14 September 2011

Mengenal Baduy 1 - Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger - Rangkasbitung

Jembatan Bambu -
Jika sudah jalan melewati jembatan seperti ini tiga kali, 
berati sebentar lagi kita akan memasuki perkampungan suku Baduy Dalam

Pada H-1 gueh sudah siap-siap bekal untuk perjalanan 2 hari 1 malam ke suku Baduy Dalam di Rangkasbitung. Gueh bawa bekal sleeping bag, jacket, baju lengan panjang, sebuah celana pendek, kain sarung, dan nggak ketinggalan 4 bungkus mie instant dan 2 gelas beras, semuanya masuk dalan satu tas ransel kecuali beras dan mie instant. Pagi buta sehabis subuh jalan dari rumah menuju stasiun Tanah Abang. Naik angkot ke Pulogadung Rp. 3.000 dan bus ke Tanah abang Rp. 2.000,- Nampaknya gueh kepagian, tiba di stasiun pkl. 06:00 wib, satu jam lebih pagi dari jadwal semula. Gueh manfaatin waktu luang untuk menikmati nasi uduk di emperan stasiun. Lumayan buat mengganjal perut di pagi hari. Cring!! Uang gocengan keluar dari saku buat bayar nasi uduk ala Tanah Abang.

Setibanya di dalam stasiun, gueh clingak-clinguk nyari mangsa !!, mana sih anak anak BPI pimpinan tante Esthi yang mau bareng ke Baduy? Dari kejauhan sana nampak tatapan penuh curiga mengarah ke posisi gueh berdiri, gueh pura-pura cuek. Gueh yakin itu anak-anak para korban virusnya tante Esthi. Soalnya posisi merekah sangat memprihatinkan banget, ngariung dambil bersimpuh di lantai stasiun membawa buntelan tas. Tanpa ragu gueh deketin merekah, daaan.... tralala...!!, dugaanku nggak meleset, merekah itu para Baduyler yang bakal jalan bareng menuju kampung di ujung perbukitan kabupaten Lebak-Banten itu.
Gueh ulurkan tangan untuk kenalan dan memperhatikan satu demi satu membandingkan raut merekah dengan foto di facebook. Kata pertama yang keluar dari mulut gueh dan merekah adalah : BADUY YAH??! Merekah langsung menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa merekah adalah orang Baduy...ha ha ha (salaaah woooy!! Maksudnya merekah yang mau ke Baduy cuyy,... bukannya ngaku jadi orang Baduy...).

Setelah bergabung bersama merekah yang sok imut dan so ja’im itu..., gueh pun mulai ngobrol untuk lebih mengakrabkan diri. Padahal dari jidatnya, ketauan banget kalo merekah tuh sebenarnya very very narso alias narsis abis!! (ha ha ha ketebak loeh pada..!!). Gueh coba pancing merekah dengan meminjam kamera tante Esthi (Inget! Namanya Esthi, bukan Estelerrr atau Estehmanis he he he sorry ya Es.. ). Si esthi agaknya sudah faham banget.., secara diah kan kepala suku nya, jadi musti ngerti’in nasib para kurcaci kurcaci bina’annya.... :-p

Gueh mulai beraksi ambil gambar para kurcaci yang haus akan kenarsisan..., jepret jepret...! terukir sudah senyum sumringah merekah yang dari tadi serasa garing.

Jelas banget merekah garing, orang giginya pada pake’ ikatan kawat gitu?? Gimana nggak garing tu gigi...!!, mungkin merekah adalah reinkarnasi dari gatut kaca yang punya semboyan ’Gigi Kawat Tulang Besi’ ha ha ha.. (buat yang ngrasa jadi gatut kaca, silahkan loeh pada bisa terbang duluan ke Baduy.., ga usah pake naik kereta segala, keliatan miskin tau nggak siih??!, sudah jelas di stasiun itu terpampang semboyan, Kereta ekonomi hanya diperuntukkan bagi kaum dluafa... he he he).

Nampaknya pancinganku berhasil, dibalik diam merekah tersimpan keinginan kuat yang membara ingin menunjukkan gadget dan virus fotografer amatir tingkat kelurahan.
Satu persatu para kurcaci menunjukkan kamera nya. Dan yang paling mengejutkan adalah kameranya si Magdalena, peserta asal Yogyakarta. Dia membawa kamera DSLR merk NI**N. Gue mencoba menetralisir agar tidak terhubung ke internet dan nyasar ke situs www ngiri.com. Gueh mencoba tegar dan ikhlas merelakan kamera DSLR ku yang sudah berpindah tangan demi sesuap nasi (mengharukan..!! hiks hiks... *ceritanya gueh nagis niih.., ada yang bersedia memeluk gueh  kah..??).

Begitu kamera si Lena dikeluarkan, Esthi mengajak peserta buat berdiri untuk berdo’a sebelum berangkat, karena keretanya sudah hampir tiba. Sebagai murid jama’ah nya mamah dedeh, si Esthi memimpin do’a dengan membaca do’a mau makan...*wooi..!! salah tuh do’anya!! Makan melulu loeh pikirin!.
Setelah berdo’a merekah lalu melakukan hompimpa alaihom gambreng mirip opening film Unyil, Ucrit dan Usro. Pada saat itulah gueh mengabadikan momen langka para Baduyler itu dengan menggunakan kamera nya Lena yang super duper itu. ”jepret, jepret..!!”, akhirnya adegan unyil dan usro ber hompimpa pun sudah selesai.

Para Baduyler bina'an Esthi si kepala suku
di stasiun Tanah abang
 
Tak berapa lama kereta api tujuan Rangkasbitung pun tiba. Tiket kereta yang dari tadi sudah dibagikan oleh Esthi bisa mulai difungsikan. Di karcis kereta tertulis rupiah 4.000,-, kamih pun antri di pintu kereta mirip antri sembako buat kaum dlu’afa. Beruntung kereta hari itu tidak begitu penuh. Kami mendapatkan tempat duduk masing masing satu, tapi nggak boleh dibawa kerumah tu tempat duduknya... (enak aja! Modal 4.000 koq maunya dapet hadiah tempat duduk buat dibawa pulang!!, bisa bangkrut tuh PT. KAI.).


Sepanjang perjalanan kamih sibuk ngobrol ngalor ngidul sekedar sharing tentang perjalanan dan petualangan masing-masing, sambil sesekali narsis dan foto-foto, terkadang muncul keisengan mengamambil gambar candid. Yang kasihan adalah peserta newbie alias baru pertama kali ngikutan acara beginian, mereka jadi sasaran empuk para senior untuk diplonco dengan di candid camera pada posisi yang sangat mengenaskan... (ck ck ck Tuhan ampuni dan kasihanilah merekah..., do’aku lirih...*saking lirihnya sampe’ nggak kedengeran...)
Perjalanan 2,5 jam tidak terasa, kereta sudah tiba di stasiun Rangkasbitung. Kamih pun turun dan berkumpul di peron stasiun. Ternyata masih ada tiga peserta lagi yang ngikut di kereta berikutnya. Merekah adalah Tina, Nuzul, dan Retno. Setelah nunggu beberapa jam, akhirnya ketiga kurcaci itupun datang. Lengkap sudah personil kami sebanyak 17 makhluq yang siap ber reinkarnasi menjadi Baduy... he he he. Sementara si mamang Riva’i si supir Elf sudah siap mengantar kami menuju terminal Ciboleger, tempat kamih nanti nya bertemu dengan Pa Agus Bule. Rupanya bang Riva’i diutus Pa Agus Bule untuk menjemput kami.

Sebelum naik Elf, kamih pun bernarsis ria pasang gaya dengan background yang tidak layak masuk kategori lomba foto, yaitu di samping Elf bang Riva’i. Tak lupa kamih plonco bang Riva’i untuk memfoto kami (sorry ya bang, aturan adat  di komunitas kamih adalah, setiap orang baru harus di pelonco’ dulu agar bisa akrab.. ha ha ha).
Odong-odong milik pa Riva'i
siap mengantar kurcaci-kurcaci menuju kampung Baduy

Setelah puas memplonco’ bang Riva’i kamih segera ambil posisi di bangku masing-masing dalam Elf. Bang Riva’i segera tancap gas dari stasiun menuju terminal Ciboleger. Perjalanan kamih tempuh kurang lebih 1,5 jam. Elf pun sampai di terminal Ciboleger, yaitu batas kendaraan yang berkunjung dari luar Baduy untuk menuju Baduy Dalam dengan jalan kaki. Bersama itu pula sinyal si biru di smartphone gueh bertuliskan SOS, agaknya si Biru nyerah deh nggak bisa nemenin gueh lagi menuju kampung Baduy Dalam..., padahal jarak nya masih 14km lagi.... jangankan bisa buat ber BBM an, chatting, ato maen internet, buat telpon dan sms ajah susahnya minta ampuuun...Emang agak payah nih si Biru, nggak bisa diandalkan... huft!! (*ekpresi monyongin mulut, pertanda kecewa tingkat nasional). Disini yang jadi jagoan adalah si kuning. Biar kata si Merah ngaku-ngaku BTS nya ada di tiap kecamatan, tetep ajah disini dikuasai oleh si kuning. Nampaknya di perjalanan kali ini gueh musti tepuk tangan sama si kuning, sedangkan si merah dan si biru bakal gue daftarin di lomba malu tingkat kecamatan bulan depan pas ulang tahun nya pak camat ha ha ha.... #ekspresi kecewa dengan pelayanan si biru.
Sekedar info saja, bagi andah yang rombongan menggunakan bus besar, seringkali hanya bisa parkir di kantor polsek dan dipatok biaya tinggi hingga 1.2 juta. Sebenarnya andah bisa markirin bus di terminal ini dengan bantuan pa Agus Bule, soalnya pa Agus Bule adalah salah satu Guide dari 15 Guide yang ditunjuk oleh departemen pariwisata kab. Lebak untuk mengurus kenyamanan para wisatawan Baduy Dalam. Jika diurus sama pa Agus biaya nya bisa menyusut tajam, Cuma butuh uang sekitar 200 ribu, 50 ribu buat biaya izin polisi, dan 150 ribu buat biaya parkir terminal

Tiba di rumah pa Agus kamih sudah disuguhi dengan suasana alam Baduy... aroma Baduy begitu kental. Pa Agus Bule sudah mempersiapkan belanjaan kami untuk oleh oleh suku Baduy Dalam sebagai seserahan kamih kepada merekah. Suku Baduy dalam sangat senang dibawain ikan asin dan terasi. Setelah acara makan-makan hasil jamuan pa Agus Bule, kamipun bersiap untuk melakukan tracking dengan berjalan kaki menaiki bukit menuju kampung Baduy Dalam sejauh kurang lebih 14 km.

Bersambung....
Kisah lainnya :
                Detik-detik perjalanan ke Baduy Dalam
                Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam
      1. Mengenal Baduy 1 - Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger - Rangkasbitung
      2. Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai
      3. Mengenal Baduy 4 - Menginap di rumah suku Baduy Dalam
      4. Mengenal Baduy 5 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.

      Kini giliran gambar yang bercerita.... berikut dokumentasi para kurcaci Baduyler...

       Didalam kereta jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung
       Tiba di stasiun Rangkasbitung
       Suasana di dalam odong-odong milik pak Riva'i
      Teriminal Ciboleger, pintu masuk akses ke Baduy Dalam
      Posting Komentar