14 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 2 - Perjalanan Dari Terminal Pelabuhan Ratu Menuju Desa Sawarna

Ruang multi fungsi villa "Dita Indah", 
100% free of charge
Setelah kami bermalam di kantor Dita yang kami sulap menjadi base camp,  keakraban pun semakin tercipta dengan sendirinya. Kami berharap pagi nanti cuaca cerah, secerah semangat kami mendatangi surga tersembunyi (Hidden Paradise) di desa Sawarna yang terpencil itu. Pagi itu kami bangun pkl. 05:00 wib, kami pun satu-persatu mandi di toilet kantor Dita yang semata wayang alias satu-satunya (bisa dibayangin betapa antrian kami ber meter-meter layaknya ibu-ibu antri sembako dan raskin menunggu semua nya mandi). Hmmm..., aku sudah antisipasi dari semalam, suasana pagi sudah aku bayangkan manakala masuk pertama kali ke ruang kerja Dita itu, aku lihat toilet Cuma ada satu, untuk menghindari antrian panjang di pagi hari pkl. 02:00 wib, aku sudah curi start mandi pada dini hari manakala semua orang sudah pada ngorok kebanyakan makan martabak suguhan si cantik Dita yang baik hati menampung anak jalanan seperti kami, semoga amalnya di balas oleh Tuhan seiring dengan keikhlasannya... amiiin... (mungkin temen-temen pada taunya aku nggak mandi di hari itu, biarin aja opini itu terbentuk, lagian sekalian aku ingin tahu, dengan kondisi ku yang ”tidak mandi” menurut versi mereka, masihkah mereka mengakrabiku seperti sebelumnya... hmmm, ternyata aku nggak salah milih teman seperti kalian..., aku bangga mempunyai teman seperti kalian sueeeerrr!! Gue kagak bo’ong, yang bo'ong mandul ye?! wkwkwkwk).

Personil BPI yang siap menuju Sawarna
Sementara yang lain ngantri dan sebagian yang lain sudah rapi, sebagian yang lain lagi memilih jalan-jalan sambil nyari sarapan pagi di sekitar terminal, dan sebagian yang lain sudah kabur di pagi buta memburu sunrise di pesisir yang jaraknya hanya 100 meter dari tempat kami bermalam. Demikian juga aku, karena kamera DSLR kesayanganku sudah berpindah tangan (dijual maksudnya), maka aku tidak membawanya, untuk mengobati rasa ”ngiri” sama teman teman yang sedang hunting sunrise, aku memilih nyari sarapan saja, pikirku daripada aku ngiler melihat mereka ayik menyalurkan hobi fotografinya, sementara aku hanya bisa mengenang kamera kesayanganku itu...?! hiks hiks hiks (mirip adegan telenovela sesi sedih).
Bebas tapi sopan, 
mungkin itu filosofi yang dianut oleh Dita dan Villa Gratisnya

Aku memilih pergi sarapan bubur ayam dan ngopi ditemani isapan rokok kretek  yang iklannya bagus pake batik milik Boby, temen backpacker ku yang gokil abis dan berpengalaman keliling benua Amerika dan Eropa itu, secara dia lama di Amerika, wajar saja backpackeran nya ke Amerika ha ha ha..... (anak kecil juga tahuww...) sarapan kali ini ditemani oleh Bobby, si cantik Tata, dan Lulu si baik hati yang menyerahkan kamera pocketnya untuk aku pegang selama di perjalanan dua hari ini (lumayan, hobi fotografi ku sedikit tersalurkan dengan memegang kamera pocket punya Lulu yang baru saja dibeli sore hari menjelang keberangkatan ke Bogor, meskipun sepanjang perjalanan hatiku terus berkelana dan berkunjung ke situs terkenal www.ngiri.com wakakakakakakak.... :-P, makanya jangan jual-jual barang yang sudah di beli, jadi gini deech!! TERSIKSA kehilangan momen indah). Si lulu masih sangat awam dengan pengoperasian kamera pocket itu, ya sutra lah.., pas banget dengan suasana hati ini, rasanya tambah lengkap saja perjalananku kali ini, thanks ya Lu..., lain kali jangan cuma suruh megang dua hari lu, kalo bisa selamanya wakakakakakak... ngarep.com, (yang www.ngiri.com nya di skip dulu, ada boss lewat dibelakang, jadi malu dan salah tingkah, pura-pura lihat situs resmi pekerjaan... wakakakakkk).
Sarapan Bubur (Sabu)

Setelah acara sarapan, jogging pagi, jepret sana jepret sini, si ”provokator” Abie mulai mengumpulkan para peserta didiknya (kayak guru TK loe Abi...?! ha ha ha), meeting point kedua pun dilakukan, Abie dengan cakapnya menjelaskan tentang itinerary yang dia sampaikan via forum BPI beberapa pekan lalu. Sekretaris Abie berparas seksi, bernama Farida mulai ketularan dan terjangkit ”virus” abang kenek mobil semalem, yaitu ”malakin” duit ke seluruh peserta dengan ”sadis” nya. Sesuai dengan itinerary dan budget, dengan ikhlasnya  kami mengeluarkan lebaran demi lembaran uang hasil keringat bekerja dan lembur kami untuk ditukar dengan kesenangan yang sebentar lagi kami dapatkan (sorry yah Fa..., cuma buat memeperindah tulisan ajah lho..., bukannya mencela...)
Segitu buanyaak bisa masuk dalam satu Elf....?? ck ck ck ck

Kurang lebih budget nya adalah Rp 150.000,- per kepala (bagi yang nggak punya kepala termasuk hantu jeruk purut kalo mau ketemuan dengan mak erot, nyi blorong, dan nyi roro kidul  boleh numpang gratiss yaah...! xixixi...), dengan rincian sewa Elf dari Pelabuhan Ratu menuju Sawarna PP >> Rp. 50.000/orang dan penginapan/homestay plus makan dan konsumsi selama di Sawarna sebesar Rp. 100.000,-. (dibacain deh buat yang buta angka biar nggak salah ngasih duit ke Farida, kurang lebih totalnya SERATUS LIMA PULUH RIBU RUPIAH, kalo kurang si Farida bisa nangis kucing dah nombokin, gue ngeri dia guling-guling aja di terminal nanti.., hilang deh sexy nya.... he he he).
Mobil Elf yang mengantar kami menuju Sawarna
(itu Elf bekas didudukin pasien-pasiennya mak Erot kali yaah...? xixixi)

Bagi kami yang hobi jalan, uang segitu termasuk super murah, jika dibanding kita menyewa travel agent, bisa mencapai dua kali atau malah tiga kali lipat nya..., beruntung kita maen keroyokan 23 orang dengan "senjata rahasia" nya masing-masing, ditambah penginapan gratis di Villa ”Dita Indah” plus martabak manis nya yang rasanya masih berasa hingga akhir hayat, sekali lagi thanks berat buat Dita, si gadis baik hati He he he (rayuan maut keluar dengan sendirinya...).

Setelah acara ”pemalakan liar” yang dilakukan oleh Farida dengan muka "memelas" nya penuh makna, kami pun bersiap-siap menuju terminal untuk menaiki angkutan Elf bekas pasien mak erot itu. Semangat empat lima membara di pasukasn satu pleton pimpinan Abie dengan dikawal oleh komandan Dita yang sudah akrab dengan para awak angkutan (aku baru tahu kalo si Dita nggak ikutan ke Sawarna karena bos nya mau datang ke kantor yang kami tempati semalam..., ooh.. Dita, mungkin kita belum jodoh.. wkwkwkwk  romace mode ON ala telenovela dah...!!)
Satu per satu peserta menaiki Elf itu, daaan..., tak disangka 20 orang bisa masuk dalam satu unit Elf..., tinggal tiga orang yang belum masuk, salah satunya si komandan Abie, dia nggak masuk mobil sebelum semua nya masuk, akhirnya si Abie mengalah untuk naik diatas elf bersama dengan kumpulan tas peserta dan abang kenek, ditambah beberapa peserta , Agung dan si Imut Zakie yang memang sedang kambuh jiwa petualang nya. (gue tau deh bie..., loe sudah nunjukin sisi tanggungjawb loe, gue bangga punya temen kayak loe). 
 Ternyata naik diatas lebih asyik...
(Iwan, tangan loe ngeganggu banget!!, face gue ketutup separo, gak asik neeh narsisnya gak maksimal ha ha ha...)

Bus Elf kami berangkat pkl. 09:30 wib, just info saja, untuk angkutan ke sawarna hanya beroperasi pkl. 08:00-10:00 saja, dan arah balik pkl. 15:00-17:00 wib, karena keterbatasan akses dan medan yang dilewatinya. setelah melewati kota yang terkenal dengan terapi mak erot dan legenda pantai laut selatan itu, kamipun memasuki perbatasan kota kabupaten, disitu mobil kami berhenti, usut punya usut ternyata mobil diberhentikan oleh polisi setempat, kami diperingatkan oleh bapak polisi agar tidak naik diatas. Tapi agaknya sudah lumrah, dengan jurus yang populer di era orde baru, kami pun lolos dari proses interogasi yang ujung-ujungnya ”itu-itu saja”  he he he... (sudah pada tau kaaan... kayaknya nggak perlu dibahas deewh... nggak seru! Lagian bikin panjang cerita aja! ).
Perjalanan dilanjut dengan formasi tempat duduk seperti tadi. Medan yang kami tempuh membuat nafas kami banyak tertahan, untuk menuju ke Sawarna, kami harus melewati lebih dari 7 kali tanjakan extreme dengan sudut kemiringan mencapai 45º - 50º, dengan lebar jalan hanya 3-4 meter (di daerah Bayah) dan 2.5 meter sepanjang 12 km ke arah Sawarna, sedangkan disamping kiri dan kanan, terhampar tebing curam sedalam 4-10 meter dan jalan kadang berlubang menganga, dan yang lebih miris lagi adalah minimnya rambu-rambu lalu lintas (polisi yang interogasi tadi mungkin kurang personil kali yaah...). Kondisi extreme jalan raya ditambah dengan suara mesin mobil menggeram diiringi suara roda mobil, rem dan kopling bersahutan membentuk irama menakutkan greem greem,, ciiit ciiiit..., menghiasi suasana perjalanan kami. 

Kondisi jalan yang extreme, membuat kami pasang gaya "pompa jantung berjama'ah" mengimbangi gerakan laju kendaraan Elf bekas pasien mak erot (bagi yang habis ke mak erot, dilarang melintas jalan ini, bisa balik lagi ke ukuran semula wakakakakak)

Satu demi satu jalanan extreme pun terlewati. Ketakutan dan rasa was-was terbayar manakala mobil berada di puncak bukit dengan pemandangan yang eksotis. Pesisir pantai laut selatan terhampar luas di samping tebing curam membuat kami terpana dan ingin berhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan momen indah, kami pun memberi instruksi kepada abang sopir untuk berhenti di pesisir pantai Karang Hawu.

  
 Narsis bersama di Pantai Karang Hawu - Sukabumi
 
   
 Landscape - Gugusan pantai pelabuhan ratu
(rumah mak erot nggak keliatan he he he *kayaknya ada minat neeh... ?! wheek!)

Sekali lagi jiwa artis para anak-anak BPI kambuh..., virus narsis  menggerogoti kami dan tanpa dikomando, masing-masing mengambil peran tanpa skenario dan sutradara, ada yang berperan menjadi fotografer, pemandu gaya, dan menjadi model. Acara foto-foto di pantai Karang hawu berlangsung kurang lebih hampir satu jam. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju surga tersembunyi bernama Sawarna yang sebentar lagi akan kami injak tanahnya, Setelah melewati hamparan pohon jati, pisang, kelapa dan ilalang serta pepohonan khas pesisir, kamipun tiba di desa tujuan kami pkl. 11:30 wib. Tepat di gapura pintu masuk kampung Cikawung terpampang X-Banner berposisi landscape bernuansa hijau bertuliskan ”Selamat Datang di kawasan wisata ramah lingkungan Desa Sawarna”. Hati ini lega sudah tiba di tempat tujuan dengan selamat, walaupun trauma jatuh di tanjakan pada saat boceng sepeda motor bututnya bokap waktu usia 4 tahun sempat kambuh disaat melewati tanjakan ekstreme tadi, mudah-mudahan perjalanan ini mampu mengikis trauma yang puluhan tahun belum hilang juga. 
(nggak cuma gue, saat lewat tanjakan ekspresi seluruh peserta berubah, mimik mereka mirip aksi Kutaro dalam film Baja Hitam RX yang sedang menghadapi musuh monster, semua pasang muka sangar he he he, andaikan kamera aku bawa, bisa di candid tuh ekspresi anak anak BPI yang ngaku suka petualangan tapi muka pucet gitu... wkwkwkwk, tapi biarin deh semua pada  bicara dengan hatinya masing-masing).

 
Gerbang Selamat Datang di Desa Sawarna
bentuknya se sederhana kehidupan penduduk nya.
 
Ada yang aneh dengan X-banner yang barusan aku lihat, agaknya banner itu baru dipasang kurang dari sebulan dan cara pemasangannya pun sangat sederhana, ternyata benar berita yang tersebar selama ini, Sawarna adalah surga tersembunyi yang belum ter explore dan belum mendapat perhatian dari departemen pariwisata setempat. Dibalik banner, terhampar jembatan gantung sepanjang lebih dari dua puluh meter, waaaah... bakalan seru neeh kayaknya...,apalagi para peserta banyak cewek nya hmmmh.....wik iwik iwik... (bisikku dalam hati sambil nggak sadar kalo air liur pada ngumpul dimulut  dengan sendirinya), menurut informasi dari penduduk lokal, mereka banyak menerima tamu dan pendatang pada empat-enam bulan terakhir, baik itu tamu lokal maupun tamu mancanegara. Selain sederhana, penduduk di sana sangat ramah dengan para pendatang. Mereka merelakan kamar rumahnya untuk ditempati tamu. 
Petani Desa Sawarna (kiri)
Ekspresi generasi masa depan desa Sawarna (kanan)


Pekerjaan sehari-hari mereka kebanyakan adalah nelayan, petani ladang, dan petani tambak, ada juga beberapa yang membuat gula aren, sementara pembuat kerajinan tangan aku lihat nyaris TIDAK ADA (insting enterpreneur ku bekerja, ooh.., andaikan bisa memberdayakan penduduk sini untuk mengajari mereka membuat kerajinan dan menjualnya kepada para wisatawan..., pasti menduduk  lokal akan jauh dari kemiskinan). Untuk sinyal komunikasi selular disini masih tergolong bagus. Terbukti dengan smartphone ku yang masih pinter walaupun sempat bego sebentar pada saat melewati puncak bukit, di BB jadul ku terpampang tulisan ”SOS” berwarna merah seolah ”si biru” mengaku ”nyerah” sama gue ha ha ha (puas.com). Sinyal si ”biru” di desa Sawarna tergolong lumayan bagus walaupun cuma dua atau tiga bar, nggak sia-sia aku kesana membawa smartphone didampingi si ”biru”. Sementara sinyal si ”kuning” baru berdiri disana tiga bulan lalu, sedangkan sinyal si ”merah” yang suka berkoar bahwa jaringan mereka terdapat di seluruh pelosok negeri ini, kali ini harus menerima cemo’ohan dari gue, menurut penjaga home stay, si merah disini masih ”bego” dan belum punya tanduk. Ha ha ha.... (di iklan saja loe berkoar...!!, buktinya maannnaaa...??!!! xixixi,...) so, jangan coba-coba ke Sawarna dengan membawa HaPe dengan dampingan si ”merah”, dijamin bakal ”bego” deh HaPe loe! Wakakakaakak.... (itu menurut narasumber penjaga homestay bernama mas Roji lho yaa..., kata si Zakie sih dia bisa dapet sinyal 3G disana, sempet update status di facebook dan tweeternya juga pake si merah).


 Menyeberangi jembatan gantung di gapura Desa Sawarna
(Wajah ketakutan nyaris tertutupi oleh paras cantiknya... weeeh... ngiler.com lagee!!)

Tak berapa lama, rombongan kami melewati jembatan gantung dengan didampingi seorang guide yang kami sewa selama kami berada disana, sayang aku nggak tahu namanya, jadi nggak bisa bercerita disini. Kami dipandu menuju homestay Ibu Iteung yang sudah di booking via telpon oleh Dita dan Esthi atas rekomendasi dari salah satu follower di thread isengnya si Abie yang sudah pernah ke Sawarna. Menuju homestay ibu Iteung hanya membutuhkan waktu 10 menit dari jalan raya kampung di seberang jembatan gantung. Panas dan penat hilang seketika ketika tiba di homestay ibu Iteung, berganti dengan perasaan kaget dan takjub. Di homestay ibu Iteung sudah ada sepasang Bule sedang bersantai diteras sambil membaca buku, aku merasa kalah dengan si Bule itu, dan berdecak kagum sekaligus kecewa. Kagum karena mereka lebih tahu tentang Hidden Paradise bernama Sawarna, daripada aku yang asli Indonesia, sedangkan mereka dari negeri seberang sudah lebih dulu menginjakkan kaki disini. Adapun rasa kecewaku aku alamatkan kepada departemen pariwisata dan pemerintah kabupaten yang terkesan ”cuek memek (ngucap nya pake expresi tutup hidung, wakakakak)” dengan potensi pariwisata yang ada di desa terpencil bernama SAWARNA si Hidden Paradise nya suku Baduy. 


 Homestay Ibu Iteung - Desa Sawarna
Nomor telpon di skip untuk mengindari penipuan, 
agar booking nya nggak dibatalin, kasihan Ibu Iteung nya xixixi... 
Anak-anak kampung Cikawung Desa Sawarna

Semoga melalui tulisan ini dapat menyadarkan kita bahwa masih ada ratusan dan bahkan ribuan titik pariwisata yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini yang belum terjamah dan terpelihara dengan BAIK , baik itu oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat amiiin...

Kayaknya bersambung lagi deeh tulisannya.....
Biar nggak bosen ngebaca’nya...
Salam Backpacker : ”Setiap gerakan langkahmu adalah hidupmu
Next story :
Explore Sawarna :
-        Penginapan di Sawarna
-    Menuju Goa Lalay
-         Pantai Tanjung Layar
-        Karaoke, BBQ, dan gempa bumi 
-    Surfing di Pantai Pasir Putih

ini dia visualisasi nya, buat nungguin cerita kelanjutannya, biar pada ngiler tuuch!! :

 Namanya Pantai Lagoon Pari, tapi selain karang, disini banyak juga tai kebo' nya
Makanya kalo jalan disini hati-hati dengan jebakan "ranjau" berwarna hijau khas TNI itu, sekali meledak bisa berakibat ketawa dan tangsin yang berlebih.. ha ha ha

 Ini dia eksotisme pantai Lagoon Pari
Dengan ombaknya yang bagus ketika menerjang karang

 Kalo ini Tanjung Layar, 
Karang yang menjulang seakan menantang kita untuk mendekat dan berfoto ria.

 Ini hasil foto di Tanjung Layar (posenya kayak tahanan taliban loe Fitri..!! ha ha ha)

12 komentar:

  1. desa sawarna belum pernah aku kesana, info menarik neh. gan posting ini terlalu panjang saran saya lain kali di bagi dua bersambung

    BalasHapus
  2. terimakasih gan..., sudah mampir disini...
    terimakasih untuk masukannya, sangat membantu buat penulisan selanjutnya... :-)
    salam backpacker...

    BalasHapus
  3. sis klo ke sana bw mobil pribadi bisakan..bisa pakir di homestay ga?

    BalasHapus
  4. bisa sis..., kontek kontek sama pemilik home stay aja dulu..., nomor tilpon ada di postingan berjudul "explore sawarna - part 3"

    BalasHapus
  5. selamat..kamu dapet macbookk..

    ane mah di posisi bawahnya gan dapet modem 3g

    BalasHapus
  6. terimakasih gan... selamat juga buat agan, dan terimakasih sudah mampir disini... #muka merah dan sumringah mendengar kabar gembira.

    BalasHapus
  7. selamat ya dapat macbook, aku menang yang kategori ramadhan dapet jaket. he... Congratz!

    BalasHapus
  8. jacket nya pasti berguna dan bikin PD..., sekarang kan musim hujan he he...

    BalasHapus
  9. wah keren, pantas jadi juara... selamat yaa...

    BalasHapus
  10. Tenman gue yang satu ini memnag poool... menyarulkan hobi sambil berkarya..top tulisannya easy dan relax bacanya....matabbbss..terus berkarya broth...

    BalasHapus
  11. Wah, mantap bangetssss, dapat macbook.....klu sudah terima boleh pinjam ya da...:)

    BalasHapus

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....