22 September 2011

Mengenal Baduy 4 – Cerita Aneh Seputar Baduy Dalam

Bangun pagi adalah kegiatan paling menyebalkan bagi gueh jika dirumah. Namun beda cerita saat gueh berada di kampung baduy Dalam. Gueh bangun pkl 02:30 pagi. Gueh penasaran, pengen tau kegiatan penduduk Baduy dikala pagi. Sedikit gue mengintip saat ibu mursid bangun saat ayam berkokok, yaitu pkl. 03:00 wib. Di kampung Baduy Dalam nggak ada cerita ayam berkokok diluar jam segituh, tidak seperti di kota, para ayam berkokok seenak perut. Kata orang tua jaman dulu, kalo ayam berkokok diluar jam 3 pagi (jam 8 -12 malam), berarti pertanda akan ada anak perawan yang hamil diluar nikah (pantes ajah ayam-ayam di kota pada berkokok di malam hari, soalnya di kota kan banyak anak perawan yang hamil diluar nikah... ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
”Pada saat gue bangun pagi dan menuju sungai untuk ambil air wudlu pkl. 04:15wib. Saat itu, Dwi dan Nuzul membawa batere, sedang gue ga bawa apa-apa. Saat mendekati sungai dengan jarak 20 meter terlihat di tengah sungai ada bara menyala. Kami kaget dan saling menegur, diawali dengan si Dwi, ”hei..., lihat! Apa’an itu...” ucap dia membuka omongan, si Nuzul menimpali dan gueh hanya diam (bukan sekali ini gueh ngeliat yang kayak gitu. Dikampung jika mati lampu sering gueh liat benda semacam itu, berbentuk bara seperti arang menyala tanpa api, terbang dengan ketinggian sebatas tinggi manusia, dan ini terjadi di kampung Baduy), gue hanya berucap, sudah cuekin ajah, mungkin itu orang Baduy sedang membawa obor, ucapku lirih kepada mereka. (padahal gue tau banget, orang Baduy Dalam sangat dilarang membawa api keluar rumah, itu sebabnya tungku untuk masak mereka pasang di dalam rumah, tidak seperti suku pedalaman lainnya yang doyan maen api unggun di luar rumah, demi menenangkan mereka, gueh santai ajah). Mereka berduaTiba di tepi sungai, gueh lekas ambil air wudlu dan meninggalkan mereka yang saat itu kebelet buang hajat. Si Dwi terlihat menjauh menuju posisi bara api barusan yang sudah menghilang, entah karena kebelet buang hajat atau cuek, dia tidak sadar posisinya sudah di bekas bara api yang menghilang, nyatanya disana tidak ada orang lain selain kita bertiga. Rasa curiga Dwi hilang terkikis oleh rasa kebelet buang hajat kali yah?? Pikirku dalam hati. Ya sudahlah, gueh tinggalin mereka dan gueh menuju rumah untuk siap-siap sholat subuh. Sehabis sholat gueh melupakan kejadian itu, dan sekarang gueh baru bisa cerita tentang kejadian itu.

Sehabis sholat subuh, hari pun mulai terang, para kurcaci mulai bangun dari tidur nya diiringi dengan perang kentut di pagi hari (haha ha... yang merasa kentutnya paling banyak ngacung!! #Colek si Pante’ dan Gusti). Cerita heboh antar kurcaci pun ramai dibicarakan,  sekedar tau ajah, para kurcaci pimpinan tante Esthi ini paling hobi ngerumpi ngomongin kebiasaan aneh, ada yang bilang si Magdalena tidurnya ngorok, si Pante kalo tidur kentut nya beruntun mirip bom atom hiroshima dan nagasaki, lha gueh sendiri lebih aneh..., kalo tidur sendirian koq pas bangun bisa berdua...?! (# berati bujang ting ting.. ha ha ha).
Sarapan pagi sudah dihidangkan oleh ibu Mursid dengan menu yang sama, yaitu Spagethi dan Steak ikan Salmon ala Baduy (bo’ong ding..!, menunya mie istant sama ikan asin goreng... he he he). Sementara gueh melahap hidangan makan pagi, di teras telah berkumpul beberapa orang Baduy Dalam menjajakan hasil kerajinan tangan mereka, antara lain, pernak-pernik gelang yang dijual satunya goceng (5 rb), kalung yang dijual ceban perbiji, gantungan kunci kalo bisa nawar dapet ceban tiga, cincin harganya cuman seceng (seribu), baju khas Baduy dihargai cepek goban (150 ribu), kain tenun baduy dijual goban (50 ribu), dan yang paling khas adalah madu hutan Baduy yang dijual oleh pa Mursid seharga 80.000/botol gede. Kamih pun menggelar pasar dadakan di teras rumah pa mursid. Para ibu-ibu jama’ah mamah dedeh,selain jago ngaji, mereka juga jago nawar dan bisa menjadi kaum hedonis dadakan.
Pasar dadakan berlangsung hanya beberapa jam saja karena dibubarkan oleh dua orang oknum satpol PP, yaitu pa Agus Bule dan tante Esthi yang teriak teriak mengingatkan para kurcaci agar berbenah untuk melanjutkan perjalanan menuju jembatan akar dan meninggalkan kegiatan shoping centre di kampung Cibe’o (untung ajah tuh satpol PP nggak nemu banci kaleng, kalo merekah nemu pasti ceritanya bakal seru karena musti kejar kejaran sampe ngejebur ke kali... ha ha ha....)

Setelah semua merasa siap, kamih pun berpamitan dan bergegas menuju jembatan akar. Satu persatu para kurcaci dadah-dadah dengan keluarga pa Mursid mirip acara halal bi halal keluarga besar ikan asin (ha ha ha... si Pante’ laku keras, ikan asin dan terasinya ludes diborong penduduk Baduy Dalam, untung banyak kali tuh si preman pasar dagangannya laris manis...). Sebelum meninggalkan tempat, seperti biasa tante Esthi memimpin do’a mau makan (halaah!! Makan lagi makan lagi...! ngaco’ melulu ceritanya, itu mimpin do’a mau melanjutkan perjalanan..., dasar dodol!!)
Perjalanan menuju jembatan akarpun di mulai dengan medan yang jauh lebih extreme, karena penuh tanjakan di tengah hutan, dan posisi tanah habis diguyur hujan gerimis semalam. Sebelum itu gueh sempat nyetok air buat bekal di perjalanan sama pa mursid, gueh isi penuh botol milik si Dwi, soalnya di perjalanan nanti gak bakalan ada penjual minuman. Kami menempuh perjalanan dengan rute yang berbeda.

Perjalanan beberapa kilometer kami langsung bertemu dengan jembatan bambu sebagai perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar, disini jiwa artis para kurcaci kambuh, tangan gatel para fotografer mulai di aktifkan, paras artis mereka pasang di muka masing-masing, nggak sadar bahwa mereka dari kemarin belum mandi, tanpa bercermin dan tanpa bersolek, masing-masing menempatkan diri berperan tanpa skenario (memalukan!!,#ekpresi sinis tingkat propinsi sambil nyikut pake tangan kanan).
Setelah melewati naik turun bukit dengan pemandangan yang nyaris 100% hijau dan rindang,  akhirnya kamih pun tiba di jembatan akar. Disini kami mandi bersama di sungai besar dengan air jernih yang berada 15 meter dibawah jembatan akar, sedangkan empat anak Baduy Dalam bersama Pa Agus Bule dengan setia menunggu kami. Ooh... andaikan gueh jadi anak Baduy Dalam dan pa Agus Bule, pasti gadis-gadis gatot kaca yang lagi mandi itu gueh curi pakaiannya, biar merekah nggak bisa balik, trus diancam biar jadi istri, trus pakaiannya gueh umpetin dilumbung padi disana, dan gueh bisa kawin ala adat Baduy Dalam, gueh punya anak dan setelah puluhan tahun lumbung padinya kosong ketahuan deeh pakaian merekah gueh umpetin disitu. Daaan...., sudah tau dong cerita selanjutnya bagaimana...?? (kayaknya mirip cerita legenda jaka tarub yang mencuri pakaian bidadari yang mandi disungai deeh...., waah!! Ada unsur plagiat nih ceritanya...! parah!!).
Acara mandi-mandi berlangsung sekitar satu jam, biarpun mandi tanpa sabun dan kawan kawannya, tapi kami sangat puas (padahal posisi sudah di Baduy Luar, tapi kami masih menghormati Baduy Dalam, siapa tau sungai itu mengalir kesana). Kamih melanjutkan perjalanan  setelah berkemas dari jembatan akar. Sebelum bergegas gueh sempat mengamati bawa’an si Dani..., tas nya penuh dengan botol minuman kosong... waah rupanya ini rahasia si Dani bisa sampai ke Baduy Dalam...

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
SiDani ternyata orangnya cinta lingkungan dna sangat menghormati adat istiadat suku Baduy Dalam, diah tidak mau membuang sampah plastik di area Baduy, makanya dia kumpulkan sisa botol minuman untuk dibuang di terminal nantinya, niat baik itulah yang membuat suku baduy Dalam begitu menghormati kami, dan atas dorongan mereka lah si Dani berhasil menyabet rekor Agus Bule Award (selama 15 tahun bo!! Pa Agus Bule jadi guide, baru kali ini diah melihat peserta segede Dani bisa menggapai puncak Baduy Dalam!! ).
Selain itu, rahasia lainnya adalah, di tas si Dani penuh dengan coklat. Rupanya dia bekal coklat buanyak sehingga mampu menyimpan energi hingga tiba di Baduy Dalam.
Si Dani juga rajin teriak-teriak saat jalan turun naik bukit, jadi peredaran darah otak nya lancar dan rasa capek pun bisa dinetralisir.

Perjalanan ke terminal Ciboleger masih kira kira 5 km lagi... bagi kami yang sudah menempuh 14 km, jarak itu sangatlah mudah untuk di taklukkan.., apalagi disana ojeg sudah menjemput kami. Rasanya jarak 5 km kalo bisa diperpanjang lagi deeeh..., ketagihan pengen lama tinggal di Baduy Dalam... (sombong!! #pasang muka udang goreng). Tak berapa lama kamih jalan kaki, perumahan penduduk Baduy Luar pun kamih lewati dan titik akhir perjalanan pun akhirnya kamih gapai. Perjalanan ke Ciboleger pun dilanjutkan dengan naik ojeg meski jalan masih terjal dan naik turun. Terngiang cerita aneh yang diucapkan oleh pa Agus Bule saat kami melontarkan pertanyaan sambil jalan, ”kenapa warga Baduy Dalam tidak mau menerima tamu Warga Negara Asing?”  pa Agus Bule bercerita :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (2) :
               Dahulu pernah warga Baduy Dalam menerima WNA untuk berkunjung ke kampungnya, tapi mereka kebanyakan melanggar peraturan yang sudah di tetapkan, nggak boleh foto dan menggunakan zat kimia, tapi mereka melanggarnya. Suatu saat Bule asal Australia berkunjung bersama istri nya. Si bule membawa kamera dan foto-foto di kampung Baduy Dalam, si Bule berbohong kalo yang dibawa bukanlah kamera, tapi senter (padahal itu kamera + lampu sorot), selain itu dia melanggar amanat sang Pu’un agar tidak mandi di tempat tertentu,  tapi dia malah mandi di tempat itu dan menghilang begitu saja. Para pu’un pun berkumpul dan mencoba menerawang keberadaan si Bule yang pelesiran ke alam gaib. Seharian nggak ditemukan, akhirnya sang Pu’un berhasil menemukan si Bule dalam keadaan penuh luka.
Dan menurut cerita si Bule, dia dibawa oleh wanita cantik dan dibawa ke istana si wanita itu pada saat dia mandi, seolah dia menginap di istana, padahal di alam nyata, tempat itu adalah tebing curam bebatuan penuh dengan rimbunan pohon. Untung saja kamera si Bule ditinggal di semak-semak dipinggir sungai, jadi proses pelacakan nya pun sedikit mudah.

Selain itu, ada juga kisah kisah aneh lainnya :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (3) :
Selain cerita Bule diatas, alkisah ada backpacker yang terdiri dari lima anak mahasiswa dari perguruan ternama di Jakarta yang berkunjung ke kampung Baduy Dalam, mereka meminta izin untuk mandi di sungai. Guide dan penduduk Baduy Dalam pun berpesan agar tidak mandi di tempat yang dilarang. Namun salah satu dari mereka melanggarnya. Apa yang terjadi?? Mahasiswa tersebut langsung menemui ajal di posisi dia mandi (ngeri juga yaah??). Ucapan sang Pu’un memang tidak sembarangan. (ck ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (4) :
Cerita aneh ke empat ini gueh sendiri yang ngalamin, pada saat meninggalkan kampung Baduy Dalam, gueh sempet nyetok air minum di rumah pa Mursid, tempat kami menginap. Pada saat posisi masih di kampung Baduy Dalam, air yang gueh bawa begiru terasa segarnya di tenggorokan. Gueh pun rajin menenggak air pemberian pa mursid itu sambil jalan menyusuri hutan. Namun keganjilan muncul saat gueh melintasi jembatan bambu perbatasan Baduy Dalam dan Luar, seperti kebiasaan gueh,  gueh rajin neggak minuman dari pa mursid sambil jalan, anehnya rasa air itu sudah berubah tidka seperti yang gueh rasain pada saat posisi gueh di kampung Baduy Dalam (waaah... air yang aneh..., gumamku dalam hati yang tidka sempat gueh ceritain sama temen-temen rombongan tante Esthi).

Perjalanan berkahir di terminal Ciboleger. Kami makan siang bersama di rumah pa Agus Bule. Kemudian perjalanan melewati rute yang sama, yaitu via Elf bang Riva’i hingga ke stasiun Rangkasbitung. Kami berpisah di stasiun Tanah abang saat kami berhompimpa menirukan adegan opening unyil ucrit, dan usro kemarin pagi. Kenangan hudip bersama suku Baduy Dalam merasuk kedalam jiwa raga kami. Dan yang mengesankan lagi adalah, dua hari setelah kami berkunjung kesana, anak Baduy dalam (si Jali, Juli, Sapri dan seorang temannya) melakukan kunjungan balik ke Jakarta dengan berjalan kaki. Mereka menempuh perjalanan selama 4 hari hingga tiba di Jakarta dari hari Selasa dan tiba di Jakarta hari Sabtu. Hubungan kami dengan para Baduy Dalam pun semakin harmonis, mereka kami ajak jalan jalan keliling monas dna museum.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya..........

Next trip :
  1. Mulung di Pulau Tidung – Kepulauan seribu selatan
  2. Backpackeran ke gunung Krakatau
Posting Komentar