13 Juli 2011

Membedah Sepeda Motor Tren 2011 Bergenre City Sport


Seringnya mengalami kemacetan di Ibukota membuat mata ini sering disuguhkan dengan pemandangan lalu lalang kendaraan roda dua yang dengan asiknya melintas dan kadang membentuk formasi zig zag ditengah kemacetan, tak jarang memancing emosi serta gerakan darah naik turun dengan tiba-tiba oleh ulah mereka yang memamerkan seni keindahan berkendara bukan pada tempatnya itu. Rutinitas menonton “pertunjukan” gratis formasi zig zag kendaraan motor di sela kemacetan membuat suasana itu menjadi terbiasa dan diam-diam otakku bekerja menyeleksi model dan disain kendaraan bermotor yang tanpa permisi melintas didepan mata ku yang indah ini…. (ha ha ha… Ge ‘Er, daripada nggak ada yang memuji).

Dari sekian banyak motor yang lalu lalang, mata ini tertuju pada disain kendaraan dengan perawakan kekar keluaran merk terkenal berlogo sayap-sayap patah (habisnya sayapnya cuma satu doang, sayap satunya dibawa ke negara asalnya di Jepang kali yaah...?? ha ha ha...). Tahun ini si ”sayap-sayap patah” mengeluarkan model motor bergaya City Sport (CS) menyesuaikan dengan tren kendaraan roda dua era masa kini dari negara asalnya di Jepang. Bentuk depannya mirip kepala belalang dengan sorotan mata belalang diganti dengan lampu depan yang dilengkapi dengan lampu kejut jarak jauh. Sementara pada bentuk tangki disematkan bracket simetris kiri dan kanan mirip sayap jangkrik sedang mengikrik dengan kapasitas tangki mencapai 9-10 liter bensin. 


Tempat duduk pengendara dibuat agar pengendara rileks tanpa harus membungkuk mirip nenek tua membawa tongkat jika dilihat dari belakang, yang kadang seolah meledek pengendara di belakangnya dengan menyembulkan pantat. Sementara tempat duduk pembonceng dibuat normal, bedanya si pembonceng diberikan kenyamanan berupa efek pegas tunggal (shock abshorber dengan sebutan monoshock) yang di disain khusus agar akselerasi dalam berboncengan terasa mengayun tanpa adanya beban pembonceng. Uniknya lagi monoshock tersebut dapat di tune sesuai selera pemakai. Sistem digital tak luput menjadi pendukung disain motor ini, terlihat pada sistem navigasinya. Pada bagian navigasi tersemat indikator BBM, indikator kecepatan, indikator pencapaian jarak tempuh (odo meter), dan dilengkapi dengan indikator waktu (jam digital) menjadi satu kesatuan dalam sistem digital yang mana keluaran model sebelumnya masih berbentuk analog. 

Sentuhan digital di bagian navigasi melengkapi model motor ini.

Mungkin itu beberapa kelebihan yang ditonjolkan oleh motor tersebut, seolah si engineersayap-sayap patah” memamerkan kepada ku untuk memiliki motor model itu. Ternyata si engineer berhasil menggodaku untuk memiliki kendaraan hasil disain nya itu, beberapa bulan kemudian aku membelinya dengan bantuan leasing berbendera anak perusahaan si ”sayap-sayap patah”. Akupun dapat memiliki motor model City Sport besutan sang engineer itu pada bulan Juni 2011.

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan itu berlaku bagi ku, khususnya jika aku memiliki sesuatu termasuk kendaraan bermotor merk ”sayap-sayap patah” yang awalnya aku banggakan. Akupun mulai mengenal dengan ditail bentuk dan karakter motor ku yang baru itu. Ternyata dibalik bentuk fisiknya yang kekar, canggih, dan nyaman, tersimpan beberapa kelemahan yang aku ketahui setelah aku memakainya sejauh 500 km. Saat melaju 100 km pertama yang aku rasakan adalah koplingnya yang terasa berat dan ”alot” dan kadang ”loss” yang membuat aku ngeri jika berkendara ditengah kemacetan dan melewati medan tanjakan, aku berusaha menghindari kondisi tersebut (agak tersiksa sih..., tapi gimana lagi?? Mentok nya begitu!!). 

Beberapa kali kejadian motor ku itu stak ditengah kerumunan kemacetan sebab kopling yang tidak masuk pada interval gigi 3 dan 4, sontak saja makian dan cacian ku dapatkan dari pengendara lainnya. Yang paling membekas dalam benakku adalah rasa ”malu” yang saat kejadian itu posisiku berada tepat di samping kendaraan besutan merk terkenal berlogo bintang tiga berinisial ”Y”, yang mana adalah rival berat dari si ”sayap-sayap patah” yang produknya telah kumiliki.  Kejadian itu terulang hingga tiga kali (kalo sekali sih masih aku toleransi, ini sudah nggak bisa diampuni, *bathinku berbisik penuh umpatan lembut tapi sedikit pedas).

Akupun memanfaatkan service gratis di 500km pertama dengan gratis cuci steam untuk mengatasi disain kopling ”murahan” yang telah membuatku malu yang sekaligus menurunkan martabatku karena telah salah memilih merk ”sayap-sayap patah” untuk aku andalkan. Service dan ganti oli gratis akhirnya dapat sedikit mengatasi ke”maluan”ku didepan rival si ”sayap-sayap patah” berlgogo formasi huruf Y itu, kini aku agak sedikit PeDe jika berjejeran dengan merk Y dengan model serupa tapi sedikit lebih ”canggih” teknologinya yang mengusung ”sistem injection” itu.

Tapi ada lagi gangguan saat aku memamerkan ke pede’anku karena membela produk ”sayap-sayap patah” yang aku banggakan. Pada interval gigi 3 dan 4 terasa berat, padahal kecepatannya baru 40-60 km/jam. Rasanya si belalang tempur yang aku banggakan menjerit minta ditambah jatah giginya menjadi 5. Akupun menjadi jarang menggunakan inetrval gigi 3 dan 4 kecuali kecepatanku dibawah 40. huft, rasanya hati ini gatel dan ngiri melihat kiri kanan ku berseliweran model sepeda motor dengan genre city sport yang sama, mereka dengan lenggangnya melintas tanpa rasa getar yang berlebih dengan kecepatan diatasku. Akupun sangat memaklumi motor kepunyaanku dengan segala kelemahan yang dia miliki. Aku memaklumi hasil kerja para engineer dan bagian R&D (Research & Development) si ”sayap-sayap patah”.

Satu dua kali memaklumi ternyata tidak membuat aku berhenti mengeluh. Sudah menjadi kebiasaanku, aku sangat perhatian dengan semua benda yang sudah menemani dan mendukung aktifitasku, termasuk motor yang baru-baru ini aku miliki besutan “sayap-sayap patah”. Aku sengaja mencuci sendiri motor ku, walaupun sebenarnya biaya jasa mencuci cukup murah dan terjangkau, aku tidak tertarik untuk itu. Aku ingin tahu lebih jauh sampai dimana sih keistimewaan barang yang aku miliki?
Ternyata aku menemukan beberapa kelemahan dibalik body nya yang kekar dan menggodaku untuk memilikinya, saat aku mencucinya, aku menemukan beberapa bagian yang sangat sulit untuk dijangkau oleh tanganku untuk membersihkannya, diantaranya :
  1. Bagian dalam dashboard depan yang hampir menempel dengan roda, tak sedikitpun bisa aku bersihkan.
  2. Bagian nafas pintu tangki yang riskan dengan masuknya air ke dalam bahan bakar.
  3. Bagian navigator digital yang riskan kerusakan, karena kaca mika nya oleng ke kiri dan kekanan (padahal masih baru, belum ada sebulan).
  4. Bagian rangka yang kasar, sempat membuat kulit tanganku tercabik cabik  dan luka saat tidak sengaja aku membersihkannya.
  5. Bagian mika headlamp (rangka mata belalang), yang riskan terhadap masuknya air pada "mata belalang”.
  6. Kualitas cat body tangki yang riskan terhadap goresan.
  7. Pada saat melewati genangan air, kaki kiri dan kanan dijamin basah kuyup oleh cepretan air karena tidak disediakan ruang gerak kaki untuk menghindah dari cepretan genangan air.
Bagian dalam dashboard depan yang tidak bisa di bersihkan/dicuci.

Kumplit sudah aku bedah semua kelebihan dan kelemahan motor dengan merek kebanggaanku itu. Padahal merk ”sayap-sayap patah” adalah motor kebanggaan keluarga kami, dari mulai generasi almarhum ayah, bibi, para sepupu sampai tiga kakak dan adikku semua menggunakan merk ”sayap-sayap patah”.
Dengan segala kerendahan hati dan kemurahan, aku pun menerima kekurangan produk ”sayap-sayap patah”. Mudah-mudahan tulisanku dapat menjadi bahan para engineer dan divisi Research & Development si sayap patah untuk lebih teliti lagi dalam mendisain sebuah produk unggulannya.

Dan buat para pembaca, saya sarankan sebelum membeli produk motor agar memeprhatikan :
  1. Jangan HANYA tergoda oleh bentuk dan disain luar.
  2. Sebelum memutuskan untuk membeli, bandingkan dengan kompetitor merk pilihan anda, jangan mencoba menukar fanatisme dengan kekecewaan dibelakang hari.
  3. Jangan terlalu percaya dengan dealer dan para kroni nya, pengalamanku diiming-imingi marchandise senilai Rp. 500.000,- setelah membeli motor, tapi aktualnya hanya dikasih helm ”biasa” dan jacket yang taksiranku HANYA seharga Rp. 20.000,- doang (jacketnya nggak pernah gue pakai, gue kasih kepada orang yang membutuhkan nya, mungkin tu jacket Cuma buat keset kali yaah...? hmmm... nggak tau juga sih...soalnya bahannya mirip keset ha ha ha.. gue sempet ngomong ke salesnya tuuh..., ”nggak usah pake marchandise kalo marchendise nya nggak berguna dan MURAHAN”).
  4. Jika perlu, sebelum memutuskan untuk membeli, coba dulu sepeda motor serupa milik teman atau saudara yang sudah memilikinya, untuk tahu kelemahan dan kelebihannya, agar tidak menyesal dikemudian hari.

SELAMAT MEMILIH BARANG BERKUALITAS, SEMOGA ANDA DIJAUHKAN DARI RASA PENYESALAN DAN SAKIT HATI DIKEMUDIAN HARI.
TERIMAKASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA.
Posting Komentar