20 Juli 2011

Tombol Switch Off Pada Kendaraan Bermotor, Perlukah?!

Mengamati tanda bulatan berwarna putih dengan diameter kurang lebih 1mm yang terpampang di sebelah kiri switch on/off kendaraan bermotor milikku, timbul pertanyaan dalam benakku, masihkah pilihan tombol ini berguna pada sepeda motor?. Pertanyaan ini muncul setelah kejadian beberapa hari yang lalu ketika aku melintas di Jl. Raya Cempaka mas arah senen, tepatnya 2 kilometer dari perempatan fly over ITC Cempaka Mas. Saat itu sedang berlangsung razia polisi dalam rangka operasi Patuh Jaya  bulan Juli 2011. Pada saat melintas tiba-tiba aku diberhentikan oleh salah satu personil polantas dan menyuruhku menepi. Akupun kaget dengan tingkah aneh bapak polisi itu, karena aku merasa kendaraan yang aku pakai sangat sempurna tanpa kurang suatu apapun (motor ku baru 1 bulan diambil dari dealer). 

Setelah menepi si baju abu-abu (pak Polisi) menyuruhku memperlihatkan SIM dan STNK, akupun menurutinya. Setelah surat-surat itu ditangannya, diapun langsung menodongku dengan pertanyaan yang HARUS aku pilih, ”Yang mau ditahan yang mana pak?, SIM atau STNK?, Bapak telah melanggar aturan lalu lintas dengan tidak menyalakan lampu depan kendaraan bermotor.” ujarnya tanpa ragu. Aku kaget ketika melihat switch lampu depan ku dalam kondisi Off. Aku pun tak bisa mengelak dan mengemukakan alasan bahwa aku lupa menyalakannya,dan aku segera memindahkan posisi switch ke arah on dengan mode redup (asal keliatan nyala).

Aku mencoba meminta SIM dan STNK ku yang sudah dijadikan ”senjata” oleh pak
polisi yang gagah dan berani itu. Apa yang terjadi?! Si Bapak Polisi dengan logat khas Batak itu langsung menyebut kata tilang sambil memperlihatkan buku ”pencari dana pribadi untuk sampingan gaji” nya (buku form tilang), bollpoint nya langsung menunjuk angka Rp. 250.000,- sebagai dendanya tanpa menjelaskan sebab denda kepadaku yang buta akan peraturan lalu lintas. Aku yang buta akan pasal-pasal lalu lintas langsung kaget dibuatnya, ditengah kegalauanku sang Polisi yang aku pikir bijak itu langsung menodongku dengan kata-kata yang terburu-buru, ”cepat bapak putuskan, saya tunggu, silahkan dirembug kan dengan teman Bapak yang bonceng itu” katanya dengan nada agak sedikit mengancam. Aku hanya bisa menatap ekspresi wajahnya yang sepertinya berharap bisa diselesaikan soal tersebut dengan model ”rumus” zaman orde baru. Akupun mencoba ber alasan dan minta kebijaksanaan bahwa aku lupa menyalakannya. Namun si aparat negara itu kekeuh menawarkan dua pilihan, mau ditilang atau ”berembug” dengan keponakanku yang ku bonceng (mungkin dia melihat plat motorku yang baru seumur jagung, jadi masih bisa dia  ”mainkan”). Akupun mengeluaran lembaran rupiah di dompetku yang saat itu hanya berisi uang Rp. 35.000,- 

Aku sodorkan selembar gambar pahlawan Sultan Mahmud Badaruddin dan dua lembar gambar Tuanku Imam Bonjol, pikirku dua pahlawan kebanggaan negeri itu mampu ”menyadarkan” si ”Aparat negara” bermarga ”muka tembok” itu yang pasang muka ”mupeng” alias muka pengen (total Rp. 20.000,- pikirku yang 15.000 aku mau pakai buat jajan siang nanti). Dengan nada menawar si ”Aparat Negara” itu menolak ”yaah, dua puluh ribu”, ujarnya penuh lecehan gaya khas bataknya. Aku hanya bisa berujar, ”Uangku tinggal segini pak, lagian saya HANYA lupa MEMINDAHKAN SWITCH OFF KE MODE ON SAJA KOQ pak !!, semua lampu normal!, masa siih tidak ada toleransi?” kataku sedikit ber argumen, aku menyadari sepenuhnya itu kelalaianku yang menurutku masih bisa ditolerir. Namun si ”batak” yang doyan ”sogokan” itu keukeuh menolak lamaranku bergambar tuanku Imam Bonjol dan Sultan Bulkiah yang aku kasih (dari gayanya sih minta diganti dengan gambar pahlawan yang lebih keren...), aku pun mengerti kebutuhannya, ”maklum... orang lapangan... ” pikiran liarku se enaknya berujar. Akupun meminta tolong keponakan ku yang asik nangkring di jok belakangku menyaksikan pertunjukan ”kotor” aku dan bapak polisi yang ”terhormat” itu untuk meminjamkan uang jajannya untuk dialihkan ke aparat negara yang haus akan gaji sampingan. Aku menyodorkan satu lembar rupiah, kali ini bergambar I Gusti Ngurah Rai. Nampak malu-malu dia menerimanya, sambil pelan pelan dia renggangkan STNK dan SIM di tangannya yang dari tadi aku perhatikan sangat kuat cengkramannya seperti elang yang memegang anak itik. Surat-surat penting milikku  itupun berpindah ke tanganku diiringi wajah sumringah campur malu yang keluar dari raut si aparat negara yang terhormat itu, nampak sekali perubahan ekspresi wajahnya yang diterpa terik matahari seolah embun sejuk menyelimutinya.

Pikiran liarku menyimpulkan bahwa dia lega hari ini anak istrinya bisa makan dengan uang ku, sementara aku kebingungan hari ini mau makan apa??!, mungkin juga orang tua si polisi batak itu sudah bangga telah memiliki anak berpangakat polisi yang mempunyai masa depan cerah di hari tua nanti dengan fasilitas dari negara dan rakyat sepertiku. Si orang tua merasa telah berhasil mendidik anaknya hingga menjadi seperti sekarang, tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan si anak diluar sana, yang terpenting bagi si ortu, nama dan martabat moyangnya masih utuh tertanam di belakang nama keturunannya, sebagai simbol ”kehormatan” keluarga besarnya.

Akupun bisa melanjutkan perjalananku kembali dengan pikiran bercampur tanya selama dalam perjalanan :
  1. Hari ini aku makan apa?
  2. Apa iya...?, orang batak bisa dikalahkan oleh orang Bali? (gambar I Gusti Ngurah Rai dalam lembaran rupiah berwarna biru itu mampu meluluhkan si bapak polisi yang terhormat dan bermartabat itu...).
  3. Jika memang undang-undang lalu lintas Pasal 107 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang keWAJIBan menyalakan lampu depan telah berlaku sejak 2009, untuk apa pabrik motor memasang switch off pada motorku? Bukannya motorku keluaran tahun 2011??, kenapa harus dipasang?? ada apa dengan para petinggi polantas dengan pemilik pabrik motorku ini? Sengaja kah mereka menjebakku agar aku lalai dan memberikan gaji sampingan buat anak buahnya??
  4. Jika aku harus menyalakan lampu siang malam, konsekuensinya aku harus menanggung biaya akibat pendeknya usia pakai lampu dan accu motorku. Mungkinkah beban ini harus ditanggung olehku? Sementara si raja jalan itu asik menikmati uang keringatku dengan dalih peraturan??
  5. Operasi Patuh Jaya telah membuat semuanya patuh:
    1. SI polisi tetap patuh dengan tradisi orde baru
    2. Aku patuh dan rajin mengganti bohlam lampu depan dan accu secara rutin, selain itu aku juga patuh mengurangi jatah makan siangku.
    3. Engineer di pabrik motorku juga patuh memasang switch off lampu depan yang menurutku adalah sebuah ”jebakan” belaka.
Terlepas dari pikiran liarku yang berkelana dan rajin mengumpulkan pertanyaan yang negatif, aku berharap dengan adanya operasi Patuh Jaya dan diterapkannya Pasal 107 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Kebijakan ini lahir sebagai penyempurnaan dari UU Nomor 14 Tahun 1992 yang berlaku sebelumnya, akan menjadikan lebih baik ke depannya.

Salam untuk sahabat guruku tercinta Bp. Nanan Soekarna, mantan kapolres Jakarta Timur. Dan salam untuk seluruh kawan, sahabat dan rekan ku yang bertugas disana, terimakasih untuk bimbingan kalian pada saat pendidikan saka Bhayangkara puluhan tahun silam.

Salam dariku si rakyat jelata yang bodoh dan tak tahu diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....