20 Juli 2011

Tombol Switch Off Pada Kendaraan Bermotor, Perlukah?!

Mengamati tanda bulatan berwarna putih dengan diameter kurang lebih 1mm yang terpampang di sebelah kiri switch on/off kendaraan bermotor milikku, timbul pertanyaan dalam benakku, masihkah pilihan tombol ini berguna pada sepeda motor?. Pertanyaan ini muncul setelah kejadian beberapa hari yang lalu ketika aku melintas di Jl. Raya Cempaka mas arah senen, tepatnya 2 kilometer dari perempatan fly over ITC Cempaka Mas. Saat itu sedang berlangsung razia polisi dalam rangka operasi Patuh Jaya  bulan Juli 2011. Pada saat melintas tiba-tiba aku diberhentikan oleh salah satu personil polantas dan menyuruhku menepi. Akupun kaget dengan tingkah aneh bapak polisi itu, karena aku merasa kendaraan yang aku pakai sangat sempurna tanpa kurang suatu apapun (motor ku baru 1 bulan diambil dari dealer). 

Setelah menepi si baju abu-abu (pak Polisi) menyuruhku memperlihatkan SIM dan STNK, akupun menurutinya. Setelah surat-surat itu ditangannya, diapun langsung menodongku dengan pertanyaan yang HARUS aku pilih, ”Yang mau ditahan yang mana pak?, SIM atau STNK?, Bapak telah melanggar aturan lalu lintas dengan tidak menyalakan lampu depan kendaraan bermotor.” ujarnya tanpa ragu. Aku kaget ketika melihat switch lampu depan ku dalam kondisi Off. Aku pun tak bisa mengelak dan mengemukakan alasan bahwa aku lupa menyalakannya,dan aku segera memindahkan posisi switch ke arah on dengan mode redup (asal keliatan nyala).

Aku mencoba meminta SIM dan STNK ku yang sudah dijadikan ”senjata” oleh pak
polisi yang gagah dan berani itu. Apa yang terjadi?! Si Bapak Polisi dengan logat khas Batak itu langsung menyebut kata tilang sambil memperlihatkan buku ”pencari dana pribadi untuk sampingan gaji” nya (buku form tilang), bollpoint nya langsung menunjuk angka Rp. 250.000,- sebagai dendanya tanpa menjelaskan sebab denda kepadaku yang buta akan peraturan lalu lintas. Aku yang buta akan pasal-pasal lalu lintas langsung kaget dibuatnya, ditengah kegalauanku sang Polisi yang aku pikir bijak itu langsung menodongku dengan kata-kata yang terburu-buru, ”cepat bapak putuskan, saya tunggu, silahkan dirembug kan dengan teman Bapak yang bonceng itu” katanya dengan nada agak sedikit mengancam. Aku hanya bisa menatap ekspresi wajahnya yang sepertinya berharap bisa diselesaikan soal tersebut dengan model ”rumus” zaman orde baru. Akupun mencoba ber alasan dan minta kebijaksanaan bahwa aku lupa menyalakannya. Namun si aparat negara itu kekeuh menawarkan dua pilihan, mau ditilang atau ”berembug” dengan keponakanku yang ku bonceng (mungkin dia melihat plat motorku yang baru seumur jagung, jadi masih bisa dia  ”mainkan”). Akupun mengeluaran lembaran rupiah di dompetku yang saat itu hanya berisi uang Rp. 35.000,- 

Aku sodorkan selembar gambar pahlawan Sultan Mahmud Badaruddin dan dua lembar gambar Tuanku Imam Bonjol, pikirku dua pahlawan kebanggaan negeri itu mampu ”menyadarkan” si ”Aparat negara” bermarga ”muka tembok” itu yang pasang muka ”mupeng” alias muka pengen (total Rp. 20.000,- pikirku yang 15.000 aku mau pakai buat jajan siang nanti). Dengan nada menawar si ”Aparat Negara” itu menolak ”yaah, dua puluh ribu”, ujarnya penuh lecehan gaya khas bataknya. Aku hanya bisa berujar, ”Uangku tinggal segini pak, lagian saya HANYA lupa MEMINDAHKAN SWITCH OFF KE MODE ON SAJA KOQ pak !!, semua lampu normal!, masa siih tidak ada toleransi?” kataku sedikit ber argumen, aku menyadari sepenuhnya itu kelalaianku yang menurutku masih bisa ditolerir. Namun si ”batak” yang doyan ”sogokan” itu keukeuh menolak lamaranku bergambar tuanku Imam Bonjol dan Sultan Bulkiah yang aku kasih (dari gayanya sih minta diganti dengan gambar pahlawan yang lebih keren...), aku pun mengerti kebutuhannya, ”maklum... orang lapangan... ” pikiran liarku se enaknya berujar. Akupun meminta tolong keponakan ku yang asik nangkring di jok belakangku menyaksikan pertunjukan ”kotor” aku dan bapak polisi yang ”terhormat” itu untuk meminjamkan uang jajannya untuk dialihkan ke aparat negara yang haus akan gaji sampingan. Aku menyodorkan satu lembar rupiah, kali ini bergambar I Gusti Ngurah Rai. Nampak malu-malu dia menerimanya, sambil pelan pelan dia renggangkan STNK dan SIM di tangannya yang dari tadi aku perhatikan sangat kuat cengkramannya seperti elang yang memegang anak itik. Surat-surat penting milikku  itupun berpindah ke tanganku diiringi wajah sumringah campur malu yang keluar dari raut si aparat negara yang terhormat itu, nampak sekali perubahan ekspresi wajahnya yang diterpa terik matahari seolah embun sejuk menyelimutinya.

Pikiran liarku menyimpulkan bahwa dia lega hari ini anak istrinya bisa makan dengan uang ku, sementara aku kebingungan hari ini mau makan apa??!, mungkin juga orang tua si polisi batak itu sudah bangga telah memiliki anak berpangakat polisi yang mempunyai masa depan cerah di hari tua nanti dengan fasilitas dari negara dan rakyat sepertiku. Si orang tua merasa telah berhasil mendidik anaknya hingga menjadi seperti sekarang, tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan si anak diluar sana, yang terpenting bagi si ortu, nama dan martabat moyangnya masih utuh tertanam di belakang nama keturunannya, sebagai simbol ”kehormatan” keluarga besarnya.

Akupun bisa melanjutkan perjalananku kembali dengan pikiran bercampur tanya selama dalam perjalanan :
  1. Hari ini aku makan apa?
  2. Apa iya...?, orang batak bisa dikalahkan oleh orang Bali? (gambar I Gusti Ngurah Rai dalam lembaran rupiah berwarna biru itu mampu meluluhkan si bapak polisi yang terhormat dan bermartabat itu...).
  3. Jika memang undang-undang lalu lintas Pasal 107 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang keWAJIBan menyalakan lampu depan telah berlaku sejak 2009, untuk apa pabrik motor memasang switch off pada motorku? Bukannya motorku keluaran tahun 2011??, kenapa harus dipasang?? ada apa dengan para petinggi polantas dengan pemilik pabrik motorku ini? Sengaja kah mereka menjebakku agar aku lalai dan memberikan gaji sampingan buat anak buahnya??
  4. Jika aku harus menyalakan lampu siang malam, konsekuensinya aku harus menanggung biaya akibat pendeknya usia pakai lampu dan accu motorku. Mungkinkah beban ini harus ditanggung olehku? Sementara si raja jalan itu asik menikmati uang keringatku dengan dalih peraturan??
  5. Operasi Patuh Jaya telah membuat semuanya patuh:
    1. SI polisi tetap patuh dengan tradisi orde baru
    2. Aku patuh dan rajin mengganti bohlam lampu depan dan accu secara rutin, selain itu aku juga patuh mengurangi jatah makan siangku.
    3. Engineer di pabrik motorku juga patuh memasang switch off lampu depan yang menurutku adalah sebuah ”jebakan” belaka.
Terlepas dari pikiran liarku yang berkelana dan rajin mengumpulkan pertanyaan yang negatif, aku berharap dengan adanya operasi Patuh Jaya dan diterapkannya Pasal 107 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Kebijakan ini lahir sebagai penyempurnaan dari UU Nomor 14 Tahun 1992 yang berlaku sebelumnya, akan menjadikan lebih baik ke depannya.

Salam untuk sahabat guruku tercinta Bp. Nanan Soekarna, mantan kapolres Jakarta Timur. Dan salam untuk seluruh kawan, sahabat dan rekan ku yang bertugas disana, terimakasih untuk bimbingan kalian pada saat pendidikan saka Bhayangkara puluhan tahun silam.

Salam dariku si rakyat jelata yang bodoh dan tak tahu diri.

13 Juli 2011

Membedah Sepeda Motor Tren 2011 Bergenre City Sport


Seringnya mengalami kemacetan di Ibukota membuat mata ini sering disuguhkan dengan pemandangan lalu lalang kendaraan roda dua yang dengan asiknya melintas dan kadang membentuk formasi zig zag ditengah kemacetan, tak jarang memancing emosi serta gerakan darah naik turun dengan tiba-tiba oleh ulah mereka yang memamerkan seni keindahan berkendara bukan pada tempatnya itu. Rutinitas menonton “pertunjukan” gratis formasi zig zag kendaraan motor di sela kemacetan membuat suasana itu menjadi terbiasa dan diam-diam otakku bekerja menyeleksi model dan disain kendaraan bermotor yang tanpa permisi melintas didepan mata ku yang indah ini…. (ha ha ha… Ge ‘Er, daripada nggak ada yang memuji).

Dari sekian banyak motor yang lalu lalang, mata ini tertuju pada disain kendaraan dengan perawakan kekar keluaran merk terkenal berlogo sayap-sayap patah (habisnya sayapnya cuma satu doang, sayap satunya dibawa ke negara asalnya di Jepang kali yaah...?? ha ha ha...). Tahun ini si ”sayap-sayap patah” mengeluarkan model motor bergaya City Sport (CS) menyesuaikan dengan tren kendaraan roda dua era masa kini dari negara asalnya di Jepang. Bentuk depannya mirip kepala belalang dengan sorotan mata belalang diganti dengan lampu depan yang dilengkapi dengan lampu kejut jarak jauh. Sementara pada bentuk tangki disematkan bracket simetris kiri dan kanan mirip sayap jangkrik sedang mengikrik dengan kapasitas tangki mencapai 9-10 liter bensin. 


Tempat duduk pengendara dibuat agar pengendara rileks tanpa harus membungkuk mirip nenek tua membawa tongkat jika dilihat dari belakang, yang kadang seolah meledek pengendara di belakangnya dengan menyembulkan pantat. Sementara tempat duduk pembonceng dibuat normal, bedanya si pembonceng diberikan kenyamanan berupa efek pegas tunggal (shock abshorber dengan sebutan monoshock) yang di disain khusus agar akselerasi dalam berboncengan terasa mengayun tanpa adanya beban pembonceng. Uniknya lagi monoshock tersebut dapat di tune sesuai selera pemakai. Sistem digital tak luput menjadi pendukung disain motor ini, terlihat pada sistem navigasinya. Pada bagian navigasi tersemat indikator BBM, indikator kecepatan, indikator pencapaian jarak tempuh (odo meter), dan dilengkapi dengan indikator waktu (jam digital) menjadi satu kesatuan dalam sistem digital yang mana keluaran model sebelumnya masih berbentuk analog. 

Sentuhan digital di bagian navigasi melengkapi model motor ini.

Mungkin itu beberapa kelebihan yang ditonjolkan oleh motor tersebut, seolah si engineersayap-sayap patah” memamerkan kepada ku untuk memiliki motor model itu. Ternyata si engineer berhasil menggodaku untuk memiliki kendaraan hasil disain nya itu, beberapa bulan kemudian aku membelinya dengan bantuan leasing berbendera anak perusahaan si ”sayap-sayap patah”. Akupun dapat memiliki motor model City Sport besutan sang engineer itu pada bulan Juni 2011.

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan itu berlaku bagi ku, khususnya jika aku memiliki sesuatu termasuk kendaraan bermotor merk ”sayap-sayap patah” yang awalnya aku banggakan. Akupun mulai mengenal dengan ditail bentuk dan karakter motor ku yang baru itu. Ternyata dibalik bentuk fisiknya yang kekar, canggih, dan nyaman, tersimpan beberapa kelemahan yang aku ketahui setelah aku memakainya sejauh 500 km. Saat melaju 100 km pertama yang aku rasakan adalah koplingnya yang terasa berat dan ”alot” dan kadang ”loss” yang membuat aku ngeri jika berkendara ditengah kemacetan dan melewati medan tanjakan, aku berusaha menghindari kondisi tersebut (agak tersiksa sih..., tapi gimana lagi?? Mentok nya begitu!!). 

Beberapa kali kejadian motor ku itu stak ditengah kerumunan kemacetan sebab kopling yang tidak masuk pada interval gigi 3 dan 4, sontak saja makian dan cacian ku dapatkan dari pengendara lainnya. Yang paling membekas dalam benakku adalah rasa ”malu” yang saat kejadian itu posisiku berada tepat di samping kendaraan besutan merk terkenal berlogo bintang tiga berinisial ”Y”, yang mana adalah rival berat dari si ”sayap-sayap patah” yang produknya telah kumiliki.  Kejadian itu terulang hingga tiga kali (kalo sekali sih masih aku toleransi, ini sudah nggak bisa diampuni, *bathinku berbisik penuh umpatan lembut tapi sedikit pedas).

Akupun memanfaatkan service gratis di 500km pertama dengan gratis cuci steam untuk mengatasi disain kopling ”murahan” yang telah membuatku malu yang sekaligus menurunkan martabatku karena telah salah memilih merk ”sayap-sayap patah” untuk aku andalkan. Service dan ganti oli gratis akhirnya dapat sedikit mengatasi ke”maluan”ku didepan rival si ”sayap-sayap patah” berlgogo formasi huruf Y itu, kini aku agak sedikit PeDe jika berjejeran dengan merk Y dengan model serupa tapi sedikit lebih ”canggih” teknologinya yang mengusung ”sistem injection” itu.

Tapi ada lagi gangguan saat aku memamerkan ke pede’anku karena membela produk ”sayap-sayap patah” yang aku banggakan. Pada interval gigi 3 dan 4 terasa berat, padahal kecepatannya baru 40-60 km/jam. Rasanya si belalang tempur yang aku banggakan menjerit minta ditambah jatah giginya menjadi 5. Akupun menjadi jarang menggunakan inetrval gigi 3 dan 4 kecuali kecepatanku dibawah 40. huft, rasanya hati ini gatel dan ngiri melihat kiri kanan ku berseliweran model sepeda motor dengan genre city sport yang sama, mereka dengan lenggangnya melintas tanpa rasa getar yang berlebih dengan kecepatan diatasku. Akupun sangat memaklumi motor kepunyaanku dengan segala kelemahan yang dia miliki. Aku memaklumi hasil kerja para engineer dan bagian R&D (Research & Development) si ”sayap-sayap patah”.

Satu dua kali memaklumi ternyata tidak membuat aku berhenti mengeluh. Sudah menjadi kebiasaanku, aku sangat perhatian dengan semua benda yang sudah menemani dan mendukung aktifitasku, termasuk motor yang baru-baru ini aku miliki besutan “sayap-sayap patah”. Aku sengaja mencuci sendiri motor ku, walaupun sebenarnya biaya jasa mencuci cukup murah dan terjangkau, aku tidak tertarik untuk itu. Aku ingin tahu lebih jauh sampai dimana sih keistimewaan barang yang aku miliki?
Ternyata aku menemukan beberapa kelemahan dibalik body nya yang kekar dan menggodaku untuk memilikinya, saat aku mencucinya, aku menemukan beberapa bagian yang sangat sulit untuk dijangkau oleh tanganku untuk membersihkannya, diantaranya :
  1. Bagian dalam dashboard depan yang hampir menempel dengan roda, tak sedikitpun bisa aku bersihkan.
  2. Bagian nafas pintu tangki yang riskan dengan masuknya air ke dalam bahan bakar.
  3. Bagian navigator digital yang riskan kerusakan, karena kaca mika nya oleng ke kiri dan kekanan (padahal masih baru, belum ada sebulan).
  4. Bagian rangka yang kasar, sempat membuat kulit tanganku tercabik cabik  dan luka saat tidak sengaja aku membersihkannya.
  5. Bagian mika headlamp (rangka mata belalang), yang riskan terhadap masuknya air pada "mata belalang”.
  6. Kualitas cat body tangki yang riskan terhadap goresan.
  7. Pada saat melewati genangan air, kaki kiri dan kanan dijamin basah kuyup oleh cepretan air karena tidak disediakan ruang gerak kaki untuk menghindah dari cepretan genangan air.
Bagian dalam dashboard depan yang tidak bisa di bersihkan/dicuci.

Kumplit sudah aku bedah semua kelebihan dan kelemahan motor dengan merek kebanggaanku itu. Padahal merk ”sayap-sayap patah” adalah motor kebanggaan keluarga kami, dari mulai generasi almarhum ayah, bibi, para sepupu sampai tiga kakak dan adikku semua menggunakan merk ”sayap-sayap patah”.
Dengan segala kerendahan hati dan kemurahan, aku pun menerima kekurangan produk ”sayap-sayap patah”. Mudah-mudahan tulisanku dapat menjadi bahan para engineer dan divisi Research & Development si sayap patah untuk lebih teliti lagi dalam mendisain sebuah produk unggulannya.

Dan buat para pembaca, saya sarankan sebelum membeli produk motor agar memeprhatikan :
  1. Jangan HANYA tergoda oleh bentuk dan disain luar.
  2. Sebelum memutuskan untuk membeli, bandingkan dengan kompetitor merk pilihan anda, jangan mencoba menukar fanatisme dengan kekecewaan dibelakang hari.
  3. Jangan terlalu percaya dengan dealer dan para kroni nya, pengalamanku diiming-imingi marchandise senilai Rp. 500.000,- setelah membeli motor, tapi aktualnya hanya dikasih helm ”biasa” dan jacket yang taksiranku HANYA seharga Rp. 20.000,- doang (jacketnya nggak pernah gue pakai, gue kasih kepada orang yang membutuhkan nya, mungkin tu jacket Cuma buat keset kali yaah...? hmmm... nggak tau juga sih...soalnya bahannya mirip keset ha ha ha.. gue sempet ngomong ke salesnya tuuh..., ”nggak usah pake marchandise kalo marchendise nya nggak berguna dan MURAHAN”).
  4. Jika perlu, sebelum memutuskan untuk membeli, coba dulu sepeda motor serupa milik teman atau saudara yang sudah memilikinya, untuk tahu kelemahan dan kelebihannya, agar tidak menyesal dikemudian hari.

SELAMAT MEMILIH BARANG BERKUALITAS, SEMOGA ANDA DIJAUHKAN DARI RASA PENYESALAN DAN SAKIT HATI DIKEMUDIAN HARI.
TERIMAKASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA.

11 Juli 2011

Training On Sharing (antaRa Rumput, goRengan, dan telepon seluleR)


Judulnya adalah Training On Sharing, disingkat jadi TOS. Acara ini merupakan ajang kopi darat rutin yang berisi sharing dan training bagi para penulis di Indonesia khususnya di wilayah Jabodetabek. Kali ini bertempat di markas Internet Sehat binaan Kang Onno W. Purbo di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan, tepatnya di Perumahan Rawa Bambu Blok B10. Ruangan yang penuh dengan komputer itu dipergunakan oleh panitia penyelenggara sebagai ajang Sharing dengan memanggil penulis sekaligus admin www.blogdetik.com bernama pena "Fanabis" atau dipanggil Mas KW (dibaca KaWe, nama panjangnya Karmin Winarta).


Mas KaWe alias Fanabis alias Karmin Winarta

Aku kebetulan baru pertama kalinya mengikuti acara ini, itu juga atas referensi dari mbak Ani Bertha, teman baruku di acara Blogilicious beberapa minggu yang lalu. Tak berapa lama setelah mbak Ani memberi informasi, aku langsung menghubungi ketua panitia ber nama mas Joel (nggak tau itu nama asli atau bukan, bagiku nggak penting.. he he, yang penting dia berwujud manusia ha ha ha...). Aku yang new bie dan awam menulis dengan mudahnya diterima oleh mas Joel. Sempat terpikir, betapa asiknya komunitas para penulis yang dalam mind set ku adalah orang-orang dengan pemikiran "aneh". Aku yang kebetulan type orang yang suka penasaran dengan sesuatu yang aneh langsung terbawa oleh konsep acaranya mas Joel yang friendly itu.

Hari minggu sengaja aku sisihkan waktu bebas ku untuk bertemu dengan "makhluk aneh" dengan acara yang menurutku "aneh" itu. Aku datang bersama Fitri, sahabat mbak Ani dan sekaligus kawan BPI yang jalan ke Sawarna beberapa minggu yang lalu. Bagiku bertemu dengan orang-orang baru adalah suatu kebanggaan dan kepuasan batin. Awalnya aku sempat berprasangka buruk bakal di "cuekin" oleh mereka. Tapi dugaanku meleset 180º (sholat berjama'ah aja sampe kalah lho jumlah derajatnya yang hanya 27º, gila nggak siih??!). Ternyata mereka makhluk-makhluk dengan karakter yang "menggelikan" dan mau menerima ku dengan tanpa beban sedikitpun (padahal beban berat badanku lumayan lho...hampir satu kwintal he he *apa hubungannya??!).  Mereka sangat wellcome dengan style ku yang cuek dan sedikit sok akrab ditambah sedikit ja'im. Ada beberapa wajah yang tak asing bagiku, mereka adalah teman blogilicious yang aku manfaatkan sebagai medium pengenalan ku dengan teman-teman baru ku yang jumlahnya lebih dari 10 orang itu (bisa-bisa nya gue aja siih..he he he..).

Acara dimulai pkl. 13:00 wib, langsung di isi dengan presentasi dari mas KaWe (ternyata nama panjagnya Karmin Winarta he he he), awalnya aku nggak tau tu orang siapa siih...?! pake kacamata hitam mirip clark si Superman dengan tahi lalat di atas bibir sebelah kiri dan berdandan sederhana serta bergaya bicara khas Jawa (aku kira Superman, eeh taunya gatot kaca ha ha ha...), usut punya usut ternyata mas KaWe itu salah satu orang penting yang tugas dan pekerjaannya dibelakang layar nya blog detik yang terkenal itu yaah...??! hmmm..., aku pun menyimak dengan seksama prosesi "transfer ilmu" dari pengelola "Fanabis" itu.

Transfer Ilmu nya mas KaWe

Sebagai pendatang baru, aku memilih nggak banyak omong (menurutku sih gitu..., tapi agak banyak juga siih ngomongnya dibandingin dengan mas berbaju hitam di seberang tempatku duduk *rasain loe gue banding-bandingin! Lagian loe ga kenalan sih sama gue Ha ha ha...).
Namanya juga kumpulan orang-orang ”aneh”, jadi kata-kata yang keluar dari bibir manis mereka juga bermerk ”aneh” semua. Aku mendapat beberapa kata yang mewakili uraian dan diskusi di forum itu, meskipun begitu, kata-kata itu sangat membekas dan terus terngiang sepanjang masa. Mungkin itulah hebatnya kata-kata yang keluar dari seorang penulis (selalu mengandung arti khusus dan luas meski kata-katanya simple).
Ada beberapa petikan kalimat yang terekam di benakku saat berku,pil dengan mereka. Aku yakin kata-kata tersebut sangat berguna bagi pemula sepertiku dan teman-teman pembaca tulisanku yang entah siapa aku nggak ngerti (soalnya mereka Cuma baca doang siih! Nggak mau komen atau daftar jadi follower di blog gua...*ekspresi manyun sambil berharap yang baca tulisan ini pada daftar jadi follower)
Berikut petikan kata-kata indah yang keluar dari bibir mereka para seniman tinta di sela diskusi dan sharing :

Orang kreatif tidak tergantung dan bergantung pada medium” (by : mas KaWe)

Menulis itu pekerjaan manusia, meng edit itu pekerjaannya Dewa” (by : Steven Hawking, dipopulerkan oleh mas Reza)

Lead/awal paragraf menggambarkan isi sebuah tulisan” (by : mas KaWe)

Jangan menentukan pola pikir pembaca” (by : mas KaWe)

Biarkan tulisan menemukan pembacanya” (by : temannya mas KaWe).

Ketika sebuah tulisan menggunakan kata-kata klise, akan sangat mudah diketahui siapa si penulis dan generasi ke berapa si penulis” (by : mas KaWe).

Ada seribu satu cara untuk mengungkapkan sesuatu agar lebih ekspresif” (by : mas KaWe).

Kita sebagai penulis harus terus men explore potensi diri dengan mengeluarkan cara-cara baru dalam seni menulis dan bahasa” (by : mas KaWe)

Anggapan menulis hanya diperuntukkan oleh orang-orang tertentu itu tidak masuk akal” (by : mas Reza).

Bebaskan diri dari aturan-aturan dalam menulis yang dibuat orang” (by : mas KaWe).

Orang Indonesia itu ”brengsek”, lebih suka berkomentar daripada menulis, buktinya jatah twitter yang hanya 140 karakter selalu dihabiskan bahkan kurang!!” (by : mas Karel).

Carilah orang terdekat kita yang dapat menghina dan berkomentar pedas mengenai tulisan kita sebelum kita memutuskan untuk mem publish nya” (by : mas Karel).

Menulislah dengan jujur dari diri sendiri” (by : mas Karel).

Biarkan merdeka, biarkan memakai style masing-masing” (by : mas Mulyanto).

Tulisan bagus menurutku adalah tulisan yang bisa berbicara” (by : mas Joel).

ciri-ciri tulisan yang simple dan berbobot adalah apabila sebuah kalimat bisa dibaca hanya dengan sekali tarikan nafas” (by : mas Karel, katanya sih dari bosnya yang ngomong gitu...).

Kita sepatutnya menyadari bahwa Pembaca kita adalah orang-orang pintar” (by : mas KaWe).

Pemikiran itu PRA, penilaian itu PASCA” (by : mas Karel, maksudnya : nulis aja dulu, baru review, jangan kebalik atau dicampur aduk, bisa pusing nanti...).

Kira-kira itu yang bisa aku bawa sebagai oleh-oleh kegiatan di hari Minggu kemarin yang syarat dengan ilmu dan pengalaman, mudah-mudahan dapat dijadikan bahan renungan dan motifasi bagi teman-teman semua.
O, ya ...! ada satu lagi ungkapan yang tak mungkin aku lupakan seumur hidup selama berkenalan dan berkumpul dengan mereka, yaitu :

antara Rumput, goRengan, dan telepon seluleR” ha ha ha ha....  *ekspresi ngakak sambil mikir dan nyesel sudah bikin orang speak less ditengah forum.

Melalui tulisan ini aku minta maaf kepada teman dan sahabat yang hadir disana jika ada tutur kata yang tak tertata, bahasa yang tidak biasa, dan ungkapan yang tak mengenakkan serta perilaku yang tak baku. Aku hanyalah manusia biasa.

Semoga kegiatan rutin ini terus berjalan dan mampu mempererat tali silaturrahmi diantara kita.


Salam,

08 Juli 2011

Dualisme Teknologi Lampu LED (Hemat Energi Dan Panjang Usia Pakai)

Pada malam hari kondisi pupil mata kita sangat peka terhadap cahaya, tidak seperti pada siang hari, kondisi mata kita di malam hari bekerja lebih ekstra dalam menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal cahaya tersebut ke dalam otak untuk diterjemahkan. Hal ini sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya cahaya yang masuk dan diterima oleh mata kita.

Dalam kondisi tersebut, diperlukan komposisi cahaya yang cocok dan proporsional agar tidak mengganggu kerja alami organ tubuh kita  terutama mata. Kelebihan cahaya akan menyebabkan pupil mengecil dan otot syaraf mata berkontraksi maksimal sedangkan kekurangan cahaya menyebabkan pupil mata kita membesar, dan urat syaraf pun berkontraksi karena perlunya cahaya.
Perubahan kontraksi urat syaraf yang terjadi secara spontan dapat berefek negatif pada mata kita, sehingga tak jarang banyak keluhan mata oleh kebanyakan orang disebabkan oleh seringnya kontraksi secara spontan yang dilakukan oleh mata pada kondisi seperti tersebut diatas.

Teknologi lampu pijar telah menjadi solusi pada abad terakhir, dan perkembangan teknologi lampu pijar semakin membuat kita merasa nyaman akan bahaya kontraksi otot mata.
Disain, model, dan teknologi hemat energi menjadi market brand  oleh sebagian produsen pembuat lampu, selain sekedar pencahayaan yang sifatnya teknis. Hadirnya teknologi LED telah menjadi solusi bagi konsumen yang membutuhkan kenyamanan, keamanan dengan pencahayaan yang proporsional, dan yang terpenting adalah hemat energi. Dari segi usia pemakaian, teknologi lampu LED mampu bertahan hingga 25.000 jam dengan 1100 lumens, lebih panjang jika dibanding teknologi sebelumnya. Meski produk lampu dengan teknologi LED tergolong mahal jika dibandingkan dengan CFL, namun secara manfaat dan usia pakai, teknologi LED dapat diandalkan dan bisa menjadi market leader untuk produk lampu di masa kini.

Fight Never Ending - Hidup Adalah Perjuangan Tanpa Henti


Hidup adalah perjuangan yang tak kan pernah usai”, ungkapan itu sangat familiar dan sering kita dengar serta terucap dengan mudahnya oleh seseorang, dari mulai pengamen, penyanyi, pengembara, penulis dan kalangan lainnya. Jika kita urai perjalanan hidup kita maising-masing, jalan kehidupan kita laksana serangkaian dari potongan-potongan episode kehidupan yang disambung menjadi serangkaian alur cerita yang mana diri kita menjadi pemain utama untuk diri kita sendiri, skenarionya adalah garisan Qodho dan Qodar yang tercatat di Lauh Mahfudz, Tuhan yang menjadi sutradara dan sekaligus sebagai penulis skenario serta orang lain, binatang, dan lingkungan sekitar adalah penonton dan sekaligus lawan main kita.

Sudah sepatutnya kita merasa bangga dan bersyukur dengan peran yang kita jalani, karena kita adalah pemain utama yang mana keberadaan dan karakter kita adalah penentu alur cerita bagi diri kita dan lawan main kita di episode yang sedang berjalan dan episode mendatang. Sudah sepantasnya kita menghargai diri kita dengan mengambil peran yang baik-baik, peran yang mampu membuat penonton dan lawan main kita terkesima dengan sifat dan karakter yang kita perankan, peran yang mampu memikat sang sutradara agar sang sutradara merasa puas dengan apa yang dikehendaki Nya, sehingga kita akan mendapat kan reward dari Nya, baik itu reward berupa peran yang lebih menantang atau reward dalam bentuk kebahagiaan yang tak pernah kita duga.

Seringkali kita merasa mendapatkan peran yang kurang beruntung dibanding pemain yang lainnya, karena kita terlalu sempit memandang dan mengartikan sebuah scrypt, skenario dan arahan dialog dari sang sutradara, kita selalu memandang scrypt itu bagian demi bagian, padahal jika kita mampu me review lembaran scrypt dan skenario dari Tuhan dan menyatukannya, bentuk cerita yang kita mainkan sebenarnya mengasyikkan dan penuh makna serta pelajaran yang berharga bagi peran kita dimasa mendatang. Cara komunikasi sang sutradara dengan para pemain kadang sulit di mengerti oleh para pemain yang memiliki cakrawala sempit, namun bagi para pemain yang mempunyai pandangan luas penuh keimanan, komunikasi sang sutradara sebenarnya sangatlah indah. Sang sutradara memiliki ide cerita yang telah dipersiapkan untuk kita di episode mendatang. Kadang kita sebagai manusia merasa kita paling susah, kita paling malang, kita kurang beruntung, dan kita merasa tersisihkan serta termarginalkan oleh sekeliling kita. Padahal dibalik itu sang sutradara telah menyiapan suatu kebahagiaan yang boleh jadi Dia simpan untuk kita pada saat kita membutuhkannya dan pada saat yang tepat, karena sang sutradara sangatlah tahu siapa kita, karakter kita, sifat kita, kelemahan kita, bahkan sampai hembusan nafas kita sekalipun.

Ketegaran kita mengarungi peran dan menjalankan skenario hidup membuat kita menjadi kokoh dalam menghadapi setiap pergulatan dan konflik yang terjadi dalam kehidupan. Karena hidup adalah duan unsur, yaitu unsur masalah dan unsur solusi. Keduanya sudah bersifat niscaya dan pasti yang diturunkan olehNya secara beriringan. Masalah tanpa solusi membuat kita stress, solusi tanpa masalah membuat kita menjadi manja. Percayalah bahwa hidup kita adalah dua unsur itu. Dan tugas kita adalah menggabungkan keduanya sehingga menjadi berpasangan pada saat yang tepat. Kemampuan kita dalam menggabungkan keduanya memperlihatkan sisi sifat bijaksana yang kita miliki. Kemampuan kita menggabungkan keduanya membuat kita mempunyai ”nilai” di hadapan makhluk lain. Dan kemampuan kita menggabungkan keduanya membuat kita menjadi seorang ksatria sejati yang siap menghadapi setiap pertarungan tanpa henti dari ajang bernama ”Kehidupan”.

Tulisan ini aku persembahkan kepada Mbak Ani Bertha yang sedang merayakan ulang tahun Blognya yang ketiga dengan tema ”Fight Never Ending
Teruslah menuliskan segala apa yang kamu ingin tulis,
Ikatlah rangkaian pengalaman hidupmu dalam ikatan tulisanmu,
Suatu hari nanti banyak orang yang membutuhkan ikatan itu, 
Bagilah ikatan itu kepada mereka,
Biarkan mereka jadikan ikatan itu sebagai batu pijakan dan arahan dalam menghadapi pertarungan tanpa henti dalam kehidupan mereka,
Kita telah menjadi penerang bagi kehidupan mereka....


Salam persahabatan,

04 Juli 2011

Makna Kesuksesan


Kesuksesan awalku dimulai dari catatan kecil di sebuah buku agenda yang pertama kali aku beli dengan hasil jerih payah bekerja sambil bersekolah. Didalam buku kecil itu aku tuliskan daftar rencana jangka panjang untuk menggapai masa depan.

Usia ku saat itu menginjak 18 tahun, aku mulai menyusun daftar cita-cita dan harapan hingga aku berusia 28 tahun mendatang. Ku mulai dengan rencana bekerja di luar kota selepas kelulusan dari sekolah menengah kejuruan, kemudian dua tahun setelah bekerja aku rencanakan untuk meneruskan kuliah di kota dimana aku bekerja nanti. 

Beberapa tahun kemudian tercapailah segala yang aku tulis di buku harian itu. Dan itu adalah karunia terindah dari sang pencipta yang selalu mendengarkan do'a-do'a dan harapan hambaNya. Semenjak itu setiap ada keinginan dan harapan, aku selalu menuliskannya dalam buku yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Kini budaya membawa buku telah berubah semenjak usiaku menginjak 25 tahun, dimana setiap keinginan dan harapan selalu kutanamkan kuat dalam hati penuh dengan keyakinan dan berusaha mewujudkannya dengan mengerahkan segala kemampuan dan kelebihan yang telah Tuhan berikan kepadaku, Ternyata budaya itu telah berhasil membentuk karakter ku sekarang. 

Aku merasa bangga telah menjadi diriku sendiri dan aku merasa Tuhan selalu bersamaku dimanapun aku berada dan dalam kondisi apapun. Itulah yang menjadi muara definisi sukses menurutku, Sukses di dunia, dan sukses di akhirat. 
Seperti do'a yang diajarkan oleh para guru-guru ku, "Robbanaa aatinaa fid dun yaa hasanah wafil aakhiroti hasanatan waqinaa 'adzaaban naar", yang artinya : "Yaa Tuhan ku, berilah aku kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkan aku dari siksa api neraka".
Menurutku jika do'a tersebut terealisasi, artinya kesuksesan hakiki telah ku dapatkan. Begitulah kira-kira makna sukses menurutku.

Bagaimana dengan definisi sukses menurut anda?