19 September 2011

Mengenal Baduy 3 – Menginap di Rumah Baduy Dalam



Tak sia-sia para kurcaci pimpinan Jama’ah tante Esthi menjelma menjadi Ninja Hatori. Seperti sya’ir lagunya, para kurcaci mendaki gunung dan lewati lembah, dan bahkan menyusuri hutan dimana syaeful Jami bergelantungan (maksudnya DUREN wkwkwk...). Akhirnya perjuangan kamih yang penuh dengan peluh dan keringat membuahkan hasil. Mungkin keringat kamih kalo dikumpulin bisa menghasilkan satu drum ukuran minyak pertamina (halah..!! hiperbolis mode ON). Keringat terbanyak dikumpulkan oleh Dani, disusul Magdalena, terus siTina, si Pante’, gueh dan sisanya adalah hasil sumbangan keringat para peserta yang lainnya (mereka adalah murid setianya vicky Burki, Venna Melinda dan Olive si bininya Popeye yang mengusung semboyan ”Jodoh, rezeki, dan maut itu ditangan Tuhan, sedangkan berat badan ditangan kita”. wakakakaak...).

Begitu kamih menginjakkan kaki di jembatan bambu ketiga, semangat para kurcaci semakin membahana. Dari kejauhan pak Agus bule ngasih aba-aba, ”ini adalah batas kalian tidak boleh berfoto, tidak boleh menggunakan zat kimia yang merusak alam.”, kamipun menyimpan segala peralatan gadget yang kami miliki, hanya senter dan lilin yang bisa dipergunakan untuk penerangan.
Setelah melewati jembatan, terdengar suara anak kecil Baduy Dalam diatas perbukitan 50 meter diatas kami yang teriak dengan nada teratur. Kamih menanyakannya ke pa Agus Bule, apa arti nyanyian itu. Ternyata anak-anak itu bermaksud menyambut kami (waaah... ramah sekali tu anak Baduy Dalam), kami menyambut dengan mengikuti teriakan berirama yang mereka lakukan ”haa aa aah... o yae yooo..., begtitu kamih membalasnya”. Akhirnya kamih bersahut sahutan. Rasa penat pun hilang dengan berteriak-teriak seperti itu. Posisi kamih bersahutan adalah medan ekstreme dengan tanjakan mencapai 50o sepanjang lebih dari 60 meter. Tiba diatas kamih rehat sejenak. Kami bernafas lega akhirnya betis betis mungil milik peserta bisa di istirahatkan.
Kurang lebih berjalan 500 meter, kami memasuki salah satu perkampungan Baduy Dalam, bernama kampung Cibe’o. Kampung ini adalah kampung terdekat Baduy Dalam, di balik bukit sana terlihat kampung Cikatawarna dan Cikeusik.
Memasuki kampung Cibe’o serasa memasuki ke zaman kerajaan dalam film-film silat zaman dulu (saur sepuh, misteri gunung merapi, dll.). Sungguh suasana yang tenang dan asri. Bangunan pertama yang kamih lewati adalah sekumpulan bangunan tempat penyimpanan padi (lumbung). Konon padi yang tersimpan di dalam lumbung bisa bertahan mencapai puluhan tahun, bahkan hingga mencapai seperempat abad. Rata-rata orang Baduy Dalam memiliki usia 80-100 tahun. Orang Baduy Dalam membuat lumbung terpisah dari rumah merekah, dan lumbung dibuat berkelompok dalam satu kawasan yang berjarak 50 meter dari perumahan.

Memasuki perkampungan kaum Baduy Dalam, kamih pun mengumbar senyum palsu kepada mereka (ketauan banget senyum itu palsu, soalnya semua pada menyembunyikan letihnya ha ha ha...). Nampak ibu-ibu dan anak-anak pada lesehan di beranda rumah merekah yang hanya berukuran 6x7 meter berbentuk panggung dengan tinggi panggung 1 meter dan beratapkan daun rumbia kering/ijuk. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu, lantai rumah terbuat dari kopyok (batang bambu yang di jembrengin membentuk lembaran), pintu rumah berbentuk mirip pagar bambu dengan anyaman kasar, jarak antar rumah sekitar 3 meter. Suasana di perkampungan sunyi tanpa bising kendaraan, tanpa polusi asap, tanpa terdengar alat alat elektronik, apalagi bunyi mesin printer dan telepon kantor yang bikin stress di telinga, enggak banget!!. Yang ada hanyalah musik alam berupa bunyi bunyian belalang hutan dan jangkrik, semuanya diam termasuk Melly Goelaw di album pertama, sedangkan haji Rhoma Irama ber Judi, dan Caca Handika menunjuk angka satu (perasa’an kitah nggak ngajakin merekah.., koq merekah jadi ada di cerita ini yaah?? Hmmm.. cerita yang aneeh..ck ck ck....)

Langkah kamih berhenti di depan rumah Pa Mursyid, oleh pa Agus Bule kamih di tampung di rumah keluarga pa Mursyid. Kamih pun mengumpulkan segala bekal berupa mie instant dan beras untuk diserahkan kepada keluarga pa Mursyid untuk kamih makan selama berada disana. Sementara si kuli pasar yang membawa seserahan, Pante, membuka barang bawa’an seserahan untuk dibagikan kepada masing-masing keluarga Baduy Dalam disana. Dari jarak 20 meter dari rumah pa Mursyid terdengar suara angklung membahana membentuk irama khas sunda. Ternyata disana ada kumpulan anak-anak Baduy Dalam yang sedang memainkan angklung dalam rangka menyambut kami. Waaah.... ramah sekali mereka... kita jadi ge’er sekaligus ngeri. Ini musik penyambutan atau musik upacara persembahan yah?? Jangan-jangan ini upacara persembahan untuk leluhur meraka dan kami adalah salahsatu persembahan merekaa?? Hmmm... andaikan itu musik upacara persembahan, pasti aku akan menunjuk yang berbadan gede dulu sebagai korban...cos dagingnya pasti buanyaaak dan merekah bisa kenyang...(ha ha ha... si Dani kayaknya menjadi objek cerita untuk kesekian kali...). Kalo enggak si Dani, akuh pasti akan menunjuk si Nuzul, Pante, Dwi, Adam, Hakim, Gusti, Fredy, dan Adi untuk akuh serahkan ke marekah sebagai persembahan dewa, sedangkan akuh nanti bisa bersama para gadis gatut kaca untuk bersenang-senang di kampung Baduy Dalam (ha ha ha... rasain loeh cowok mata keranjang gueh korbanin, akhirnya gueh bisa berpoligami ria ngikutin syeh Puji... ha ha ha... puas.com). #Enggak ding!! Suku Baduy Dalam bukan termasuk Karnivora dan bukan pula golongan kaum kanibalis koq!!, merekah termasuk herbivora dan cenderung suka makan umbi-umbian#.

Kamih tiba di rumah pa Mursyid pkl. 18:05 wib setelah berjalan selama 4.5 jam naik turun perbukitan. Rasa capek seakan hilang karena teriakan kamih dan sambutan ramah para penduduk kampung Cibe’o.
Malam pun datang. Kamih memasuki rumah pa Mursid. Didalam rumah hanya ada satu lentera berbahan bakar minyak kelapa yang digantungkan di tengah ruangan, sedangkan tungku api untuk memasak berada di pojok rumah dan pojok kamar keluarga pa mursid yang tanpa daun pintu. Lantai rumah pak mursid di gelar tikar hasil anyaman sendiri sebagai alas tidur kitah nanti. Sementara dibawah kamih tidur, terdapat ayam piaraan pa  Mursid yang dimanfaatkan sebagai tanda pagi telah datang, mengingat warga Baduy Dalam tidak mengenal jam (busyeet!! Kita tidur diatas kandang ayam!!).
Kamih datang disambut dengan hujan gerimis, menambah suasana kampung Baduy Dalam seperti nyata di film Saur Sepuh (asal jangan mirip film misteri Nini Pelet ajah, gue paling ngeri sama Nini Pelet dan Ki rempah Mayit suaminya yang suka mencari mangsa ke kampung-kampung di bulan purnama, dan andaipun Nini Pelet datang, gue mau korbanin para cowok mata keranjang biar tinggal gue sendiri bersama para gadis gatut kaca ha ha ha.. kali gue puas menang dua kali wkwkwk...)

Selepas hujan, kamih baru menyadari sedari pagi kamih belum mandi. Kamih pun menuju sungai yang berjarak 50 meter untuk mandi di malam hari #pura-puranya sih mandi..., padahal disana yang mandi Cuma tiga orang. Gueh, Pante, sama si Dwi, yang lain pada kayak kucing, cuma cuci muka dan bersihin ketek doang ha ha ha....  (dikira gueh nggak merhati’in kalian apah biarpun gelap ha ha ha...).
Mandi kamih mengikuti adat setempat, yaitu setengah berbugil ria dan berendam digenangan air sungai yang saat itu sedang surut karena musim kemarau (hmmm...., suasana gelap membuat kami bebas, biarpun airnya dingin namun sangat sejuk...). Kamih mandi tanpa sabun, tanpa odol, tanpa shampo.., semuanya diharamkan disana.
Selepas mandi kamih sholat maghrib berjama’ah dilanjutkan dengan sholat isya’ berjama’ah. Kemudian makan malam bersama yang sudah di siapkan oleh ibu Mursyid. Biarpun lauknya hanya ikan asin dan mie instan rebus, tapi kamih makan dengan lahapnya. Entah karena lapar atau karena suasana gelap, jadi makanan mie isntant seolah spagheti dan ikan asinnya berubah menjadi steak ikan salmon, he he he... rupanya kamih sudah menjelma menjadi anak Baduy Dalam, formasi tempat duduk kami seperti pesta suku pedalaman dimana ditengah-tengah hanya ada satu lentera, sedangkan gelas minum terbuat dari bambu yang di potong, makan tanpa tanpa sendok, sementara disamping kamih adalah tungku api yang bisa menghangatkan suasana sehabis hujan. Posisi kami melingkar dengan pak Mursyid sebagai objek pembicaraan yang menjawab semua penasaran kamih tentang suku Baduy Dalam (konon jika ada undangan dari pemerintah, pa Mursyid ini yang menjadi juru bicara nya, bahkan beliau pernah diundang oleh presiden SBY di kediamannya di Cikeas..., salutnya lagi pa Mursyid dan rombongan ke Cikeas dengan berjalan kaki!! Ck ck ck ck....).

Acara makan begitu cepat berlalu, acara kami lanjutkan dengan interview dengan pa Mursid sebagai narasumber. Kamih para kurcaci melontarkan banyak sekali pertanyaan kepada pa Mursid, adegan ini mirip sesi tanya jawab di sebuah forum seminar, bedanya yang ini seminar ala Baduy dengan setting tempat mirip film Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi besutan sutradara ternama dari kampung gueh bernama Imam Tantowi. Pak Mursid begitu bijak menjawab pertanyaan dan mampu mewakili pertanyaan kami. Hanya saja ada satu pertanyaan yang hingga saat ini masih belum gueh lontarkan dan masih penasaran gueh dibuatnya, yaitu : ”warga Baduy Dalam pakai celana dalam nggak ssiiiiiih...???”, gue nggak tega melontarkan pertanyaan itu kepada pa Mursid ha ha ha... #pak mursid tau nggak yaa gue menyimpan pertanyaan RAHASIA?? Soalnya pa mursid terkenal sebagai orang pinter dikampung Cibe’o., xixixi jadi malu tingkat SMA gueh, bentar lagi malu nya masuk perguruan tinggi wkaakakak#

Acara seminar ala Baduy dibarengi dengan suguhan minuman seadanya dengan gelas dari bambu, dan ditambah dengan minuman racikan khas Baduy, yaitu racikan daun Keras Tulang. Konon daun ini berfungsi sebagai penghangat tubuh. Daun ini banyak kita jumpai di hutan Baduy. Cara menyeduhnya sangat gampang, beberapa daun cukup ditaruh di mangkok, terus disiram pakai air mendidih. Jadi deh tuh minuman segar yang rasanya mirip seduhan daun sirih. Kamih semua mencoba minuman itu. Dengan harapan suasana dingin sehabis hujan bisa kamih lawan.

Meningkat acara selanjutnya adalah sesi kongkow kongkow di beranda rumah Baduay Dalam yang akan diikuti oleh seluruh hadirin yang ada disana (Halah!! Jiwa MC nya kambuh dah!!). kitah ngobrol di beranda rumah pa Mursid dengan ditemani cemilan dan celotehan segar dari kelompok kami dan beberapa anak-anak Baduy Dalam. Kamih begitu akrab dengan merekah. Suasana mulai hening pada pkl. 21:00 wib. Agaknya penduduk Baduy Dalam terbiasa tidur pada jam tersebut. Kamipun mulai siap siap tidur diatas kandang ayam ha ha ha ...(tapi dijamin bersih koq..!!). Gueh masih bisa tidur, bukan karena posisi diatas kandang ayam, tapi karena rasa pengen tau suasana malam di kampung Baduy. Mata ini terpejam pas tengah malam.
Tak berapa lama gueh terbangun jam setengah tiga pagi, karena suasana nya memang dingin banget. Pas pkl. Tiga pagi ayam pun mulai berkokok bersahutan, pertanda hari sudah pagi. Gueh setengah sadar melihat ibu Mursyid bangun dari tidurnya. Si Ibu langsung menyalakan tungku dan memasak makanan untuk kita di pagi hari (waaah..., jadi terharu sama kebaikan ibu mursid...).
Beberapa kurcaci juga terlihat bangun dipagi itu. Gueh bersama Dwi dan Nuzul menuju sungai untuk berwudlu jam 4 pagi, suasana masih begitu sepi. Ada yang aneh disungai itu... hmmm... tapi nanti gue ceritain di edisi cerita berikutnya deeh...

kisah lainnya :
                        Detik-Detik Perjalanan Menuju Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam
                  4.   Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam

Kini giliran foto yang bercerita...
(foto ini bukan di Baduy Dalam, karena disana kita diharamkan pakai foto dan kilatan cahaya, kecuali sorotan batere).
Lumbung Padi Suku Baduy 
Goa
Jembatan Akar
Terbuat dari akar pohon yang dikaitkan satu dengan lainnya
Sungai Suku Baduy Dalam
 
Anak suku Baduy Dalam bisa juga berpose lho...
Pagar perbatasan Baduy luar dengan Baduy dalam






6 komentar:

  1. Kalau sudah baca ceritanya Om Demang kayaknya masih berharap kelanjutannya terus deh. Pembacanya berasa ikut ngetrip kesana dan merasakan atmosfirnya Baduy Dalam.

    k.e.r.e.n.

    BalasHapus
  2. Mantabs kih
    Kpn yoo plesiran nehhhh
    Pnazara.com
    Ckckkckckckcc
    Salam knal mas Huda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuuk kemana kita..??
      salam kenal juga, tapi nama situ koq nggak ada yaks? he he

      Hapus

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....