20 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 6 - Tai Kebo di Pantai Lagoon Pari

Pemandangan asri desa Sawarna yang masih perawan, 
dan belum tersentuh oleh "tangan-tangan jahil"

Salah satu keanehan penduduk Sawarna selama rombongan kami dua tahun lebih satu bulan disana (woooi!! koreksi, kita cuma dua hari satu malam cuyy!! Ngarep.com deeeh!! *gaya mengacungkan jari sambil ambil nafas untuk keluarin vocal dengan nada empat stengah oktav, trus ekspresi mata agak sinis dikit seolah dia yang paling benar yang lain salah semua wkwkwk...),
Waah,  ada yang ngingetin gue neeh, ulangi deh, Salah satu keanehan penduduk Sawarna selama kami berada disana dua hari satu malam yang berasa seperti dua tahun satu bulan adalah sebagai berikut :

1. Bapak-bapaknya doyan make' baju warna kuning (menandakan dulu yang mampu menjangkau disini adalah anteknya orde baru, baju kuning adalah sisa-sisa peningglan orde baru).
2. Pemalakan liar masih sering terjadi (remind : di jembatan gantung, di goa Lalay, dan yang paling sadis adalah pemalakan yang dilakukan oleh abang kenek dan si cantik Farida, menandakan pengelolaan objek wisata Sawarna masih konvensional  *ups! Yang dua terakhir ikut daftar keanehan Sawarna nggak ya...?? Hmmm...).
3. Sulitnya akses jalan menuju Sawarna (remind : minimnya rambu-rambu lalu lintas dari pertigaan Bayah menuju Sawarna, menandakan desa ini masih 'Baduy Bangeets' *slogan nya mirip iklan operator selular dengan bintang iklan si ”makhluk setengah mateng” itu, gubrax!! Makhluk setengah mateng berceceran banyak banget di cerita ini?! Heran gue!! ).
4. Bentuk dan disain X-Banner yang ala kadarnya (kalo kayak gitu doang sih pesen sama temen gue ajah *promosi dikiiit xixixi), menandakan pernah ada mahasiswa yang KKN disana (eh bener nggak siih??, feeling gue sih begitu, soalnya desain x-banner, warning tag, dan tempat sampah di mulut goa lalay itu khas bangeet, bukan ulah penduduk lokal, tapi ulah kreatif para mahasiswa dengan bahasa yang khas..., sekedar bocoran ajah waktu gue snorkling di pantai Tulamben Karangasem - Bali..., kalo itu bener ulah penduduk lokal, bahasa inggrinya biasanya listening convert to writing alias tidak sesuai dengan EYD ”English Yang Disempurnakan” wakakakakakkkk).
5. Kebo yang biasanya punya tempat play group di sawah, ini malah suka bolos dan maen nya di pantai (menandakan ada kisah unik mengenai kebo wakakakakkak, yang merasa tolong acungkan jari telunjuk kalian yaaa...)

Cukup lima saja deh, sesuai dengan jumlah sila Pancsila.  Dan sila kelima di atas adalah yang paling berkesan diantara sila-sila yang lainnya.
Pada saat gue dan Lulu mengejar rombongan "bazooka" yang ngejar sunset di tanjung Layar (kejar-kejaran doong kayak Syah Rukh Khan dan Kharisma Kapoor qi qi qi...) sambil kami sesekali mengambil gambar ciptaan Tuhan (bukan pelangi doang yaah yang jadi ciptaan Tuhan, catteet! tuh!) dan kadang-kadang ngerumpi di beranda hati masing-masing (maksudnya diem-dieman, mungkin Lulu masih sibuk dengan komplenan betisnya sedang gue sibuk mengamati sekeliling gue), tiba-tiba kami berpapasan dengan segerombolan kebo lengkap dengan penggembala nya yang pakai bendera dengan penyangga bendera pake bambu kecil panjang mirip pasukan perang Mahabaratha (reply Film India, mungkin karna demam Briptu Norman masih berasa siiih..., coba kalo yang jadi Norman adalah si bapak polisi yang memberhentikan kendaraan Elf kami, jadi lebih seru kisahnya, kita langsung menggelar konferensi pers degan si Farida yang kerja di trans TV itu  menjadi penanggung jawab acara gue sama Fitri jadi pemandu acara, dan pasukan "Bazooka" menjadi paparazzi nya, bakal masuk acara special live deeh di tempat kerja nya Farida, trans TV... He he he... Ngarep.com lai daah...!!).
 Berburu foto di Pantai Lagoon Pari Desa Sawarna
Jumlah kebo nya lumayan banyak siih, kayaknya cukup deh buat persediaan upacara persembahan di laut selama 10 tahun ( he he he, jumlahnya lebih dari sepuluh, kalo upacara laut malam satu syuro' itu kan pasti pakai kepala kebo...wakakakak).

Kami pun berjalan agak minggir-minggir jaga jarak dengan makhluk hasil reinkarnasi teman sun go kong itu (ambil inspirasi kisah film Sun Go Kong episode 109 tentang Siluman Kebo dan Ratu Kipas; copas red.). Seperti halnya sejarah dan film India yang meninggalkan bekas dan pesan, Kebo pun nggak mau kalah, beberapa meter setelah berpapasan dengan kami, si kebo menunjukkan bekas-bekas yang menjadi ciri nya, yaitu tai kebo atau dikenal dengan nama "Telepong" (wkwkwk, kirain apa'an...). E'e si kebo bergelimpangan menghiasi pasir pantai dan karang dengan warna khas hijau TNI seperti gugusan pulau-pulau dari sabang samapi merauke, mirip seperti bentuk seonggok karang disitu, mungkin strategi TNI untuk kamuflase saat perang juga berawal dan hasil inspirasi dari tai kebo ini yang berkamuflase seperti karang kali yaaah...?? (*ekspresi mikir-mikir sambil sedikit maksain audiens biar pemikirannya itu diterima masyarakat wakakakak... kasihan amad sih loe susah banget membangun pencitraan diri... wheek!!).
Pasukan gerombolan makhluk hasil reinkarnasi teman Sun Go Kong 
yang tiap tahun dijadikan serangkaian upacara tradisi tanggal satu Syuro'
(ups!! gambar yang sebelah kanan lagi ngapain yaah...???! hmmm... *candid mode ON)
Ada yang aneh diantara replika gugusan pulau-pulau dari sabang sampai merauke karya si Kebo itu, ada satu dua ”pulau” yang kondisinya berantakan seperti habis di bombardir oleh bom atom kayak film dokumenternya Tragedi Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, kondisi ”pulaumade in si Kebo berantakan dan berceceran kemana-mana membentuk formasi efek ”big bang” (bagi yang belum baca karya ilmiah besutan Georges Lemaitre tentang proses terbentuknya alam semesta pasti bingung dah kaga tau artinya big bang... ha ha ha ha.... sorry bukannya meledek, tapi memotivasi *hugh! Alasan! Awass yaaah!!).

Tai kebo dengan bentuk formasi ”aneh” itu menggugah feeling ku untuk menarik kesimpulan dengan ego’nya (kayak detektor aje loe!!). Melihat fenomena itu, hayalku berkelana ke cerita ”betis-betis bernasib malang” yang melakukan demo karena kecape’an dan direspon ”cuek” oleh para petualang pada kisah sawarna 5 yang release kemarin. Tiba-tiba tawaku meledak seiring rasa curiga terhadap mereka yang berjalan dengan pasukan ”Bazooka” di depan sana. Jika di zoom raut muka ku saat itu, terlihat jelas aku seperti orang gila yang nyengir-nyengir sendiri karena ”curiga” dan berusaha mencari ”oknum” dan ”pelaku” penginjakan ”pulau” karya si kebo yang indah itu sehingga menjadi tak beraturan mirip efek ledakan ”big bang” hua hua hua hua hua hua hua..... tiba-tiba hatiku tertawa puas karena mencurigai satu oknum yang sudah jelas dan pasti pelakunya rombongan didepanku (*ekspresi wajah garang penuh curiga karena karya indah si kebo di luluh lantakkan, tapi agak ragu untuk menunjuk satu orang). Aku pun segera mengambil gambar ”barang bukti” dengan kamera si Lulu yang aku pegang (sampe saat ini foto barang bukti belum di share sama si Lulu, pelakunya siih sudah mengaku sama gue pada sepuluh hari setelah insiden itu melalui sambungan telpon di malam hari pkl. 24:00 wib.... ha ha ha ha siapakah diaaa??)

Ketika cerita Sawarna satu di release, banyak yang komen di wall bahwa pelakunya adalah si Taufik, karena banyak saksi yang melihatnya dan yang bilang juga nggak cuma satu orang, maka dengan alasan menegakkan undang-undang dan sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kami cintai, maka dengan ini saya memutuskan bahwa yang menjadi ”terdakwa” adalah si ”Taufik”. Dengan ekspresi sedikit tidak percaya, akupun dipaksa untuk percaya, ketidakpercayaanku dikarenakan masa siiih muka se ”pendiam” Taufik bisa menjadi ”Pelaku” kejahatan menghancurkan karya si Kebo ???! Ha ha ha ha pantesan dia jadi pendiam semenjak kejadian itu...? aku percaya dengan pelaku adalah si Taufik, karena prinsip seorang detektif adalah ”jangan percaya dengan penampilan, ikutilah hati nuranimu, karena dia tidak akan bohong” (halaah.....!! ngarang.com wakakakakak...) Ternyata ooh... ternyata... dibalik wajah ”pendiam” seseorang menyimpan wajah ”innocent” dan seribu kisah gokil yang layak untuk di publikasikan hua ha ha ha ha ha.... makanya bagi teman-teman yang punya tampang pendiam, musti hati-hati tuuch...., dia banyak menyimpan rahasia dibalik rahasia (copas slogan bang Ali dalam Sinetron Islam KTP). Jika disambungkan dengan alinea sebelumnya, hingga hari ini pelakunya sudah dua orang, satu si Taufik dan satu lagi seorang cewek berparas kurang lebih sama, yaitu sama-sama ”innocent” sepanjang perjalanan di Sawarna.

Begini kisahnya : pada hari ke sepuluh setelah kepulangan kami dari Sawarna, salah seorang peserta menelfon ku di tengah malam (pkl. 23:00 wib), dengan lagak dan gaya seperti jama’at yang akan melakukan ”pengakuan dosa” kepada seorang pendeta, dia bersembunyi di balik hordeng samping altar pembaptisan sehingga yang terdengar adalah suaranya saja. Sementara aku berperan sebagai pendeta yang siap mendengarkan keluh kesah ”sang kambing yang tersesat” itu agar kembali ke jalan Tuhan (ha ha ha..., ada yang kurang.., efek piano nya belum ada xixixi...). Si ummat sebut saja namanya ”bunga” mengakui telah melakukan tindakan biadab yang melanggar norma-norma ke gokil an, yaitu meluluh lantakkan karya si kebo yang baru dibikin dan sedang hangat-hangat nya (wakakakakak...kayak bubur ayam), dari mulut jama’at itu mengakui kalo rasa nya adalah ”hangat-hangat kuku”, dia minta maaf karena tidak sengaja menginjaknya, karena E’e nya kebo itu dikira batu karang yang menyembul diantara pasir-pasir pantai, dengan PeDe’nya, dia meloncat ke ”karang” kamuflase bikinan si Kebo dengan gaya jurus Mantili sedang menendang musuhnya bernama Lasmini dalam pertarungan hebat berlokasi di 1 km sebelah selatan tempat Ki Buyut manguntapa bersemedi / Goa Lalay (halah...!!, ada penggabungan kisah Brama Kumbara dengan Misteri Nini Pelet neeh..!! kacau deh, bisa diomelin sama Imam Tantowi si sutradara, kalo gini caranya!! ). Dengan tendangan yang kuat, karena dikira kaki akan jatuh di karang, ternyata semua visualisasi ”Mantili” meleset, yang di tendang bukannya karang, melainkan ”TAI KEBO” (wakakakakakakakakakakakakakakakakkkkkk......dst., *saking gelinya ketawa sampe gak ada batasnya tapi Cuma dalam hati, karena momennya adalah ”pengakuan dosa”di sebuah gereja megah).

Menurut pengakuan ”bunga” dibalik tirai ”pengakuan dosa” nya, dia minta maaf karena sudah menginjak ”ranjau” TNI bermerk ”Tai Kebo” yang mempunyai daya ledak lumayan dahsyat mencapai 80.000nti itu, efek yang diderita dalam insiden itu adalah rasa malu yang berlebih sehingga berujung pada aksi ”tengok kanan tengok kiri” takut ada saksi yang bisa melapor sehingga menjadi ”berita fenomenal” di berbagai media ibu kota. Masih menurut pengakuan ”bunga”, rasa yang dia derita adalah ”anget anget kuku” ha ha ha ha......... dan dia mengakui ”dosa” nya dikarenakan dia merasa ada salah satu teman yang telah menjadi ”pelaku”, sehingga paling enggak ”malu” nya bisa dibagi dua. Si pendeta yang diperankan oleh gue menjelaskan bahwa, si Taufik bukanlah pelaku, melainkan masih ”tersangka” dan perlu penelusuran untuk membuktikannya. Sontak si”bunga” merasa terjebak dalam sandiwara kehidupan di alam gokil yang diciptakan oleh anak-anak jalanan si Bolang. Aku yang saat itu jadi pendeta pun langsung membuang baju ”ke ja’iman” untuk menjadi diriku sendiri yang dari tadi menahan tawa. Daaan...... meledaklah tawa ku dalam kamar kost sendirian, aku merasa cuek dengan keadaan yang mana tetangga kiri kanan sudah terbuai oleh mimpi indah (semoga tawa ku tidak mengganggu istirahat mereka).
Dengan "pede" nya kaki ini berdiri diatas "karang" kamuflase yang nampak menyembul di antara pasir-pasir pantai Lagoon Pari - Desa Sawarna.

Demikian kisah ”pengakuan Dosa” oleh si ”bunga” sebagai jama’at yang jujur dan lugu itu... wakakakakakak..... sekarang tugas pembaca adalah mencari tahu ”siapakah si Bunga itu?????” silahkan tanya saja sama teman-teman backpacker yang ikut ke Sawarna. Jangan-jangan masih banyak ”bunga” yang lain yang masih malu-malu mengakui dosanya karena yang gue lihat di TKP, yang berceceran disana tidak cuma satu buah ”pulau”, tapi beberapa dengan beraneka ragam ukuran kaki yang menancap dengan ”pede” nya diatas tai kebo yang anget itu.... ha ha ha ha ha ha..

Yang dapat aku simpulkan dari cerita ini adalah : hipotesa einstein tentang energi itu terbukti, pembaca pasti masih inget kaan rumusan einstein tentang Energi itu...??

E = m.c2

Dimana diketahui :
E = Energi zat metana yang dihasilkan oleh tai kebo atau kepanjangannya E’e kebo.
M= Malu (efek dari penginjakan e’e kebo)
c2= Clingak-Clinguk (menahan malu, takut ketahuan sama orang lain kalo dia nginjak e’e kebo).
Ha ha ha ha ha.................
 
Dengan berakhirnya kisah tai kebo ini, maka berakhir pula cerita gokil di pantai Lagoon Pari,
Maih bersambung perjalanan menuju Tanjung Layar dengan kisah unik dan menarik.... saksikan setelah iklan yang lewat berikut ini...
Bocoran cerita selanjutnya :
  1. Pantai Tanjung Layar
  2. Karaoke, BBQ dan Gempa Bumi
  3. Surfing di Pantai Pasir Putih
Inilah gambar-gambar yang bisa berbicara :

  
Sunset Pantai Tanjung Layar (mirip foto di kalender kamar gue... ck ck ck...)
 Eksotisme Pantai Lagoon Pari (Siluet mode ON)


 
Suasana Karaoke, salah satu fasilitas di Home Stay "Sawarna Beach"
(si Surya sampe matanya ilang, tinggal garis doang... wkwkwkwk)
 
Pantai Pasir Putih - Sawarna

 
Paling cocok surfing di pantai Pasir Putih, pas dengan suasana ombak nya.
Sebelum Surfing, kita pasang gaya nularin virus "Narso" wkwkwk


Virus "Narso" yang berlebih, jadi mirip foto keluarga deeh.....
















Posting Komentar