23 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 7 - Menuju Pantai Tanjung Layar

 Pantai Pasir Putih - Desa Sawarna

Tak butuh waktu lama aku dan Lulu mengejar pasukan "Bazooka" yang berada nun jauh disana. Akhirnya kami pun bisa kembali bergabung dengan mereka setelah sempat aku menjadi "detektif" menangani kasus perusakan karya kebo-kebo Sawarna yang kreatif itu yang hingga berita ini diturukan, pelakunya berjumlah dua orang, satu cewek dan satu cowok (si Taufik itu...) he he he. Nampak rombongan "Bazooka" sedang megambil momen tanggung (gue bilang tanggung karena waktu menunjukkan pkl. 4 sore, nice moment untuk ambil gambar landscape sore hari menurutku pkl. 5 sore hingga berakhirnya sunrise, dan pagi hari pkl. 06:00 hingga pkl. 10:00 wib,  tapi itu menurutku lho ya...*nggak usah komplen!! Wkwkwk).
 
Sudah bersatu kembali dengan rombongan "Bazooka"

Tapi nampaknya mereka sedang membidik object bergerak. Ya, setelah aku dekati ternyata mereka sedang membidik nelayan yang sedang menjaring ikan menggunakan jala. Aku tak mau kalah, segera kusingkirkan dan ku shutdown processor otakku biar tidak terhubung ke internet dan nyasar ke situs terkenal www.ngiri.com, kini cara pandangku lain, seorang Darwis si maha guru fotografi Indonesia itu mampu mengambil gambar dengan bagusnya bukan karena kamera yang dia pegang, tapi dengan instink dan menggabungkannya dengan segenap rasa, karsa dan cipta sebagai seorang seniman pelukis cahaya (dalam buku panduan punya gue disebut istilah fotografer), karena fotografi adalah sebuah teknik melukis dengan mengumpulkan gelombang partikel cahaya untuk diproses oleh lensa dengan racikan si pengguna untuk membentuk sebuah objek dengan karakter khusus sehingga menimbulkan pesan dan kesan khusus bagi yang melihat hasil karya nya (Perasaan gue ngomongnya serius banget yak?? Biasa aja kalee...!!). 

Kami tunggu beberapa menit untuk membidik si nelayan yang malang itu (malang bangeet karna dia nggak tahu kita jadikan objek dan pemuasan napsu... he he he), daan tibalah saatnya untuk pasang bidikan, ketika si bapak nelayan mulai aba-aba mengembangkan jaringnya, kamipun mulai memasang bidikan "bazooka" kami, daan satu, dua, tiga... Jepret! Jepret! Jepret!, jadilah foto dengan tema kesukaan ku, "human interest" dengan sentuhan teknik freezer....seep! Batinku kembali tersiram air embun yang sejuk, rasanya sampai ke ubun-ubun, semangat mengejar sunset pun kembali membara, untuk ke sekian kalinya si betis yang berteriak itu kami abaikan (kalo gue jadi betis mungkin gue milih pensiun dini aja deh, daripada gue selalu jadi korban kerja rodi kayak zaman romusa nya pasukan matahari terbit dan zaman nya devide at impera nya van the venter di abad lampau... xixixi). Kami sangat beruntung dengan cuaca yang cerah secerah sekarang, sehingga kami optimis, eksplorasi pantai Tanjung Layar akan berjalan maksimal.

"Membidik" nelayan

Tak lama acara "membidik nelayan" berlangsung, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Layar. Medan yang kami tempuh kembali melewati tanjakan curam. Seperti formasi awal, pasukan "bazooka" selalu memimpin barisan depan, sementara gue, Bobby, dan abah menjadi tim penyisir, secara semangat si Tata dan Lulu sudah mulai kendor, apalagi saat menanjak setelah acara foto nelayan, mereka nyaris kehabisan nafas dan terpaksa kami bantu untuk bisa naik. Kami tidak tega mereka tertinggal (sayang banget kalo ditinggal, nanti emaknya nanyain dah ke gue!! )
 
Huft...! Setelah di atas kami merasakan suasana yang segar dengan pemandangan yang eksotis dan terpencil, dikelilingi ratusan pohon kelapa dan ilalang, serta dibawah sana terlihat pantai Lagoon Pari yang tadi kami lewati dengan ombak biru pekat seolah menandakan bahwa lutanan Lagon Pari  itu dalam penuh dengan karang indah.  


Pantai Lagoon Pari dari kejauhan

Setelah berjalan sejauh 500 meter melewati kebun kelapa dengan medan naik turun, kamipun tiba di Tanjung Layar tepat menjelang sunset. Di sebelah barat tampak pesisir pantai yang menjorok dan seberang sana nampak pulau kecil penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Sementara sebelah  selatan nampak dua buah karang menjulang tinggi berjejer mirip menara kembar petronas membentuk formasi layar sebuah kapal nelayan tradisional, hmmm.... Inikah yang namanya Tanjung Layar? (Bisikku dalam hati, mencoba menebak, kalo salah ya silahkan "Coba lagi" he he he, kayak tulisan di produk minuman yang di gosok itu yah...??! Jadi pada beli minuman itu cuma penasaran sama tulisan "coba lagi" nya doang, hadiah mobil dan rombongannya cuma dalam hayalan wkwkwk).

Cahaya matahari yang mulai menguning memantul di karang yang agak kecil sebelah barat. Akupun mengambil gambar momen itu dengan smartphone dan langsung ku unggah hasil jepretanku di situs jejaring sosial berlogo huruf yang paling susah di eja sama orang sunda itu, hmmm... ternyata disini "si biru" masih bisa ku andalkan, walaupun dengan beberapa bar signal saja, tapi "lumayan" deh, daripada "lumanyun" he he he..., hasil jepretan unggahanku langsung dikomentari oleh seseorang nun jauh disana, dan dia minta di tag foto-foto jepretanku yang bertemakan sunset, dia berkata kalau dia ngiri banget pengen jalan kayak gue, selama ini dia merasa terkungkung sebab over protektif orang tuanya, padahal raut dan jiwanya adalah seorang petualang. Aku seolah tersadarkan dengan kata-katanya, aku bersyukur memiliki orang tua dengan pemikiran yang lebih condong ke zaman sekarang,  tapi tidak melupakan prinsip-prinsip hidup dan 'nilai' etika nenek moyang.

Pantai Tanjung Layar

Karang yang menjulang setinggi kurang lebih 60-70 meter (hampir sama dengan tinggi menara BTS) itu sangat menarik dan unik, sayangnya tidak ada literatur resmi mengenai proses terbentuknya tu karang (yang jelas tu karang bukan emak nya sun go kong yaah..!! Cateet! Qi qi qi...). Acara foto-foto ciri khas anak backpacker pun berlangsung (masing-masing memposisikan diri tanpa ada komando, apalagi megang scrypt,nggak banget kalee'...! mereka sudah cukup kompak qi qi qi....).

Setelah puas berekspresi dan menjadi "artis lokal dadakan", kami disadarkan dengan berakhirnya sunset. Hari mulai gelap dan kamipun sepakat untuk kembali ke "kerajaan" kami di sawarna beach home stay, sepanjang perjalanan melewati kebun dan hamparan savana dan stepa (haaah! emangnya africa! Kita-kita jadi singa dooong??!, trus si Tata jadi wanita Africa berpakaian rumbai-rumbai minimalis dan siap menaiki singa yang di perankan oleh akyuuuu....Wkwkwkwk *ngeres.com) kurang lebih 1 km, kami pun tiba di gapura kerajaan dengan dayang-dayang berjumlah 400 orang yang menyambut kami (angka nol nya ilang semua buat gantiin ban yang kempos dua kali itu... ha ha ha ha..).

 
Bilik dan lapangan tenis fasilitas home stay Sawarna Beach

Tiba di homestay kami kembali menjadi "bos lebay mau meeting penting", berebutan kamar mandi dan berdandan biar sedikit kece' buat menyambut acara berikutnya yang dijadwalkan adalah makan malam, karaoke, dan BBQ an.
Ini dia acara yang bisa bikin kompak....
(Tunggu gue mandi yaa.... Ceritanya berlanjut habis mandi yaaa... Dengan tema karaoke, BBQ dan tidur dengan hiburan gempa bumi 5 menit, dilanjut dengan surfing di pantai pasir putihnya Sawarna).

Ini dia visualisasinya :
Seperti biasa, mengutip ucapan indah seorang sahabat yang berprofesi sebagai Fotografer, Dosen, dan Pengusaha
"Foto tidak bisa bicara, tapi foto mampu untuk bercerita"
Ini dia, giliran foto-foto yang bercerita :

 Pantai Pasir Putih Sawarna

Persiapan Surfing

 
Karaoke Bersama

 Setelah puas bermain dengan ombak Pantai Pasir Putih

 Keperawanan Pantai Pasir Putih Desa Sawarna

 Kebersamaan yang tak terlupakan

Cerita selanjutnya :
1. Karaoke, BBQ, dan gempa bumi
2. Surfing di Pantai Pasir Putih

Cerita Sebelumnya :
Posting Komentar