03 Mei 2011

Bersepeda Mengelilingi Pulau Tidung

Mengelilingi sebuah pulau dengan bersepeda?, masak bisa? Berapa  lama tuuh??, jawabannya hanya  butuh waktu 2x60 menit atau cukup 2 jam saja kita bisa mengelilingi pulau Tidung. Di pulau ini memang luasnya tidak lebih dari 5 km. Pulau dengan jumlah penduduk sekitar 4.000 - 5.000 nyawa ini begitu menantang untuk di eksplore oleh kami ber enam. Di pulau ini terdapat dua buah bangunan masjid dan beberapa musholla, rata-rata penduduknya sangat ramah dan very wellcome dengan para tamu, baik tamu lokal maupun mancanegara., wajar saja ketika kami tiba disana, penyambut tamu berucap "selamat datang di pulau dengan penduduk yang religius".

Komunitas penduduknya didominasi oleh 4 suku, yaitu Betawi, Sunda, Jawa, dan Badui. Maklum, pulau ini terletak di sebelah utara Jakarta yang dapat di akses dari Tangerang (suku Badui), dan pantai sekitar Jakarta dan Bekasi (suku betawi, sunda, dan jawa). Jadilah mereka bertemu di situ dan membentuk peradaban (jieeeh... kayak Mesir kuno saja..., pake acara peradaban sungai Nil segala, belum lagi dengan cerita mummi, fi’aun, harta karun, dan yang terakhir cerita Ayat-ayat cinta karya Habiburrahman Alshirezy...xixixi... Gubraxx!! jadi ngelantur begini..??!).

Sarip dengan gaya bersepeda nya untuk mendapatkan rekor MURI
Bersepeda mengelilingi pulau dalam waktu 2 x 60 menit
Sebelum bersepeda setelah tiba dan sepakat menginap di kediaman mas Rosim, sambil menunggu si Rosi Wibawa teman backpackerku mandi, aku sempat ngobrol dengan mas Rosim sekedar mengakrabkan diri, obrolan kami berkisar mengenai eksotisme pulau Tidung, mas Rosim sudah tinggal dan menjadi penduduk pulau Tidung sejak 10 tahun silam, beliau asli suku jawa, tepatnya orang Purworejo, ternyata dia mampu membuat aku malu dengan prasangka dan analisa di otakku saat dia pertama bertemu, tanpa sadar pikiranku berkelana dan menyimpulkan dengan ego’nya bahwa mas Rosim adalah orang sunda yang bekerja sebagai guide di pulau itu, ternyata aku telah disadarkan oleh cerita mas Rosim yang membuatku ”malu” sendiri karena sudah ”menelanjangi diri sendiri” xixixi. Semoga saja mas Rosim tidak tahu dengan perubahan ekspresi wajahku saat ngobrol dengannya (sorry ya mas, bukan bermaksud menipumu dengan wajah manisku ini.. he he he narzies mode ON).

Explore pulau Tidung dengan bersepeda ria 
menembus padang ilalang pulau Tidung
Lanjut cerita, mas Rosimpun mengisahkan petualangan hidupnya di pulau itu, dimana masa remajanya dihabiskan bersama teman-teman sebayanya disana, karena dia mendapat istri orang betawi, maka secara tidak langsung dia telah mempersempit aktifitasnya di area pulau Tidung dan Tanjung Priok saja. Ya, istri mas Rosim kini tinggal di Tanjung Priok dengan anak semata wayangnya. Semasa remaja dia mempunya teman akrab entah siapa namanya (waktu itu mas Rosim tidak menyebutkan namanya, aku juga nggak begitu tertarik menanyakan nama temannya.., habisnya sudah bisa ditebak, temannya itu pasti cowok, pikirku buat apa gue nanya nama segala toh dia cowok, nggak bikin aku tertarik menanyakan, kayak tukang sensus penduduk saja?! He he ). Saking akrabnya, suatu saat orang tua temannya akan menjual rumah dan tanah mereka di pulau itu, tanah seluas 70 meter persegi itu hanya di hargai Rp. 15.000.000,- saja kepada mas Rosim. Kata temannya, dia tidak akan menjual tanahnya kepada orang lain, dia hanya mau melepaskan asset keluarga itu kepada mas Rosim saja, gayung pun bersambut (jiieee.., kayak acara lamaran anak gadis saja he he), mas Rosim pun menyanggupinya, walaupun tetangga si teman sudah menawar diatas harga itu, dia tidak melepasnya. (mungkin itu bukti kebaikan seorang sahabat kali yaa...? pikirku saat itu), setelah tanah dan bangunan rumah type RSSS itu pindah tangan ke mas Rosim pada tahun 2007 silam, bangunan itupun dimanfaatkan oleh mas Rosim untuk home stay / penginapan, mengikuti jejak mertuanya yang saat itu menjadi orang pertama yang mempunyai ide menyewakan rumah tinggalnya sebagai penginapan para wisatawan. 

Setelah dibayar, mas Rosim pun merahasiakan harga tanah tersebut kepada para tetangga nya, alasan mas Rosim sangat simple, hanya untuk menjaga nama baik temannya terhadap para tetangga yang sudah menawar harga lebih tinggi dari harga itu. ”Oooh... sungguh indah persahabatan itu”, tiba-tiba batinku ikut nimbrung dengan berucap demikian. Lagi-lagi mas Rosim secara tidak sadar telah membuatku ”malu” dengan diriku sendiri yang terkadang menyepelekan arti persahabatan.

Sarip, Rosi, Delima, Eza, dan Ani
Persahabatan yang dimulai dari satu misi yang sama, "backpackeran ke Pulau Tidung"
Untuk kedua kalinya aku ”membohongi” mas Rosim dengan perubahan raut muka dengan hati kecilku yang aku rasakan sangat contras  dan kontradiktif, namun tidak diketahui oleh lawan bicaraku, yang awalnya aku anggap sebagai orang lugu dan jujur bernama ROSIM. Aku merasa tertipu dan sekaligus kagum dengan kejujuran dan keluguan mas Rosim. Pikiranku tiba-tiba menjadi kalkulator canggih yang tanpa perintah bisa mengerjakan hitungan dengan dahsyatnya. Aku mulai menghitutung angka 15 juta dengan pendapatan mas Rosim dari sewa menyewa kamar per malam itu. Analisaku berjalan dan menyimpulkan kalo pendapatan mas Rosim adalah minimal 8 juta dalam sebulan.... wawww!! Fantastic...! uang sebanyak itu tidak mungkin dapat aku kumpulkan dalam jangka setahun dengan mengandalkan tabungan dari menyisihkan gaji bulananku..., aku tersadar, bahwa menjadi orang gajian itu membuatku kian lemah karena merasa ”aman” dengan adanya pendapatan tetap di akhir bulan. Jiwa enterpreneur ku kambuh, hati ini menggebu dengan tiba-tiba. Perasaan ini dapat dibuktikan dengan pertanyaan yang menjurus ke sisi bisnis kepada mas Rosim, mula-mula aku bertanya tentang fasilitas teknologi informasi dan aksesbility kegiatan penduduk sekitar pulau Tidung. Mas Rosim menjelaskan kalau sinyal cellular di tempat itu hanya operator ”si kuning” dan ”si merah” saja...(pantas saja hape ku jadi ”bego” setelah sampai di pulau ini..., selama ini aku memberi kepercayaan penuh dengan operator ”si Biru”, ternyata ”si biru” belum bisa menjangkau pulau ini yang notabene hanya beberapa mil saja dari ibukota Indonesiaku tercinta..., hmmm... kini aku tahu jeleknya ”si biru” yang selama ini telah bikin aku jatuh cinta dan sempat aku elu-elukan didepan teman teman ku...mungkin karena bintang iklannya yang menggoda dan sedikit "nakal" itu kali yaah...??).

Obrolan kami berlanjut dengan topik infrastruktur dan fasilitas yang ada di pulau Tidung, aku bertanya kepada mas Rosim, dimana aku bisa menarik uang cash via ATM, pertanyaan itu dibalas dengan senyum malu-malu campur sinis mas Rosim, ”disini nggak ada ATM mas, jangankan ATM, mini market pun nggak ada” jawabnya santai, pertanyaanku selanjutnya adalah tentang fasilitas listrik dan telepon. 

Untuk listrik, ternyata di pulau ini telah tersedia dengan baik, 24 jam non stop, jaringan PLN menggunakan kabel bawah laut nya mampu menjangkau pulau ini, anehnya, kenapa di pulau Pramuka yang notabene adalah ibukota kabupaten dan kota administratif kepulauan seribu koq malah tidak mendapatkan supply listrik yaah? pikirku dalam hati, dan langsung dijawab dengan pikiran antipati ku dengan PLN, hmmm.... mungkin ini hanya kebetulan saja pulau ini dilintasi oleh jaringan kabel bawah laut, artinya, ini hanya faktor ”hoki” saja, bukan karena murni program pemerintah untuk pemerataan pembangunan... begitu cepatnya pikiran antipatiku bekerja hanya dalam seper milidetik. Lagi-lagi aku ”membohongi” dan tega ”berselingkuh” dari obrolan ku dengan mas Rosim dengan pikiran liarku tadi. 

Kemudian aku bertanya mengenai peran instansi pemerintah selain PLN, yaitu PAM, pertanyaanku dimulai dengan fasilitas kamar mandi dengan kondisi air yang tawar yang mas Rosim sewakan semalam untuk kami, airnya PAM bukan mas?, tanyaku agak penasaran. Jawaban mas Rosim diluar dugaan, kali ini sisi religius dari seorang Rosim muncul... ”itulah kebesaran Allah mas.., saya juga heran dan takjub dengan fenomena ini, rumah saya hanya berjarak 30 meter dari bibir pantai, tapi air di tempat saya menjadi tawar, demikian juga air sumur di lingkungan pulau Tidung ini. Kecuali sumur sumur yang berada 10-20 meter dari bibir pantai, airnya masih kategori payau dan agak asin. Jika dibandingkan dengan pulau pramuka, pulau Tidung masih dianggap mempunyai keberkahan yang berlimpah dari Allah..”, demikian penjelasan mas Rosim yang membuat hati ini bergetar dibuatnya. Hati ku telah dibuat terlena dengan penjelasan mas Rosim barusan, tapi sifat manusiawi ku tergugah, fikiran ini kembali berkelana penuh tanya, KENAPA BISA TERJADI fenomena ini? Ada apa dibalik fenomena ini? ternyata otakku dengan sigapnya menyambungkan alam fikiranku dengan perasaan dan segenap rasa, cipta, dan karsa jiwa. Perasaan penasaran langsung membuncah untuk segera menjawab pertanyaan ala kaum ”yatafakkarun” ku tadi, hmmm... aku yakin jawaban itu akan ada seiring berjalannya waktu saat aku mengelilingi pulau ini dengan sepeda bersama 5 orang kawan baruku yang baru kenal tadi pagi di stasiun kota, demikian batinku yang kembali ”berselingkuh” dari obrolan bersama mas Rosim di siang bolong itu.

Tadinya aku mencoba bertanya dengan mas Rosim mengenai fenomena itu, tapi agaknya keterbatasan pengetahuan mas Rosim telah mengungkung sisi logika di otaknya, sehingga dia hanya bisa kembalikan kepada si ”Penguasa otak” untuk menjawab pertanyaan ku, aku pun memakluminya, dikarenakan sifat ke manusiaan yang aku miliki.
Etnis asli pulau Tidung (perpaduan suku Jawa, Sunda, Betawi, dan Badui)
Indonesia banget tucch..!

Tak terasa obrolanku dengan mas Rosim berakhir manakala si Rosi Wibawa mengingatkan ku mengenai jadwal bersepeda mengelilingi pulau Tidung yang sebentar lagi tiba, yaitu pkl. 14:00 wib, waktu sudah menunjukkan pkl. 12:45 wib, saatnya aku mandi, kemudian makan siang bersama dengan genk dadakan ala backpacker ku yang berjumlah 6 personil, untuk kemudian bersepeda ria yang disewa dari mas Rosim seharga Rp. 15.000,-/unit sepuasnya, dari budget itinerary kita yang Rp. 20.000,-. Lumayan lah, bisa saving cost lima ribu perak tiap personil, bisa buat nambah lauk makan enak deeh... he he he...

Bersepeda keliling pulau Tidung pun segera di mulai…. (Bersambung lagi...)
Ups..!!, btw, ceritanya koq jadi nggak nyambung dengan judulnya yaah...?
Pantesnya judul cerita ini adalah : Selingkuh” dan ”menipu” lawan bicara kali yaaah...? ya sudahlah, anggap saja ini sebagai muqoddimah cerita mengenai bersepeda mengelilingi pulau Tidung. He he he.... (sorry yaah, gue sudah berhasil menipu kalian dengan judul tulisanku ini..., terimakasih atas waktu yang diluangakn untuk sekedar membaca tulisan ini wkwkwkwk) Salam Backpacker.... (jadikan setiap langkahmu menjadi hidupmu lebih hidup)

1 komentar:

Tinggalkan jejak anda dengan mengisi komentar dibawah ini, supaya saya tahu anda pernah mampir ke sini, lain waktu saya yang akan berkunjung balik. Matur suwun....