17 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 4 - Menuju Goa lalay

Numpang narsis dulu sebelum ngebanyol, siapa tauw bisa terkenal ha ha ha...

Tak terasa acara peyerbuan dan perebutan asupan gizi  anak jalanan pimpinan jendral Abie berlangsung begitu cepat (makan siang perdana di home stay maksudnya...he he he), HANYA 15 menit doang?! Gila nggak seech...!. Semoga keberkahan senantiasa tercurahkan kepada kami seiring kebersamaan dan persahabatan yang kami jaga mulai hari ini dan mudah-mudahan abadi sampai nanti.... (jiaah, jadi pengen nangiss.. Hiks hiks hiks, awass banjirr loe!).
Ciri khas para Backpacker - Jalan kaki

Saatnya tiba untuk meng explore dan meyusuri goa peninggalan zaman pra sejarah milik kampung Sawarna (lisensi Tuhan tentunya dong yaa...). Untuk mencapai goa lalay dibutuhkan menempuh jalan kaki sejauh kurang lebih 1-2 km dari home stay, kami kembali melewati jembatan gantung dan jalan utama desa di depan awal kami trun dari elf dan mnginjakkan kaki di desa eksotis ini. Kamipun menyiapkan bekal masing-masing, baik itu air minum, makanan, batere/senter dan jangan ketinggalan obat-obatan, kayak ganja, cimeng, sabu-sabu dan lain-lain (Interupsi!! Huzz!, bukan itu obat-obatan nya! Maksudnya P3K yang diperlukan buat kalo ada apa-apa dijalan, bukannya bawa pelanggaran pasal 378 Undang-Undang Narkotika itu bencoo...oong!! *perasaan 378 itu tentang penipuan deeewch...gubraxx!).
Dibawah pengawalan guide penduduk lokal yang kami sewa, kami mulai jalan menuju goa tempat kelelawar pada BBS alias Bobo'-Bobo' Siang itu (Lalay artinya kelelawar, dalam bahasa sunda, red.) Bak seorang turis beneran, kami di pandu melewati kembali jembatan layang depan gapura desa. Tapi ada yang aneh kali ini, ketika kami akan melewatinya, tiba-tiba datang penduduk lokal yang menghampiri kami, datangnya dari  arah pangkalan ojek (pos kamling) yang berada di pingir jalan di seberang gapura, orang itu menyuguhkan secarik kertas bertuliskan angka rupiah 2000, ternyata itu adalah tiket melewati jembatan (aya-aya wae iyeu akang, kayak nggak kenal kita ajah wkwkwk), hmm... bisa jadi si abang guide sudah koling-kolingan sama teman-temannya yang nongkrong di pos kamling itu kali yaah...?? (Batin ku bicara se'enaknya penuh curiga dan tanpa pemisi pula!), kecurigaanku cukup beralasan, karena : 1. Jembatan itu adalah jalan umum, dimana infrastruktur dibangun dari APBD?, 2. Kenapa hanya rombongan kami saja yang suruh bayar? Sedangkan yang lain lalu lalang dengan asiknya bisa bebas?!; 3. Kenapa tiketnya tanpa cap atau stempel resmi?.

Alasan itu terpatahkan dengan perasaan empatiku, yaitu sebagai berikut:  jembatan itu hasil jerih payah warga, kawasan wisata itu belum mendapat perhatian serius dari departemen pariwisata, pembuatan tiket adalah inisiatif warga, karena jembatan juga butuh perawatan dan pengelolaan. Dipikir pikir bener juga yaaahh?, tapi menurutku alangkah baiknya jika pemda melalui departemen pariwisatanya dapat langsung mengelola tempat tersebut, sehingga pengelolaan mejadi lebih profesional, sehingga rasa curiga sepertiku tadi tidak menghinggapi hati para tamu yang datang setelah rombongan kami.

Perjalanan kami lanjutkan, kami jalan beririgan mengikuti pola gerakan migrasi segerombol semut, panjang iring-iringan kami kurang lebih mencapai 15 meter. sebelah kiri dan kanan aku tak satupun aku menemui onggokan sampah seperti pemandangan yang tiap hari aku lihat di Jakarta (ya iya laah, loe tinggal di bantar gebang...! Disama'in dengan disini..! Jauuu...uuuhhh kaleeee, :-( ), memang benar-benar suasana desa yang asri. Setelah kurang lebih 500 meter melewati jalan utama desa, kami berbelok arah ke kanan memasuki kebun dan 50 meter ke dalamnya kami bertemu dengan sungai desa dengan air yang masih jernih. Tampak anak-anak desa seusia kelas 2-3 SD sedang mandi di sungai dengan tanpa busana sehelai benangpun (waaah, kayaknya ceritanya sudah mulai kayak stensil neeh!!), sementara 30 meter di sebelah hulu sungai nampak sorang nenek sedang mencuci baju petaninya setelah pulang dari sawahnya. Aku mencoba mengakrabi mereka (anak-anak kecil) dengan  cara menyapanya dengan bahasa sunda kasar yang sedikit aku kuasai, mereka cukup ramah merespons ucapanku, kemudian aku mulai mengeluarkan "senjata" yang Lulu percayakan kepadaku pada cerita seri Sawarna dua yang aku tulis sebelumnya (bagi yang belum baca, gue tau ekspresi muka loe pasti dahinya berkerut penuh tanya, makanya bacanya dari awal, jangan ngacak yaach!, soalnya kita nggak punya customer service buat jawab pertanyaan loe! *sedikit maksa :-p wkwkwkwk ), aku instruksikan anak-anak yang lugu itu untuk terjun dari atas dahan pohon kelapa yang menjulur ke arah sungai, dan mereka melakukannya sesuai dengan aba-aba ku, daa..an pada beberapa detik setelah hitungan ketiga, ku pencet shutter switch kamera yang kupegang, "jepret", akhirnya momen itu bisa terabadikan. Beberapa teman yang memegang "senjata" tak menyia-nyiakan momen langka itu juga, mereka dengan sigapnya mengambil gambar untuk di abadikan, anak-anak itupun mendadak menjadi objek dan model kami, mereka merasa bangga kami foto, setelah anak-anak, "korban" kami berikutnya adalah si nenek yang ada disebelah hilir dengan dandanan khas topi capingnya. 

Dengan bahasa semampuku, aku menyapa si nenek dan minta izin untuk memotretnya, diikuti oleh teman-teman yang lain yang memang sedang demam terkena virus yang lagi booming bernama  fotografi, dengan "senjata bazooka" nya yang membuat aku dipaksa memasuki situs www.ngiri.com (he he he kambuh lagi deeh....untungnya aku megang senjata, biarpun cuma "pistol" dapet minjem pula!, nasiiib nasiiib *ekspresi tangan kanan megang jidat sambil geleng-geleng).

Setelah acara "pemerkosaan rame-rame" terhadap anak-anak dan nenek-nenek di sungai selesai dan kami merasa puas karena "nafsu" fotografi kami yang terpuaskan, kami melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai (wah wah waah... Ini niih..., kasus pemerkosaan yang tidak sempat ter ekpose media ibu kota, besok besok gue bakal ajak wartawan koran lampu merah biar ulah kalian mendapat ganjaran yang setimpal !!, *ekpresi agak geram tapi sambil bertanya dalam hati alasan geramnya). Sungai selebar 5 meter dengan kedalaman sebatas leher dan ber arus deras itu berhasil kami seberangi tidak kurang dari 1 menit, ck ck ck ck (ya iyaaa laa....ah, kedalamannya cuma sebatas leher katak doang...! Wakakakak, pembaca tertipu...).


Inilah wajah wajah para korban "pemerkosaan" dan pemuasan nafsu fotografer
Mudah-mudahan mereka selalu dilindungi oleh Tuhan

Setelah acara penyeberangan sungai selesai sambil dadah-dadah kepada si nenek (cuit cuuuiiiiit, ternyata selera anak jalanan adalah "nenek-nenek"), maksudnya ngucapin terimakasih sudah mau jadi model dan sasaran bidikan kamera kami, kami meneruskan perjalanan ke goa lalay, medan yang kami tempuh adalah hamparan persawahan hijau yang sangat luas mirip foto landscape di komputer kantor dengan background perbukitan hijau tapi sedikit terganggu pemandangan nya dengan tertancapnya menara-menara seluler yang berjumlah tiga berjejer nun jauh di atas bukit  mirip barisan orang lagi sholat berjama'ah (soalnya kalo di foto nggak menarik lagi, secaara tema kita kan Desa Sawarna, masak sih ada gambar menara seluler??, bisa dibilang pembohongan publik doong kita kita??), akhinya aku dapat ide, aku ngak mau ambil gambar dengan background pake tancepan menara BTS, aku mau ambil Zoom object ajah, sedikit ngarah ke bawah, daa..an "jepet", "jepret", jadilah foto  kaki berjejer sedang melangkah di pematang sawah (buat hantu jeruk purut yang nggak pake kepala, loe sebenernya bisa ikutan narsis, karna yang di foto kaki doang,  sayang banget loe ga ikut wkwkwkk).

Berpose di mulut goa Lalay

Ceritanya belum selesai siih.., tapi nggak sabar pengen ngaplut, biar pada bisa baca... he he he
ini dia visualisasi Goa Lalay... :
"Foto memang tidak bisa bicara, tapi foto bisa bercerita" (alay mode ON)

Nafsunya sudah terpuaskan 
setelah merkosa nenek-nenek dan anak kecil yang lagi mandi di sungai. 
 
Cendy dengan gaya orang-orangan sawah 
dalam perjalanan ke Goa tempat Kibuyut Manguntapa bersemedi dalam serial radio Nini Pelet (bo'ong ding..)

Ingat!! anda mau masuk ke gua, jadi yang dilihat mulut goa nya, jangan salah yaa!! (qi qi qi *ngakak dikit)

 
Ini bukan penghuni goa, tapi si Abah dan sohib ku Syarif

 Ini belum apa-apa, baru masuk 10 meter dari mulut goa

Candid Photo (ssstt..!! jangan berisik, ntar ketahuan)
kalo ketahuan mereka langsung pada nengok dan pasang gaya.... qi qi qi

 Goa penuh dengan tanah berlumpur dan licin

 Senter dan Batere wajib di bawa, didalam gelap buangeet...

Si Mamang (guide) sedang ngejelasin tentang goa Lalay

 
Jiaah.., anak sekolah yang tadi di foto waktu mandi ngikutin kita...
(ada yang belum ngasih angpao yaah...??? wakakakak)


Dasar anak jalanan, sudah di goa, tempatnya gelap, 
masih kuat juga instink artisnya! begitu ada kamera, pada langsung berebut ambil posisi...
ck ck ck ck..!!
Cerita Sawarna berikutnya :
1. Pantai Lagoon Pari
2. Tai Kebo Di Pantai Lagoon Pari
3. Pantai Tanjung Layar
4. Karaoke, BBQ, dan gempa bumi
5. Surfing di Pantai Pasir Putih




Posting Komentar