15 September 2011

Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai

Di terminal Ciboleger kami ditampung di rumah pa Agus Bule yang difungsikan sebagai warung makan, tepat di samping Alfamart dan dibelakangnya adalah pasar tradisional. Ciri terminal ini adalah adanya tugu dan patung petani beserta dua anak dan istrinya, mirip tugu tani di daerah menteng, bedanya yang ini agak dekil. (maklum lah..., namanya juga Baduy, jadi harus menyesuaikan dengan keadaan he he he...).

Kamih pun dipersilahkan duduk dan disuguhi makan siang yang sudah dianggarkan oleh sang kepala suku, Esthi. Sehabis acara makan-makan, ada kejadian mengejutkan di rumah pak Agus. Selain adanya 4 anak suku Baduy Dalam yang sudah standby disana, perangai si Esthi tiba tiba berubah menyeramkan (aw aw aw!! Kenape tuuuh...????!). Si Esthi berubah peran menjadi seorang preman mata duitan yang segera beraksi memalak dan mengambil paksa uang kamih. Kamih di palakin satu demi satu. Dan anehnya tak satupun dari kamih mampu melawan (ck ck ck..., hebat juga si Esthi itu yaah...??!, nggak nyangka seorang murid terbaik mamah dedeh bisa berbuat sesadis itu..., *Tuhan ampunilah diah, sadarkanlah diah... aamiiin...). Kini gilirankuh dipalak si Esthi, akuh pun mengeluarkan selembar uang merah, selembar uang biru, dan selembar uang hijau (ceritanya gueh sudah mulai agak ke Baduy-Baduy an gitu.., jadi nggak kenal angka, kenalnya warna doang.. xixixi...). Total dompetku terkuras sebanyak Rp. 170.000,-. Semoga duit itu bisa menjadi manfaat buat akuh, buat sayah, dan buat gueh (halah...!! sama aja buat loeh semua!). Yups ! betul sekali..., uang itu adalah budget anggaran untuk biaya tiap kurcaci selama kitah melakukan perjalanan 2 hari 1 malam di kampung Baduy. (aktualnya sih 150.000, tapi buat jaga-jaga ditambahin 20.000). Tak terasa adegan menyeramkan yang diperankan Esthi telah berlalu, lagu Meggy Zet pun selesai dinyanyikan oleh para peserta (”Sungguh teganya dirimu teganya teganya teganya....” ha ha ha...).
Wajah sumringa dan penuh semangat
(hhhmmh! awas! lihat saja nanti, nggak bakal bisa lagi nampilin paras artisnya! ha ha ha)

Pkl. 13:30 wib kamih berangcut menuju perbukitan, sebelumnya kamih siapkan oleh-oleh berupa terasi dua gepok dan ikan asin beberapa kilo. Konon orang Baduy sangat senang jika di bawain ikan asin dan terasi (maklum..., merekah kan orang gunung, jarang sekali ketemu ikan dan makanan laut lainnya).
Kali ini yang ketiban piket bawain oleh oleh adalah si Pante’. Secara dia pas banget kalo lihat perawakannya yang gede mirip kuli pasar (ha ha ha.... bo’ong ding...! pante’ itu baik hati, ganteng, cute, cool... cuma agak sedikit pelit ha ha ha, nyela’ lagi deeh..!!, dosa besar tuh jelekin orang... *sssst..!! jangan bilang bilang sama Pante’ yah kalo gue jelekin dia...??!).

Rombongan iring-iringan para kurcaci yang mirip acara lamaran pengantin lengkap dengan seserahan pun mulai berjalan menyusuri rumah penduduk dan jalan gang selebar 2.5 meter. Sementara gueh milih posisi di urutan paling depan dengan harapan kalo difoto pasti kena ukuran full face... he he... (sayang sekali ga ada yang mau foto-foto saat itu...).
Baru berjalan kurang dari 500 meter kamih disuguhi dengan medan curam penuh tanjakan dan turunan. Rumah dan gang sempit pun berubah menjadi jalan bebatuan dan undakan, membuat kaki ini lemas. Secara gueh pake sepatu traveling yang beratnya setara dengan sepuluh anak (ajiiiibbb...!!! sepatu apa’an tuuh?) *anak tikus maksudnya :-p
Sepatu gueh lepas pada saat menyeberangi sungai kecil di perkampungan yang agak sudah mulai sepi penduduk, gueh ganti dengan sandal gunung. Sementara sepatu gueh kalungkan di leher untuk meyakinkan para hadirin yang melihat foto gue nantinya, biar mereka percaya perjalanan ke Baduy Dalam memang penuh tantangan ha ha ha....
Jalan naik turun tidak membuat para kurcaci kehilangan jiwa artisnya. Merekah dengan sigap memposisikan diri mencari peran tanpa skenario, setiap tanjakan mereka abadikan. Candaan dan obrolan segar keluar tanpa permisi dari mulut-mulut imut mereka lengkap dengan senyum simpul para pemilik kawat gigi ala gatot kaca (semboyan gigi kawat tulang besi berubah menjadi gigi kawat tulang remek karena ternyata kaki ini mulai pegel dengan medan naik turun undakan). Gueh berkhayal andaikan kawat giginya si Mida, si Dani, dan si Beni melakukan tos dan adu panco, pasti adegannya mirip pertarungan antara Lasmini melawan Mantili dengan pedang. (cring! Cring! Cring!, pasti bunyi pedangnya begitu terasa sampai dilidah.. ha ha ha).

Dua kilometer pertama berhasil kami lewati walau muka penuh ja’im terlihat dari para kurcaci menahan pegel kaki. Berhubung info nya 13 km lagi, maka kamih pun malu-malu kucing kalo menyerah kecape’an, padahal kaki ini meronta ingin berhenti di halte Blok M (ngawur.com... jangan percaya!).
Gueh si Aki Demang, Retno yang Tomboy dan bawa banyak stok cemilan, Mida si gatot kaca dengan gigi kawatnya, dan Beni si finalis Muslimah Beuty 2011, masih memimpin dibarisan paling depan.
Disusul dengan si tomboy dan pemilik suara dengan nada 8 oktav Tina, Lena si fotografer, Adi si guru bahasa Indonesia tingkat SMA, Nuzul si Bugis yang suka nyetock makanan, Hakim yang mirip irfan Hakim (kalo dari sedotan ha ha ha), Gusti yang kalem, Fredy si korban perplonco’an di kereta, Pante si ikan asin pembawa seserahan, mereka berada di barisan tengah bersama 4 anak Baduy, Sapri, Juli, Jali, dan Idong.
Sementara Dwi si bos nya blewah dot com, Dani yang dengan setia mendampingi Dwi di bisnis blewah dot com nya. Esthi si rempong yang suka bolos di pengajiannya mamah dedeh gara-gara mau ngetrip ke Baduy, Risma si copasnya Syahrini, Adam si  calon menteri keuangan, merekah berperan sebagai tim penyapu bersama pa Agus Bule yang sibuk menjawab banyak sekali pertanyaan dari kamih yang bergantian nanya tentang Baduy Dalam. Sesekali sambil wawancara, para kurcaci mengambil gambar untuk dokumentasi dan ajang pamer jika sudah pulang ke Jakarta nantinya.

Para kurcaci terbuai oleh cerita-cerita pa Agus Bule yang gaul dan supel. Tak segan pa Agus menceritakan pengalaman mengantar tamu dari berbagai daerah. Baik dari kalangan pejabat, anak sekolah, anak kuliahan, bahkan sampe para pengusaha yang bangkrut dan ingin bertemu sang Pu’un hanya ingin meminta jampi-jampi agar usahanya lancar.

Di kilometer ketiga nampaknya kejujuran para kurcaci mulai kelihatan. Semua nya kompak minta istirahat. Kamih pun istirahat di sebuah rumah yg menjual makanan dan minuman di tengah perkampungan Baduy Luar, untuk sekedar membeli minum, makanan, dan rokok. Diseberang sana nampak seorang nenek tua yang sedang membuat kain tenun khas Baduy. Sayang sekali si nenek tidak faham dengan bahasa Indonesia, kamih hanya berfoto dan bertegur sapa sewajarnya. Di kilometer empat kamih melewati sungai dan jembatan bambu pertama. Sekedar informasi, untuk mencapai kampung Baduy Dalam, kitah harus melewati tiga jembatan bambu yang unik, hanya menggunakan ikatan untuk penyambungan antar bambu, nyaris tidak ditemukan paku disana. Diatas jembatan kami berfoto ria sambil pasang gaya.
Pada kilometer kelima dan ke enam, pak Agus tidak lagi sibuk menjawab pertanyaan seputar Baduy Dalam dan tamu-tamunya, melainkan sibuk menjawab pertanyaan yang sama dari para kurcaci, yaitu : ”Pa, MASIH JAUH YA PAK?”
Ha ha ha ha..., gueh rasa merekah sudah mulai  kehabisan energi untuk sampai di Baduy dalam (huh..! katanya petualang sejati, baru segini ajah sudah letoyy...!!, *ekspresi mulut monyong kekiri sedikit memble sambil mata merem melek liat atas bawah dan badan balik kanan biar nggak keliatan ekspresinya sama yang lain dengan maksud menyindir).

Pak Agus Bule yang menghadapi bertubi-tubi pertanyaan yang sama hanya dapat menghibur merekah dengan sedikit berbohong, ”sedikit lagi nyampe koq...!”. Tips ampuh pak Agus sedikit berhasil mengelabuhi mereka. Sekali dua kali dengan jawaban yang sama, agaknya para kurcaci mulai mengendus kebohongan pak Agus Bule. Sekalinya pak Agus menjawab satu tanjakan bukit lagi sampe, mereka langsung menyahut : ”SAMPAI MANA PAK?? sampai MONAS??!”  (ekspresi kecewa anak kecil yang kapok dibohongin sama orang tuanya ha ha ha...). Kontan saja celetuka itu disambut dengan tawa oleh yang lainnya, termasuk empat anak Baduy Dalam yang sedari tadi membawakan tas para peserta yang merasa tidak sanggup lagi berjalan kaki dengan beban tas dipunggung.
Ayo... semangaaat!! ini baru separuh perjalanan...!!

Sekedar informasi saja, merekah para Baduy Dalam biasa membawakan tas para tamu dengan dipikul, nantinya kitah bisa memberi imbalan uang berkisar antara 50-60 ribu. Merekah dengan senang hati menerimanya. Bagi seorang Dani, keberadaan mereka amat sangat membantu. Bayangkan saja, untuk membawa badan sendiri yang setara dengan sekarung beras nya orang Baduy saja diah sudah kewalahan, bagaimana jika ditambah beban tas dan bekal?! Bisa mati kelelahan diah... he he he... Jangankan Dani yang gagal masuk atlet sumo, si Risma yang berbadan imut saja sampe menitipkan tas dan bawaannya kepada anak Baduy Dalam koq..., bisa di bayangkan betapa panjang dan berliku perjalanan kami...

Setelah melewati jembatan pertama dan sesi foto-foto ditambah istirahat yang lama, kamih melanjutkan perjalanan dengan medan hijau dan adem. Nampak diatas rimbunan pohon ada banyak sekali Syaiful Jamil bergelantungan, dulu Ray Sahetaphy, Pasha Ungu dan Jeremy Tomas juga sempat bergelantungan disini, tapi karena merekah sudah menemukan jodohnya jadi merekah pensiun bergelantungan disini. Tinggal Syaiful Jamil yang sekarang masih bertahan bergelantungan diatas pohon di tengah hutan Baduy yang sedang kamih lewati.
(Ini ngomongin apa siih?? Koq jadi bahas infotainment?? *maksudnya syaiful Jamil, Ray Sahetapy, Jeremy Thomas dan Pasha ungu adalah DUDA KEREN alias DUREN, jadi maksudnya kitah ngomongin DUREN tauuuuww..... *LOLA alias Loading Lambat niih!! Perlu di upgrade!! Payaah...).

Gueh jadi inget pesan seorang teman sebelum berangkat ke Baduy, diah bilang kalo ke Baduy nanti, jangan lupa untuk mencicipi Duren Hutan nya Baduy. Dijamin bakal ketagihan. Tapi sayang sekali duren-duren itu masih muda dan sedang nggak musim. Jadi gueh nggak tega mengambil Syaiful Jamil dari tempat gelantungannya.. ha ha ha... Kamipun istirahat sejenak melepas lelah. Kali ini rombongan terpecah jauh, kayaknya kekompakan nya sudah mulai berkurang nih..., ada yang ingin buru-buru sampai, ada yang biasa-biasa saja.., dan ada juga yang kecape’an membawa badan sendiri.

Setelah disuguhi pemandangan hijau, kamih melewati jembatan bambu kedua, dan medan selanjutnya adalah bukit gersang tanpa pohon rindang, kata pa Agus itu adalah sawah nya orang Baduy Dalam. Mereka menanam padi tidak seperti sawah pad aumumnya yang selalu tergenang air, tapi mirip menanam biji-bijian. Mereka menamakan nya dengan istilah Gogoh. Hamparan bukit gersang itu kami lewati. Dan medan selanjutnya adalah tanjakan curam. Tanjakan ini adalah tanjakan terakhir dan terberat menurut pa Agus. Banyak para tamu yang tidak sanggup sampai tanjakan sini, dan dengan kecewa serta terpaksa mereka tidak bisa sampai di kampung Baduy Dalam dan akhirnya menginap di kampung Baduy Luar. Beruntung kami bisa kuat sampai disini, sebentar lagi tiba di perkampungan. Kami coba tanya ke pa Agus, berapa lama lagi tiba di perkampungan. Jawaban pa Agus kali ini membuat kami menjadi semangat kembali. Jarak menuju kampung Baduy Dalam tinggal 3 km lagi. Horeee...
Rombongan sudah mulai terpisah pisah (waah... gawat niih!!)

Menurut cerita guide kami pa Agus, diah sempat pesimis kelompok kamih bisa tiba di Baduy Dalam, melihat kondisi Dani yang sangat mengenaskan. Beliauh salut atas semangat Dani yang bisa bertahan hingga menjelang memasuki perkampungan Baduy Dalam. Selama 15 tahun beliauh menjadi guide, baru kali ini pemilik badan segede Dani bisa berhasil sampai jembatan bambu ketiga, yang artinya 500 meter lagi tiba di perkampungan Baduy Dalam. Waah selamat ya Dani... Kamu memang the best. Berita gembira ini langsung gueh umumin bersama teman-teman yang lainnya pada saat rehat sehabis melewati jembatan ketiga. Dan sambutan tepuk tangan pun membahana. Wajah Dani yang sedari tadi pucat pasi kehabisan tenaga mendaki dan menuruni bukit menjadi senyum sumringah ditambah senyum gatot kaca nya yang khas...


Bagaimana Rahasia Dani bisa melewati rintangan menuju kampung Baduy Dalam? Rahasianya ada di cerita berikutnya saat perjalanan menuju jembatan akar....

Bersambung....

kisah lainnya :
                        Detik-detik Perjalanan Ke Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Mengenai Suku Baduy Dalam
4.      Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.
Posting Komentar