12 Juni 2012

Ayo, Selamatkan Badak Jawa!


Selamatkan Badak Jawa!
Ujung Kulon!
Mendengar kata “Ujung”, rasanya tempat itu jauuh sekali untuk di Jangkau. Semenjak SD, setiap kali mendengar pertanyaan dari Ibu guru “Badak Bercula Satu Asalnya Dari Mana?”, dengan kompak kami menjawab “Ujung Kulon”. Selama puluhan tahun saya  penasaran dengan daerah asal Si Badak yang konon semakin langka populasi nya. Kabar terakhir jumlahnya dibawah 40 ekor. Sebulan lalu saya menyempatkan diri menyambangi Taman Nasional Ujung Kulon, rumah dan habitat asli Badak Bercula Satu (Rhinoceros Sondaicus).

Banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan pasca mengunjungi Ujung Kulon, dan ini lah Fakta tentang Ujung Kulon dari hasil kunjungan saya dan teman-teman backpacker selama tiga hari dua malam. Akhirnya rasa penasaran itu terjawab. Dan tak disangka “Ujung Kulon” itu sangat  tidak mudah di jangkau, tidak seperti yang dulu saya bayangkan.

Dari Jakarta kita bisa naik bus jurusan Serang atau Labuan, tarif nya kisaran 18.000 – 25.000. Dari sana, kita bisa memilih dua jalur, via darat atau via laut.

#Jalur Darat :
Naik Elf jurusan Desa Taman Jaya, Kec. Sumur. Tarifnya kisaran 30-40 ribu. Dilanjut dengan sewa kapal nelayan, bisa memilih di dermaga Kec. Sumur atau dermaga desa Taman Jaya (saya merekomendasikan naik kapal dari desa Taman Jaya, selain suasana dan sarana nya sangat mendukung, tarifnya juga lebih murah). Tarif rata-rata sewa kapal nelayan di kisaran 1,2 jt – 1.5 Jt/hari untuk keliling Ujung Kulon. Bisa menampung 10-15 orang.

#Jalur Laut
Bisa ditempuh dari Anyer atau Carita, dengan kapal boat. Informasi yang saya dapatkan, tarif sewanya lumayan mahal, kisaran 5 jt-an/hari (maklum kapal ini lumayan bagus dan termasuk kapal wisata, bisa menampung maksimal 5 orang).
 
Saran saya : usahakan ke Ujung Kulon kita rombongan, agar bisa sharing cost.

Daerah taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sudah ditetapkan menjadi Taman Nasional oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1990, yang merupakan daerah konservasi hewan khas Ujung Kulon, yaitu Badak Bercula Satu, dibawah lindungan WWF Indonesia, sebuah organisasi dunia yang concent terhadap pelestarian lingkungan dan hewan langka.

Luas TNUK yang mencapai  122.956 Hektare, diibagi menjadi 3 zona Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) :
  1. Wilayah SPTN I – Panaitan
  2. Wilayah SPTN II – Handeuleum
  3. Wilayah SPTN III – Gunung Honje
SPTN sendiri terdiri dari beberapa kelompok kerja, antara lain :
-          Polhut (Polisi Hutan)
-          Mitra Polhut (dari LSM)
-          Roam (Rhino Activiting Management)
-          RPU (Rhino Proteksi Unit)
-          Pemandu wisata (Guide), yang terdiri dari warga lokal.

Banyak manfaat yang didapatkan pasca Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional, diantaranya  :
  1. Memberikan tempat bagi pendidikan dan penelitian alam
  2. Memenuhi kebutuhan spiritual dan rekreasi
  3. Memberikan pengetahuan tentang alam, budaya, dan kekayaan sejarah Indonesia
  4. Menarik wisatawan, memberikan penghasilan dan sumber pekerjaan.
Selain menjadi taman Nasional, wilayah Ujung Kulon sering digunakan untuk obyek wisata alam dan penelitian. Saya mencatat terdapat lebih dari 25 spot wisata yang bisa kita kunjung disana, diantaranya :


  1. Karang Copong
  2. Pantai pasir putih pulau peucang (snorkling)
  3. Citerjun (air terjun)
  4. Camping Ground di Pulau Handeuleum
  5. Kanoing di sungai Cigenter
  6. Legon Bajo(surfing)
  7. Legon butun (surfing)
  8. Karang jejer (ombak dan karang)
  9. Legon Lentah (diving)
  10. Legon kadam (diving)
  11. Gunung Raksa (arca ganesha)
  12. Cibom (camping ground & mercusuar/dermaga)
  13. Tanjung Layar (tebing & savana)
  14. Ciramea (habitat penyu hijau)
  15. Cidaon (kawanan banteng, jejak Badak Jawa)
  16. Sanghyang Sirah (Goa Masjid, ziarah)
  17. Cibunar (camping ground)
  18. Nyawaan (snorkling)
  19. Jamang (Tugu Badak)
  20. Citelang (camping Ground)
  21. Curug Cipaniis
  22. Curug Cikacang
  23. Curug Cimahi
  24. Curug Cipunaga
  25. Curug Cibayoni
  26. Air Belerang Cibiuk
  27. Kampung Cegog (camping ground)
Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK)
Selain spot wisata tersebut, bagi anda yang suka dengan tantangan alam, bisa melakukan trekking menyusuri zona rimba Ujung Kulon. Saya mencatat dua jalur trekking yang menarik untuk dicoba oleh para petualang sejati, yaitu :

  1. Trekking pesisir selatan Ujung Kulon
Rute yang  bisa ditempuh mulai dari Pos JRSCA (Javan Rhino Study Conservation Area) di desa Ujung Jaya menuju Kalejetan >> Jangkar >> Sodong Sero >> Karang Ranjang >> Cibandawoh >> Muara Cikeusik >> Citandahan >> Cibunar >> Gunung Payung >> Sanghiang Sirah >> Kelapa Beureum >> Ciramea >> hingga berakhir di Tanjung Layar

  1. Trekking pesisir utara Ujung Kulon
Rute yang bisa ditempuh:  Taman Jaya >> Laban >> Citelang >> Jamang >> Nyawaan >> Nyiur >> Cidaon >> dan Berakhir di Cibom dan Tanjung Layar

Foto : Google

Sangat disayangkan, saya belum mencoba trekking jalur tersebut. Melalui ajang “Run Rhino Run” bertajuk  “Fun Nature Tracking 10K untuk Meningkatkan Kesadaran Publik bagi Pelestarian Badak Jawa”, saya berharap bisa mengikuti acara tersebut, supaya saya bisa mengenal lebih jauh tentang Ujung Kulon, dan berharap bisa melihat hewan purba yang kian mendekati kepunahan, yaitu Badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus). Mari kita sukseskan program tersebut!.

Untuk berpartisipasi di ajang “Run Rhino Run” bisa registrasi disini

Kontak :
WWF Indonesia
HP : +62 818 134 178

Indo Runner
HP        : +62 855 889 2742
Email   : theyasha@yahoo.com
Twitter : @indorunners