26 Juni 2011

Blog Roadshow - Idblognetwork


Acara bertajuk Blogilicious adalah serangakaian roadshow dan ajang para blogger untuk kopi darat sekaligus untuk menumbuhkan semangat para blogger dalam menyebar kan "virus"  blogging kepada para juniornya. Road show yang di selenggarakan oleh idblognetwork dan di sponsori oleh beberapa sponsor, salah satunya www.berniaga.com, telkom speedy, telkom fexy, dan sponsor-sponsor lainnya, telah berlangsung di beberapa kota besar si Indonesia antara lain di Medan, Surabaya, Makassar,  Palembang, Bandung, Jogjakarta dan ditutup dengan roadshow Jakarta. Acara Blogilicious dengan tema "Blogging has never tasted this good" diramaikan oleh blogger seluruh Indonesia yang saat ini populasinya mencapai angka 5 juta dari total peduduk Indonesia , dengan populasi bloger aktif sebanyak 30%. Acara Blogilicius juga bertujuan untuk menumbuhkan semangat para blogger non aktif untuk kembali aktif menulis dengan diadakannya workshop, sharing, dan kuis interaktif dengan hadiah-hadiah menarik. 

Pada roadshow Jakarta pada tanggal 25-26 Juni 2011 yang bertempat di gedung Telkom Jakarta Selatan lantai 8 dan sekaligus ulang tahun bagi komunitas blogger Depok yang terkenal dengan sebutan DEBLOGGER (DE yang berarti DEPOK), para peserta yang diikuti oleh kurang lebih 150 orang peserta disuguhi dengan materi-materi yang terdiri dari 8 segmen yang dibawakan dan disampaikan oleh para blogger senior berpengalaman dan telah melanglang buana di dunia blogging, broadcast, IT, dan jurnalis, baik itu kelas nasional maupun mancanegara. 

Sesi 1 : ETIKA NGEBLOG
Sesi pertama dalam workshop membahas ETIKA NGEBLOG, disampaikan oleh Mbak Rika Amrikasari yang membahas tentang Etika menulis sebuah artikel blog, ending dari sesi ini adalah dibuatnya komitmen bersama bagi para blogger Indonesia untuk bersama membangun etika menulis blog dengan tanpa melanggar norma dan kode etik jurnalistik. Butir-butir kesepakatan diambil dari inisiatif para peserta workshop yang 100% adalah para blogger. Dengan cara cerdas seperti itu, seolah mbak Risa telah mengkampanyekan kejujuran yang ditumbuhkan dari dalam hati nurani para blogger untuk mejadi blogger sejati yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Selain itu, secara tidak langsung mba Risa telah menyelamatkan para blogger agar tidak terjebak dalam ancaman hukuman pidana yang diakibatkan oleh tulisan dan artikel yang di buat dan di publikasikan melalui blog pribadinya.

Sesi 2 - TIPS BLOGGING 
 
Sesi kedua dalam workshop kali ini membahas tentang TIPS BLOGGING yang disampakan oleh blogger senior mas Amril Taufik Gobel. Dalam sesi ini peserta di cekoki dengan tips dan trik ngeblog yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan orang lain, baik manfaat logis maupun manfaat psikis. Setelah  menerima "vitamin" dari mas Amril, para peserta terlihat lebih antusias dan bersemangat dalam menuangkan ide dan kreatifitasnya melalui tulisan, karena menulis di blog serasa lebih mudah dari yang dibayangkan sebelumnya, terutama bagi para blogger junior.
 
Sesi 3 -Mobile Blogging 
 
Sesi ketiga para peserta di doktrin dengan cara menulis blog sesuai dengan tren tekologi masa kini, yaitu MOBILE BLOGGING yang disampaikan oleh mas Kuncoro, pakar blog dan IT yang sangat fasih dan melek teknologi. Tren internet mobile menjadikan efek positif juga bagi para blogger, mereka dengan mudahnya melakukan bogging secara mobile layaknya reportase broadcasting secara live, materi disampaikan dengan sangat detail sehingga diharapkan para peserta dapat mengaplikasikan dalam kegiatan ngeblog nya sehai-hari.

Sesi 4 - SOCIAL NETWORK 
 
Setelah acara istirahat yang diisi dengan makan siang bersama, kini giliran mas Lukman Nuthfie menyampaikan presentasi tentang SOCIAL NETWORK, membahas megenai peran media jejaring sosial yang menjanggkit di masyarakat dalam dekade terakhir, yaitu Facebook dan Tweeter. Keduanya dapat dimanfaatkan oleh para blogger dalam mengkampanyekan blog yang dimilikinya, dengan bahasa yang ringan dan didukung dengan data statistik terbarunya, materi yang diampaikan oleh mas lukman cukup mampu meghipnotis audiens (peserta dan panitia).

Setelah puas panitia mendoktrin para peserta workshop dalam lingkup domestik, kini giliran mas Sapohan mengenalkan ASEAN BLOGGER COMMUNITY, yaitu ajang komunitas para blogger dalam lingkup kawasan Asia Pasifik. 
Tujuan dibentuknya komnitas ini adalah :
1. Membantu integrasi ASEAN
2. Memberi masukan terhadap kebijakan pemeritah, khususnya pemerintah negara ASEAN.
3. Menjembatani antar komunitas blogger kawasan ASEAN
4. Mendukung rasa kepemilikan dan keinginan yang kuat dalam kejasama ASEAN.

Anggota komunitas Asean Blogger Community sudah mencapai 4 ribuan peserta dengan kegiatan membentuk kepengurusan, Asean Blogger Meeting, dan berpartisipasi aktif dalam Asean Fair. Mantan kedubes Polandia yang hobi menulis ini berwasiat kepada seluruh peserta dan audiens, agar dapat terus memotivasi diri untuk tetap aktif dalam menulis.
Para Peserta Workshop 

Setelah hampir harian peserta "dicekoki" dengan tema-tema studi, kini giliran mas Julian untuk menyampaikan pesan advertising nya dengan produknya yang populer bernama WWW.BERNIAGA.COM, yaitu situs layanan iklan gratis bagi masyarakat yang akan melakukan kegiatan transaksi jual beli online. Dalam kampanye nya mas Julian menyampaikan keunikan dan visi dibuatnya situs tersebut dibanding situs serupa yang sudah dahulu launching, salah satunya adalah kemudahan mendapatkan  efektifitas, efisiensi, dan keamanan bagi para pemasang iklan yang menggunakan layanan ini. Dan yang terpenting adalah layanan ini 100% gratis, tanpa dipungut biaya se peserpun. Setelah pembahasan memakan 6 sesi, sesi blog bisnis pun di perkenalkan oleh mas Masim "vavai" Sugiharto, yaitu bagaimana caranya sebuah blog mampu meraih rupiah dengan cara cerdik. Penjelasan secara detail disampaikan oleh Mas Vavai, membuahkan keinginan kuat bagi para blogger untuk bersemagat dalam menulis dan menuangkan ide nya melalui blog yang di kelola nya. 

Acara masih berlanjut pada hari miggunya (hari kedua) dengan materi SEO dan Security Blog.

Kami ucapkan selamat mendapatkan paradigma baru mengenai ngeblog bagi para peserta. Dan selamat ulang tahun yang kedua bagi komunitas blogger depok yang lebih familiar dengan nama DEBLOGGER....
Bravo Blogger Indonesia...!!.

23 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 7 - Menuju Pantai Tanjung Layar

 Pantai Pasir Putih - Desa Sawarna

Tak butuh waktu lama aku dan Lulu mengejar pasukan "Bazooka" yang berada nun jauh disana. Akhirnya kami pun bisa kembali bergabung dengan mereka setelah sempat aku menjadi "detektif" menangani kasus perusakan karya kebo-kebo Sawarna yang kreatif itu yang hingga berita ini diturukan, pelakunya berjumlah dua orang, satu cewek dan satu cowok (si Taufik itu...) he he he. Nampak rombongan "Bazooka" sedang megambil momen tanggung (gue bilang tanggung karena waktu menunjukkan pkl. 4 sore, nice moment untuk ambil gambar landscape sore hari menurutku pkl. 5 sore hingga berakhirnya sunrise, dan pagi hari pkl. 06:00 hingga pkl. 10:00 wib,  tapi itu menurutku lho ya...*nggak usah komplen!! Wkwkwk).
 
Sudah bersatu kembali dengan rombongan "Bazooka"

Tapi nampaknya mereka sedang membidik object bergerak. Ya, setelah aku dekati ternyata mereka sedang membidik nelayan yang sedang menjaring ikan menggunakan jala. Aku tak mau kalah, segera kusingkirkan dan ku shutdown processor otakku biar tidak terhubung ke internet dan nyasar ke situs terkenal www.ngiri.com, kini cara pandangku lain, seorang Darwis si maha guru fotografi Indonesia itu mampu mengambil gambar dengan bagusnya bukan karena kamera yang dia pegang, tapi dengan instink dan menggabungkannya dengan segenap rasa, karsa dan cipta sebagai seorang seniman pelukis cahaya (dalam buku panduan punya gue disebut istilah fotografer), karena fotografi adalah sebuah teknik melukis dengan mengumpulkan gelombang partikel cahaya untuk diproses oleh lensa dengan racikan si pengguna untuk membentuk sebuah objek dengan karakter khusus sehingga menimbulkan pesan dan kesan khusus bagi yang melihat hasil karya nya (Perasaan gue ngomongnya serius banget yak?? Biasa aja kalee...!!). 

Kami tunggu beberapa menit untuk membidik si nelayan yang malang itu (malang bangeet karna dia nggak tahu kita jadikan objek dan pemuasan napsu... he he he), daan tibalah saatnya untuk pasang bidikan, ketika si bapak nelayan mulai aba-aba mengembangkan jaringnya, kamipun mulai memasang bidikan "bazooka" kami, daan satu, dua, tiga... Jepret! Jepret! Jepret!, jadilah foto dengan tema kesukaan ku, "human interest" dengan sentuhan teknik freezer....seep! Batinku kembali tersiram air embun yang sejuk, rasanya sampai ke ubun-ubun, semangat mengejar sunset pun kembali membara, untuk ke sekian kalinya si betis yang berteriak itu kami abaikan (kalo gue jadi betis mungkin gue milih pensiun dini aja deh, daripada gue selalu jadi korban kerja rodi kayak zaman romusa nya pasukan matahari terbit dan zaman nya devide at impera nya van the venter di abad lampau... xixixi). Kami sangat beruntung dengan cuaca yang cerah secerah sekarang, sehingga kami optimis, eksplorasi pantai Tanjung Layar akan berjalan maksimal.

"Membidik" nelayan

Tak lama acara "membidik nelayan" berlangsung, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pantai Tanjung Layar. Medan yang kami tempuh kembali melewati tanjakan curam. Seperti formasi awal, pasukan "bazooka" selalu memimpin barisan depan, sementara gue, Bobby, dan abah menjadi tim penyisir, secara semangat si Tata dan Lulu sudah mulai kendor, apalagi saat menanjak setelah acara foto nelayan, mereka nyaris kehabisan nafas dan terpaksa kami bantu untuk bisa naik. Kami tidak tega mereka tertinggal (sayang banget kalo ditinggal, nanti emaknya nanyain dah ke gue!! )
 
Huft...! Setelah di atas kami merasakan suasana yang segar dengan pemandangan yang eksotis dan terpencil, dikelilingi ratusan pohon kelapa dan ilalang, serta dibawah sana terlihat pantai Lagoon Pari yang tadi kami lewati dengan ombak biru pekat seolah menandakan bahwa lutanan Lagon Pari  itu dalam penuh dengan karang indah.  


Pantai Lagoon Pari dari kejauhan

Setelah berjalan sejauh 500 meter melewati kebun kelapa dengan medan naik turun, kamipun tiba di Tanjung Layar tepat menjelang sunset. Di sebelah barat tampak pesisir pantai yang menjorok dan seberang sana nampak pulau kecil penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Sementara sebelah  selatan nampak dua buah karang menjulang tinggi berjejer mirip menara kembar petronas membentuk formasi layar sebuah kapal nelayan tradisional, hmmm.... Inikah yang namanya Tanjung Layar? (Bisikku dalam hati, mencoba menebak, kalo salah ya silahkan "Coba lagi" he he he, kayak tulisan di produk minuman yang di gosok itu yah...??! Jadi pada beli minuman itu cuma penasaran sama tulisan "coba lagi" nya doang, hadiah mobil dan rombongannya cuma dalam hayalan wkwkwk).

Cahaya matahari yang mulai menguning memantul di karang yang agak kecil sebelah barat. Akupun mengambil gambar momen itu dengan smartphone dan langsung ku unggah hasil jepretanku di situs jejaring sosial berlogo huruf yang paling susah di eja sama orang sunda itu, hmmm... ternyata disini "si biru" masih bisa ku andalkan, walaupun dengan beberapa bar signal saja, tapi "lumayan" deh, daripada "lumanyun" he he he..., hasil jepretan unggahanku langsung dikomentari oleh seseorang nun jauh disana, dan dia minta di tag foto-foto jepretanku yang bertemakan sunset, dia berkata kalau dia ngiri banget pengen jalan kayak gue, selama ini dia merasa terkungkung sebab over protektif orang tuanya, padahal raut dan jiwanya adalah seorang petualang. Aku seolah tersadarkan dengan kata-katanya, aku bersyukur memiliki orang tua dengan pemikiran yang lebih condong ke zaman sekarang,  tapi tidak melupakan prinsip-prinsip hidup dan 'nilai' etika nenek moyang.

Pantai Tanjung Layar

Karang yang menjulang setinggi kurang lebih 60-70 meter (hampir sama dengan tinggi menara BTS) itu sangat menarik dan unik, sayangnya tidak ada literatur resmi mengenai proses terbentuknya tu karang (yang jelas tu karang bukan emak nya sun go kong yaah..!! Cateet! Qi qi qi...). Acara foto-foto ciri khas anak backpacker pun berlangsung (masing-masing memposisikan diri tanpa ada komando, apalagi megang scrypt,nggak banget kalee'...! mereka sudah cukup kompak qi qi qi....).

Setelah puas berekspresi dan menjadi "artis lokal dadakan", kami disadarkan dengan berakhirnya sunset. Hari mulai gelap dan kamipun sepakat untuk kembali ke "kerajaan" kami di sawarna beach home stay, sepanjang perjalanan melewati kebun dan hamparan savana dan stepa (haaah! emangnya africa! Kita-kita jadi singa dooong??!, trus si Tata jadi wanita Africa berpakaian rumbai-rumbai minimalis dan siap menaiki singa yang di perankan oleh akyuuuu....Wkwkwkwk *ngeres.com) kurang lebih 1 km, kami pun tiba di gapura kerajaan dengan dayang-dayang berjumlah 400 orang yang menyambut kami (angka nol nya ilang semua buat gantiin ban yang kempos dua kali itu... ha ha ha ha..).

 
Bilik dan lapangan tenis fasilitas home stay Sawarna Beach

Tiba di homestay kami kembali menjadi "bos lebay mau meeting penting", berebutan kamar mandi dan berdandan biar sedikit kece' buat menyambut acara berikutnya yang dijadwalkan adalah makan malam, karaoke, dan BBQ an.
Ini dia acara yang bisa bikin kompak....
(Tunggu gue mandi yaa.... Ceritanya berlanjut habis mandi yaaa... Dengan tema karaoke, BBQ dan tidur dengan hiburan gempa bumi 5 menit, dilanjut dengan surfing di pantai pasir putihnya Sawarna).

Ini dia visualisasinya :
Seperti biasa, mengutip ucapan indah seorang sahabat yang berprofesi sebagai Fotografer, Dosen, dan Pengusaha
"Foto tidak bisa bicara, tapi foto mampu untuk bercerita"
Ini dia, giliran foto-foto yang bercerita :

 Pantai Pasir Putih Sawarna

Persiapan Surfing

 
Karaoke Bersama

 Setelah puas bermain dengan ombak Pantai Pasir Putih

 Keperawanan Pantai Pasir Putih Desa Sawarna

 Kebersamaan yang tak terlupakan

Cerita selanjutnya :
1. Karaoke, BBQ, dan gempa bumi
2. Surfing di Pantai Pasir Putih

Cerita Sebelumnya :

20 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 6 - Tai Kebo di Pantai Lagoon Pari

Pemandangan asri desa Sawarna yang masih perawan, 
dan belum tersentuh oleh "tangan-tangan jahil"

Salah satu keanehan penduduk Sawarna selama rombongan kami dua tahun lebih satu bulan disana (woooi!! koreksi, kita cuma dua hari satu malam cuyy!! Ngarep.com deeeh!! *gaya mengacungkan jari sambil ambil nafas untuk keluarin vocal dengan nada empat stengah oktav, trus ekspresi mata agak sinis dikit seolah dia yang paling benar yang lain salah semua wkwkwk...),
Waah,  ada yang ngingetin gue neeh, ulangi deh, Salah satu keanehan penduduk Sawarna selama kami berada disana dua hari satu malam yang berasa seperti dua tahun satu bulan adalah sebagai berikut :

1. Bapak-bapaknya doyan make' baju warna kuning (menandakan dulu yang mampu menjangkau disini adalah anteknya orde baru, baju kuning adalah sisa-sisa peningglan orde baru).
2. Pemalakan liar masih sering terjadi (remind : di jembatan gantung, di goa Lalay, dan yang paling sadis adalah pemalakan yang dilakukan oleh abang kenek dan si cantik Farida, menandakan pengelolaan objek wisata Sawarna masih konvensional  *ups! Yang dua terakhir ikut daftar keanehan Sawarna nggak ya...?? Hmmm...).
3. Sulitnya akses jalan menuju Sawarna (remind : minimnya rambu-rambu lalu lintas dari pertigaan Bayah menuju Sawarna, menandakan desa ini masih 'Baduy Bangeets' *slogan nya mirip iklan operator selular dengan bintang iklan si ”makhluk setengah mateng” itu, gubrax!! Makhluk setengah mateng berceceran banyak banget di cerita ini?! Heran gue!! ).
4. Bentuk dan disain X-Banner yang ala kadarnya (kalo kayak gitu doang sih pesen sama temen gue ajah *promosi dikiiit xixixi), menandakan pernah ada mahasiswa yang KKN disana (eh bener nggak siih??, feeling gue sih begitu, soalnya desain x-banner, warning tag, dan tempat sampah di mulut goa lalay itu khas bangeet, bukan ulah penduduk lokal, tapi ulah kreatif para mahasiswa dengan bahasa yang khas..., sekedar bocoran ajah waktu gue snorkling di pantai Tulamben Karangasem - Bali..., kalo itu bener ulah penduduk lokal, bahasa inggrinya biasanya listening convert to writing alias tidak sesuai dengan EYD ”English Yang Disempurnakan” wakakakakakkkk).
5. Kebo yang biasanya punya tempat play group di sawah, ini malah suka bolos dan maen nya di pantai (menandakan ada kisah unik mengenai kebo wakakakakkak, yang merasa tolong acungkan jari telunjuk kalian yaaa...)

Cukup lima saja deh, sesuai dengan jumlah sila Pancsila.  Dan sila kelima di atas adalah yang paling berkesan diantara sila-sila yang lainnya.
Pada saat gue dan Lulu mengejar rombongan "bazooka" yang ngejar sunset di tanjung Layar (kejar-kejaran doong kayak Syah Rukh Khan dan Kharisma Kapoor qi qi qi...) sambil kami sesekali mengambil gambar ciptaan Tuhan (bukan pelangi doang yaah yang jadi ciptaan Tuhan, catteet! tuh!) dan kadang-kadang ngerumpi di beranda hati masing-masing (maksudnya diem-dieman, mungkin Lulu masih sibuk dengan komplenan betisnya sedang gue sibuk mengamati sekeliling gue), tiba-tiba kami berpapasan dengan segerombolan kebo lengkap dengan penggembala nya yang pakai bendera dengan penyangga bendera pake bambu kecil panjang mirip pasukan perang Mahabaratha (reply Film India, mungkin karna demam Briptu Norman masih berasa siiih..., coba kalo yang jadi Norman adalah si bapak polisi yang memberhentikan kendaraan Elf kami, jadi lebih seru kisahnya, kita langsung menggelar konferensi pers degan si Farida yang kerja di trans TV itu  menjadi penanggung jawab acara gue sama Fitri jadi pemandu acara, dan pasukan "Bazooka" menjadi paparazzi nya, bakal masuk acara special live deeh di tempat kerja nya Farida, trans TV... He he he... Ngarep.com lai daah...!!).
 Berburu foto di Pantai Lagoon Pari Desa Sawarna
Jumlah kebo nya lumayan banyak siih, kayaknya cukup deh buat persediaan upacara persembahan di laut selama 10 tahun ( he he he, jumlahnya lebih dari sepuluh, kalo upacara laut malam satu syuro' itu kan pasti pakai kepala kebo...wakakakak).

Kami pun berjalan agak minggir-minggir jaga jarak dengan makhluk hasil reinkarnasi teman sun go kong itu (ambil inspirasi kisah film Sun Go Kong episode 109 tentang Siluman Kebo dan Ratu Kipas; copas red.). Seperti halnya sejarah dan film India yang meninggalkan bekas dan pesan, Kebo pun nggak mau kalah, beberapa meter setelah berpapasan dengan kami, si kebo menunjukkan bekas-bekas yang menjadi ciri nya, yaitu tai kebo atau dikenal dengan nama "Telepong" (wkwkwk, kirain apa'an...). E'e si kebo bergelimpangan menghiasi pasir pantai dan karang dengan warna khas hijau TNI seperti gugusan pulau-pulau dari sabang samapi merauke, mirip seperti bentuk seonggok karang disitu, mungkin strategi TNI untuk kamuflase saat perang juga berawal dan hasil inspirasi dari tai kebo ini yang berkamuflase seperti karang kali yaaah...?? (*ekspresi mikir-mikir sambil sedikit maksain audiens biar pemikirannya itu diterima masyarakat wakakakak... kasihan amad sih loe susah banget membangun pencitraan diri... wheek!!).
Pasukan gerombolan makhluk hasil reinkarnasi teman Sun Go Kong 
yang tiap tahun dijadikan serangkaian upacara tradisi tanggal satu Syuro'
(ups!! gambar yang sebelah kanan lagi ngapain yaah...???! hmmm... *candid mode ON)
Ada yang aneh diantara replika gugusan pulau-pulau dari sabang sampai merauke karya si Kebo itu, ada satu dua ”pulau” yang kondisinya berantakan seperti habis di bombardir oleh bom atom kayak film dokumenternya Tragedi Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, kondisi ”pulaumade in si Kebo berantakan dan berceceran kemana-mana membentuk formasi efek ”big bang” (bagi yang belum baca karya ilmiah besutan Georges Lemaitre tentang proses terbentuknya alam semesta pasti bingung dah kaga tau artinya big bang... ha ha ha ha.... sorry bukannya meledek, tapi memotivasi *hugh! Alasan! Awass yaaah!!).

Tai kebo dengan bentuk formasi ”aneh” itu menggugah feeling ku untuk menarik kesimpulan dengan ego’nya (kayak detektor aje loe!!). Melihat fenomena itu, hayalku berkelana ke cerita ”betis-betis bernasib malang” yang melakukan demo karena kecape’an dan direspon ”cuek” oleh para petualang pada kisah sawarna 5 yang release kemarin. Tiba-tiba tawaku meledak seiring rasa curiga terhadap mereka yang berjalan dengan pasukan ”Bazooka” di depan sana. Jika di zoom raut muka ku saat itu, terlihat jelas aku seperti orang gila yang nyengir-nyengir sendiri karena ”curiga” dan berusaha mencari ”oknum” dan ”pelaku” penginjakan ”pulau” karya si kebo yang indah itu sehingga menjadi tak beraturan mirip efek ledakan ”big bang” hua hua hua hua hua hua hua..... tiba-tiba hatiku tertawa puas karena mencurigai satu oknum yang sudah jelas dan pasti pelakunya rombongan didepanku (*ekspresi wajah garang penuh curiga karena karya indah si kebo di luluh lantakkan, tapi agak ragu untuk menunjuk satu orang). Aku pun segera mengambil gambar ”barang bukti” dengan kamera si Lulu yang aku pegang (sampe saat ini foto barang bukti belum di share sama si Lulu, pelakunya siih sudah mengaku sama gue pada sepuluh hari setelah insiden itu melalui sambungan telpon di malam hari pkl. 24:00 wib.... ha ha ha ha siapakah diaaa??)

Ketika cerita Sawarna satu di release, banyak yang komen di wall bahwa pelakunya adalah si Taufik, karena banyak saksi yang melihatnya dan yang bilang juga nggak cuma satu orang, maka dengan alasan menegakkan undang-undang dan sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kami cintai, maka dengan ini saya memutuskan bahwa yang menjadi ”terdakwa” adalah si ”Taufik”. Dengan ekspresi sedikit tidak percaya, akupun dipaksa untuk percaya, ketidakpercayaanku dikarenakan masa siiih muka se ”pendiam” Taufik bisa menjadi ”Pelaku” kejahatan menghancurkan karya si Kebo ???! Ha ha ha ha pantesan dia jadi pendiam semenjak kejadian itu...? aku percaya dengan pelaku adalah si Taufik, karena prinsip seorang detektif adalah ”jangan percaya dengan penampilan, ikutilah hati nuranimu, karena dia tidak akan bohong” (halaah.....!! ngarang.com wakakakakak...) Ternyata ooh... ternyata... dibalik wajah ”pendiam” seseorang menyimpan wajah ”innocent” dan seribu kisah gokil yang layak untuk di publikasikan hua ha ha ha ha ha.... makanya bagi teman-teman yang punya tampang pendiam, musti hati-hati tuuch...., dia banyak menyimpan rahasia dibalik rahasia (copas slogan bang Ali dalam Sinetron Islam KTP). Jika disambungkan dengan alinea sebelumnya, hingga hari ini pelakunya sudah dua orang, satu si Taufik dan satu lagi seorang cewek berparas kurang lebih sama, yaitu sama-sama ”innocent” sepanjang perjalanan di Sawarna.

Begini kisahnya : pada hari ke sepuluh setelah kepulangan kami dari Sawarna, salah seorang peserta menelfon ku di tengah malam (pkl. 23:00 wib), dengan lagak dan gaya seperti jama’at yang akan melakukan ”pengakuan dosa” kepada seorang pendeta, dia bersembunyi di balik hordeng samping altar pembaptisan sehingga yang terdengar adalah suaranya saja. Sementara aku berperan sebagai pendeta yang siap mendengarkan keluh kesah ”sang kambing yang tersesat” itu agar kembali ke jalan Tuhan (ha ha ha..., ada yang kurang.., efek piano nya belum ada xixixi...). Si ummat sebut saja namanya ”bunga” mengakui telah melakukan tindakan biadab yang melanggar norma-norma ke gokil an, yaitu meluluh lantakkan karya si kebo yang baru dibikin dan sedang hangat-hangat nya (wakakakakak...kayak bubur ayam), dari mulut jama’at itu mengakui kalo rasa nya adalah ”hangat-hangat kuku”, dia minta maaf karena tidak sengaja menginjaknya, karena E’e nya kebo itu dikira batu karang yang menyembul diantara pasir-pasir pantai, dengan PeDe’nya, dia meloncat ke ”karang” kamuflase bikinan si Kebo dengan gaya jurus Mantili sedang menendang musuhnya bernama Lasmini dalam pertarungan hebat berlokasi di 1 km sebelah selatan tempat Ki Buyut manguntapa bersemedi / Goa Lalay (halah...!!, ada penggabungan kisah Brama Kumbara dengan Misteri Nini Pelet neeh..!! kacau deh, bisa diomelin sama Imam Tantowi si sutradara, kalo gini caranya!! ). Dengan tendangan yang kuat, karena dikira kaki akan jatuh di karang, ternyata semua visualisasi ”Mantili” meleset, yang di tendang bukannya karang, melainkan ”TAI KEBO” (wakakakakakakakakakakakakakakakakkkkkk......dst., *saking gelinya ketawa sampe gak ada batasnya tapi Cuma dalam hati, karena momennya adalah ”pengakuan dosa”di sebuah gereja megah).

Menurut pengakuan ”bunga” dibalik tirai ”pengakuan dosa” nya, dia minta maaf karena sudah menginjak ”ranjau” TNI bermerk ”Tai Kebo” yang mempunyai daya ledak lumayan dahsyat mencapai 80.000nti itu, efek yang diderita dalam insiden itu adalah rasa malu yang berlebih sehingga berujung pada aksi ”tengok kanan tengok kiri” takut ada saksi yang bisa melapor sehingga menjadi ”berita fenomenal” di berbagai media ibu kota. Masih menurut pengakuan ”bunga”, rasa yang dia derita adalah ”anget anget kuku” ha ha ha ha......... dan dia mengakui ”dosa” nya dikarenakan dia merasa ada salah satu teman yang telah menjadi ”pelaku”, sehingga paling enggak ”malu” nya bisa dibagi dua. Si pendeta yang diperankan oleh gue menjelaskan bahwa, si Taufik bukanlah pelaku, melainkan masih ”tersangka” dan perlu penelusuran untuk membuktikannya. Sontak si”bunga” merasa terjebak dalam sandiwara kehidupan di alam gokil yang diciptakan oleh anak-anak jalanan si Bolang. Aku yang saat itu jadi pendeta pun langsung membuang baju ”ke ja’iman” untuk menjadi diriku sendiri yang dari tadi menahan tawa. Daaan...... meledaklah tawa ku dalam kamar kost sendirian, aku merasa cuek dengan keadaan yang mana tetangga kiri kanan sudah terbuai oleh mimpi indah (semoga tawa ku tidak mengganggu istirahat mereka).
Dengan "pede" nya kaki ini berdiri diatas "karang" kamuflase yang nampak menyembul di antara pasir-pasir pantai Lagoon Pari - Desa Sawarna.

Demikian kisah ”pengakuan Dosa” oleh si ”bunga” sebagai jama’at yang jujur dan lugu itu... wakakakakakak..... sekarang tugas pembaca adalah mencari tahu ”siapakah si Bunga itu?????” silahkan tanya saja sama teman-teman backpacker yang ikut ke Sawarna. Jangan-jangan masih banyak ”bunga” yang lain yang masih malu-malu mengakui dosanya karena yang gue lihat di TKP, yang berceceran disana tidak cuma satu buah ”pulau”, tapi beberapa dengan beraneka ragam ukuran kaki yang menancap dengan ”pede” nya diatas tai kebo yang anget itu.... ha ha ha ha ha ha..

Yang dapat aku simpulkan dari cerita ini adalah : hipotesa einstein tentang energi itu terbukti, pembaca pasti masih inget kaan rumusan einstein tentang Energi itu...??

E = m.c2

Dimana diketahui :
E = Energi zat metana yang dihasilkan oleh tai kebo atau kepanjangannya E’e kebo.
M= Malu (efek dari penginjakan e’e kebo)
c2= Clingak-Clinguk (menahan malu, takut ketahuan sama orang lain kalo dia nginjak e’e kebo).
Ha ha ha ha ha.................
 
Dengan berakhirnya kisah tai kebo ini, maka berakhir pula cerita gokil di pantai Lagoon Pari,
Maih bersambung perjalanan menuju Tanjung Layar dengan kisah unik dan menarik.... saksikan setelah iklan yang lewat berikut ini...
Bocoran cerita selanjutnya :
  1. Pantai Tanjung Layar
  2. Karaoke, BBQ dan Gempa Bumi
  3. Surfing di Pantai Pasir Putih
Inilah gambar-gambar yang bisa berbicara :

  
Sunset Pantai Tanjung Layar (mirip foto di kalender kamar gue... ck ck ck...)
 Eksotisme Pantai Lagoon Pari (Siluet mode ON)


 
Suasana Karaoke, salah satu fasilitas di Home Stay "Sawarna Beach"
(si Surya sampe matanya ilang, tinggal garis doang... wkwkwkwk)
 
Pantai Pasir Putih - Sawarna

 
Paling cocok surfing di pantai Pasir Putih, pas dengan suasana ombak nya.
Sebelum Surfing, kita pasang gaya nularin virus "Narso" wkwkwk


Virus "Narso" yang berlebih, jadi mirip foto keluarga deeh.....
















19 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 5 - Pantai Lagoon Pari

Pantai Lagoon Pari - Desa Sawarna Kec. Bayah Kab. Lebak - Banten

Setelah puas mengunjungi tempat bertapa Ki Buyut Manguntapa, gurunya Restu Singgih dan Jail Singgih dalam serial Radio Nini Pelet bernama Goa Lalay (ha ha ha... openingnya ngaco’ banget dah..!!, ude jelas cerita Nini Pelet di daerah Cirebon, kita kan posisi di Banten, tepatnya Desa Sawarna Kecamatan Bayah kabupaten Lebak – Propinsi Banten?!, *jangan percaya deh sama yang nulis cerita ini, suka ngoceh ngga jelas dia!! Ha ha ha ). Kami pun berbalik arah menuju jalur yang tadi di pematang sawah nan hijau dan asri, nggak lupa kami agak maksa minta kenang-kenangan untuk berfoto ria di depan mulut goa penuh misteri karena nggak ada cerita dan legenda yang sah yang disampaikan oleh guide yang kami bayar (mbaah..., mohon ijin cucunya mau narsis disini... wak wak wak...*nggak pake gituan kalee..!!.sebelum ninggalin kan kita sudah bayar "karcis ilegal" sebesar Rp.2.000,-/orang buat penjaga gua berbaju kuning berusia sekitar 40 tahunan sama ngasih angpao buat bocah yang ngikutin masuk goa tadi, jadi segala resiko ditanggung oleh karcis dan bocah itu wekekekkkkk.. **lari dari masalah neeh..., dasar anak-anak jalanan pake aturan se'enak perut!!.lekekekekekek..! ***ketawa ala Popeye mode ON). 

Sebelum melewati pematang sawah, aku sempat melihat kiri kanan di jalan kebun yang aku lewati, ternyata disitu terdapat beberapa makam tua dengan keramik warna biru yang sudah lusuh tak terawat, akupun sempat mengirimkan do’a untuk kedua isi makam itu (mudah-mudahan isinya jasad manusia, bukan "sun go ku" yang kalah dan mati melawan musuhnya bernama "pikolo", soalnya percuma saja gue kirim do'a taunya dia lagi asik latihan beladiri meperdalam ilmu melewati jembatan tanpa tepi, hwa hwa hwa..), mudah-mudahan do’aku nyampe di alam sana dan almarhum bisa tenang (kalo yang ini ngga boleh sambil becanda, ngeri di datengin soalnya xxxxx *ekspresi ketawa tanpa suara, hurufnya consonan semua), secara aku kan anak yang teraniaya dan jauh dari orang tua serta kurang kasih sayang dari sesama..., minimal do’aku mustajab dan diterima olehNya he he he (*penyakit baru datang bernama over confident), anak-anak yang lain sudah sampai di pematang sawah sementara aku masih sibuk komat-kamit mirip harry potter baca mantra, tapi yang ini nggak pake tongkat, pake’nya ”senjata” andalan, yaitu KAMERA ha ha ha.... ude gitu PINJEM pula sama si Lulu.... nggak modal banget sech..!! gk gk gk... 

Anak-anak jalanan yang kurang kasih sayang dari orang tua, 
karena merasa senasib, jadi deeh... kelompok Bolang ini... (Bocah Ilang he he he...)

Untuk terakhir kalinya aku ambil gambar dengan tema ”kaki-kaki sang petualang” yang berjalan diatas pematang sawah, secara kali ini mereka berbaris rapih banget kayak bebek yang maen di sawah sambil dijagain sama tuan nya, menggugah insting ku untuk mengambil fenomena langka sepanjang sejarah ini, niatku sih mau candid..., nggak tahunya semua pada nengok dimulai dari barisan paling belakang diikuti oleh yang lain dan agaknya virus narsis masih menempel kuat di dalam jiwa raga mereka, sontak semua pada beraksi pasang gaya, mungkin dibenak mereka pematang sawah itu telah berubah menjadi catwalk yang indah elegant dan hamparan sawah berubah menjadi penonton dengan sorak sorai nya, jadilah lengkap visualisasi mereka menjadi seperti setting peragaan busana rancangan Ivan Gunawan dan Oscar Lawalatta yang mana rancangannya kebanyakan bernuansa cowok metroseksual ala ibukota, visualisasi bertambah lengkap  dengan fotografer yang ganteng dan sekaliber gue (ha ha ha... kambuh lagi deh penyakitnya..., penyakit baru memang cepet banget ekspansinya, mungkin jendralnya si virus masih punya banyak stock prajurit buat memprluas daerah jajahannya kali yaa... Dan parahnya gue jadi jajahan si jendral virus yang bisu itu wkwkwkwk...). Dengan agak ”diperkosa” akupun mengambil gambar untuk mereka, si sahabat-sahabat baruku yang kompak dan selalu terkenang sepanjang zaman (dari zaman batu megalithikum sampe zaman almasih turun ke dunia kelak ha ha ha), dan dengan sendirinya keikhlasan mengalir untuk mereka si anak jalanan yang menarik simpatiku itu. 
Setelah diambil satu dan dua kali jepretan, mereka kembali cuek sama gue dan berjalan kembali (kayak anak bayi nangis trus dikasih mainan he he he he), saat itulah aku mengambil kesempatan ”langka” itu yang aku rasa adalah saat yang tepat karena mereka bergaya secara alami dimana dalam dunia fotografi dikenal dengan istilah ”Human interest”, da...aan... ”jepret”, ”jepret”, berhasill!! Batinku seolah disiram oleh air embun yang sejuk karena ”hasrat positif” ku terpenuhi, ternyata keikhlasan itu dapat berbuah kebahagiaan, mungkin itu kata-kata yang bisa mewakili perasaanku saat itu. Kami melanjutkan perjalanan mengejar sunset di Tanjung Layar yang jaraknya kurang lebih 3 km dari pematang sawah yang sempat dijadikan catwalk peragaan busana karya perancang "makhluk setengah mateng" oleh rombongan kami kecuali aku si tukang candid ha ha ha. ..
Medan yang kami tempuh sangat terjal dan naik turun tebing berkarang setelah sebelumnya menyeberang sungai yang airnya deras dengan ketinggian air sebatas leher (leher katak! wkwkwkwkwk *repost, jadi agak garing deh ketawanya). Tebing terjal dan jalan berliku kami lalui, walaupun betis kami komplen karna telah kami "perkosa" harus melewati medan yang 'aneh' (untungnya si betis nggak komplen via e-mail atau masuk ke kolom opini nya koran kompas, bisa berabe tu komplenan di baca orang2 sedunia termasuk si udin he he he *ekspresi reply fikiran ke masa lalu, pengalaman di komplen sama klien via email, trus di tegur sama bos...xixixi).


Menyeberangi sungai dengan ketinggian air mencapai leher.
(leher katak!! wkwkwkwk)

Setelah kami cuekin komplenan si betis kurang lebih sejauh 1 km, kami mencium aroma pantai dan mendengar sayup-sayup suara ombak bersahutan (kuat juga instink anak jalanan ini yaah...?? hmmh), suara itu semakin jelas terdengar seiring langkah kami berjalan. Akhirnya kami sampai juga di pantai Lagoon Pari yang mirip pantai Nusa Dua-Bali, bentuk ombaknnya, pemandangan karangnya, dan pasirnya, hanya bedanya sepi aja dari pengunjung. Nampak beberapa bangunan mirip saung berjejer menghadap ke pantai,  kami pun menghampirinya, ternyata itu rumah pembuatan gula aren sekaligus rumah tinggal penduduk desa sawarna yang kebanyakan petani, peternak, dan memelihara tambak udang.
 

Mirip Nusa Dua - Bali

Kami pun menyapa salah satu penghuni rumah yang sedang memproduksi gula aren, cukup ramah dan friendly banget tu bapa-bapa pembuat gula. Tiba-tiba ide muncul untuk mengabadikan proses pembuatan gula aren khas Sawarna, setelah sedikit interview dengan si Bapak pembuat gula berbaju kuning (perasaan di Sawarna bapak-bapaknya doyan pake baju kuning yaah?! *reply kisah penunggu goa Lalay yang menukar kupon kuning bertulis angka Rp.2000,- ), kamipun minta izin untuk bergaya bak seorang pembuat gula aren (kayaknya si abah dewh yang paling cocok hua hua hua *expresi ngejigong dikit nunjukin gigi tonggos nya, bukan berarti menghina ya bah...tapi sueer, abah sangat akrab dan familiar dimata penduduk lokal).
Pinggiran pantai Lagoon Pari (Mirip Pantai Kuta era 80-an)

Sejenak kami melepas penat menanggapi komplenan si betis yang dari tadi teriak-teriak minta diperhatikan, yang paling kenceng teriaknya adalah betis si Lulu, apalagi betis nya si cantik Tata, selain teriak-teriak pengen istirahat bersamaan dengan teriakan betis nya Lulu membentuk paduan suara ber nada delapan oktav, betis nya tata juga memanggil-manggil  "Imron" ku untuk menyuruh mata ini memperhatikan dengan seksama dan seteliti mungkin, apakah ada cacat atau enggak, dan hasilnya adalah seperti lagu band terkenal "Andra And The Backbone" berjudul "sempurna...". (Wakakkakak, akhirnya ada kejujuran di balik cerita mirip novel ini). 

Betis-betis yang malang, komplennya dicuekin sama anak-anak,
Dasar anak-anak jalanan... hufth!!

Sementara di skip dulu cerita betis indahnya anak petualang, soalnya ada kisah seru lagi mengenai perebutan dan tarik-tarikan hordeng kamar gue oleh dua makhluk aneh ber merk "Syarif" dan "Gugum" gara-gara betis yang ditaro sembarangan diatas springbed kamar gue (nanti dikasih judul tersendiri, biar bahasnya bisa tuntas).

Sementara sebagian foto-foto dan yang lainnya masih sibuk interview dengan narasumber (si bapak baju KUNING tadi), gue meyempatkan diri sholat asar di saung dengan mengambil air wudlu menggunakan air laut selatan bagian barat itu (woooii, ijin dulu sama penguasa laut Nyi Roro Kidul!! Kualat loe!!, *perasaan batas kekuasaan Nyi Roro Kidul cuma sampai pelabuhan ratu doang deeh..., ini kan wilayah Banten, jadi penguasanya bukan Ratu Roro Kidul, tapi Ratu Atut Chaoshiyah, **koq kalian jadi berdebat gini sich!! Kasian tuh pembaca nungguin mao nerusin baca kisah Sawarna!, *tau nich!, maen potong ajah orang lagi ambil air wudlu juga loe! Kacau deh kisahnya kepotong-potong).

Okey dichangcut....! Ups! Dilanjut...
Sementara gue "meditasi" untuk ngasih laporan sama yang bikin laut (bukan penguasa laut ya..., cateet!!), teman-teman petualangku pada mabok dengan virus "narso" nya (sekarang narsis ganti nama jadi narso yah? Sejak kapan sih, ko nggak ngundang-ngundang kita, kan lumayan kebagian ngem-si??!) Mereka asik melihat pantai lagoon pari yang masih 'perawan' mirip pantai kuta era 80 an (kata si abah yang pernah ke pantai kuta di zaman itu sebelum setenar sekarang, diperkuat dengan cerita orangtua angkat gue yang di Denpasar bernama H. Sunar yang asli lahir dan besar di Bali). Mereka pada berfoto ria dengan gaya entah seperti apa soalnya gue ga ikutan, dan sampe sekarang juga mereka belum nge share hasil foto yang disitu (mungkin sibuk kali yee?? Atau mungkin nunggu gue ngemis-ngemis sambil bawa tongkat dengan pakaian lusuh compang-camping penuh tambalan?!, baru deh mereka ngasih he he he).


Ini salah satu yang di share pas di pantai Lagoon Pari
Mereka lagi mbidik nelayan yang jauh disana dengan "Bazooka" nya


Setelah selesai sholat asar di saung, aku lihat mereka sudah jauh meninggalkanku, kecuali si Lulu yang setia menungguku (jangan ge'er yah! Si Lulu nungguin karena dia sibuk ngeladenin komplenan betisnya yang ketutup celana panjang he he he, terlepas dari itu semua, si Lulu memang baik dan setiakawan, nggak seperti nama panjangnya : "Lulu Guegue Lumati Gue Tahlil" biar simple dipanggil LULU wkwkwkwk...), sementara si cantik Tata (yang mempunyai nama pajang Tata Marita Anak Mamah Tayang) dan Bobby berjalan 50 meter didepan kami mengejar rombongan pemegang "bazooka" nun jauh disana. Rombongan "bazooka" memang aku lihat buru-buru dari tadi karena ngejar sunset di tanjung layar yang masih jauh sekitar 1 km dari sini (pantai Lagoon Pari) dengan jalan yang terjal dan berliku.
Batu karang adalah ciri khas pantai Lagoon Pari

Aku pun jalan dengan santainya ditemani Lulu menyusuri pantai untuk mengejar rombongan anak-anak yang jauh di depan sambil sesekali mendokumentasikan suasana yang masih asri. Ada sesatu yang aneh dan sangat kontras sekaligus menjadi ciri khas desa ini, yaitu para pengembala kerbau yang mengumbar kerbau gembalaannya di pesisir pantai, fenomena yang baru pertama kalinya aku lihat seumur hidup. Umumnya kerbau yang aku lihat itu bermain di sawah dan ladang daerah pegunungan, minimal daerah datar, yang ini malah di laut, mana mau kerbau mandi pake air asin? Bisa jadi asin tuuh telor nya si kebo, si bebek jadi punya saingan deeh, bisa nggak laku tuh telor asin karya nya, bisa-bisa si bebek manggil ahli markting buat analisa pasar ngelawan serbuan pasar telor asin karya si kebo (panjang banget ngebahasnya.... Kisah tai kebonya kapaaaaaannnn?? Sudah nggak sabar nih pengen tau ceritanya....???)

Berhubung ada yang ngomel-ngomel, kita sudahin saja kisah pantai Lagoon Pari nya, penjelasannya bisa lihat di hasil jepretan anak-anak petualang dibawah ini.

Seperti yang sudah-sudah, ini kisah selanjutnya :
1. Tai Kebo
2. Pantai Tanjung Layar
3. Karaoke, BBQ, dan Gempa Bumi
4. Surfing di Pantai Pasir Putih - Sawarna


Visualisasi nya niih :
 Sebelum tai nya, kebo nya dulu dikasih...
Pantai Tanjung Layar
 Karaoke dan BBQ di Home Stay Sawarna Beach
 
 Pantai Pasir Putih - Sawarna
 
 Pantai Pasir Putih - Sawarna

 Pantai Pasir Putih - Sawarna
 Surfing di Pantai Pasir Putih - Sawarna
 Surfing lagii....

 Ekspresi anak Petualang di Pantai Pasir Putih - Sawarna




17 Juni 2011

Explore Sawarna - Part 4 - Menuju Goa lalay

Numpang narsis dulu sebelum ngebanyol, siapa tauw bisa terkenal ha ha ha...

Tak terasa acara peyerbuan dan perebutan asupan gizi  anak jalanan pimpinan jendral Abie berlangsung begitu cepat (makan siang perdana di home stay maksudnya...he he he), HANYA 15 menit doang?! Gila nggak seech...!. Semoga keberkahan senantiasa tercurahkan kepada kami seiring kebersamaan dan persahabatan yang kami jaga mulai hari ini dan mudah-mudahan abadi sampai nanti.... (jiaah, jadi pengen nangiss.. Hiks hiks hiks, awass banjirr loe!).
Ciri khas para Backpacker - Jalan kaki

Saatnya tiba untuk meng explore dan meyusuri goa peninggalan zaman pra sejarah milik kampung Sawarna (lisensi Tuhan tentunya dong yaa...). Untuk mencapai goa lalay dibutuhkan menempuh jalan kaki sejauh kurang lebih 1-2 km dari home stay, kami kembali melewati jembatan gantung dan jalan utama desa di depan awal kami trun dari elf dan mnginjakkan kaki di desa eksotis ini. Kamipun menyiapkan bekal masing-masing, baik itu air minum, makanan, batere/senter dan jangan ketinggalan obat-obatan, kayak ganja, cimeng, sabu-sabu dan lain-lain (Interupsi!! Huzz!, bukan itu obat-obatan nya! Maksudnya P3K yang diperlukan buat kalo ada apa-apa dijalan, bukannya bawa pelanggaran pasal 378 Undang-Undang Narkotika itu bencoo...oong!! *perasaan 378 itu tentang penipuan deeewch...gubraxx!).
Dibawah pengawalan guide penduduk lokal yang kami sewa, kami mulai jalan menuju goa tempat kelelawar pada BBS alias Bobo'-Bobo' Siang itu (Lalay artinya kelelawar, dalam bahasa sunda, red.) Bak seorang turis beneran, kami di pandu melewati kembali jembatan layang depan gapura desa. Tapi ada yang aneh kali ini, ketika kami akan melewatinya, tiba-tiba datang penduduk lokal yang menghampiri kami, datangnya dari  arah pangkalan ojek (pos kamling) yang berada di pingir jalan di seberang gapura, orang itu menyuguhkan secarik kertas bertuliskan angka rupiah 2000, ternyata itu adalah tiket melewati jembatan (aya-aya wae iyeu akang, kayak nggak kenal kita ajah wkwkwk), hmm... bisa jadi si abang guide sudah koling-kolingan sama teman-temannya yang nongkrong di pos kamling itu kali yaah...?? (Batin ku bicara se'enaknya penuh curiga dan tanpa pemisi pula!), kecurigaanku cukup beralasan, karena : 1. Jembatan itu adalah jalan umum, dimana infrastruktur dibangun dari APBD?, 2. Kenapa hanya rombongan kami saja yang suruh bayar? Sedangkan yang lain lalu lalang dengan asiknya bisa bebas?!; 3. Kenapa tiketnya tanpa cap atau stempel resmi?.

Alasan itu terpatahkan dengan perasaan empatiku, yaitu sebagai berikut:  jembatan itu hasil jerih payah warga, kawasan wisata itu belum mendapat perhatian serius dari departemen pariwisata, pembuatan tiket adalah inisiatif warga, karena jembatan juga butuh perawatan dan pengelolaan. Dipikir pikir bener juga yaaahh?, tapi menurutku alangkah baiknya jika pemda melalui departemen pariwisatanya dapat langsung mengelola tempat tersebut, sehingga pengelolaan mejadi lebih profesional, sehingga rasa curiga sepertiku tadi tidak menghinggapi hati para tamu yang datang setelah rombongan kami.

Perjalanan kami lanjutkan, kami jalan beririgan mengikuti pola gerakan migrasi segerombol semut, panjang iring-iringan kami kurang lebih mencapai 15 meter. sebelah kiri dan kanan aku tak satupun aku menemui onggokan sampah seperti pemandangan yang tiap hari aku lihat di Jakarta (ya iya laah, loe tinggal di bantar gebang...! Disama'in dengan disini..! Jauuu...uuuhhh kaleeee, :-( ), memang benar-benar suasana desa yang asri. Setelah kurang lebih 500 meter melewati jalan utama desa, kami berbelok arah ke kanan memasuki kebun dan 50 meter ke dalamnya kami bertemu dengan sungai desa dengan air yang masih jernih. Tampak anak-anak desa seusia kelas 2-3 SD sedang mandi di sungai dengan tanpa busana sehelai benangpun (waaah, kayaknya ceritanya sudah mulai kayak stensil neeh!!), sementara 30 meter di sebelah hulu sungai nampak sorang nenek sedang mencuci baju petaninya setelah pulang dari sawahnya. Aku mencoba mengakrabi mereka (anak-anak kecil) dengan  cara menyapanya dengan bahasa sunda kasar yang sedikit aku kuasai, mereka cukup ramah merespons ucapanku, kemudian aku mulai mengeluarkan "senjata" yang Lulu percayakan kepadaku pada cerita seri Sawarna dua yang aku tulis sebelumnya (bagi yang belum baca, gue tau ekspresi muka loe pasti dahinya berkerut penuh tanya, makanya bacanya dari awal, jangan ngacak yaach!, soalnya kita nggak punya customer service buat jawab pertanyaan loe! *sedikit maksa :-p wkwkwkwk ), aku instruksikan anak-anak yang lugu itu untuk terjun dari atas dahan pohon kelapa yang menjulur ke arah sungai, dan mereka melakukannya sesuai dengan aba-aba ku, daa..an pada beberapa detik setelah hitungan ketiga, ku pencet shutter switch kamera yang kupegang, "jepret", akhirnya momen itu bisa terabadikan. Beberapa teman yang memegang "senjata" tak menyia-nyiakan momen langka itu juga, mereka dengan sigapnya mengambil gambar untuk di abadikan, anak-anak itupun mendadak menjadi objek dan model kami, mereka merasa bangga kami foto, setelah anak-anak, "korban" kami berikutnya adalah si nenek yang ada disebelah hilir dengan dandanan khas topi capingnya. 

Dengan bahasa semampuku, aku menyapa si nenek dan minta izin untuk memotretnya, diikuti oleh teman-teman yang lain yang memang sedang demam terkena virus yang lagi booming bernama  fotografi, dengan "senjata bazooka" nya yang membuat aku dipaksa memasuki situs www.ngiri.com (he he he kambuh lagi deeh....untungnya aku megang senjata, biarpun cuma "pistol" dapet minjem pula!, nasiiib nasiiib *ekspresi tangan kanan megang jidat sambil geleng-geleng).

Setelah acara "pemerkosaan rame-rame" terhadap anak-anak dan nenek-nenek di sungai selesai dan kami merasa puas karena "nafsu" fotografi kami yang terpuaskan, kami melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai (wah wah waah... Ini niih..., kasus pemerkosaan yang tidak sempat ter ekpose media ibu kota, besok besok gue bakal ajak wartawan koran lampu merah biar ulah kalian mendapat ganjaran yang setimpal !!, *ekpresi agak geram tapi sambil bertanya dalam hati alasan geramnya). Sungai selebar 5 meter dengan kedalaman sebatas leher dan ber arus deras itu berhasil kami seberangi tidak kurang dari 1 menit, ck ck ck ck (ya iyaaa laa....ah, kedalamannya cuma sebatas leher katak doang...! Wakakakak, pembaca tertipu...).


Inilah wajah wajah para korban "pemerkosaan" dan pemuasan nafsu fotografer
Mudah-mudahan mereka selalu dilindungi oleh Tuhan

Setelah acara penyeberangan sungai selesai sambil dadah-dadah kepada si nenek (cuit cuuuiiiiit, ternyata selera anak jalanan adalah "nenek-nenek"), maksudnya ngucapin terimakasih sudah mau jadi model dan sasaran bidikan kamera kami, kami meneruskan perjalanan ke goa lalay, medan yang kami tempuh adalah hamparan persawahan hijau yang sangat luas mirip foto landscape di komputer kantor dengan background perbukitan hijau tapi sedikit terganggu pemandangan nya dengan tertancapnya menara-menara seluler yang berjumlah tiga berjejer nun jauh di atas bukit  mirip barisan orang lagi sholat berjama'ah (soalnya kalo di foto nggak menarik lagi, secaara tema kita kan Desa Sawarna, masak sih ada gambar menara seluler??, bisa dibilang pembohongan publik doong kita kita??), akhinya aku dapat ide, aku ngak mau ambil gambar dengan background pake tancepan menara BTS, aku mau ambil Zoom object ajah, sedikit ngarah ke bawah, daa..an "jepet", "jepret", jadilah foto  kaki berjejer sedang melangkah di pematang sawah (buat hantu jeruk purut yang nggak pake kepala, loe sebenernya bisa ikutan narsis, karna yang di foto kaki doang,  sayang banget loe ga ikut wkwkwkk).

Berpose di mulut goa Lalay

Ceritanya belum selesai siih.., tapi nggak sabar pengen ngaplut, biar pada bisa baca... he he he
ini dia visualisasi Goa Lalay... :
"Foto memang tidak bisa bicara, tapi foto bisa bercerita" (alay mode ON)

Nafsunya sudah terpuaskan 
setelah merkosa nenek-nenek dan anak kecil yang lagi mandi di sungai. 
 
Cendy dengan gaya orang-orangan sawah 
dalam perjalanan ke Goa tempat Kibuyut Manguntapa bersemedi dalam serial radio Nini Pelet (bo'ong ding..)

Ingat!! anda mau masuk ke gua, jadi yang dilihat mulut goa nya, jangan salah yaa!! (qi qi qi *ngakak dikit)

 
Ini bukan penghuni goa, tapi si Abah dan sohib ku Syarif

 Ini belum apa-apa, baru masuk 10 meter dari mulut goa

Candid Photo (ssstt..!! jangan berisik, ntar ketahuan)
kalo ketahuan mereka langsung pada nengok dan pasang gaya.... qi qi qi

 Goa penuh dengan tanah berlumpur dan licin

 Senter dan Batere wajib di bawa, didalam gelap buangeet...

Si Mamang (guide) sedang ngejelasin tentang goa Lalay

 
Jiaah.., anak sekolah yang tadi di foto waktu mandi ngikutin kita...
(ada yang belum ngasih angpao yaah...??? wakakakak)


Dasar anak jalanan, sudah di goa, tempatnya gelap, 
masih kuat juga instink artisnya! begitu ada kamera, pada langsung berebut ambil posisi...
ck ck ck ck..!!
Cerita Sawarna berikutnya :
1. Pantai Lagoon Pari
2. Tai Kebo Di Pantai Lagoon Pari
3. Pantai Tanjung Layar
4. Karaoke, BBQ, dan gempa bumi
5. Surfing di Pantai Pasir Putih