab mata air ini juga di juluki mata air enteng jodoh. Pastinya pada mau kan mandi di Pangsiraman...?? :D :D

#03 - Napak Tilas Sejarah Dipati Ukur 

Ziarah Maqom Dipati Ukur

Napak Tilas Dipati Ukur

Dipati Ukur adalah sosok pemimpin daerah Bandung pada abad ke-16 yang mempertahankan wilayah Bandung dari pendudukan Belanda. Konon, beberapa kali Dipati Ukur menyerang Belanda di Batavia, namun tidak berhasil melumpuhkannya. Bahkan sempat menjadi buronan Belanda karena dianggap pemberontak.

Nah, pada saat di buru oleh Belanda, Dipati Ukur memilih lari ke hutan gunung Wayang Windu dan langsung menuju tempat pemandian prabu Siliwangi di kaki Gunung Wayang, tepatnya di sumber mata air Pangsiraman untuk meminta perlindungan. Sayangnya, prabu Siliwangi tidak sedang berada disana. Karena terdesak oleh tentara Belanda, maka Dipati Ukur memilih untuk menetap sementara sambil bertapa di sekitar lokasi Pangsiraman. Tempat Dipati Ukur melakukan tirakat itulah sekarang dikenal dengan nama Petilasan Dipati Ukur.

Lokasi Petilasan Dipati Ukur tidak jauh dari Pangsiraman, hanya berjarak ratusan meter saja menuju hutan. Konon setiap kali ada Pilkada, tempat ini ramai didatangi oleh calon kepala daerah untuk berziarah dan napak tilas sosok Dipati Ukur.  Di sekitar petilasan terdapat landmark menyerupai makam yang membujur sepanjang 3 meter, dan di disampingnya terdapat saung untuk para peziarah berteduh. Sementara di sebelah belakang terdapar pancuran sumber mata air yang mengalir tanpa henti dengan air sejuk, yang mengalir menuju situ Cisanti. Saya dan teman-teman D’Traveller merasa betah berlama lama disana. Selain suasananya sejuk, sekitar petilasan juga sunyi dan jauh dari suara kendaraan. Membuat petualangan semakin terasa menyatu dengan alam.

#04 - Memancing di Situ Cisanti

Pemandangan Sore Hari Situ Cisanti

Hamparan air jernih situ Cisanti
Sampai saat ini belum ada yang tahu berapa kedalaman Situ Cisanti, airnya yang tenang dan suasana angin sepoi-sepoi menjadikan situ Cisanti digemari oleh para pemancing. Selama dua hari saya disana, ada saja para pemancing ikan yang sedang memancing di sekitar situ, bahkan sampai malam dan dinihari. Ikan yang sering didapat beragam, dari mulai ikan mas, mujair, hingga ikan gabus.

Buat kamu yang hobi memancing, Situ Cisanti sangat cocok untuk menjadi pilihan destinasi liburan kamu bersama teman-teman. 

#05 - Landmark Nol Kilometer Citarum

Berfoto di Tugu Nol Kilometer Citarum - Telaga Cisanti

Nah, ini spot favorit saya yang paling saya sukai sebagai penganut faham narsisme. Berfoto di Tugu Nol Kilometer Citarum bisa menjadi bukti kalo kamu sudah menjelajah Citarum hingga ke hulu. Saya dan D’Traveler lainnya tak ketinggalan untuk mengabadikan kenangan berkunjung ke Cisanti dengan berfoto disini. Saran saya, jika ingin berfoto disini, pilihlah waktu pagi antara jam 7 sampai jam 10, atau sore hari antara ja 4 sore hingga jam 6 petang, foto yang dihasilkan sungguh instagramable.

Tugu ini lokasinya persis di seberang situ Cisanti, sekaligus sebagai batas berlakunya peraturan adat setempat bagi yang mau berkunjung ke sumber mata air Pangsiraman dan hutan larangan gunung Wayang Windu. Disini kerap kali terdengar suara binatang-binatang hutan seperti monyet dan anjing, karena lokasinya persis di perbatasan hutan.

#06 - Hunting Spot Foto Menarik

Selain tugu nol kilometer Citarum, beberapa lokasi di sekitar situ Cisanti juga bisa menjadi spot foto yang menarik untuk diunggah ke media sosial, diantaranya di jembatan muara situ dan anjungan di tengah telaga. Sepertinya jika foto prewedding di sini juga bakal menghasilkan foto yang romatis.

Saya merekomendasikan berfoto di sekitar situ pada sore hari, selain lebih teduh diiringi semilir angin yang menyapu permukaan danau membentuk gelombang kecil, sinar matahari senja yang menerpa punggung gunung Wayang Windu juga bisa membuat hasil bidikan foto menjadi lebih romantis.

#07 - Agro Wisata dan Wisata Edukasi Pembuatan Biogas

Agro Wisata

Peternakan Sapi Comunal Warga Kertasari

Bertani dan berkebun adalah aktifitas utama warga masyarakat hulu sungai Citarum. Mereka mengandalkan penghasilan dari berkebun dan berternak. Selain komoditi kopi dan teh, sayur mayur adalah komoditi terbesar yang dihasilkan oleh warga hulu Citarum. Hasil sayur mayurnya dikirim ke berbagai daerah, termasuk Jakarta. Jika kamu mengunjungi Hulu Citarum, jangan lupa untuk berjalan jalan di sekitar perkebunan sayuran milik warga disana. Selain suasananya menyenangkan, para petani sayuran sangat ramah menyapa para pendatang, membuat kamu merasa menjadi bagian dari mereka. Oiya, kalo lagi musim panen, kita juga bisa loh beli sayur mayur langsung dengan petani. Selain mendapat harga murah, kualitas sayuran juga masih segar, karena baru memetik.

Selain berkebun, beternak sapi menjadi pilihan lain sebagai sumber perekonomian bagi warga. Hampir setiap rumah di daerah hulu sungai Citrum memiliki sapi yang di buatkan kandang di samping rumah. Uniknya, kotoran sapi bisa dimanfaatkan oleh warga menjadi biogas, sebagai bahan bakar untuk memasak. Zat metana yang terkandung dalam kotoran sapi dimanfaatkan oleh warga menjadi gas alam yang disalurkan ke kompor melalui pipa selang yang digunakan untuk keperluan memasak. Tidak hanya itu, ampas kotoran sapi sisa hasil pengolahan biogas juga dibuat kompos untuk menghidupi tanaman sayur mayur mereka. Sungguh siklus ini membuat saya berdecak kagum. Betapa Sumber Daya Alam yang ada disana bisa dimanfaatkan dengan sangat maksimal.

Saya dan rombongan D’Traveller pun tertarik mempelajari sistem pemanfaatan kotoran sapi untuk pembuatan Biogas dan pupuk kompos. Sungguh ini merupakan proses alami yang ramah lingkungan dan patut diacungi jempol.

                                                            ------- o0O0o -------- 


Sayang sekali kami harus segera kembali ke Jakarta karena waktu akhir pekan hampir berakhir. Sepajang perjalanan pulang, saya benar benar merasa mendapatkan nilai nilai edukasi dan wawasan, karena belajar dari tradisi warga hulu sungai Citarum yang sarat dengan nilai nilai kehidupan.

Bagaimana? Tertarik untuk kesana? Catat 7 kegiatan menarik dari saya ini yah, kemudian susunlah itinerary kamu, dan segera rencanakan liburanmu mengunjungi Hulu Sungai Citarum.


Dibuang sayang :

Pintu Masuk Wana Wisata Hulu Citarum

Tiket Masuk Wana Wisata Hulu Citarum

Sejuknya Hutan Gunung Wayan

Situ Cisanti di pagi hari

Petunjuk Arah Menuju Petilasan Dipati Ukur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....