28 April 2011

Backpackeran Ke Pulau Tidung - Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan

Perjalanan ke pulau ini dapat ditempuh dari berbagai pilihan dermaga penyeberangan, yaitu : Muara angke, Pantai Marina Ancol, Tanjung Pasir - Tangerang, atau dermaga kecil di Tangerang. Pilihan kami jatuh di Muara angke, selain familiar dan strategis, muara angke juga dapat dengan mudah diakses dari berbagai lokasi, setelah kami ber enam bertemu di stasiun kota (beos), kami menyewa Bajaj, dengan biaya Rp. 15.000,- untuk muat 3 orang, kami membayar Rp. 30.000,- / 6 orang.

Kami backpackeran ber enam, 3 cowok, Saya, Sarip, dan Rosi, serta tiga cewek yaitu Delima, Eza, dan Ani, kita bertemu di dunia maya, yang mempunyai keinginan yang sama yaitu backpackeran di loong weekend pada tanggal 23-24 April 2011. Perkenalan kami berlanjut di chating dan saling tukar nomor hand phone. Setelah sepakat mengenai itinerary dan budget yang kita susun dalam forum chating conference di yahoo massanger, kita pun sepakat bertemu di stasiun kota pkl. 06:00 wib di hari sabtu, karena menurut jadwal, keberangkatan kapal menuju pulau itu dari Muara Angke hanya pkl. 07:00 wib dan satu kapal saja. Setelah bertemu dan berkenalan di stasiun kota, kami pun langsung meluncur menuju muara angke dengan menggunakan bajaj (sesuai dengan hasil diskusi kami melalui chating conference  di yahoo massanger).

Dermaga Muara Angke
Penyeberangan Ke Kepulauan Seribu
Setibanya di Muara Angke, kami mencari kapal penumpang menuju ke Pulau tidung, kebetulan waktu itu bertepatan dengan peak season liburan akhir pekan, sehingga lumayan susah juga mencari kapal menuju ke pulau tidung, beruntung kami mendapat kapal tujuan Pulau Pramuka yang diperbantukan untuk tujuan Pulau Tidung, sehubungan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung kesana, maka kami bergabung bersama penumpang yang lain, tepatnya kelompok backpacker lain yang kebetulan menuju ke pulau Tidung, mereka rata-rata anak anak muda dan mahasiswa yang berlibur dan melancong karena penasaran dengan keindahan pulau Tidung melalui berita di media, blog internet, milis dan diskusi di forum 
www.backpackerindonesia.com, dan bahkan paket promosi wisata yang tersedia di kursi pesawat tujuan Bali, seperti halnya kami. 
Suasana di atas kapal pun riuh penuh canda tawa, meski kami baru saja kenal, kami seperti sudah menjadi sahabat saja, tidak ada canggung dan risih, begitu juga dengan kelompok bakcpacker yang lain. Kebanyakan mereka menggunakan jasa travel agent, kita ber enam tidak menggunakan jasa tersebut, selain sudah over booked, biaya nya juga mahal, apalagi musim liburan seperti sekarang ini. Total biaya travel agent bisa mencapai 400 ribuan untuk paket menginap 2D1N (2 hari 1 malam) dengan personil seperti kami yang hanya ber enam saja.

Kapal bertuliskan Muara Angke – P. Pramuka pun siap berangkat menuju pulau impian kami, yaitu Pulau Tidung tepat pkl. 07:20 wib, sepanjang perjalanan kami ber narsis ria dengan kamera dan berfoto serta mengumbar kata-kata banyolan untuk memancing canda dan tawa ke semua orang yang ada di kapal itu, aura itu tercipta dengan sendirinya secara alami. Sebagian lagi ada yang berfoto menggunakan gadget pribadi seprerti handphone dan blakcberry untuk langsung dipampang di facebook dan situs jejaring sosial lainnya, saya sempat berfikir, seandainya semua penumpang kapal ini adalah teman di facebook saya, pasti dinding saya telah dipenuhi dengan status mereka yang sama, yaitu bertemakan Pulau Tidung, he he he he.... dan yang jelas ketenaran orang terkaya kedua di dunia si pembuat situs itu, Mark Zuckerberg semakin tenar saja neeh situs internet buatannya penuh dengan pengguna facebook rancangannya.....hmmm, sampai sejauh itukah fikiranku?? Aku menghentikan alam fikiran liarku yang berkeliaran nggak jelas, aku mencoba fokus dengan keadaan di sekitarku yang penuh dengan aura positif kebahagiaan penumpang kapal dan melupakan si Mark yang keturunan Yahudi itu.

Mengabadikan perjalanan di atas kapal menuju pulau Tidung

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 2.5 jam (maklum, namanya juga kapal penumpang kelas elit / ekonomi sulit, dan memang tema kita adalah backpacker dengan biaya yang minimalis). Sekitar 30 menit kapal melaju, hamparan pulau-pulau kecil terlihat di kiri dan kanan seakan menyadarkan saya kalau Indonesia itu memang unik dan kaya akan pulau serta laut, tidak salah jika semboyan ”Nenek Moyangku Seorang Pelaut” seolah hampir nyata merubah mind set ku selama ini, pemandangan ini pertama kali saya lihat dan begitu nyata, tapi tiba-tiba kami dikejutkan dengan melemahnya suara mesin diesel kapal, seperti naik sepeda motor yang mogok di jalan, waaah.., sempet bertanya dalam hati, jangan-jangan....??! hmmm, kejadian seperti berita di TV terngiang mengenai tenggelamnya kapal atau berita yang tidak kalah hot akhir akhir ini yaitu tentang pembajakan kapal di lautan somalia, makin ngeri saja perasaan ini dibuatnya, memang kekuatan media begitu terasa di negeri penuh demokrasi tercinta ini..., tapi perasaan itu hilang saat sekelompok rombongan cewek dengan cerewetnya bertanya kepada nahkoda kapal, ”ada apa pak? koq berhenti?”, kemudian si nahkoda kapal berkata : ”ada sampah yang nyangkut di baling-baling” gubraxx!!.... sontak pikiranku jadi confuse dan kontra persepsi dengan alam lamunanku, juga sedikit tenang bercampur heran, ketika melihat disamping kiri kanan dan sekeliling air laut penuh dengan sampah plastik dan sampah ber kelas B3 lainnya yang susah buat diurai ”Hmmm..., inikah Indonesia ku yang tadi sempat aku sanjung barusan?” batin ku berujar. Sampah di lautan sekitar kapal bertebaran beraneka warna layaknya ubur-ubur, batinku berkelana bersama alam fikiran dan dugaan negatif, sempat terbayang, mungkin di sekitar sini ada pulau yang dijadikan resort yang khusus dipakai untuk makan dan restoran, atau... penghuni pulau ini begitu jorok dan sembarangan membuang sampah dan menganggap kalau laut itu bisa mengurai sampah yang mereka buang, begitu bathin ku berujar dengan liarnya..., setelah salah satu awak kapal mengecek dan membuang ”sampah” yang nyangkut di baling-baling kapal, mesin kapal pun kembali bersuara, dan siap melaju menuju pulau impian. Yah..!, Pulau Tidung.

Setelah berjalan 2 jam lebih, pulau tujuan pun semakin tampak nyata, sebelah kiri tampak pulau payung, pulau beras, dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni lainnya. Semakin mendekat ke pulau Tidung,  semakin banyak pertanyaan di benak ini, seolah tak sabar ingin membandingkan suasana pulau Tidung dalam alam fikiran dan hayalan serta referensi yang saya baca, dengan kenyataan ketika sudah disana. ”akhirnya rasa penasaranku akan terjawab juga” benakku berkata. Tepat pkl. 10:36 kapalpun bersandar di dermaga pulau Tidung, dermaga kecil di pulau kecil di ujung selatan kepulauan seribu. Kami pun diminta ongkos perjalanan kapal oleh salah satu awak kapal, selembar uang dua puluhan ribuan, selembar uang sepuluh ribuan, selembar uang dua ribuan, dan selembar uang seribu rupiah saya serahkan ke awak kapal tadi, ya..., ongkos perjalanan kapal Muara Angke – Pulau Tidung adalah Rp. 33.000,-/orang saya pun merelakan uang saya berpindah tangan demi menikmati perjalanan perdana menggunakan kapal ke kepulauan seribu ini.
Dermaga Pulau Tidung

Sesampainya di dermaga pulau Tidung, satu persatu penumpang pun turun dan menginjakkan kaki di pulau yang terkenal berpenduduk ramah dan religius itu. Suasana ramai dan aura liburan sangat terasa ketika menginjakkan kaki di pulau yang kaya akan karang dan keindahan panorama lautnya. Di pintu gapura dermaga terpampang tulisan dengan papan berdominasi warna biru laut sebagai penyambutan tamu ”SELAMAT DATANG DI PULAU TIDUNG”, tepat di bawah gapura berdiri seorang laki-laki dan seorang perempuan berdandan khas abang none betawi dengan sikap ramah dan friendly menyambut kami, diiringi dengan musik dan tarian khas betawi di aula balai Desa yang berada tepat di depan dermaga, diiringi pula dengan suara pembawa acara yang menyambut kami dengan bahasa khas pariwisata, kami pun melangkah mendekati sumber suara, sebelum sampai mendekat ke aula balai Desa, kami tak lupa untuk ber narsis ria berfoto dengan background abang none yang berdiri di depan gapura tadi. Jepret...!, jepret..! acara foto-foto perdana di depan gapura dermaga itupun selesai. 

 Aku, Ani, Eza, Delima, dan Sarip
Belajar narziess...
 Langkah kaki ini seakan dituntun menuju tenda kecil berwarna putih di sebelah kiri dan kanan pintu keluar dermaga mini itu, disana sudah tersedia minuman dingin bercampur sirup dan kelapa berjejer diatas meja. Hati ini berkata, waah beginikah rasanya menjadi tamu pariwisata? kami dipersilahan mencicipi minuman itu oleh penjaga tenda dengan senyuman ramahnya, satu-persatu dari kamipun mengambil minuman dingin dalam gelas itu tanpa rasa malu dan risih, mungkin karena faktor terpaksa juga setelah dua jam lebih berada di laut lepas, lagian si penjaga tenda juga seolah mempersilahkan kami untuk mencicipi minuman itu dengan senyum  dan gaya tangan menunjuk ke minuman yang berjejer diatas meja itu... (he he, sedikit membela diri), hajar beeeh!, bisikku kepada sarip di dekat telinga kanan nya, Sarip adalah teman kelompokku yang kebetulan berada didepanku yang sedang mengantri mengambil minuman dingin itu, sarip pun seolah mengerti akan maksud ku, dan dibalas dengan senyum malu-malu tapi mau, satu persatu kami menyambar minuman itu daaan.... glek! glek! glek...!, minuman itu membasahi kerongkongan kami yang dari tadi kering kepanasan dan kebanyakan cekikikan bercanda di atas kapal selama perjalanan dari Muara Angke.

 
Pantai Pulau Tidung Besar

Sambil memegang minuman dingin dengan gelas plastik, kami pun berkerumun untuk menyusun rencana selama berada di pulau Tidung sambil menikmati minuman dan sesekali mendengarkan acara penyambutan tamu, dimana sang MC berkata ”Selamat Datang di Pulau Tidung, salah satu pulau pariwisata di sebelah selatan kepulauan seribu, pulau pariwisata dengan berpenduduk ramah dan religius” begitu kira-kira kata sambutan sang MC yang masih terngiang hingga kini. Tak lama kami berdiskusi sambil berdiri memegang gelas minuman dingin ”gratis” layak nya pesta kebun, tiba-tiba datang seorang laki-laki separuh baya menghampiri salah satu diantara kami dan membisikkan sesuatu, dia membisikkan ke si Sarip dan Rosi, mungkin dua orang itu gerak geriknya sudah dibaca oleh si lelaki itu bahwa mereka membutuhkan tempat bermalam, tak lama kemudian lelaki itu bergabung dengan diskusi kami dengan memperkelalkan diri, namanya pak Rosim, karena usianya masih beberapa tahun diatas saya dan tidak terlalu tua, saya pun memanggilnya mas Rosim, agar lebih akrab, pikirku saat itu. Mas Rosim ternyata menawarkan kediamannya untuk kami tempati sebagai tempat menginap. Sudah menjadi wajar dna lumrah di pulau itu bahwa penginapan disana bukanlah hotel, villa, ataupun motel, disana terkenal dengan home stay (rumah huni), yaitu rumah penduduk yang dijadikan tempat penginapan untuk para wisatawan, persis seperti referensi dari beberapa artikel di internet yang saya baca sebelum ke pulau Tidung. Konsep ini sangat unik, karena bisa mendekatkan wisatawan dengan penduduk lokal, sehingga sisi emosional dan keakraban akan tercipta dengan sendirinya, itulah salah satu keunikan peradaban penduduk pulau Tidung.

Setelah bertatap pandang penuh isyarat antara kami ber enam, kami pun bersepakat untuk melihat dulu tempat yang ditawarkan oleh mas Rosim, kamipun beranjak dari tempat kami berkumpul, tak sadar gelas plastik yang kami pegang sudah kering tak ber sisa, hanya gelas kosong saja yang kami pegang, sementara isinya telah habis dilahap bersamaan dengan obrolan kami dengan mas Rosim, sambil melihat gelas bekas minum di tangan, pikiranku terngiang ke suasana pada saat kapal berhenti di tengah laut, disamping kanan dan kiri banyak sekali sampah berserakan mengotori air laut dna menghambat perjalanan kami dan mungkin kapal-kapal yang lain yang melewati rute itu. Saya pun berfikir, andaikan gelas yang saya pegang saya buang begitu saja atau dilempar ke laut dekat dermaga, dan aksi saya diikuti oleh ratusan wisatawan di situ, bisa terbayang betapa banyaknya sampah di laut, menambah jumlah sampah yang tadi kami saksikan, sehingga menimbulkan kesan jorok dan kotornya lautan kepulauan seribu, sambil berjalan saya pun melirik tempat kiri kanan barangkali ada tempat penampungan sampah sementara untuk menampung sampah bekas minuman yang masih berada di tangan kanan ini. Akhirnya ketemu juga tempat penampungan sampah berbentuk kantong (karung plastik) yang di ikatkan di sebuah pohon, tanpa ba bi bu saya masukkan sampah bekas minum tadi, kemudian diikuti oleh 5 teman ku yang lainnya. 

 Aku dan Sarip mejeng bersama abang none pulau Tidung

Dari awal membuat itinerary trip ke pulau Tidung, kami sudah berkomitmen bahwa masing-masing peserta dilarang membuang sampah sembarangan di pulau Tidung, rupanya tulisanku di itinerary itu diingat benar dengan kuat oleh teman-teman backpacker ku (Sarip, Rosi, Delima, Ani, dan Eza), aku merasa bangga dengan teman jalan seperti mereka. Namun tak disangka alam fikiran dan sifat kritisku berjalan dengan sendirinya, timbul pertanyaan dalam hati, ”rasanya miris melihat bentuk tempat sampah di pulau Tidung yang HANYA menggunakan sebuah karung plastik, padahal ini adalah tempat pariwisata yang dikunjungi oleh sekitar 15.000 wisatawan lokal dan lebih dari 1.000 wisatawan mancanegara pada tahun 2010,  hmmm.... sangat memilukan untuk ukuran sebuah tempat pariwisata yang berada di sekitar Ibukota Indonesia tercinta ini, mudah-mudahan departemen pariwisata dan dinas Tata Lingkungan responsif terhadap  hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian masyarakat Indonesia ini”, bisikku dalam hati.

Pantai Pulau Tidung Kecil (pasir pantainya mirip pantai Kuta Bali)

Hanya berjarak kurang lebih 30 meter dari dermaga, kami pun tiba di tempat kediaman yang mas Rosim tawarkan, disana ada dua kamar yang kosong berukuran 3x3 dan siap dihuni oleh kami ber enam, lengkap dengan fasilitas TV, kasur+bantal, kamar mandi, tempat sampah mini, kipas angin, exos, dan tempat jemuran kecil untuk handuk dan pakaian.  Sementara satu kamar lagi berada di lantai atas bangunan milik mas Rosim dengan tambahan fasilitas pendingin ruangan (AC), kebetulan kamar atas sedang diisi oleh tamu.

Harga yang ditawarkan oleh mas Rosi sangat jauh dari budget kami yang hanya seorang backpacker biasa yang haus akan petualangan, yaitu Rp. 350.000,- per kamar. Kami pun berdiskusi, saya memberi isyarat kepada Rosi untuk menawar, karena dilihat dari pengalamannya seorang backpacker mancanegara, dia sangat pandai mengatur budget agar tidak melenceng dari yang dianggarkan. Rosi mengeluarkan jurus jitu yang pertama, mencari kekurangan dari fasilitas kamar dan menyampaikannya dengan santun kepada pemilik rumah alias mas Rosim, hmmm... agaknya jurus pertama ini bisa dijawab oleh mas Rosim dengan indah layaknya joki villa di daerah puncak. Jurus kedua pun dikeluarkan, kami merayu mas Rosim untuk menjual paket dengan sewa alat snorkling dan sewa sepeda, seperti agenda acara kami ke Pulau Tidung, yaitu untuk bersepeda mengelilingi pulau dan snorkling di sekitar pulau. Ternyata jurus ini lumayan ampuh, mas Rosim berfikir sejenak, dan bisa menurunkan harga kamar menjadi Rp. 450.000,- untuk dua kamar, dengan syarat sewa sepeda dengan dia seharga Rp. 15.000/unit, dan sewa peralatan snorkling lengkap Rp. 35.000,-/orang. Hmm...,  kini giliranku dan teman-teman lainnya mencoba menawar, kami jelaskan bahwa budget penginapan kami berenam adalah Rp. 350.000,-, dengan nada merayu dan membandingkan dengan tempat penginapan di internet dan media referensi lain tentang pulau Tidung, akhirnya mas Rosi terbuai dengan rayuan kami, dan setuju dengan harga Rp.350.000,- untuk dua kamar.
Berhasilll..., kamipun langsung membagi diri menjadi dua kelompok. Kelompok cewek menepati kamar sebelah kiri dan kelompok cowok menempati kamar sebelah kanan. Lalu masing masing personil menempatkan diri sesuai dengan ”jatah” kamarnya masing-masing. 

Kami bertiga melepaskan tas ransel (backpack) yang dari tadi membebani punggung  kami, dan duduk serta rebahan sejenak di atas kasur empuk milik mas Rosim, sambil menikmati sisa bekal makanan yang aku bawa dari rumah, yaitu coklat. Lumayan buat menghangatkan suasana dan mengakrabkan kami yang baru pertama bertemu dan berkenalan tadi pagi di stasiun kota. Obrolan kami pun berjalan lancar sambil sesekali ngebanyol layaknya maen opera van java.

Tak lama kemudian kami sepakat untuk berkumpul membicarakan biaya selama kami di pulau Tidung, saya pun memanggil team cewek untuk gabung di kamar cowok, mereka pun bergabung... setelah suasana agak santai, saya pun mulai membuka pembicaraan, kita kumpulkan uang dari masing-masing menjadi satu sesuai dengan budget personil yang sudah diinfokan via email kemarin, yaitu masing-masing Rp. 250.000,-/orang, setelah semuanya terkumpul uang itu menjadi Rp. 1.500.000,- saya tunjuk Eza untuk menjadi juru bendahara kelompok kami. Segala pengeluaran kami diurus oleh Eza, baik itu makan, bayar penginapan, sewa sepeda, sewa kapal, sewa alat snorkling dan tetek bengeknya akan dicover oleh uang tersebut. Agaknya masing-masing personil faham dan setuju dengan konsep yang saya tawarkan, sehingga rasa kekeluargaan dan persahabatan kami akan semakin akrab dengan sistem seperti itu.

Setelah disepakati, Eza segera membagi anggaran sesuai dengan kesepakatan, agaknya dia lihai mengatur keuangan, ditambah dengan masukan dan nasehat dari si Rosi yang berpengalaman mengatur pengeluaran selama backpackeran ke mancanegara seperti ke pucket thailand, kuala Lumpur,  Orchid Singapore, dan berbagai tempat di Indonesia.
Setelah semua urusan keuangan dan pembayaran sewa home stay selesai, kami pun menyusun rencana kegiatan nanti sore, yaitu bersepeda mengelilingi pulau Tidung, dijadwalkan Pkl. 14:00 wib, sehabis mandi dan makan siang. Waah... tambah seru saja nih kayaknya...
Backpackeran dengan tema "Explore Peradaban Pulau Tidung" segera dimulai...

Bersambung.....
Posting Komentar