27 Mei 2015

Terbang ke Bali Dengan Citilink


Pernahkah sahabat mengalami kejadian bertemu dengan orang baik saat traveling atau singgah di suatu daerah? dan kenangannya membekas sampai sekarang?. Saya pernah mengalaminya, bahkan saking akrabnya, saya menganggap orang itu sebagai orang tua angkat saya. 


Tahun 2008 lalu saya bertugas di Bali hingga pertengahan 2009. Waktu baru sampai disana beberapa hari, saya mencari tempat singgah, kemudian saya bertemu dengan seorang bapak setengah baya, usianya sama dengan bapak saya, Haji Sunar namanya. Sekali bertemu dengan beliau, kami langsung akrab dan ‘nyambung’ kalo ngobrol. Keakraban itu juga diakui oleh istri pak Haji, katanya, “jarang loh bapak bisa akrab sama orang yang baru kenal”. Saking baiknya, pak Haji menawarkan kamar di belakang rumahnya untuk saya singgahi selama di Bali. Tapi waktu itu saya menolak dengan halus, sebab saya tidak ingin merepotkan. Akhirnya saya memilih untuk mengontrak rumah petak yang lokasinya dekat dengan pak haji. 


Karena kedekatan kami, pak haji sudah saya anggap sebagai orangtua saya, tepatnya orangtua angkat, demikian juga sebaliknya, beliau memperlakukan saya seperti anaknya sendiri. Kebetulan istri pa Haji buka warung didepan rumahnya, jadi saya suka nongkrong untuk sekedar makan disana sambil ngobrol ngalor ngidul. Tak jarang obrolan kami mengarah kepada nilai nilai kehidupan dan pengalaman hidup. Pak haji banyak bercerita tentang kehidupan masa lalunya, sedangkan saya lebih banyak menyimak daripada komentar, meski sesekali beradu argumen dengan beliau. 


Kehidupan pak Haji sungguh penuh dengan pengalaman dan pelajaran (buat saya). Dari mulai merintis karir menjadi chef di sebuah kapal pesiar, hingga menjadi chef di hotel ternama di Jakarta. Karirnya bagus seiring dengan pendapatannya, namun sayang, kurang diimbangi dengan manajemen keuangan yang baik, sehingga penghasilannya habis tak berbekas hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang royal. Hingga pada suatu masa terjadi krisis ekonomi tahun 1998, kehidupan pak Haji berbalik 180 derajat. Pak Haji kehilangan pekerjaannya, sedangkan gaya hidupnya masih seperti biasa, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, beliau mengandalkan sisa tabungannya.


Kerena tanpa penghasilan, otomatis tabungannya pun habis. Pak Haji lantas memboyong keluarganya pulang kampung ke Denpasar, menempati rumah peninggalan orangtuanya, itupun status rumah masih warisan dan harus berbagi hak dengan saudara saudaranya. Satu-satunya harta yang saat ini masih tersisa adalah motor harley davidson yang masih terawat rapih di rumahnya. Untuk menutupi kebutuhan harian, pak haji dan istrinya mengandalkan warungnya. Disela obrolan kadang saya melirik motor itu sambil membatin kagum dan ingin sekali menaikinya. 


Dari obrolan, saya sering mencuri curi pandang pada guratan di dahinya, dan dengan egonya saya mengambil kesimpulan serta gambaran tentang masa lalunya. Pak haji yang (saat itu) pantas dipanggil kakek, menurut saya adalah orang yang pandai bergaul, pintar menciptakan peluang, dan sedikit playboy waktu mudanya. Tanda itu terlihat jelas pada sekitar dahi, tangan, dan gayanya berjalan.


Keakraban saya tidak dengan pa Haji saja, tapi dengan istri dan anak semata wayangnya juga, namanya Bella, masih kelas 5 Sekolah Dasar. Setiap kali saya kesitu untuk makan di warung, ibu sudah tahu selera saya, beliau langsung membuatkan sambal terasi, terong goreng, dan telur dadar, dengan nasi yang masih ngebul. Sambil menikmati masakan si Ibu yang menurut saya tiada duanya, pa Haji rajin memberi saya nasihat tentang kehidupan, tentang bagaimana memanage keuangan untuk masa depan. Nampaknya beliau tidak ingin saya bernasib sama seperti dirinya. 


Selain ngobrol ngalor ngidul, pak Haji juga sering mengajak saya untuk bermain organt di rumahnya, sambil karaokean. Kalo sudah begitu, si ibu yang tadi diluar sambil jaga warung akan mendekat dan ikut nimbrung untuk karaoke bareng, rupanya ibu hobi menyanyi dan berdansa. Aaah..., suasana itu sering membuat saya kangen dengan mereka.


Suatu saat pak Haji mengajak saya untuk touring dari Denpasar menuju Negara, salah satu kota kabupaten di ujung barat pulau Bali. Tawaran itu langsung saya iyakan, sambil berharap, saya bisa nyobain motor Harley Davidson yang sering membuat saya terpikat disela obrolan dengan pak Haji. Aah..., saya masih ingat betul saat itu susah tidur di malam harinya ketika besok paginya kami akan touring, gegara membayangkan akan menaiki Moge keliling pulau Bali. Pasti GAGAH dan KEREN Banget!!. Hi hi hi...


Keesokan hari, pagi sehabis subuh kamipun berangkat touring, ini foto saya waktu menaiki motor pa Haji Sunar. Horreee! akhirnya kesampaian juga naik Moge!

Pantai Rambut Siwi, Tabanan (kiri) - Pelabuhan Malaya, Negara (kanan)

Touring kami menempuh jarak 360 km bukanlah tanpa tujuan. Sesampainya di tempat tujuan, pak Haji baru bercerita kalau rumahnya yang di Denpasar akan dijual dan dibagi waris. Dan nantinya pak haji akan pindah rumah ke Negara, tepatnya di daerah Pengambengan. Kata pa Haji, daerah itu memiliki prospek yang bagus kedepannya, bakal dibangun dermaga dan pelabuhan cargo terbesar di Bali. Pak Haji mengajak saya untuk ber investasi membeli tanah disana, yang saat itu masih seharga 18 juta per ARE (ukuran 100 m2). Namun waktu itu saya masih ragu, dan menolak (lagi) tawaran pak Haji, dengan halus tentunya. Saya baru menyadarinya setelah beberapa tahun kembali ke Jakarta, harga tanah disana sangat bombastis sekarang ini.


Belakangan saya menyadari sepenuhnya, bahwa pak Haji sangat perhatian sama saya saat itu. Beliau mengajak saya tinggal di rumahnya agar saya bisa menabung untnuk bekal nanti, karena tidak memikirkan biaya sewa rumah bulanan, lalu beliau juga mengajak investasi tanah supaya saya punya bekal di masa depan. Sungguh saya sangat beruntung memiliki orangtua angkat seperti pak Haji dan Ibu.


Entah kenapa tadi pagi saya mendadak kangen dengan pak Haji Sunar dan keluarganya. Ingin sekali saya menengoknya, saya ingin mengenalkan istri dan anak saya kepada keluarga (angkat) saya di pulau dewata, mengenang masa lalu saat saya memiliki keluarga kedua di tanah rantau. 


Sayapun hunting tiket pesawat JKT (CGK) – BALI (DENPASAR), pengennya sih pas liburan tahun baru saya dan istri menemui pak Haji Sunar, berangkat tanggal 31 Desember, dan pulang tanggal 4 Januari, kali aja ada tiket ke Bali untuk saya dan keluarga, dan alhamdulillah sih ada, dan lumayan (lumayan muahall ha ha ha). Dari sekian banyak maskapai, hanya Citilink yang paling murah. Selain itu standar keamanannya juga sama dengan maskapai berkelas, Garuda Indonesia.

Karena tidak terjangkau, sayapun cuma bisa melirik lirik daftar harga tiket saja, kali aja si admin website tiket online salah masukin harga menjadi harga promo super murah dan segera saya beli. Ha ha ha segitunya!

Pada daftar pencarian, Citilink selalu teratas (termurah)

Setelah lama melototin layar laptop, tak satupun harga yang ‘cocok’ di kantong saya (kesian deh!). sayapun melarikan diri ke halaman sosmed untuk sekedar menghibur diri. Eh, saya ketemu dengan Pengumuman Kontes Menulis Berhadiah Tiket Citilink ini:

Impian untuk bertemu dengan seseorang  yang kini berada jauh di seberang pulau, kini bisa diwujudkan dengan mengikuti kontes blog yang diadakan oleh Traveloka. Tersedia 20 tiket PP Citilink kelas ekonomi untuk 10 pemenang. Jadi  setiap pemenang akan mendapatkan dua tiket. Untuk para pemenang mereka boleh bebas pilih rute domestik mana saja bersama sahabat atau pasangan. Bagaimana caranya?

Waktu pelaksanaan:
·         Masa pelaksanaan kontes: 25 Mei – 8 Juni 2015.
·         Batas waktu kirim artikel: Senin, 8 Juni 2015 pukul 18:00 WIB.
·         Pengumuman pemenang: Rabu, 10 Juni 2015 di Facebook dan Twitter Traveloka.
Cara mengikuti kontes:
·         Follow akun Twitter @Traveloka dan like Facebook Page Traveloka.
·         Buat artikel dengan tema “Andai bisa terbang gratis, aku akan menemuinya” sesuai ketentuan artikel.
·         Artikel ditulis pada media publik di internet, seperti: WordPress, Blogspot, Forum, Kompasiana, dll.
·         Link (URL) artikel dikirim melalui formulir online di http://goo.gl/forms/GQxNhlLAqO.
·         Share artikel yang telah dibuat ke Facebook dan Twitter, dengan hashtag #TiketGratisTraveloka dan mention Traveloka.
Ketentuan artikel:
·         Memiliki minimal 400 kata.
·         Artikel harus berisi:
o    Siapa orang yang ingin kamu temui dan alasan ketemu dengannya.
o    Aktivitas apa yang ingin dilakukan dengannya.
o    Itinerary perjalanan memakai pesawat Citilink.
o    Screenshot halaman “Review Pemesanan” tiket Citilink dan hotel yang mau dipesan dari Traveloka App.
o    Kesan positif menggunakan Traveloka App.
o    Contoh artikel bisa dilihat di Blog Traveloka.
Kualifikasi pemenang:
10 pemenang akan dipilih berdasarkan keunikan cerita, kreatifitas tulisan dan sesuai ketentuan artikel.



Selain mencari tiket gratis via kontes blog Traveloka, tiket gratis Citilink juga bisa didapat dengan cara bertransaksi pembelian tiket pewasat via Aplikasi Traveloka, karena setiap transaksi akan diberi kupon undian, yang nantinya akan diundi untuk mendapatkan tiket PP Citilink. Pengundian dilakukan setiap Jumat dan diumumkan lewat Blog Traveloka. Promo Fly For Free berlangsung: 19 Mei – 26 Juni 2015. Informasi lengkapnya ada DISINI.


Buru buru saya install aplikasi traveloka di smartphone saya melalui link INI, dan mulai rajin menawarkan tiket pesawat kepada teman atau kerabat, siapa tahu ada yang mau beli dan saya bersedia membelikannya via Traveloka.

Aplikasi Traveloka sangat mudah difahami, pesan tiket dan hotel juga enggak ribet, untuk pemesanan tiket pesawat, kita hanya isi tanggal penerbangan, pilih rute, pilih maskapai, dan lakukan pembayaran via online, selanjutnya tinggal tukar kode transaksi dengan tiket asli. Untuk pemesanan hotel juga sama, tinggal pilih lokasi hotel, bayar, dan setelah mendapatkan kode pembayaran bisa langsung dipakai. Cepat, dan Mudah!

Install Aplikasi Traveloka

Demi mendapatkan tiket gratis, saya rela tidak mengambil keuntungan saat membelikan tiket pesawat untuk teman dan kerabat, harapannya cuma satu, biar bisa mendapatkan hadiah tiket PP dari Citilink dan bisa terbang ke Bali untuk menemui orang tua angkat saya, pak Haji Sunar. 


Hayuuk! siapa yang mau traveling, pesen tiket sama saya saja, biar saya carikan tiketnya. Sekalian booking hotel nya juga ya, karena dijamin murah dan nggak ribet, serta banyak diskon harga, karena di Traveloka memang sering ngadain diskon.

Posting Komentar