24 November 2011

Paradigma Tentang HIV/AIDS


Hoed@ -DKI Jakarta.

Pertama kali aku mendengar penyakit ini saat aku masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara Sekolah Dasar), usiaku saat itu baru menginjak belasan tahun. Tersiar kabar bahwa telah ada suatu penyakit baru yang mematikan dan tidak ada obatnya, bernama AIDS. Penyakit ini dibawa oleh virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Seseorang yang sudah terjangkit virus HIV, kekebalan tubuh (imun) nya akan melemah, sehingga akan sangat rentan tehadap penyakit apa saja yang menyerang.

Yang aku tahu dan menurut cerita warga di kampungku saat itu, penyakit AIDS hanya menyerang kepada orang-orang yang suka berganti pasangan dan melakukan hubungan intim sembarangan, seperti para pelacur dan lelaki hidung belang. Penyakit ini mudah menular dan sangat berbahaya, bahkan melalui sentuhan dan kontak badan pun penyaklit ini akan menular, begitu berita yang beredar. Aku pun hanya bisa menjadi pendengar karena pikiranku tak mampu menjangkau di usiaku yang masih belasan tahun dan dianggap bau kencur jika akan berkomentar tentang hal ini. Yang ku tahu penyakit itu adalah penyakit nista yang diturunkan Tuhan untuk orang-orang dengan perilaku nista pula. Demikian para ustadz dan tokoh masyarakat di kampungku menyampaikan tentang penyakit AIDS kepada masyarakat, baik melalui pengajian-pengajian ataupun perkumpulan dan organisasi masyarakat.
Paradigma dan stigma negatif pun muncul dan mengakar dengan kuatnya di kalangan masyarakat awam. Tak jarang orang yang terkena AIDS keberadaannya  akan dikucilkan oleh masyarakat karena dinilai mempunyai prilaku sex seperti binatang. Suasana di kampungku memang sangat kental dengan kegiatan bernuansa religi, sehingga adanya berita mengenai penyakit AIDS mampu membuat persepsi negatif yang mengakar begitu kuat.

Paradigma yang muncul dimasyarakat sungguh tidak memihak kepada penderita penyakit AIDS di kota kelahiranku. Para penderita dan pengidap HIV akan menutup rapat dan enggan bercerita kepada siapapun, bahkan kepada sanak saudara sekalipun mengenai penyakit yang di deritanya. Mereka takut akan mendapatkan perlakuan dan sanksi sosial, yaitu dikucilkan dan dianggap sampah oleh masyarakat tempat tinggalnya.

Pemahaman ini terus berkembang di masyarakat hingga usiaku menginjak dewasa. Minimnya informasi dan kurangnya pengetahuan masyarakat membuat si penderita HIV seakan termarginalkan dan makin tersisihkan. Hak-hak mereka terkoyak oleh pemahaman dan stigma negatif. Masa depan mereka sebagai makhluk sosial terisolir oleh keadaan dan lingkungan. Mereka merasa menjadi mayat hidup dan hanya bisa pasrah menunggu kematian yang cepat atau lambat akan datang seiring dengan melemahnya kekebalan tubuh terhadap virus yang masuk ke tubuhnya.

Sekian lama aku melupakan stigma negatif di masyarakat tempatku tumbuh dewasa. Setelah lulusan sekolah kejuruan, aku disibukkan dengan pekerjaan yang menuntutku untuk berkelana dan merantau di beberapa kota besar seperti Jakarta, Denpasar, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Berpindah pindah pekerjaan membuatku makin banyak teman dari berbagai kalangan dan karakter. Banyak bergaul dan supel membuat pola pikirku semakin kritis dan demokratis serta penuh dengan keterbukaan. Hidup berpindah-pindah sudah menjadi kebiasaan. Berpindah dari tempat kost yang satu ke tempat kost yang lain, dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Pernah suatu ketika aku mendapat teman kost dan satu kamar dengan seseorang yang mengidap penyakit spilis karena hobinya yang suka ”jajan sembarangan”, sebut saja namanya Rifki. Sikapku yang luwes dan menerima Rifki dengan kondisinya membuat dia terbuka dan menceritakan ”petualangannya” hingga dia menderita spilis. Tak jarang dia bercerita tentang penyakit kelamin lainnya, termasuk tentang penyakit AIDS. Paradigma dan doktirin masyarakat di kampungku pun berangsur luntur seiring dengan seringnya aku dan Rifki berdiskusi mengenai penyakit AIDS. Keterbukaanku terhadapnya mampu mensupport dia ke arah yang lebih baik bagi masa depannya. Rifki mulai menata kehidupannya dengan berkuliah sambil bekerja. Hingga saat ini dia sudah lulus Diploma dan bekerja di luar kota dengan kehidupan yang lebih tertata, dia masih menganggapku sebagai seorang sahabat.

Pengalamanku pernah hidup bersama satu kamar kost dengan Rifki (walaupun hanya beberapa bulan saja), telah mampu merubah paradigma ku mengenai penyakit AIDS. Pemahaman tentang AIDS dan rasa empati terhadap penderita AIDS semakin bertambah setelah menonton acara live di sebuah stasiun televisi ternama milik Surya Paloh di daerah kedoya – Jakarta Barat. Saat itu tema acaranya adalah ”kesempatan kedua”, dimana bintang tamunya adalah orang-orang yang mengalami over dosis obat-obat berbahaya dan terjebak dalam dunia narkoba serta mengidap virus HIV. Mereka dengan gigihnya memperjuangakn sisa hidupnya melawan penyakit ini.

Melihat semangat mereka membuat rasa empati ini semakin menjadi.  Apalagi setelah bintang tamu dari Bandung bernama Drajat Ginanjar atau akrab disapa Ginan tampil untuk di wawancarai. Ginan adalah seorang pemuda berusia 22 tahun pengidap HIV dari usia SMP. Virus itu menggerogotinya melalui jarum suntik yang dipakainya pada saat mengkonsumsi narkoba bersama teman-temannya.
Terkena virus HIV tidak membuat Ginan patah arang dalam menyongsong masa depannya, meski keluarga (ayah dan ibunya) mengusir dia dari rumah. Sebagai pelampiasan atas perlakuan masyarakat terhadapnya, dia mendirikan ”Rumah Cemara”, sebuah yayasan yang menampung anak jalanan dan orang-orang mantan pengguna narkoba, dimana 60% penghuninya adalah pengidap HIV, sebuah virus penyakit AIDS yang menurut pemahamanku sat kecil adalah penyakit nista itu.
Ginan (Tengah), saya (kanan) dan sobat Dblogger Jay (kiri)
berpose setelah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta.

Ginan dan teman-temannya banyak belajar dan mengenal AIDS, kegiatan mereka adalah memberikan pengertian dan sosialisasi tentang penyakit ini. Misi mereka adalah merubah stigma negatif tentang penyakit AIDS di masyarakat. Selain itu, Ginan dan komunitasnya mempunyai kegiatan dan prestasi yang patut dibanggakan. Mereka mendirikan club sepak bola yang beranggotakan pengidap virus mematikan HIV. Mereka mampu menuai prestasi dalam klub sepak bola itu, tak tanggung-tanggung, klub sepak bola itu mampu menjadi juara di ajang kompetisi sepak bola internasional Homeless World Cup 2011 di Paris, Prancis beberapa bulan lalu. Dan Ginan adalah salah satu pemain vaforit versi ajang tersebut. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang pengidap virus HIV. Semangat mereka melawan penyakit ”nista” membuatku semakin bersemangat untuk membantu mewujudkan misi mereka sebatas yang aku bisa.

Oooh... andaikan kesempatan itu ada.....
Dahulu Aku Awam, Makanya Aku Diam
Sekarang Ku Faham, Ku Tak
Akan Tinggal Diam








1 komentar:

  1. Kami dari Admin GoVlog, perlu meminta data diri Anda yang mengikuti GoVlog AIDS. Data diri ini kami pergunakan untuk pemberitahuan jika Anda terpilih menjadi 10 besar.

    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    Link posting Blog GoVlog AIDS:

    Mohon data diri Anda dikirim ke email tommy.adi@vivanews.com

    Terimakasih

    BalasHapus

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....