29 September 2011

Mengisi Liburan Pendek Di Kota Tua


Mau dirumah saja? Bete. Mau ngetrip luar kota? Nggak cukup waktu...
Ditengah kebingungan mengisi liburan di akhir pekan nanti, tiba-tiba smarthphoone ku bergetar, perlahan aku lihat, ternyata sebuah pesan singkat  BB dari seorang teman mengabarkan bahwa seorang sahabat dari Bandung akan berkunjung ke Jakarta, dan minta ditemani jalan ke monas dan komplek wisata kota tua di pesisir Jakarta. Berita itupun tersebar di forum group jejaring sosial tempat kami berkumpul dan berdiskusi jika akan merencanakan perjalanan luar kota. Sontak komentar dan sahutan mengisi forum diskusi yang biasa kami pakai. Ada beberapa sahabat backpacker yang dapat meluangkan waktunya untuk Dhea, si sahabat backpacker asal Bandung yang ingin keliling kota tua di hari minggu nanti.

Sepakat meeting point di stasiun kota, kami pun bertemu disana pkl. 10:00 wib. Sebanyak 7 orang termasuk si Dhea, kami berkumpul. Sambil menunggu sore hari untuk bersepeda ria, kami sepakat untuk keliling museum Fatahillah setelah sebelumnya menyantap makanan dan jajanan khas yang dijajakan oleh pedagang di sekitar komplek  museum dan kota tua. Senang rasanya bisa kopdar dan mengejewantahkan semua ekspresi dalam dunia nyata setelah sekian lama kita bergaul, bercakap, bersenda gurau hanya di dunia maya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah museum Fatahillah. Dengan hanya membayar tiket Rp. 2.000/org kami berkeliling komplek museum dan gambaran masa lampau mampu menembus alam ilusi kami begitu kami berada di komplek museum.

Tak terasa waktu sore yang dinantikan datang. Bersama itu pula, satu lagi sahabat backpacker datang. Lengkap 8 sahabat backpacker berkumpul, 4 cowok, dan 4 cewek. Kami bersiap keliling dan menikmati suguhan pemandangan kota tua dengan menggunakan sepeda onthel. Sewa sepeda Rp. 25.000 per 2 orang berboncengan, plus aksessories topi khas menir dan nyonya Belanda, ditambah dengan seorang guide yang siap menunjukkan eksotisme pemandangan kota tua yang bersejarah. Kami menuju 5 lokasi bersejarah yang menceritakan cikal bakal terbentuknya sebuah kota bernama Jayakarta atau dikenal didunia dengan nama Jakarta, yaitu : Pelabuhan Sunda Kelapa, Dermaga, Museum Bahari, Jembatan Merah, dan Toko Merah.
Berikut cerita bergambar nya :
Di pelataran museum Fatahillah
 Dek Kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa
 Diatas Kapal - Pelabuhan Sunda Kelapa
 Toko Merah, 
Salah satu bangunan bersejarah dan saksi bisu pembantaian oleh tentara Jepang
 Ujung Kapal Pelabuhan Sunda Kelapa
 Bersepeda di area Pelabuhan Sunda Kelapa
 Jembatan Merah
Saksi bisu pembantaian massal warga Indonesia Tionghoa oleh tentara Jepang
Es Potong,
Jajanan khas area museum Fatahillah dan Kota Tua


Salam backpacker,

22 September 2011

Mengenal Baduy 4 – Cerita Aneh Seputar Baduy Dalam

Bangun pagi adalah kegiatan paling menyebalkan bagi gueh jika dirumah. Namun beda cerita saat gueh berada di kampung baduy Dalam. Gueh bangun pkl 02:30 pagi. Gueh penasaran, pengen tau kegiatan penduduk Baduy dikala pagi. Sedikit gue mengintip saat ibu mursid bangun saat ayam berkokok, yaitu pkl. 03:00 wib. Di kampung Baduy Dalam nggak ada cerita ayam berkokok diluar jam segituh, tidak seperti di kota, para ayam berkokok seenak perut. Kata orang tua jaman dulu, kalo ayam berkokok diluar jam 3 pagi (jam 8 -12 malam), berarti pertanda akan ada anak perawan yang hamil diluar nikah (pantes ajah ayam-ayam di kota pada berkokok di malam hari, soalnya di kota kan banyak anak perawan yang hamil diluar nikah... ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
”Pada saat gue bangun pagi dan menuju sungai untuk ambil air wudlu pkl. 04:15wib. Saat itu, Dwi dan Nuzul membawa batere, sedang gue ga bawa apa-apa. Saat mendekati sungai dengan jarak 20 meter terlihat di tengah sungai ada bara menyala. Kami kaget dan saling menegur, diawali dengan si Dwi, ”hei..., lihat! Apa’an itu...” ucap dia membuka omongan, si Nuzul menimpali dan gueh hanya diam (bukan sekali ini gueh ngeliat yang kayak gitu. Dikampung jika mati lampu sering gueh liat benda semacam itu, berbentuk bara seperti arang menyala tanpa api, terbang dengan ketinggian sebatas tinggi manusia, dan ini terjadi di kampung Baduy), gue hanya berucap, sudah cuekin ajah, mungkin itu orang Baduy sedang membawa obor, ucapku lirih kepada mereka. (padahal gue tau banget, orang Baduy Dalam sangat dilarang membawa api keluar rumah, itu sebabnya tungku untuk masak mereka pasang di dalam rumah, tidak seperti suku pedalaman lainnya yang doyan maen api unggun di luar rumah, demi menenangkan mereka, gueh santai ajah). Mereka berduaTiba di tepi sungai, gueh lekas ambil air wudlu dan meninggalkan mereka yang saat itu kebelet buang hajat. Si Dwi terlihat menjauh menuju posisi bara api barusan yang sudah menghilang, entah karena kebelet buang hajat atau cuek, dia tidak sadar posisinya sudah di bekas bara api yang menghilang, nyatanya disana tidak ada orang lain selain kita bertiga. Rasa curiga Dwi hilang terkikis oleh rasa kebelet buang hajat kali yah?? Pikirku dalam hati. Ya sudahlah, gueh tinggalin mereka dan gueh menuju rumah untuk siap-siap sholat subuh. Sehabis sholat gueh melupakan kejadian itu, dan sekarang gueh baru bisa cerita tentang kejadian itu.

Sehabis sholat subuh, hari pun mulai terang, para kurcaci mulai bangun dari tidur nya diiringi dengan perang kentut di pagi hari (haha ha... yang merasa kentutnya paling banyak ngacung!! #Colek si Pante’ dan Gusti). Cerita heboh antar kurcaci pun ramai dibicarakan,  sekedar tau ajah, para kurcaci pimpinan tante Esthi ini paling hobi ngerumpi ngomongin kebiasaan aneh, ada yang bilang si Magdalena tidurnya ngorok, si Pante kalo tidur kentut nya beruntun mirip bom atom hiroshima dan nagasaki, lha gueh sendiri lebih aneh..., kalo tidur sendirian koq pas bangun bisa berdua...?! (# berati bujang ting ting.. ha ha ha).
Sarapan pagi sudah dihidangkan oleh ibu Mursid dengan menu yang sama, yaitu Spagethi dan Steak ikan Salmon ala Baduy (bo’ong ding..!, menunya mie istant sama ikan asin goreng... he he he). Sementara gueh melahap hidangan makan pagi, di teras telah berkumpul beberapa orang Baduy Dalam menjajakan hasil kerajinan tangan mereka, antara lain, pernak-pernik gelang yang dijual satunya goceng (5 rb), kalung yang dijual ceban perbiji, gantungan kunci kalo bisa nawar dapet ceban tiga, cincin harganya cuman seceng (seribu), baju khas Baduy dihargai cepek goban (150 ribu), kain tenun baduy dijual goban (50 ribu), dan yang paling khas adalah madu hutan Baduy yang dijual oleh pa Mursid seharga 80.000/botol gede. Kamih pun menggelar pasar dadakan di teras rumah pa mursid. Para ibu-ibu jama’ah mamah dedeh,selain jago ngaji, mereka juga jago nawar dan bisa menjadi kaum hedonis dadakan.
Pasar dadakan berlangsung hanya beberapa jam saja karena dibubarkan oleh dua orang oknum satpol PP, yaitu pa Agus Bule dan tante Esthi yang teriak teriak mengingatkan para kurcaci agar berbenah untuk melanjutkan perjalanan menuju jembatan akar dan meninggalkan kegiatan shoping centre di kampung Cibe’o (untung ajah tuh satpol PP nggak nemu banci kaleng, kalo merekah nemu pasti ceritanya bakal seru karena musti kejar kejaran sampe ngejebur ke kali... ha ha ha....)

Setelah semua merasa siap, kamih pun berpamitan dan bergegas menuju jembatan akar. Satu persatu para kurcaci dadah-dadah dengan keluarga pa Mursid mirip acara halal bi halal keluarga besar ikan asin (ha ha ha... si Pante’ laku keras, ikan asin dan terasinya ludes diborong penduduk Baduy Dalam, untung banyak kali tuh si preman pasar dagangannya laris manis...). Sebelum meninggalkan tempat, seperti biasa tante Esthi memimpin do’a mau makan (halaah!! Makan lagi makan lagi...! ngaco’ melulu ceritanya, itu mimpin do’a mau melanjutkan perjalanan..., dasar dodol!!)
Perjalanan menuju jembatan akarpun di mulai dengan medan yang jauh lebih extreme, karena penuh tanjakan di tengah hutan, dan posisi tanah habis diguyur hujan gerimis semalam. Sebelum itu gueh sempat nyetok air buat bekal di perjalanan sama pa mursid, gueh isi penuh botol milik si Dwi, soalnya di perjalanan nanti gak bakalan ada penjual minuman. Kami menempuh perjalanan dengan rute yang berbeda.

Perjalanan beberapa kilometer kami langsung bertemu dengan jembatan bambu sebagai perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar, disini jiwa artis para kurcaci kambuh, tangan gatel para fotografer mulai di aktifkan, paras artis mereka pasang di muka masing-masing, nggak sadar bahwa mereka dari kemarin belum mandi, tanpa bercermin dan tanpa bersolek, masing-masing menempatkan diri berperan tanpa skenario (memalukan!!,#ekpresi sinis tingkat propinsi sambil nyikut pake tangan kanan).
Setelah melewati naik turun bukit dengan pemandangan yang nyaris 100% hijau dan rindang,  akhirnya kamih pun tiba di jembatan akar. Disini kami mandi bersama di sungai besar dengan air jernih yang berada 15 meter dibawah jembatan akar, sedangkan empat anak Baduy Dalam bersama Pa Agus Bule dengan setia menunggu kami. Ooh... andaikan gueh jadi anak Baduy Dalam dan pa Agus Bule, pasti gadis-gadis gatot kaca yang lagi mandi itu gueh curi pakaiannya, biar merekah nggak bisa balik, trus diancam biar jadi istri, trus pakaiannya gueh umpetin dilumbung padi disana, dan gueh bisa kawin ala adat Baduy Dalam, gueh punya anak dan setelah puluhan tahun lumbung padinya kosong ketahuan deeh pakaian merekah gueh umpetin disitu. Daaan...., sudah tau dong cerita selanjutnya bagaimana...?? (kayaknya mirip cerita legenda jaka tarub yang mencuri pakaian bidadari yang mandi disungai deeh...., waah!! Ada unsur plagiat nih ceritanya...! parah!!).
Acara mandi-mandi berlangsung sekitar satu jam, biarpun mandi tanpa sabun dan kawan kawannya, tapi kami sangat puas (padahal posisi sudah di Baduy Luar, tapi kami masih menghormati Baduy Dalam, siapa tau sungai itu mengalir kesana). Kamih melanjutkan perjalanan  setelah berkemas dari jembatan akar. Sebelum bergegas gueh sempat mengamati bawa’an si Dani..., tas nya penuh dengan botol minuman kosong... waah rupanya ini rahasia si Dani bisa sampai ke Baduy Dalam...

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
SiDani ternyata orangnya cinta lingkungan dna sangat menghormati adat istiadat suku Baduy Dalam, diah tidak mau membuang sampah plastik di area Baduy, makanya dia kumpulkan sisa botol minuman untuk dibuang di terminal nantinya, niat baik itulah yang membuat suku baduy Dalam begitu menghormati kami, dan atas dorongan mereka lah si Dani berhasil menyabet rekor Agus Bule Award (selama 15 tahun bo!! Pa Agus Bule jadi guide, baru kali ini diah melihat peserta segede Dani bisa menggapai puncak Baduy Dalam!! ).
Selain itu, rahasia lainnya adalah, di tas si Dani penuh dengan coklat. Rupanya dia bekal coklat buanyak sehingga mampu menyimpan energi hingga tiba di Baduy Dalam.
Si Dani juga rajin teriak-teriak saat jalan turun naik bukit, jadi peredaran darah otak nya lancar dan rasa capek pun bisa dinetralisir.

Perjalanan ke terminal Ciboleger masih kira kira 5 km lagi... bagi kami yang sudah menempuh 14 km, jarak itu sangatlah mudah untuk di taklukkan.., apalagi disana ojeg sudah menjemput kami. Rasanya jarak 5 km kalo bisa diperpanjang lagi deeeh..., ketagihan pengen lama tinggal di Baduy Dalam... (sombong!! #pasang muka udang goreng). Tak berapa lama kamih jalan kaki, perumahan penduduk Baduy Luar pun kamih lewati dan titik akhir perjalanan pun akhirnya kamih gapai. Perjalanan ke Ciboleger pun dilanjutkan dengan naik ojeg meski jalan masih terjal dan naik turun. Terngiang cerita aneh yang diucapkan oleh pa Agus Bule saat kami melontarkan pertanyaan sambil jalan, ”kenapa warga Baduy Dalam tidak mau menerima tamu Warga Negara Asing?”  pa Agus Bule bercerita :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (2) :
               Dahulu pernah warga Baduy Dalam menerima WNA untuk berkunjung ke kampungnya, tapi mereka kebanyakan melanggar peraturan yang sudah di tetapkan, nggak boleh foto dan menggunakan zat kimia, tapi mereka melanggarnya. Suatu saat Bule asal Australia berkunjung bersama istri nya. Si bule membawa kamera dan foto-foto di kampung Baduy Dalam, si Bule berbohong kalo yang dibawa bukanlah kamera, tapi senter (padahal itu kamera + lampu sorot), selain itu dia melanggar amanat sang Pu’un agar tidak mandi di tempat tertentu,  tapi dia malah mandi di tempat itu dan menghilang begitu saja. Para pu’un pun berkumpul dan mencoba menerawang keberadaan si Bule yang pelesiran ke alam gaib. Seharian nggak ditemukan, akhirnya sang Pu’un berhasil menemukan si Bule dalam keadaan penuh luka.
Dan menurut cerita si Bule, dia dibawa oleh wanita cantik dan dibawa ke istana si wanita itu pada saat dia mandi, seolah dia menginap di istana, padahal di alam nyata, tempat itu adalah tebing curam bebatuan penuh dengan rimbunan pohon. Untung saja kamera si Bule ditinggal di semak-semak dipinggir sungai, jadi proses pelacakan nya pun sedikit mudah.

Selain itu, ada juga kisah kisah aneh lainnya :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (3) :
Selain cerita Bule diatas, alkisah ada backpacker yang terdiri dari lima anak mahasiswa dari perguruan ternama di Jakarta yang berkunjung ke kampung Baduy Dalam, mereka meminta izin untuk mandi di sungai. Guide dan penduduk Baduy Dalam pun berpesan agar tidak mandi di tempat yang dilarang. Namun salah satu dari mereka melanggarnya. Apa yang terjadi?? Mahasiswa tersebut langsung menemui ajal di posisi dia mandi (ngeri juga yaah??). Ucapan sang Pu’un memang tidak sembarangan. (ck ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (4) :
Cerita aneh ke empat ini gueh sendiri yang ngalamin, pada saat meninggalkan kampung Baduy Dalam, gueh sempet nyetok air minum di rumah pa Mursid, tempat kami menginap. Pada saat posisi masih di kampung Baduy Dalam, air yang gueh bawa begiru terasa segarnya di tenggorokan. Gueh pun rajin menenggak air pemberian pa mursid itu sambil jalan menyusuri hutan. Namun keganjilan muncul saat gueh melintasi jembatan bambu perbatasan Baduy Dalam dan Luar, seperti kebiasaan gueh,  gueh rajin neggak minuman dari pa mursid sambil jalan, anehnya rasa air itu sudah berubah tidka seperti yang gueh rasain pada saat posisi gueh di kampung Baduy Dalam (waaah... air yang aneh..., gumamku dalam hati yang tidka sempat gueh ceritain sama temen-temen rombongan tante Esthi).

Perjalanan berkahir di terminal Ciboleger. Kami makan siang bersama di rumah pa Agus Bule. Kemudian perjalanan melewati rute yang sama, yaitu via Elf bang Riva’i hingga ke stasiun Rangkasbitung. Kami berpisah di stasiun Tanah abang saat kami berhompimpa menirukan adegan opening unyil ucrit, dan usro kemarin pagi. Kenangan hudip bersama suku Baduy Dalam merasuk kedalam jiwa raga kami. Dan yang mengesankan lagi adalah, dua hari setelah kami berkunjung kesana, anak Baduy dalam (si Jali, Juli, Sapri dan seorang temannya) melakukan kunjungan balik ke Jakarta dengan berjalan kaki. Mereka menempuh perjalanan selama 4 hari hingga tiba di Jakarta dari hari Selasa dan tiba di Jakarta hari Sabtu. Hubungan kami dengan para Baduy Dalam pun semakin harmonis, mereka kami ajak jalan jalan keliling monas dna museum.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya..........

Next trip :
  1. Mulung di Pulau Tidung – Kepulauan seribu selatan
  2. Backpackeran ke gunung Krakatau

19 September 2011

Mengenal Baduy 3 – Menginap di Rumah Baduy Dalam



Tak sia-sia para kurcaci pimpinan Jama’ah tante Esthi menjelma menjadi Ninja Hatori. Seperti sya’ir lagunya, para kurcaci mendaki gunung dan lewati lembah, dan bahkan menyusuri hutan dimana syaeful Jami bergelantungan (maksudnya DUREN wkwkwk...). Akhirnya perjuangan kamih yang penuh dengan peluh dan keringat membuahkan hasil. Mungkin keringat kamih kalo dikumpulin bisa menghasilkan satu drum ukuran minyak pertamina (halah..!! hiperbolis mode ON). Keringat terbanyak dikumpulkan oleh Dani, disusul Magdalena, terus siTina, si Pante’, gueh dan sisanya adalah hasil sumbangan keringat para peserta yang lainnya (mereka adalah murid setianya vicky Burki, Venna Melinda dan Olive si bininya Popeye yang mengusung semboyan ”Jodoh, rezeki, dan maut itu ditangan Tuhan, sedangkan berat badan ditangan kita”. wakakakaak...).

Begitu kamih menginjakkan kaki di jembatan bambu ketiga, semangat para kurcaci semakin membahana. Dari kejauhan pak Agus bule ngasih aba-aba, ”ini adalah batas kalian tidak boleh berfoto, tidak boleh menggunakan zat kimia yang merusak alam.”, kamipun menyimpan segala peralatan gadget yang kami miliki, hanya senter dan lilin yang bisa dipergunakan untuk penerangan.
Setelah melewati jembatan, terdengar suara anak kecil Baduy Dalam diatas perbukitan 50 meter diatas kami yang teriak dengan nada teratur. Kamih menanyakannya ke pa Agus Bule, apa arti nyanyian itu. Ternyata anak-anak itu bermaksud menyambut kami (waaah... ramah sekali tu anak Baduy Dalam), kami menyambut dengan mengikuti teriakan berirama yang mereka lakukan ”haa aa aah... o yae yooo..., begtitu kamih membalasnya”. Akhirnya kamih bersahut sahutan. Rasa penat pun hilang dengan berteriak-teriak seperti itu. Posisi kamih bersahutan adalah medan ekstreme dengan tanjakan mencapai 50o sepanjang lebih dari 60 meter. Tiba diatas kamih rehat sejenak. Kami bernafas lega akhirnya betis betis mungil milik peserta bisa di istirahatkan.
Kurang lebih berjalan 500 meter, kami memasuki salah satu perkampungan Baduy Dalam, bernama kampung Cibe’o. Kampung ini adalah kampung terdekat Baduy Dalam, di balik bukit sana terlihat kampung Cikatawarna dan Cikeusik.
Memasuki kampung Cibe’o serasa memasuki ke zaman kerajaan dalam film-film silat zaman dulu (saur sepuh, misteri gunung merapi, dll.). Sungguh suasana yang tenang dan asri. Bangunan pertama yang kamih lewati adalah sekumpulan bangunan tempat penyimpanan padi (lumbung). Konon padi yang tersimpan di dalam lumbung bisa bertahan mencapai puluhan tahun, bahkan hingga mencapai seperempat abad. Rata-rata orang Baduy Dalam memiliki usia 80-100 tahun. Orang Baduy Dalam membuat lumbung terpisah dari rumah merekah, dan lumbung dibuat berkelompok dalam satu kawasan yang berjarak 50 meter dari perumahan.

Memasuki perkampungan kaum Baduy Dalam, kamih pun mengumbar senyum palsu kepada mereka (ketauan banget senyum itu palsu, soalnya semua pada menyembunyikan letihnya ha ha ha...). Nampak ibu-ibu dan anak-anak pada lesehan di beranda rumah merekah yang hanya berukuran 6x7 meter berbentuk panggung dengan tinggi panggung 1 meter dan beratapkan daun rumbia kering/ijuk. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu, lantai rumah terbuat dari kopyok (batang bambu yang di jembrengin membentuk lembaran), pintu rumah berbentuk mirip pagar bambu dengan anyaman kasar, jarak antar rumah sekitar 3 meter. Suasana di perkampungan sunyi tanpa bising kendaraan, tanpa polusi asap, tanpa terdengar alat alat elektronik, apalagi bunyi mesin printer dan telepon kantor yang bikin stress di telinga, enggak banget!!. Yang ada hanyalah musik alam berupa bunyi bunyian belalang hutan dan jangkrik, semuanya diam termasuk Melly Goelaw di album pertama, sedangkan haji Rhoma Irama ber Judi, dan Caca Handika menunjuk angka satu (perasa’an kitah nggak ngajakin merekah.., koq merekah jadi ada di cerita ini yaah?? Hmmm.. cerita yang aneeh..ck ck ck....)

Langkah kamih berhenti di depan rumah Pa Mursyid, oleh pa Agus Bule kamih di tampung di rumah keluarga pa Mursyid. Kamih pun mengumpulkan segala bekal berupa mie instant dan beras untuk diserahkan kepada keluarga pa Mursyid untuk kamih makan selama berada disana. Sementara si kuli pasar yang membawa seserahan, Pante, membuka barang bawa’an seserahan untuk dibagikan kepada masing-masing keluarga Baduy Dalam disana. Dari jarak 20 meter dari rumah pa Mursyid terdengar suara angklung membahana membentuk irama khas sunda. Ternyata disana ada kumpulan anak-anak Baduy Dalam yang sedang memainkan angklung dalam rangka menyambut kami. Waaah.... ramah sekali mereka... kita jadi ge’er sekaligus ngeri. Ini musik penyambutan atau musik upacara persembahan yah?? Jangan-jangan ini upacara persembahan untuk leluhur meraka dan kami adalah salahsatu persembahan merekaa?? Hmmm... andaikan itu musik upacara persembahan, pasti aku akan menunjuk yang berbadan gede dulu sebagai korban...cos dagingnya pasti buanyaaak dan merekah bisa kenyang...(ha ha ha... si Dani kayaknya menjadi objek cerita untuk kesekian kali...). Kalo enggak si Dani, akuh pasti akan menunjuk si Nuzul, Pante, Dwi, Adam, Hakim, Gusti, Fredy, dan Adi untuk akuh serahkan ke marekah sebagai persembahan dewa, sedangkan akuh nanti bisa bersama para gadis gatut kaca untuk bersenang-senang di kampung Baduy Dalam (ha ha ha... rasain loeh cowok mata keranjang gueh korbanin, akhirnya gueh bisa berpoligami ria ngikutin syeh Puji... ha ha ha... puas.com). #Enggak ding!! Suku Baduy Dalam bukan termasuk Karnivora dan bukan pula golongan kaum kanibalis koq!!, merekah termasuk herbivora dan cenderung suka makan umbi-umbian#.

Kamih tiba di rumah pa Mursyid pkl. 18:05 wib setelah berjalan selama 4.5 jam naik turun perbukitan. Rasa capek seakan hilang karena teriakan kamih dan sambutan ramah para penduduk kampung Cibe’o.
Malam pun datang. Kamih memasuki rumah pa Mursid. Didalam rumah hanya ada satu lentera berbahan bakar minyak kelapa yang digantungkan di tengah ruangan, sedangkan tungku api untuk memasak berada di pojok rumah dan pojok kamar keluarga pa mursid yang tanpa daun pintu. Lantai rumah pak mursid di gelar tikar hasil anyaman sendiri sebagai alas tidur kitah nanti. Sementara dibawah kamih tidur, terdapat ayam piaraan pa  Mursid yang dimanfaatkan sebagai tanda pagi telah datang, mengingat warga Baduy Dalam tidak mengenal jam (busyeet!! Kita tidur diatas kandang ayam!!).
Kamih datang disambut dengan hujan gerimis, menambah suasana kampung Baduy Dalam seperti nyata di film Saur Sepuh (asal jangan mirip film misteri Nini Pelet ajah, gue paling ngeri sama Nini Pelet dan Ki rempah Mayit suaminya yang suka mencari mangsa ke kampung-kampung di bulan purnama, dan andaipun Nini Pelet datang, gue mau korbanin para cowok mata keranjang biar tinggal gue sendiri bersama para gadis gatut kaca ha ha ha.. kali gue puas menang dua kali wkwkwk...)

Selepas hujan, kamih baru menyadari sedari pagi kamih belum mandi. Kamih pun menuju sungai yang berjarak 50 meter untuk mandi di malam hari #pura-puranya sih mandi..., padahal disana yang mandi Cuma tiga orang. Gueh, Pante, sama si Dwi, yang lain pada kayak kucing, cuma cuci muka dan bersihin ketek doang ha ha ha....  (dikira gueh nggak merhati’in kalian apah biarpun gelap ha ha ha...).
Mandi kamih mengikuti adat setempat, yaitu setengah berbugil ria dan berendam digenangan air sungai yang saat itu sedang surut karena musim kemarau (hmmm...., suasana gelap membuat kami bebas, biarpun airnya dingin namun sangat sejuk...). Kamih mandi tanpa sabun, tanpa odol, tanpa shampo.., semuanya diharamkan disana.
Selepas mandi kamih sholat maghrib berjama’ah dilanjutkan dengan sholat isya’ berjama’ah. Kemudian makan malam bersama yang sudah di siapkan oleh ibu Mursyid. Biarpun lauknya hanya ikan asin dan mie instan rebus, tapi kamih makan dengan lahapnya. Entah karena lapar atau karena suasana gelap, jadi makanan mie isntant seolah spagheti dan ikan asinnya berubah menjadi steak ikan salmon, he he he... rupanya kamih sudah menjelma menjadi anak Baduy Dalam, formasi tempat duduk kami seperti pesta suku pedalaman dimana ditengah-tengah hanya ada satu lentera, sedangkan gelas minum terbuat dari bambu yang di potong, makan tanpa tanpa sendok, sementara disamping kamih adalah tungku api yang bisa menghangatkan suasana sehabis hujan. Posisi kami melingkar dengan pak Mursyid sebagai objek pembicaraan yang menjawab semua penasaran kamih tentang suku Baduy Dalam (konon jika ada undangan dari pemerintah, pa Mursyid ini yang menjadi juru bicara nya, bahkan beliau pernah diundang oleh presiden SBY di kediamannya di Cikeas..., salutnya lagi pa Mursyid dan rombongan ke Cikeas dengan berjalan kaki!! Ck ck ck ck....).

Acara makan begitu cepat berlalu, acara kami lanjutkan dengan interview dengan pa Mursid sebagai narasumber. Kamih para kurcaci melontarkan banyak sekali pertanyaan kepada pa Mursid, adegan ini mirip sesi tanya jawab di sebuah forum seminar, bedanya yang ini seminar ala Baduy dengan setting tempat mirip film Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi besutan sutradara ternama dari kampung gueh bernama Imam Tantowi. Pak Mursid begitu bijak menjawab pertanyaan dan mampu mewakili pertanyaan kami. Hanya saja ada satu pertanyaan yang hingga saat ini masih belum gueh lontarkan dan masih penasaran gueh dibuatnya, yaitu : ”warga Baduy Dalam pakai celana dalam nggak ssiiiiiih...???”, gue nggak tega melontarkan pertanyaan itu kepada pa Mursid ha ha ha... #pak mursid tau nggak yaa gue menyimpan pertanyaan RAHASIA?? Soalnya pa mursid terkenal sebagai orang pinter dikampung Cibe’o., xixixi jadi malu tingkat SMA gueh, bentar lagi malu nya masuk perguruan tinggi wkaakakak#

Acara seminar ala Baduy dibarengi dengan suguhan minuman seadanya dengan gelas dari bambu, dan ditambah dengan minuman racikan khas Baduy, yaitu racikan daun Keras Tulang. Konon daun ini berfungsi sebagai penghangat tubuh. Daun ini banyak kita jumpai di hutan Baduy. Cara menyeduhnya sangat gampang, beberapa daun cukup ditaruh di mangkok, terus disiram pakai air mendidih. Jadi deh tuh minuman segar yang rasanya mirip seduhan daun sirih. Kamih semua mencoba minuman itu. Dengan harapan suasana dingin sehabis hujan bisa kamih lawan.

Meningkat acara selanjutnya adalah sesi kongkow kongkow di beranda rumah Baduay Dalam yang akan diikuti oleh seluruh hadirin yang ada disana (Halah!! Jiwa MC nya kambuh dah!!). kitah ngobrol di beranda rumah pa Mursid dengan ditemani cemilan dan celotehan segar dari kelompok kami dan beberapa anak-anak Baduy Dalam. Kamih begitu akrab dengan merekah. Suasana mulai hening pada pkl. 21:00 wib. Agaknya penduduk Baduy Dalam terbiasa tidur pada jam tersebut. Kamipun mulai siap siap tidur diatas kandang ayam ha ha ha ...(tapi dijamin bersih koq..!!). Gueh masih bisa tidur, bukan karena posisi diatas kandang ayam, tapi karena rasa pengen tau suasana malam di kampung Baduy. Mata ini terpejam pas tengah malam.
Tak berapa lama gueh terbangun jam setengah tiga pagi, karena suasana nya memang dingin banget. Pas pkl. Tiga pagi ayam pun mulai berkokok bersahutan, pertanda hari sudah pagi. Gueh setengah sadar melihat ibu Mursyid bangun dari tidurnya. Si Ibu langsung menyalakan tungku dan memasak makanan untuk kita di pagi hari (waaah..., jadi terharu sama kebaikan ibu mursid...).
Beberapa kurcaci juga terlihat bangun dipagi itu. Gueh bersama Dwi dan Nuzul menuju sungai untuk berwudlu jam 4 pagi, suasana masih begitu sepi. Ada yang aneh disungai itu... hmmm... tapi nanti gue ceritain di edisi cerita berikutnya deeh...

kisah lainnya :
                        Detik-Detik Perjalanan Menuju Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam
                  4.   Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam

Kini giliran foto yang bercerita...
(foto ini bukan di Baduy Dalam, karena disana kita diharamkan pakai foto dan kilatan cahaya, kecuali sorotan batere).
Lumbung Padi Suku Baduy 
Goa
Jembatan Akar
Terbuat dari akar pohon yang dikaitkan satu dengan lainnya
Sungai Suku Baduy Dalam
 
Anak suku Baduy Dalam bisa juga berpose lho...
Pagar perbatasan Baduy luar dengan Baduy dalam






15 September 2011

Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai

Di terminal Ciboleger kami ditampung di rumah pa Agus Bule yang difungsikan sebagai warung makan, tepat di samping Alfamart dan dibelakangnya adalah pasar tradisional. Ciri terminal ini adalah adanya tugu dan patung petani beserta dua anak dan istrinya, mirip tugu tani di daerah menteng, bedanya yang ini agak dekil. (maklum lah..., namanya juga Baduy, jadi harus menyesuaikan dengan keadaan he he he...).

Kamih pun dipersilahkan duduk dan disuguhi makan siang yang sudah dianggarkan oleh sang kepala suku, Esthi. Sehabis acara makan-makan, ada kejadian mengejutkan di rumah pak Agus. Selain adanya 4 anak suku Baduy Dalam yang sudah standby disana, perangai si Esthi tiba tiba berubah menyeramkan (aw aw aw!! Kenape tuuuh...????!). Si Esthi berubah peran menjadi seorang preman mata duitan yang segera beraksi memalak dan mengambil paksa uang kamih. Kamih di palakin satu demi satu. Dan anehnya tak satupun dari kamih mampu melawan (ck ck ck..., hebat juga si Esthi itu yaah...??!, nggak nyangka seorang murid terbaik mamah dedeh bisa berbuat sesadis itu..., *Tuhan ampunilah diah, sadarkanlah diah... aamiiin...). Kini gilirankuh dipalak si Esthi, akuh pun mengeluarkan selembar uang merah, selembar uang biru, dan selembar uang hijau (ceritanya gueh sudah mulai agak ke Baduy-Baduy an gitu.., jadi nggak kenal angka, kenalnya warna doang.. xixixi...). Total dompetku terkuras sebanyak Rp. 170.000,-. Semoga duit itu bisa menjadi manfaat buat akuh, buat sayah, dan buat gueh (halah...!! sama aja buat loeh semua!). Yups ! betul sekali..., uang itu adalah budget anggaran untuk biaya tiap kurcaci selama kitah melakukan perjalanan 2 hari 1 malam di kampung Baduy. (aktualnya sih 150.000, tapi buat jaga-jaga ditambahin 20.000). Tak terasa adegan menyeramkan yang diperankan Esthi telah berlalu, lagu Meggy Zet pun selesai dinyanyikan oleh para peserta (”Sungguh teganya dirimu teganya teganya teganya....” ha ha ha...).
Wajah sumringa dan penuh semangat
(hhhmmh! awas! lihat saja nanti, nggak bakal bisa lagi nampilin paras artisnya! ha ha ha)

Pkl. 13:30 wib kamih berangcut menuju perbukitan, sebelumnya kamih siapkan oleh-oleh berupa terasi dua gepok dan ikan asin beberapa kilo. Konon orang Baduy sangat senang jika di bawain ikan asin dan terasi (maklum..., merekah kan orang gunung, jarang sekali ketemu ikan dan makanan laut lainnya).
Kali ini yang ketiban piket bawain oleh oleh adalah si Pante’. Secara dia pas banget kalo lihat perawakannya yang gede mirip kuli pasar (ha ha ha.... bo’ong ding...! pante’ itu baik hati, ganteng, cute, cool... cuma agak sedikit pelit ha ha ha, nyela’ lagi deeh..!!, dosa besar tuh jelekin orang... *sssst..!! jangan bilang bilang sama Pante’ yah kalo gue jelekin dia...??!).

Rombongan iring-iringan para kurcaci yang mirip acara lamaran pengantin lengkap dengan seserahan pun mulai berjalan menyusuri rumah penduduk dan jalan gang selebar 2.5 meter. Sementara gueh milih posisi di urutan paling depan dengan harapan kalo difoto pasti kena ukuran full face... he he... (sayang sekali ga ada yang mau foto-foto saat itu...).
Baru berjalan kurang dari 500 meter kamih disuguhi dengan medan curam penuh tanjakan dan turunan. Rumah dan gang sempit pun berubah menjadi jalan bebatuan dan undakan, membuat kaki ini lemas. Secara gueh pake sepatu traveling yang beratnya setara dengan sepuluh anak (ajiiiibbb...!!! sepatu apa’an tuuh?) *anak tikus maksudnya :-p
Sepatu gueh lepas pada saat menyeberangi sungai kecil di perkampungan yang agak sudah mulai sepi penduduk, gueh ganti dengan sandal gunung. Sementara sepatu gueh kalungkan di leher untuk meyakinkan para hadirin yang melihat foto gue nantinya, biar mereka percaya perjalanan ke Baduy Dalam memang penuh tantangan ha ha ha....
Jalan naik turun tidak membuat para kurcaci kehilangan jiwa artisnya. Merekah dengan sigap memposisikan diri mencari peran tanpa skenario, setiap tanjakan mereka abadikan. Candaan dan obrolan segar keluar tanpa permisi dari mulut-mulut imut mereka lengkap dengan senyum simpul para pemilik kawat gigi ala gatot kaca (semboyan gigi kawat tulang besi berubah menjadi gigi kawat tulang remek karena ternyata kaki ini mulai pegel dengan medan naik turun undakan). Gueh berkhayal andaikan kawat giginya si Mida, si Dani, dan si Beni melakukan tos dan adu panco, pasti adegannya mirip pertarungan antara Lasmini melawan Mantili dengan pedang. (cring! Cring! Cring!, pasti bunyi pedangnya begitu terasa sampai dilidah.. ha ha ha).

Dua kilometer pertama berhasil kami lewati walau muka penuh ja’im terlihat dari para kurcaci menahan pegel kaki. Berhubung info nya 13 km lagi, maka kamih pun malu-malu kucing kalo menyerah kecape’an, padahal kaki ini meronta ingin berhenti di halte Blok M (ngawur.com... jangan percaya!).
Gueh si Aki Demang, Retno yang Tomboy dan bawa banyak stok cemilan, Mida si gatot kaca dengan gigi kawatnya, dan Beni si finalis Muslimah Beuty 2011, masih memimpin dibarisan paling depan.
Disusul dengan si tomboy dan pemilik suara dengan nada 8 oktav Tina, Lena si fotografer, Adi si guru bahasa Indonesia tingkat SMA, Nuzul si Bugis yang suka nyetock makanan, Hakim yang mirip irfan Hakim (kalo dari sedotan ha ha ha), Gusti yang kalem, Fredy si korban perplonco’an di kereta, Pante si ikan asin pembawa seserahan, mereka berada di barisan tengah bersama 4 anak Baduy, Sapri, Juli, Jali, dan Idong.
Sementara Dwi si bos nya blewah dot com, Dani yang dengan setia mendampingi Dwi di bisnis blewah dot com nya. Esthi si rempong yang suka bolos di pengajiannya mamah dedeh gara-gara mau ngetrip ke Baduy, Risma si copasnya Syahrini, Adam si  calon menteri keuangan, merekah berperan sebagai tim penyapu bersama pa Agus Bule yang sibuk menjawab banyak sekali pertanyaan dari kamih yang bergantian nanya tentang Baduy Dalam. Sesekali sambil wawancara, para kurcaci mengambil gambar untuk dokumentasi dan ajang pamer jika sudah pulang ke Jakarta nantinya.

Para kurcaci terbuai oleh cerita-cerita pa Agus Bule yang gaul dan supel. Tak segan pa Agus menceritakan pengalaman mengantar tamu dari berbagai daerah. Baik dari kalangan pejabat, anak sekolah, anak kuliahan, bahkan sampe para pengusaha yang bangkrut dan ingin bertemu sang Pu’un hanya ingin meminta jampi-jampi agar usahanya lancar.

Di kilometer ketiga nampaknya kejujuran para kurcaci mulai kelihatan. Semua nya kompak minta istirahat. Kamih pun istirahat di sebuah rumah yg menjual makanan dan minuman di tengah perkampungan Baduy Luar, untuk sekedar membeli minum, makanan, dan rokok. Diseberang sana nampak seorang nenek tua yang sedang membuat kain tenun khas Baduy. Sayang sekali si nenek tidak faham dengan bahasa Indonesia, kamih hanya berfoto dan bertegur sapa sewajarnya. Di kilometer empat kamih melewati sungai dan jembatan bambu pertama. Sekedar informasi, untuk mencapai kampung Baduy Dalam, kitah harus melewati tiga jembatan bambu yang unik, hanya menggunakan ikatan untuk penyambungan antar bambu, nyaris tidak ditemukan paku disana. Diatas jembatan kami berfoto ria sambil pasang gaya.
Pada kilometer kelima dan ke enam, pak Agus tidak lagi sibuk menjawab pertanyaan seputar Baduy Dalam dan tamu-tamunya, melainkan sibuk menjawab pertanyaan yang sama dari para kurcaci, yaitu : ”Pa, MASIH JAUH YA PAK?”
Ha ha ha ha..., gueh rasa merekah sudah mulai  kehabisan energi untuk sampai di Baduy dalam (huh..! katanya petualang sejati, baru segini ajah sudah letoyy...!!, *ekspresi mulut monyong kekiri sedikit memble sambil mata merem melek liat atas bawah dan badan balik kanan biar nggak keliatan ekspresinya sama yang lain dengan maksud menyindir).

Pak Agus Bule yang menghadapi bertubi-tubi pertanyaan yang sama hanya dapat menghibur merekah dengan sedikit berbohong, ”sedikit lagi nyampe koq...!”. Tips ampuh pak Agus sedikit berhasil mengelabuhi mereka. Sekali dua kali dengan jawaban yang sama, agaknya para kurcaci mulai mengendus kebohongan pak Agus Bule. Sekalinya pak Agus menjawab satu tanjakan bukit lagi sampe, mereka langsung menyahut : ”SAMPAI MANA PAK?? sampai MONAS??!”  (ekspresi kecewa anak kecil yang kapok dibohongin sama orang tuanya ha ha ha...). Kontan saja celetuka itu disambut dengan tawa oleh yang lainnya, termasuk empat anak Baduy Dalam yang sedari tadi membawakan tas para peserta yang merasa tidak sanggup lagi berjalan kaki dengan beban tas dipunggung.
Ayo... semangaaat!! ini baru separuh perjalanan...!!

Sekedar informasi saja, merekah para Baduy Dalam biasa membawakan tas para tamu dengan dipikul, nantinya kitah bisa memberi imbalan uang berkisar antara 50-60 ribu. Merekah dengan senang hati menerimanya. Bagi seorang Dani, keberadaan mereka amat sangat membantu. Bayangkan saja, untuk membawa badan sendiri yang setara dengan sekarung beras nya orang Baduy saja diah sudah kewalahan, bagaimana jika ditambah beban tas dan bekal?! Bisa mati kelelahan diah... he he he... Jangankan Dani yang gagal masuk atlet sumo, si Risma yang berbadan imut saja sampe menitipkan tas dan bawaannya kepada anak Baduy Dalam koq..., bisa di bayangkan betapa panjang dan berliku perjalanan kami...

Setelah melewati jembatan pertama dan sesi foto-foto ditambah istirahat yang lama, kamih melanjutkan perjalanan dengan medan hijau dan adem. Nampak diatas rimbunan pohon ada banyak sekali Syaiful Jamil bergelantungan, dulu Ray Sahetaphy, Pasha Ungu dan Jeremy Tomas juga sempat bergelantungan disini, tapi karena merekah sudah menemukan jodohnya jadi merekah pensiun bergelantungan disini. Tinggal Syaiful Jamil yang sekarang masih bertahan bergelantungan diatas pohon di tengah hutan Baduy yang sedang kamih lewati.
(Ini ngomongin apa siih?? Koq jadi bahas infotainment?? *maksudnya syaiful Jamil, Ray Sahetapy, Jeremy Thomas dan Pasha ungu adalah DUDA KEREN alias DUREN, jadi maksudnya kitah ngomongin DUREN tauuuuww..... *LOLA alias Loading Lambat niih!! Perlu di upgrade!! Payaah...).

Gueh jadi inget pesan seorang teman sebelum berangkat ke Baduy, diah bilang kalo ke Baduy nanti, jangan lupa untuk mencicipi Duren Hutan nya Baduy. Dijamin bakal ketagihan. Tapi sayang sekali duren-duren itu masih muda dan sedang nggak musim. Jadi gueh nggak tega mengambil Syaiful Jamil dari tempat gelantungannya.. ha ha ha... Kamipun istirahat sejenak melepas lelah. Kali ini rombongan terpecah jauh, kayaknya kekompakan nya sudah mulai berkurang nih..., ada yang ingin buru-buru sampai, ada yang biasa-biasa saja.., dan ada juga yang kecape’an membawa badan sendiri.

Setelah disuguhi pemandangan hijau, kamih melewati jembatan bambu kedua, dan medan selanjutnya adalah bukit gersang tanpa pohon rindang, kata pa Agus itu adalah sawah nya orang Baduy Dalam. Mereka menanam padi tidak seperti sawah pad aumumnya yang selalu tergenang air, tapi mirip menanam biji-bijian. Mereka menamakan nya dengan istilah Gogoh. Hamparan bukit gersang itu kami lewati. Dan medan selanjutnya adalah tanjakan curam. Tanjakan ini adalah tanjakan terakhir dan terberat menurut pa Agus. Banyak para tamu yang tidak sanggup sampai tanjakan sini, dan dengan kecewa serta terpaksa mereka tidak bisa sampai di kampung Baduy Dalam dan akhirnya menginap di kampung Baduy Luar. Beruntung kami bisa kuat sampai disini, sebentar lagi tiba di perkampungan. Kami coba tanya ke pa Agus, berapa lama lagi tiba di perkampungan. Jawaban pa Agus kali ini membuat kami menjadi semangat kembali. Jarak menuju kampung Baduy Dalam tinggal 3 km lagi. Horeee...
Rombongan sudah mulai terpisah pisah (waah... gawat niih!!)

Menurut cerita guide kami pa Agus, diah sempat pesimis kelompok kamih bisa tiba di Baduy Dalam, melihat kondisi Dani yang sangat mengenaskan. Beliauh salut atas semangat Dani yang bisa bertahan hingga menjelang memasuki perkampungan Baduy Dalam. Selama 15 tahun beliauh menjadi guide, baru kali ini pemilik badan segede Dani bisa berhasil sampai jembatan bambu ketiga, yang artinya 500 meter lagi tiba di perkampungan Baduy Dalam. Waah selamat ya Dani... Kamu memang the best. Berita gembira ini langsung gueh umumin bersama teman-teman yang lainnya pada saat rehat sehabis melewati jembatan ketiga. Dan sambutan tepuk tangan pun membahana. Wajah Dani yang sedari tadi pucat pasi kehabisan tenaga mendaki dan menuruni bukit menjadi senyum sumringah ditambah senyum gatot kaca nya yang khas...


Bagaimana Rahasia Dani bisa melewati rintangan menuju kampung Baduy Dalam? Rahasianya ada di cerita berikutnya saat perjalanan menuju jembatan akar....

Bersambung....

kisah lainnya :
                        Detik-detik Perjalanan Ke Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Mengenai Suku Baduy Dalam
4.      Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.

14 September 2011

Mengenal Baduy 1 - Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger - Rangkasbitung

Jembatan Bambu -
Jika sudah jalan melewati jembatan seperti ini tiga kali, 
berati sebentar lagi kita akan memasuki perkampungan suku Baduy Dalam

Pada H-1 gueh sudah siap-siap bekal untuk perjalanan 2 hari 1 malam ke suku Baduy Dalam di Rangkasbitung. Gueh bawa bekal sleeping bag, jacket, baju lengan panjang, sebuah celana pendek, kain sarung, dan nggak ketinggalan 4 bungkus mie instant dan 2 gelas beras, semuanya masuk dalan satu tas ransel kecuali beras dan mie instant. Pagi buta sehabis subuh jalan dari rumah menuju stasiun Tanah Abang. Naik angkot ke Pulogadung Rp. 3.000 dan bus ke Tanah abang Rp. 2.000,- Nampaknya gueh kepagian, tiba di stasiun pkl. 06:00 wib, satu jam lebih pagi dari jadwal semula. Gueh manfaatin waktu luang untuk menikmati nasi uduk di emperan stasiun. Lumayan buat mengganjal perut di pagi hari. Cring!! Uang gocengan keluar dari saku buat bayar nasi uduk ala Tanah Abang.

Setibanya di dalam stasiun, gueh clingak-clinguk nyari mangsa !!, mana sih anak anak BPI pimpinan tante Esthi yang mau bareng ke Baduy? Dari kejauhan sana nampak tatapan penuh curiga mengarah ke posisi gueh berdiri, gueh pura-pura cuek. Gueh yakin itu anak-anak para korban virusnya tante Esthi. Soalnya posisi merekah sangat memprihatinkan banget, ngariung dambil bersimpuh di lantai stasiun membawa buntelan tas. Tanpa ragu gueh deketin merekah, daaan.... tralala...!!, dugaanku nggak meleset, merekah itu para Baduyler yang bakal jalan bareng menuju kampung di ujung perbukitan kabupaten Lebak-Banten itu.
Gueh ulurkan tangan untuk kenalan dan memperhatikan satu demi satu membandingkan raut merekah dengan foto di facebook. Kata pertama yang keluar dari mulut gueh dan merekah adalah : BADUY YAH??! Merekah langsung menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa merekah adalah orang Baduy...ha ha ha (salaaah woooy!! Maksudnya merekah yang mau ke Baduy cuyy,... bukannya ngaku jadi orang Baduy...).

Setelah bergabung bersama merekah yang sok imut dan so ja’im itu..., gueh pun mulai ngobrol untuk lebih mengakrabkan diri. Padahal dari jidatnya, ketauan banget kalo merekah tuh sebenarnya very very narso alias narsis abis!! (ha ha ha ketebak loeh pada..!!). Gueh coba pancing merekah dengan meminjam kamera tante Esthi (Inget! Namanya Esthi, bukan Estelerrr atau Estehmanis he he he sorry ya Es.. ). Si esthi agaknya sudah faham banget.., secara diah kan kepala suku nya, jadi musti ngerti’in nasib para kurcaci kurcaci bina’annya.... :-p

Gueh mulai beraksi ambil gambar para kurcaci yang haus akan kenarsisan..., jepret jepret...! terukir sudah senyum sumringah merekah yang dari tadi serasa garing.

Jelas banget merekah garing, orang giginya pada pake’ ikatan kawat gitu?? Gimana nggak garing tu gigi...!!, mungkin merekah adalah reinkarnasi dari gatut kaca yang punya semboyan ’Gigi Kawat Tulang Besi’ ha ha ha.. (buat yang ngrasa jadi gatut kaca, silahkan loeh pada bisa terbang duluan ke Baduy.., ga usah pake naik kereta segala, keliatan miskin tau nggak siih??!, sudah jelas di stasiun itu terpampang semboyan, Kereta ekonomi hanya diperuntukkan bagi kaum dluafa... he he he).

Nampaknya pancinganku berhasil, dibalik diam merekah tersimpan keinginan kuat yang membara ingin menunjukkan gadget dan virus fotografer amatir tingkat kelurahan.
Satu persatu para kurcaci menunjukkan kamera nya. Dan yang paling mengejutkan adalah kameranya si Magdalena, peserta asal Yogyakarta. Dia membawa kamera DSLR merk NI**N. Gue mencoba menetralisir agar tidak terhubung ke internet dan nyasar ke situs www ngiri.com. Gueh mencoba tegar dan ikhlas merelakan kamera DSLR ku yang sudah berpindah tangan demi sesuap nasi (mengharukan..!! hiks hiks... *ceritanya gueh nagis niih.., ada yang bersedia memeluk gueh  kah..??).

Begitu kamera si Lena dikeluarkan, Esthi mengajak peserta buat berdiri untuk berdo’a sebelum berangkat, karena keretanya sudah hampir tiba. Sebagai murid jama’ah nya mamah dedeh, si Esthi memimpin do’a dengan membaca do’a mau makan...*wooi..!! salah tuh do’anya!! Makan melulu loeh pikirin!.
Setelah berdo’a merekah lalu melakukan hompimpa alaihom gambreng mirip opening film Unyil, Ucrit dan Usro. Pada saat itulah gueh mengabadikan momen langka para Baduyler itu dengan menggunakan kamera nya Lena yang super duper itu. ”jepret, jepret..!!”, akhirnya adegan unyil dan usro ber hompimpa pun sudah selesai.

Para Baduyler bina'an Esthi si kepala suku
di stasiun Tanah abang
 
Tak berapa lama kereta api tujuan Rangkasbitung pun tiba. Tiket kereta yang dari tadi sudah dibagikan oleh Esthi bisa mulai difungsikan. Di karcis kereta tertulis rupiah 4.000,-, kamih pun antri di pintu kereta mirip antri sembako buat kaum dlu’afa. Beruntung kereta hari itu tidak begitu penuh. Kami mendapatkan tempat duduk masing masing satu, tapi nggak boleh dibawa kerumah tu tempat duduknya... (enak aja! Modal 4.000 koq maunya dapet hadiah tempat duduk buat dibawa pulang!!, bisa bangkrut tuh PT. KAI.).


Sepanjang perjalanan kamih sibuk ngobrol ngalor ngidul sekedar sharing tentang perjalanan dan petualangan masing-masing, sambil sesekali narsis dan foto-foto, terkadang muncul keisengan mengamambil gambar candid. Yang kasihan adalah peserta newbie alias baru pertama kali ngikutan acara beginian, mereka jadi sasaran empuk para senior untuk diplonco dengan di candid camera pada posisi yang sangat mengenaskan... (ck ck ck Tuhan ampuni dan kasihanilah merekah..., do’aku lirih...*saking lirihnya sampe’ nggak kedengeran...)
Perjalanan 2,5 jam tidak terasa, kereta sudah tiba di stasiun Rangkasbitung. Kamih pun turun dan berkumpul di peron stasiun. Ternyata masih ada tiga peserta lagi yang ngikut di kereta berikutnya. Merekah adalah Tina, Nuzul, dan Retno. Setelah nunggu beberapa jam, akhirnya ketiga kurcaci itupun datang. Lengkap sudah personil kami sebanyak 17 makhluq yang siap ber reinkarnasi menjadi Baduy... he he he. Sementara si mamang Riva’i si supir Elf sudah siap mengantar kami menuju terminal Ciboleger, tempat kamih nanti nya bertemu dengan Pa Agus Bule. Rupanya bang Riva’i diutus Pa Agus Bule untuk menjemput kami.

Sebelum naik Elf, kamih pun bernarsis ria pasang gaya dengan background yang tidak layak masuk kategori lomba foto, yaitu di samping Elf bang Riva’i. Tak lupa kamih plonco bang Riva’i untuk memfoto kami (sorry ya bang, aturan adat  di komunitas kamih adalah, setiap orang baru harus di pelonco’ dulu agar bisa akrab.. ha ha ha).
Odong-odong milik pa Riva'i
siap mengantar kurcaci-kurcaci menuju kampung Baduy

Setelah puas memplonco’ bang Riva’i kamih segera ambil posisi di bangku masing-masing dalam Elf. Bang Riva’i segera tancap gas dari stasiun menuju terminal Ciboleger. Perjalanan kamih tempuh kurang lebih 1,5 jam. Elf pun sampai di terminal Ciboleger, yaitu batas kendaraan yang berkunjung dari luar Baduy untuk menuju Baduy Dalam dengan jalan kaki. Bersama itu pula sinyal si biru di smartphone gueh bertuliskan SOS, agaknya si Biru nyerah deh nggak bisa nemenin gueh lagi menuju kampung Baduy Dalam..., padahal jarak nya masih 14km lagi.... jangankan bisa buat ber BBM an, chatting, ato maen internet, buat telpon dan sms ajah susahnya minta ampuuun...Emang agak payah nih si Biru, nggak bisa diandalkan... huft!! (*ekpresi monyongin mulut, pertanda kecewa tingkat nasional). Disini yang jadi jagoan adalah si kuning. Biar kata si Merah ngaku-ngaku BTS nya ada di tiap kecamatan, tetep ajah disini dikuasai oleh si kuning. Nampaknya di perjalanan kali ini gueh musti tepuk tangan sama si kuning, sedangkan si merah dan si biru bakal gue daftarin di lomba malu tingkat kecamatan bulan depan pas ulang tahun nya pak camat ha ha ha.... #ekspresi kecewa dengan pelayanan si biru.
Sekedar info saja, bagi andah yang rombongan menggunakan bus besar, seringkali hanya bisa parkir di kantor polsek dan dipatok biaya tinggi hingga 1.2 juta. Sebenarnya andah bisa markirin bus di terminal ini dengan bantuan pa Agus Bule, soalnya pa Agus Bule adalah salah satu Guide dari 15 Guide yang ditunjuk oleh departemen pariwisata kab. Lebak untuk mengurus kenyamanan para wisatawan Baduy Dalam. Jika diurus sama pa Agus biaya nya bisa menyusut tajam, Cuma butuh uang sekitar 200 ribu, 50 ribu buat biaya izin polisi, dan 150 ribu buat biaya parkir terminal

Tiba di rumah pa Agus kamih sudah disuguhi dengan suasana alam Baduy... aroma Baduy begitu kental. Pa Agus Bule sudah mempersiapkan belanjaan kami untuk oleh oleh suku Baduy Dalam sebagai seserahan kamih kepada merekah. Suku Baduy dalam sangat senang dibawain ikan asin dan terasi. Setelah acara makan-makan hasil jamuan pa Agus Bule, kamipun bersiap untuk melakukan tracking dengan berjalan kaki menaiki bukit menuju kampung Baduy Dalam sejauh kurang lebih 14 km.

Bersambung....
Kisah lainnya :
                Detik-detik perjalanan ke Baduy Dalam
                Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam
      1. Mengenal Baduy 1 - Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger - Rangkasbitung
      2. Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai
      3. Mengenal Baduy 4 - Menginap di rumah suku Baduy Dalam
      4. Mengenal Baduy 5 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.

      Kini giliran gambar yang bercerita.... berikut dokumentasi para kurcaci Baduyler...

       Didalam kereta jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung
       Tiba di stasiun Rangkasbitung
       Suasana di dalam odong-odong milik pak Riva'i
      Teriminal Ciboleger, pintu masuk akses ke Baduy Dalam

      12 September 2011

      5 Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam (Banten)

      Foto : Malem Kristina Ginting

      Suku pedalaman ini mendominasi wilayah Banten. Suku baduy dibagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Saya melakukan kunjungan dua hari satu malam ke kampung suku Baduy Dalam bersama 17 teman backpacker dari komuniitas Forum Backpacker Indonesia pada weekend awal September kemarin.

      Kami berkumpul di stasiun tanah abang pkl. 07:00 wib untuk berangkat menggunakan kereta api tujuan Rangkasbitung. Dari Rangkasbitung perjalanan dilanjut dengan menyewa Elf tujuan Ciboleger, perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam.

      Setibanya di Ciboleger kami bertemu dengan guide kami, pak Agus Bule yang akan mengantar kami menuju kampung Baduy Dalam. Di rumah pak Agus sudah siap 4 anak Baduy Dalam (Jali, Juli, Sapri, dan Idong) yang akan mengantar kami bersama pak Agus. Konon menurut pa Agus Bule, setiap kali beliau kedatangan tamu, anak-anak baduy dalam sudah berada di rumahnya untuk mengantar tamu, padahal sebelumnya pa Agus Bule tidak memberitahukan kepada mereka... (ck ck ck ck... kuat juga insting mereka yaa... *ngaku kalah :D)

      Berikut biografi tentang suku Baduy Dalam yang saya tahu dari hasil kunjungan saya kesana yang saya bisa tulis di blog saya :

      1.      Jaro dan Kepala Adat (Pu’un)
      Suku Baduy (Dalam dan Luar) terdiri dari kurang lebih 57 kampung/desa, dimana suku Baduy Dalam terdiri dari tiga kampung (Cibeo, Cikatawarna, dan  Cikeusik) dan sisanya adalah suku Baduy Luar.  Keduanya dibawahi oleh 7 Jaro (kepala adat), yaitu :
      1. Kampung Cobeo dipimpin oleh Jaro Sami (Baduy Dalam)
      2. Kampung Cikata warna oleh Jaro Jaming (Baduy Dalam)
      3. Kampung Cikeusik oleh Jaro Alim (Baduy Dalam)
      4. Jaro Dainah (Baduy Luar)
      5. Jaro Sedi (Baduy Luar)
      6. Jaro Arji (Baduy Luar)
      7. Dan Jaro Warga (Baduy Luar)
      Khusus untuk suku Baduy Dalam, selain Jaro, ada juga seorang Pu’un atau orang yang dianggap sakral oleh masyarakat Baduy Dalam, yaitu :
      1. Pu’un Jasdi di kampung Cibeo
      2. Pu’un Sangsang di kampung Cikatawarna
      3. Pu’un Yasih di kampung Cikeusik
      Keberadaan pu’un seringkali disalahgunakan oleh orang-orang yang berkunjung ke Baduy Dalam, dari mulai pejabat, pengusaha dan para orang ambisius. mereka minta kekayaan, jabatan, dan kesuksesan duniawi dari meminta jampi-jampi seorang pu’un dengan syarat-syarat tertentu. Tak diragukan memang, karena seorang pu’un konon memiliki kelebihan dibanding orang Baduy kebanyakan. Kedudukan seorang Pu’un bagi Baduy Dalam sangatlah berarti. Dari mulai penentuan masa tanam dan masa panen, pemberian sanksi adat, mengobati orang sakit, sampai dengan menentukan waktu Kawalun (puasanya orang Baduy Dalam).  

      Seorang Pu’un diperlakukan spesial oleh masyarakat suku Baduy Dalam karena kelebihan tersebut diatas. Pu’un sudah terbiasa berkholwat (menyendiri) di tempat tertentu hingga berminggu-minggu lamanya, jarang sekali keluar rumah, dan tempat mandi pu’un juga di khususkan. Perkataan seorang Pu’un selalu dita’ati oleh warga Baduy Dalam.

      Jabatan seorang Pu’un bukanlah sembarang didapat. Mereka adalah orang suci dari keturunan suci dan memiliki kebiasaan dan hati yang bersih. Menurut cerita yang beredar, seorang Pu’un dapat membaca pikiran seseorang (Jika anak Baduy saja dengan instingnya bisa mengetahui ada tamu diluar sana dalam jarak 14 km, bagaimana dengan seorang Pu’un.., pastilah jauh lebih tinggi dari keempat guide kami yang diceritakan oleh pa Agus Bule).

      2.      Rumah, Pakaian, dan alat musik tradisional Baduy
      Rumah Baduy Dalam terbuat dari bahan-bahan yang sangat mudah diurai oleh tanah, yaitu :
      -          Rumah berbentuk panggung dengan ketinggian kurang lebih satu meter.
      -          Atapnya dari ijuk atau kadang daun pohon kelapa.
      -          Rangka rumah dari kayu Jati, Kayu pohon kelapa, dan kayu albasiah.
      -          Pintunya hanya satu (didepan saja, tidak ada pintu belakang).
      -          Pengait antar rangka kayu terbuat dari pasak yang dibuat dari kayu.
      -          Jarak antar rumah sekitar 3 meter.

      Kampung Cibeo sendiri terdiri dari kurang lebih 98 rumah yang dibangun secara gotong royong oleh warga. Sekali bergotong royong membangun rumah, dalam sehari mereka bisa mengerjakan hingga maksimal15 rumah. Dalam prosesi pembangunan rumah selalu diawali dengan upacara, dan prosesnya melibatkan Pu’un serta seluruh warga Baduy Dalam, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa.

      Pakaian adat orang Baduy terdiri dari pakaian bawahan yang menyerupai rok sebatas lutut, baju yang menyerupai baju koko, dan kamben/ikat kepala. Yang membedakan suku Baduy Dalam dengan suku Baduy Luar adalah warna ikat kepala, warna putih untuk Baduy Dalam, dan warna Hitam untuk Baduy Luar.  Sedangkan untuk wanita nya memakai kain rok berbentuk selendang sebatas mata kaki, dan pakaian lengan panjang, ditambah selendang kecil yang mereka kaitkan di leher.

      Kami mencoba meminta kenang-kenangan ikat kepala kepada anak baduy dalam, tapi mereka sangat enggan melepaskannya. Nampaknya kain ikatan kepala itu bernilai dan sangat sakral bagi mereka. Semua busana yang dikenakan dibuat dan ditenun sendiri oleh para wanita suku Baduy Dalam. Hasil tenunan mereka sangat halus dengan motif ber temakan alam. Kadang mereka menjajakan hasil tenunan kepada para tamu yang bertandang kesana.

      Alat musik mereka adalah angklung, digunakan pada saat upacara adat dan penyambutan tamu, sedangkan accesories yang sering mereka gunakan antara lain anting, kalung, cincin, dan gelang yang semuanya dibuat dari bahan-bahan alam non logam. Satu ciri lagi bagi seorang Baduy Dalam adalah selalu terselip golok di pinggang dan tas khusus yang di silangkan di bahu. Jika bepergian keluar kawasan, bekal salin dan makanan ditenteng didalam buntelan kain.

      3.      Agama, Kepercayaan, Dan Bahasa
      Pada dasarnya mereka sangat mempercayai karma. Keyakinan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, sama dengan suku sunda zaman lampau. Tapi berbeda dengan sunda wiwitan yang diajarkan oleh Raden Kiansantang dari tanah Pasundan. Diduga Sunda Wiwitan yang dianut oleh suku Sunda adalah pecahan dari Sunda Wiwitan yang dianut oleh suku Baduy Dalam.

      Suku Baduy Dalam memprioritaskan Tuhan di urutan pertama, disusul dengan Warga Baduy dan Alam di urutan kedua, serta Mekkah/Ka’bah di urutan Ketiga (menurut informasi guide Agus Bule). Baduy Dalam menganggap mereka dipercaya oleh Tuhan untuk mengatur dan menyatu dengan alam untuk keseimbangan alam semesta. Oleh karenanya mereka sangat menjaga amanah tersebut dengan menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Jalan di kampung Baduy Dalam mengikuti pola air mengalir, hanya ada jalan setapak tanpa bentuk campur tangan dan desain tangan ataupun bekas cangkul.

      Untuk percakapan sehari-hari sesama suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, mereka menggunakan bahasa sunda dengan logat Rangkasbitung. Sedangkan Bahasa Indonesia sudah sebagian fasih mengucapkan, terutama untuk penduduk berusia dibawah 35 tahun. Mereka biasa menggunakannya jika berinteraksi dengan tamu dari luar.

      4.      Adat Perkawinan, Pemakaman, dan Kawalun (Puasa Orang Baduy Dalam)
      Jika seorang anak wanita Baduy Dalam sudah menginjak usia 14 tahun, si orang tua akan segera menjodohkannya dengan Laki-laki Baduy Dalam. Bagi kaum laki-laki, sebelum dijodohkan mereka bebas memilih perempuan mana yang akan menjadi istrinya nanti. Namun jika belum ada pilihan, mereka wajib menurut terhadap jodoh pilihan orang tuanya atau pilihan seorang Pu’un. Setelah mereka dipertemukan, maka sepasang cincin akan disematkan di  jari manis kedua mempelai sebagai bukti mereka akan menikah nantinya. Cincin tersebut didapat dari seorang Pu’un dengan bahan perak putih. Hanya seorang Pu’un yang berhak membuat cincin dari logam. Tenggang waktu antara saat pemberian cincin dengan pesta adat pernikahan adalah 10 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk mengetes kesetiaan masing-masing pasangan. Setelah melewati masa penentian 10 tahun barulah digelar adat pernikahan kedua mempelai, karena sudah dianggap mampu menjaga hubungan cinta tanpa perselingkuhan. Pernikahan dilakukan oleh Pu’un sebagai penghulunya, barulah pesta diadakan dan mereka resmi menjadi suami istri. Rata-rata suku Baduy Dalam di kampung Cibeo memiliki anak 4-5 orang, padahal mereka sama sekali tidak mengenal KB (Keluarga Berencana).

      Pada saat seorang Baduy Dalam meninggal dunia, upacara adat pun diadakan, dipimpin oleh seorang Pu’un dengan mengadakan ngariyung upacara pemakaman. Jika meninggalnya di dalam kawasan Baduy Dalam, maka upacara segera diadakan. Namun jika meninggalnya di luar kawasan Baduy Dalam, jasad akan di simpan dahulu di sebuah bangunan seperti lumbung padi. Setelah upacara pada hari pertama meninggal, dua upacara lagi diadakan, yaitu pada hari ketiga dan hari ke tujuh. Pemakaman suku Baduy Dalam sangatlah alami, mereka hanya dikubur di hamparan kebun tanpa nisan, untuk kemudian lahan kebun tersebut ditanami tumbuh-tumbuhan.

      Pada bulan tertentu suku Baduy Dalam melakukan puasa yang dikenal dengan istilah Kawalun. Waktu puasa di mulai sejak dini hari pada saat ayam berkokok hingga waktu petang saat matahari tenggelam. Penentuan Kawalun diatur oleh seorang Pu’un. Biasanya pada bulan Februari sampai dengan April setiap tahunnya (3 bulan). Pada musim kawalun, Baduy Dalam tidak menerima tamu dari luar. Andaipun ada tamu, hanya diperbolehkan pada siang hari saja, tidak diperkenankan menginap. Beruntung kami datang diluar musim Kawalun, sehingga bisa menginap disana dan bisa tahu lebih jauh tentang peradaban suku Baduy Dalam. Kami menginap di rumah salah satu warga bernama Pak Mursyid.

      5.      Pantangan yang berlaku di Suku Baduy Dalam
      Suku Baduy Dalam sangat anti terhadap alat transportasi. Mereka sangat terkenal dengan budaya jalan kaki. Jika mereka melanggar menggunakan alat transportasi, maka akan dihukum oleh ketua adat selama 41 hari dikucilkan di hutan adat, bekerja tanpa dibayar dan hanya di beri makan saja. Jika tidak mau menjalani hukuman, maka si pelaku akan dikeluarkan dari Baduy Dalam, dan menjadi suku Baduy Luar.

      Pernah suatu waktu seorang Baduy Dalam melakukan pelanggaran naik kendaraan di luar kawasan Baduy Dalam saat melakukan perjalanan keluar kota. Setelah pulang dia di tegur oleh Pu’un. Baduy tersebut tidak mengakuinya, maka sang Pu’un berkata kepada halayak, ”Biarkan Tuhan yang akan menghukumnya”. Tak berapa lama kemudian seorang Baduy yang melanggar tersebut meninggal dihari itu. Artinya, warga Baduy sangat menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.
      Sedangkan hukuman bagi warga Baduy yang melakukan pembuhuna adalah selain dikucilkan dan tinggal dihutan adat selama 41 hari, pelaku dan anak keturunannya sebanyak 7 keturunan akan kebagian dosa atas perbuatan tersebut. Setelah menjalani hukuman, si pelaku wajib melakukan upacara adat yang diikuti oleh 7 pemuka adat Baduy.

      Selain naik alat transportasi yang berbau logam, sekolah adalah hal yang dilarang bagi seorang anak Baduy Dalam. Mereka tidak diperbolehkan bersekolah oleh orang tuanya. Konon menurut cerita yang beredar, sekolah bagi Baduy Dalam hanya belajar untuk merusak dan membinasakan alam saja jika sudah pintar nantinya. Namun begitu, masih menurut pak Agus Bule, ada salah satu anak Baduy Dalam yang saat ini sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung. Dan selain itu, kebanyakan anak Baduy Dalam sekarang sudah banyak yang mahir membaca dan menulis. Mereka secara otodidak belajar dari suku Baduy Luar.

      Sedangkan pantangan bagi orang luar/pengunjung seperti kami antara lain :
      1. Tidak boleh mengambil gambar/foto, dan video.
      2. Tidak diperkenankan memakai sabun dan odol serta bahan kimia lainnya pada saat mandi di sungai kampung Baduy Dalam.
      3. Mandi di sungai di tempat yang sudah ditentukan oleh suku Baduy Dalam (ada tempat-tempat tertentu yang diharamkan untuk digunakan mandi bagi pendatang).  
      6.      Memasak, Alat Makan dan Mandi
      Alat minum suku Baduy terbuat dari bambu, sedangkan alat makan mereka menggunakan mangkuk seperti mangkuk pada umumnya. Sedangkan untuk memasak, mereka menggunakan tungku api yang berada di dalam rumah. Dandang dan wajan terbuat dari kuningan, sedangkan untuk menenak nasi menggunakan anyaman bambu dan gayung air minum menggunakan batok kelapa dengan tangkai ranting pohon. Sementara untuk mengaduk minuman menggunakan sumpit bambu.

      Pada saat mandi mereka tidak menggunakan sabun, sikat gigi mereka menggunakan siwak dan tepes kelapa dicampur dengan gamping yang dihaluskan sebagai pasta gigi.
      Minuman khas baduy pada saat kami berkunjung kesana adalah daun keras tulang yang diberi air mendidih, seperti layaknya teh. Air seduhan daun keras tulang berfungsi untuk menghangatkan badan pada malam hari.

      7.      Kegiatan Bercocok Tanam dan Jual Beli Hasil Ladang
      Kegiatan sehari-hari suku Baduy dalam adalah bercocok tanam. Sawah mereka berbentuk unik. Berbeda dengan suku Baduy Luar yang menanam padi layaknya petani di Jawa, suku Baduy Dalam menanam padi seperti menanam tanaman palawija, tanpa ada air yang menggenang. Cara menanam seperti itu sering disebut mereka dengan istilah Gogoh. Padi hasil tanaman suku Baduy Dalam berwarna agak kemerahan, berbeda dengan padi pada umumnya. Selain padi, suku Baduy Dalam rajin menanam umbi-umbian untuk cadangan makanan disaat musim kemarau. Mereka menyimpan panen padi di lumbung padi yang dibangun terpisah dari rumah mereka. Sekumpulan bangunan lumbung dijadikan dalam satu kawasan, dimana satu bangunan lumbung padi dimiliki oleh satu keluarga. Konon padi yang mereka simpan mampu bertahan hingga 30-100 tahun lamanya tanpa mengurangi kualitas rasa nasi yang dihasilkan.

      Selain bercocok tanam, kegiatan mereka tiap hari adalah membuat kerajinan tangan. Si wanita membuat kain tenun, dan laki-lakinya membuat accessories serta peralatan lainnya. Hasil kerajinan mereka nyaris tanpa unsur logam.

      Untuk urusan menjual hasil panen dan hasil kerajinan tangan, suku Baduy Dalam melakukan sistem barter dengan suku di sekitarnya sebelum mereka mengenal uang. Sejak tahun 1980 an mereka sudah mulai mengenal uang dan mulai meninggalkan sistem barter yang merugikan mereka.

      Pejalanan yang kami tempuh menuju perkampungan suku Baduy Dalam adalah dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 14 km de
      ngan medan naik turun bukit. Kami bermalam di rumah penduduk suku Baduy Dalam dan menyatu dengan tradisi mereka.

      Setelah dua hari satu malam kami ber asimilasi dengan mereka, persepsi baru tentang Suku Baduy pun kami peroleh, jauh dari anggapan masyarakat yang kami rasakan selama ini.

      # Suku Baduy Dalam itu suku terpencil dan menutup diri dari dunia luar? (SALAH!!)
      Buktinya mereka menyambut hangat kedatangan kami, keluarga pak Mursyid sangat baik, merelakan rumahnya untuk kami tempati, istri pak Mursid memasak masakan mie instant dan beras yang kami bawa, pagi buta pkl. 03:00 wib istri pak Mursyid sudah bangun untuk membuat sarapan untuk kami (kebetulan saya bangun pkl. 02:30 wib, jadi tahu persis jam berapa Ibu Mursid bangun)

      # Suku Baduy Dalam itu suku terbelakang, tidak mau mengikuti perkembangan zaman (SALAH!!)
      Suku Baduy Dalam justru mempunyai pemikiran yang jauh lebih maju dibanding kita. Adat istiadat yang mereka terapkan adalah bentuk kampanye penyelamatan bumi yang sekonyong konyong baru kita kampanyekan beberapa dekade terakhir.
      Anak-anak suku Baduy Dalam sudah bisa menelfon dan ber sms, walaupun dilarang memiliki gadget, tapi mereka bisa sms dan telpon menggunakan gadget dari teman-teman mereka di Baduy Luar. Bahkan dua hari seteleh kepulangan kami, mereka menelfon salah satu dari kami. Mereka (Jali, Idong, Juli, dkk.) mau berkunjung ke rumah kami di Jakarta dengan berjalan kaki dari sana, suatu bentuk penghargaan dari mereka mau melakukan kunjungan balik kepada kami.

      # Suku Baduy Dalam itu dekil, bau dan jarang mandi (SALAH BESAR!!)
      Sepanjang perjalanan kami dengan mereka beriringan, kami sama sekali tidak merasakan bau badan yang menyengat dari mereka. Itu yang membuat saya bertanya dalam hati hingga kini. Tempat mandi mereka jauh lebih bersih dari kita di kota yang menggunakan air PAM hasil penyulingan kali Ciliwung.

      # Suku Baduy Dalam itu bodoh dan terbelakang (SALAH BESAR!!)
      Justru cara mereka menangkap informasi sangat diacungi jempol, dalam menerima informasi, mereka tidak sekedar membaca, tapi mampu ”membaca”, yaitu ”membaca” lingkungan yang diterapkan dalam kehidupan sehari hari dan dituangkan dalam peraturan adat. Si Jali pernah ke Mal Of Indonesia, ke Menteng, ke Citos, Sarinah, dan bahkan Pak Mursyid sudah pernah ke rumah presiden SBY di Cikeas, sedangkan saya?? (ngaku kalah lagii.. :D )

      # Suku Baduy Dalam itu tidak mengenal agama (SALAH BESAR!!)
      Sudah dijelaskan diatas, mereka mempunya agama, hanya saja mereka lebih condong menerapkannya melalui ayat-ayat kauaniah yang Tuhan berikan.
      Keluarga pa Mursyid sangat toleran ketika rumahnya kami tempati untuk sholat maghrib, isya’, dan subuh berjama’ah tanpa merasa terganggu.
      Mereka mampu menahan nafsu birahinya. Dibuktikan dengan pakaian mereka yang tanpa celana dalam, namun tidak  ada kasus pemerkosaan. Dalam satu keluarga rata-rata mereka memiliki anak 5-6 orang meskipun mereka tidak mengenal KB.


      Mungkin itu sekelumit kisah perjalanan kami ke kampung Baduy Dalam di Rangkasbitung yang bisa saya share di blog saya. Harapan saya adat, tradisi dan budaya Baduy Dalam bisa dipertahankan sebagai asset budaya nasional dan menjadi kebanggaan daerah Banten pada khususnya, serta kebanggaan negeri ini pada umumnya.

      Kisah lebih detail dan komplit bisa dilihat di sini :
                          Detik-Detik Perjalanan ke Baduy Dalam  
                          Anggapan salah tentang suku Baduy Dalam  
        1. Mengenal Baduy 1 - Perjalanan Menuju Terminal Ciboleger - Rangkasbitung
        2. Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai
        3. Mengenal Baduy 3 - Menginap di rumah penduduk suku Baduy Dalam
        4. Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.