29 April 2015

Wayang dan Pencak SIlat Sebagai Jiwa Mahakarya Indonesia




Jasmerah -  Jangan Sekali kali Melupakan Sejarah“, begitu kira kira pesan Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Sukarno. Entah kenapa di zaman sekarang, pesan wasiat ini kurang diresapi oleh generasi muda saat ini. Padahal generasi muda adalah masa depan bangsa. Saya sendiri merasakannya saat sekolah. Pelajaran sejarah pada kurang diminati oleh para pelajar, padahal sejatinya pemimpin yang akan berhasil masa depan adalah pemimpin yang mengerti sejarah, karena sejarah merupakan salah satu Mahakarya Indonesia yang menjadi Jiwa Indonesia. Sedangkan pemimpin masa depan adalah generasi muda sekarang. 

Indonesia memiliki nilai nilai mahakarya yang membentuk karater bangsa. Salah satu mahakarya Indonesia yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda saat ini adalah Wayang dan Pencaksilat.

Sejarah Pencak Silat Indonesia

Nenek moyang Pencak silat sejatinya berasal dari kerajaan Sriwijaya di abad pertama, tepatnya di Sumatera yang saat itu menjadi wilayah Majapahit. Meskipun kerajaan Sriwijaya mengalami kejayaan pada abad ke 7 masehi, tapi secara tidak sadar kejayaan itu terbentuk dari nilai nilai luhur  yang ada pada gerakan Pencak Silat. Dasar dari nilai nilai luhur yang terkandung dalam gerakan Pencak Silat adalah nilai Kegigihan, kesabaran dan kerendahan hati.

Pada perkembangan selanjutnya, Pencak Silat kemudian berkembang pesat di Melayu dna menjadi budaya melayu. Pertunjukan Silat hingga saat ini masih menjadi cirikhas pada upacara upacara adat penting di tanah Melayu seperti perkawinan dan pesta adat lainnya.

Bukti sejarah lainnya yang menguatkan Pencak Silat sebagai Jiwa Mahakarya Indonesia adalah bentuk relief candi Prambanan. Satu dari empat relief di candi Prambanan menggambarkan epos dari dunia ramayana, yang konon di zaman tersebut, Pencak Silat sebagai suatu sistem pertahanan suatu negara atau kerajaan. Dari situ lah ditarik kesimpulan bahwa Pencak Silat sudah berkembang di tanah Jawa yang memiliki peran membentuk karakter bangsa Indonesia.
Pencak Silat Sebagai Jiwa Mahakarya Indonesia

Meski banyak sekali film film laga yang mengambil gerakan silat sebagai adegan, namun ruh dan jiwa Pencak Silat tidak utuh ditampilkan, sehingga nilai nilai dasar pencak silat tidak bisa masuk ke dalam jiwa penontonnya. Hal ini disayangkan oleh pesilat senior Kang Yayan Ruhiyan, yang menjadi salah satu aktor film Merantau.

Menurut kang Yayan (sapaan akrab Yayan Ruhiyat), sebuah Pencak Silat adalah kolaborasi antara Rasa, Raga, dan Irama. Pencak Silat haruslah mengandung empat unsur, yaitu unsur Beladiri, unsur Olahraga, unsur Seni, dan Unsur Spiritual. Jika salah satu unsur itu tidak terpenuhi, maka tidak layak disebut sebagai pencak silat. Dari situ kita bisa menilai, film film laga yang (katanya) film silat itu masuk kategori Pencak Silat atau tidak, silakan anda menilainya.

Dalam Pencak Silat banyak sekali kita jumpai nilai nilai moral dan makna filosofi dalam setiap gerakan. Sikap pasang atau kuda-kuda misalnya, menampilkan sikap tangan terbuka, yang mengandung makna, saat ada orang yang akan berbuat jahat dan menyerangpun, pesilat akan menanggapinya dengan menahan diri, yang disimbolkan dengan tangan terbuka. 

Karena silat merupakan bela diri yang unik, berkarakter dan lengkap, yang tidak dijumpai di olahraga beladiri lainnya, dan juga membawa nilai nilai bangsa, nilai budaya, serta memiliki ruh motivasi untuk berkarya, maka sangat wajar jika Pencak Silat disebut sebagai jiwa mahakarya Indonesia.

Silat bukan sekedar olahraga, tapi pendidikan budi pekerti yang menjadi nilai luhur bangsa sebagai mahakarya Indonesia.

Meski perguruan silat di Indonesia ini sangat sulit untuk diseragamkan, namun alangkah bijak jika kita tidak menyebutnya sebagai perbedaan, namun menjadi keanekaragaman budaya sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Dengan memiliki mind set demikian, diharapkan Pencak Silat akan terus menjadi Jiwa Mahakarya Indonesia.

Wayang Sebagai Jiwa Mahakarya Indonesia

Siapa orang Indonesia yang tidak mengenal wayang?, budaya asli Indonesia yang menjadi warisan dunia. Setali tiga uang, cerita wayang saat ini sudah kurang diminati oleh generasi muda saat ini. Dahulu pertunjukan Wayang  dilaksanakan untuk ritual, seperti ruwatan, nadzar, dll. Namun sekarang wayang hanya berfungsi sebagai hiburan saja. Hanya sedikit sekali yang mengambil wayang sebagai pendidikan. Jika mendengar kata Wayang, yang terbayang adalah tidak menarik, tidak menghibur, tidak menguntungkan, ketinggalan zaman, biayanya mahal, dan lain lain.

Padahal sejatinya Wayang memiliki nilai nilai budaya yang tinggi. Wayang merupakan perwakilan karakter. Pertunjukan wayang menggambarkan pertunjukan kehidupan dunia atau pertunjukan nilai hidup, pertunjukan simbolik mengenai nilai nilai luhur. Wayang mengajarkan budaya gotong royong yang menjadi ciri masyarakat Indonesia.


Wayang melatih kesabaran untuk memahami setiap karakter pemainnya, dan dalang adalah seoranag guru yang wajib memahami keseluruhan isi wayang, baik cerita, karakter, dan pembawaan tokoh.

Wayang Urban Sebagai Alternatif Menjaga Nilai Wayang Tetap Hidup

Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Wayang urban menyuguhkan pertunjukan wayang dengan gaya berbeda. Bahasanya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak anak muda sekarang. Ceritanya dibuat menarik dengan tidak meninggalkan nilai nilai filosofi aslinya.
Wayang Urban hadir sebagai jembatan untuk melawan mindset tentang wayang pada anak muda zaman sekarang.  Sebagai generasi mjuda sekarang, menjadi kewajiban kita untuk menjaga nilai nilai luhur budaya yang ada pada Wayang, untuk tetap menjadi Jiwa Mahakaraya Indonesia.

Semoga cita cita luhur yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia bisa dipertahankan hingga akhir hayat, dengan mempertahankan kedua budaya, Pencak Silat dan Wayang, sebagai Jiwa Mahakarya Indonesia.
Posting Komentar