30 Desember 2011

Do'a Bersama Akhir Tahun Untuk Menjalin Kekuatan Bisnis 2012


Momen tahun baru adalah salah satu momen yang tepat bagi kebanyakan orang untuk ber "muhasabah" atau merefleksi diri dan menyusun rencana ditahun mendatang. beragam resolusi dicanangkan oleh semua orang di seluruh penjuru dunia dengan harapan dan pencapaian yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tidak hanya mencanangkan resolusi personal, namun dalam skala yang lebih besar seperti komunitas dan instansi juga memanfaatkan momen tahun baru sebagai ajang mengkoreksi diri atas pencapaian pada tahun lalu, dan mempunyai harapan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Doa' Barsama (Foto : Wahyu Hartoko)
Fenomena akhir tahun tidak harus di rayakan dengan pesta kembang api dan hura-hura serta larut dalam meriahnya pesta,  sehingga melupakan esensi dari momen pergantian tahun. Seperti halnya acara yang diadakan oleh karyawan PT. Cardig Logistics Indonesia bekerja sama dengan PT. XL Axiata hari ini (30/12/2011), diwujudkan dengan mengadakan acara makan siang dan berdo'a bersama yang dihadiri oleh karyawan kedua perusahaan.


 (Photo by : Wahyu Hartoko)

Kerjasama dalam bidang supply chain logistitics kedua perusahaan tersebut telah memasuki tahun pertama dengan pencapaian yang signifikan. Divisi Logistics PT. XL Axiata telah mempercayakan penanganan supply chain dan distribusi logistics nya di seluruh Indonesia kepada PT. Cardig Logistics Indonesia, yang menjadikan kawasan pergudangan Halim Perdana Kusuma sebagai pusat Distribution Centre, dengan didukung oleh Region Distribution area Surabaya dan Medan.

(Foto : Wahyu Hartoko)
Menyatukan dua budaya kerja dalam satu area aktifitas kerja memang sangatlah sulit untuk dijalankan, namun kedua perusahaan telah mampu menepis anggapan itu. Melalui acara gathering dan makan serta do'a bersama, diharapkan keduanya mampu melewati tahun kedua dengan hasil yang maksimal, lebih baik dari tahun lalu. Acara dihadiri oleh Bp. Yuniar selaku Manager Logistics PT. XL Axiata dan Bp. Mahendra Rianto selaku Deputi Direktur Sales & Marketing PT. Cardig Logistics Indonesia, beserta para staff karyawan kedua instansi tersebut.

Melalui do'a bersama dan gathering di hari terakhir bekerja di tahun 2011, diharapkan mampu menjalin kekuatan bisnis keduanya di tahun 2012. Dengan semangat kebersamaan dan team work, kita songsong tahun baru 2012 dengan pencapaian dan hasil kerja yang positif.

"Selamat Tinggal Tahun 2011 
Dan Selamat Datang Tahun 2012"

 
 Koleksi Foto : Wahyu Hartoko

27 Desember 2011

Resolusi Juara Di Gerbang Era Digital Tahun 2012

"Setiap hal yang terlintas sekecil apapun dalam fikiran kita adalah sebuah do'a yang akan membentuk energi disekeliling kita kemudian terjewantahkan dalam kehidupan nyata"

Begitulah kira-kira status pemilik akun "Ki Demang" di sebuah situs jejaring sosial Facebook
Kalimat itu sungguh menyentuh rongga hatiku, lantaran aku membacanya tepat di akhir tahun 2011. Pikiranku seketika berkelana dan tiba-tiba menjelma menjadi mesin "scanner" canggih yang bekerja menangkap potret kehidupanku duabelas bulan kebelakang. Satu demi satu lembaran raport kehidupan ter scann dengan detail seolah menujukkan dan setengah mendikte kepadaku. Segenap pencapaian dua belas bulan kebelakang hingga penghujung tahun ini tersaji didepanku seolah berbicara dan mempresentasikan atas semua hasil yang telah kucapai di tahun 2011 ini. 

Kucoba membandingkannya dengan catatan atas semua resolusi ku yang tertulis dalam buku diary ku tertanggal 30 Desember 2010 berjudul "Rencana Besar Kehidupan Di Tahun Kelinci Emas". 

Satu demi satu ku cocokkan dengan "file scanning" hasil kerja otakku barusan. Ku centang setiap kali kutemukan kesamaan antara catatan diary dengan "file scanning" menggunakan pena hijau kesukaanku, sedangkan pena merah kubuat menyilang jika daftar list tidak sesuai dan bahkan gagal terlaksana. 
Hampir seluruh "virtual list" gambaran yang dipamerkan oleh alam fikiranku tercentang dibuku harianku. Ku picingkan mata dan sedikit ku betulkan posisi kacamata silinderku, lalu ku amati satu demi satu contrenganku. Kadang raut ku tersenyum melihatnya, dan  tak jarang ekspresiku berubah drastis menjadi sangat serius. Ada satu dan dua tinta merah masih menyelinap diantara centangan berwarna hijau. Di tahun 2011 sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihakku, dua rencana besar tak terlaksana di tahun kelinci emas, berbeda jauh dengan prediksi penanggalan china yang terpampang di dinding rumahku yang mengatakan bahwa tahun kelinci emas adalah tahun keberuntungan bagi shio anjing sepertiku.  

Foto : Hoed@ / Pantai Tulamben-Karangasem-Bali

Rencana pertamaku adalah memiliki dan mengelola warung internet (warnet) di tanah kelahiranku (kampung halaman). Sebenarnya rencana itu sudah aku canangkan 5 tahun silam, dimana saat itu sepanjang kota Tegal hanya kutemui 3 tempat saja warnet yang sudah ada, itupun tarifnya selangit. Namun hingga sekarang warnet sudah menjamur disana, keinginanku itu belum juga terwujud.
 

Meskipun tak kunjung terwujud, aku selalu memasukkan rencana itu sebagai resolusi ku menjelang akhir tahun untuk diwujudkan di tahun berikutnya bersama dengan daftar resolusi lainnya. Seperti pada tahun tahun sebelumnya, di tahun 2012 nanti, kedua keinginan itu akan aku masukkan ke dalam resolusiku, hanya saja lebih detail, aku akan tuliskan juga sasaran tempat dimana warnet akan didirikan.

Sesuai dengan misi awal, aku menghendaki warnet ku nanti akan didirikan di desa-desa terpencil yang belum tersentuh oleh teknologi, dengan harapan seluruh penduduk desa terpencil dapat menikmati dan melek teknologi internet, sehingga percepatan pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah akan segera terwujud khususnya di daerah kelahiranku, Kabupaten Tegal.

Selain soal Warung internet, satu contrengan tinta merah begitu terlihat jelas pada tulisan "Memiliki warteg dengan fasilitas Wireless Fidelity (Wi Fi)". 
Seperti halnya mendirikan warnet, warteg dengan fasilitas Wi-Fi juga sudah beberapa tahun direncanakan, Namun hingga kini belum juga terlaksana. 
Oleh karenanya di tahun 2012 nanti, kedua rencana itu akan tetap aku masukkan  ke dalam daftar resolusiku. Harapan terbesarku adalah seluruh warteg menyediakan Wi-Fi, seperti layaknya restoran dan cafe di mall. Biarpun dikenal dengan warung makan kelas elit (ekonomi sulit), tapi aku berharap warteg tetap melek teknologi.

Foto : Banner/store.telkomspeedy.com

Selain dua resolusi diatas, beberapa resolusi siap menjadi lampiran dekrit untuk aku umumkan kepada seluruh bagian tubuh ku untuk bersama mewujudkannya. Resolusi tersebut antara lain :
1. Menabung wajib minimal 30 % dari total penghasilan (mau nggak mau KUDU)
2.
Bebas hutang dan bebas dari KARTU KREDIT (yang ini sedikit buka aib :D )
3. Menghidupi orang tua dan adik kuliah serta memenuhi segala kebutuhan mereka (yang ini agak klasik siih....)
4. Memiliki usaha sendiri untuk mewujudkan mimpi menjadi enterpreneur (dicari, investor untuk konsep warteg dengan fasilitas Wi-Fi *promossii......)


Semoga dengan aku menuliskannya, tidak membuat aku menjadi pecundang jika resolusiku di tahun 2012 tidak terealisasi.  Bahkan sebaliknya mampu membuatku semakin termotivasi untuk mewujudkannya dengan mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang ku miliki.

"Tuhan tidak akan merubah suatu kaum, sebelum kaum itu merubah apa yang ada pada dirinya",  demikian ungkapan orang tua dan guru di kampung halaman sebagai motivasi untuk mewujudkan segala cita-cita dan harapan masa depan.

Selamat tahun baru 2012, selamat berkompetisi dengan sehat, dan jadilah pemenang untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

24 November 2011

Paradigma Tentang HIV/AIDS


Hoed@ -DKI Jakarta.

Pertama kali aku mendengar penyakit ini saat aku masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara Sekolah Dasar), usiaku saat itu baru menginjak belasan tahun. Tersiar kabar bahwa telah ada suatu penyakit baru yang mematikan dan tidak ada obatnya, bernama AIDS. Penyakit ini dibawa oleh virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Seseorang yang sudah terjangkit virus HIV, kekebalan tubuh (imun) nya akan melemah, sehingga akan sangat rentan tehadap penyakit apa saja yang menyerang.

Yang aku tahu dan menurut cerita warga di kampungku saat itu, penyakit AIDS hanya menyerang kepada orang-orang yang suka berganti pasangan dan melakukan hubungan intim sembarangan, seperti para pelacur dan lelaki hidung belang. Penyakit ini mudah menular dan sangat berbahaya, bahkan melalui sentuhan dan kontak badan pun penyaklit ini akan menular, begitu berita yang beredar. Aku pun hanya bisa menjadi pendengar karena pikiranku tak mampu menjangkau di usiaku yang masih belasan tahun dan dianggap bau kencur jika akan berkomentar tentang hal ini. Yang ku tahu penyakit itu adalah penyakit nista yang diturunkan Tuhan untuk orang-orang dengan perilaku nista pula. Demikian para ustadz dan tokoh masyarakat di kampungku menyampaikan tentang penyakit AIDS kepada masyarakat, baik melalui pengajian-pengajian ataupun perkumpulan dan organisasi masyarakat.
Paradigma dan stigma negatif pun muncul dan mengakar dengan kuatnya di kalangan masyarakat awam. Tak jarang orang yang terkena AIDS keberadaannya  akan dikucilkan oleh masyarakat karena dinilai mempunyai prilaku sex seperti binatang. Suasana di kampungku memang sangat kental dengan kegiatan bernuansa religi, sehingga adanya berita mengenai penyakit AIDS mampu membuat persepsi negatif yang mengakar begitu kuat.

Paradigma yang muncul dimasyarakat sungguh tidak memihak kepada penderita penyakit AIDS di kota kelahiranku. Para penderita dan pengidap HIV akan menutup rapat dan enggan bercerita kepada siapapun, bahkan kepada sanak saudara sekalipun mengenai penyakit yang di deritanya. Mereka takut akan mendapatkan perlakuan dan sanksi sosial, yaitu dikucilkan dan dianggap sampah oleh masyarakat tempat tinggalnya.

Pemahaman ini terus berkembang di masyarakat hingga usiaku menginjak dewasa. Minimnya informasi dan kurangnya pengetahuan masyarakat membuat si penderita HIV seakan termarginalkan dan makin tersisihkan. Hak-hak mereka terkoyak oleh pemahaman dan stigma negatif. Masa depan mereka sebagai makhluk sosial terisolir oleh keadaan dan lingkungan. Mereka merasa menjadi mayat hidup dan hanya bisa pasrah menunggu kematian yang cepat atau lambat akan datang seiring dengan melemahnya kekebalan tubuh terhadap virus yang masuk ke tubuhnya.

Sekian lama aku melupakan stigma negatif di masyarakat tempatku tumbuh dewasa. Setelah lulusan sekolah kejuruan, aku disibukkan dengan pekerjaan yang menuntutku untuk berkelana dan merantau di beberapa kota besar seperti Jakarta, Denpasar, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Berpindah pindah pekerjaan membuatku makin banyak teman dari berbagai kalangan dan karakter. Banyak bergaul dan supel membuat pola pikirku semakin kritis dan demokratis serta penuh dengan keterbukaan. Hidup berpindah-pindah sudah menjadi kebiasaan. Berpindah dari tempat kost yang satu ke tempat kost yang lain, dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Pernah suatu ketika aku mendapat teman kost dan satu kamar dengan seseorang yang mengidap penyakit spilis karena hobinya yang suka ”jajan sembarangan”, sebut saja namanya Rifki. Sikapku yang luwes dan menerima Rifki dengan kondisinya membuat dia terbuka dan menceritakan ”petualangannya” hingga dia menderita spilis. Tak jarang dia bercerita tentang penyakit kelamin lainnya, termasuk tentang penyakit AIDS. Paradigma dan doktirin masyarakat di kampungku pun berangsur luntur seiring dengan seringnya aku dan Rifki berdiskusi mengenai penyakit AIDS. Keterbukaanku terhadapnya mampu mensupport dia ke arah yang lebih baik bagi masa depannya. Rifki mulai menata kehidupannya dengan berkuliah sambil bekerja. Hingga saat ini dia sudah lulus Diploma dan bekerja di luar kota dengan kehidupan yang lebih tertata, dia masih menganggapku sebagai seorang sahabat.

Pengalamanku pernah hidup bersama satu kamar kost dengan Rifki (walaupun hanya beberapa bulan saja), telah mampu merubah paradigma ku mengenai penyakit AIDS. Pemahaman tentang AIDS dan rasa empati terhadap penderita AIDS semakin bertambah setelah menonton acara live di sebuah stasiun televisi ternama milik Surya Paloh di daerah kedoya – Jakarta Barat. Saat itu tema acaranya adalah ”kesempatan kedua”, dimana bintang tamunya adalah orang-orang yang mengalami over dosis obat-obat berbahaya dan terjebak dalam dunia narkoba serta mengidap virus HIV. Mereka dengan gigihnya memperjuangakn sisa hidupnya melawan penyakit ini.

Melihat semangat mereka membuat rasa empati ini semakin menjadi.  Apalagi setelah bintang tamu dari Bandung bernama Drajat Ginanjar atau akrab disapa Ginan tampil untuk di wawancarai. Ginan adalah seorang pemuda berusia 22 tahun pengidap HIV dari usia SMP. Virus itu menggerogotinya melalui jarum suntik yang dipakainya pada saat mengkonsumsi narkoba bersama teman-temannya.
Terkena virus HIV tidak membuat Ginan patah arang dalam menyongsong masa depannya, meski keluarga (ayah dan ibunya) mengusir dia dari rumah. Sebagai pelampiasan atas perlakuan masyarakat terhadapnya, dia mendirikan ”Rumah Cemara”, sebuah yayasan yang menampung anak jalanan dan orang-orang mantan pengguna narkoba, dimana 60% penghuninya adalah pengidap HIV, sebuah virus penyakit AIDS yang menurut pemahamanku sat kecil adalah penyakit nista itu.
Ginan (Tengah), saya (kanan) dan sobat Dblogger Jay (kiri)
berpose setelah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta.

Ginan dan teman-temannya banyak belajar dan mengenal AIDS, kegiatan mereka adalah memberikan pengertian dan sosialisasi tentang penyakit ini. Misi mereka adalah merubah stigma negatif tentang penyakit AIDS di masyarakat. Selain itu, Ginan dan komunitasnya mempunyai kegiatan dan prestasi yang patut dibanggakan. Mereka mendirikan club sepak bola yang beranggotakan pengidap virus mematikan HIV. Mereka mampu menuai prestasi dalam klub sepak bola itu, tak tanggung-tanggung, klub sepak bola itu mampu menjadi juara di ajang kompetisi sepak bola internasional Homeless World Cup 2011 di Paris, Prancis beberapa bulan lalu. Dan Ginan adalah salah satu pemain vaforit versi ajang tersebut. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang pengidap virus HIV. Semangat mereka melawan penyakit ”nista” membuatku semakin bersemangat untuk membantu mewujudkan misi mereka sebatas yang aku bisa.

Oooh... andaikan kesempatan itu ada.....
Dahulu Aku Awam, Makanya Aku Diam
Sekarang Ku Faham, Ku Tak
Akan Tinggal Diam








17 Oktober 2011

New Honda Mega Pro Lover (MELO Community)


Liburan akhir pekan kali ini aku hanya dirumah saja semenjak pagi hingga menjelang sore. Maklum kondisi badan yang sedang dropp memaksaku untuk berdiam diri dirumah sambil sesekali minum syrup penghalau demam dan batuk pilek. Demam ini menghilang manakala sore menjelang.
Layaknya orang habis sakit, tubuh ini ngidam ingin jalan-jalan sore dengan sepeda motor kesayanganku, Honda New Mega Pro. Akupun menuruti hawa yang aneh ini. Tujuanku adalah keliling komplek perumahan Metland Ujung Menteng dan menuju komplek perkotaan Harapan Indah. Suasana sore itu sangat ramai oleh masyarakat yang sedang menghabiskan masa liburan sore dihari minggu. Nampak mereka sedang asik menikmati jajanan di sepanjang komplek perumahan Harapan Indah, sementara di seberang sana nampak kolam pemancingan yang sangat ramai pengunjung.

Tanpa komando, tangan ini membawa sepeda motor ke arah bundaran Harapan Indah. Sambil sesekali melihat kiri kanan ditengah keramaian, mataku tertuju pada serentetan kendaraan sepeda motor Mega Pro yang diparkir berjejer rapih. Tak jauh dari tempat itu nampak segerombol orang berjumlah sekitar 25 orang dengan pakaian khas komunitas sedang bercakap dan bersenda gurau. Nampak keakraban diantara mereka. Pikiranku mengatakan itu adalah komunitas HMPC (Honda Mega Pro Community) yang ku kenal di milis Yahoo beberapa bulan ini. Tapi kenapa mereka kopdar di Harapa Indah? bukannya di milis di sebutkan kalau jadwal mereka kopdar adalah di Islamic Centre Bekasi tiap sabtu malam?, pikirku penasaran. Akupun berusaha mengobati rasa penasaranku dengan mendekati mereka dan memarikirkan motor ku di antara serentetan motor mereka. Kedatanganku dengan mengendarai Honda Mega Pro disambut mereka dengan senyum  simpul penuh persahabatan, membuatku merasa tak canggung lagi untuk bergabung dengan mereka.
Sambutan hangat mereka membuatku tidak lagi merasa canggung bergabung dengan mereka
Barisan Motor New Mega Pro ini menggodaku untuk mendekati mereka
Aku menyodorkan tangan kanan ku untuk berkenalan dengan mereka. Ternyata mereka dari komunitas facebook Honda New Mega Pro Lovers yang sedang melakukan kopdar. Waaah..., komunitas ini ternyata sudah beranggotakan lebih dari 3000 orang tersebar diseluruh Indonesia. Akupun melakukan interview dengan beberapa orang dan berkenalan dengan sesepuh MELO bernama akrab Om Soer (MELO : MEgaPro LOver). Secara tak sengaja aku sudah menemukan tempat curhat tentang motor kesayanganku. Rasa habis sakit yang dari tadi mendera seolah hilang berganti dengan hangatnya persahabatan bertemu dengan keluarga besar Honda Mega Pro.
Kopdar New Mega Pro Community - Harapan Indah Bekasi

Mereka sengaja melakukan kopdar untuk membahas tema safety riding. Maklum, sebagian besar mereka masih awam dengan safety riding. Tak heran forum kopdar menghadirkan pentolah komunitas HMPC, mas Eko untuk menjadi moderator dan sekaligus narasumber. Kopdar kali ini dihadiri oleh personil MELO dari beberapa daerah, diantaranya dari Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Cikarang, Karawang, dan bahkan dari Cikampek.

Lesehan ala Biker di komunitas MELO
Kami lantas menuju tempat lesehan di kawasan Harapan Indah untuk membentuk forum diskusi. Mas Eko pun menjelaskan bagaimana itu safety riding dan bagaimana cara mengikuti workshop tentang safety riding. Kami sangat antusias mendengarkan penjelasan dari mas Eko. Pertemuan ini berakhir hingga pkl. 21:00 wib. Kesimpulan pertemuan komunitas MELO kali ini adalah, MELO akan mengadakan workshop Safety Riding selama dua hari yang akan diadakan pada pertengahan bulan November 2011 nanti. Workshop tersebut akan membahas dan mempraktikkan bagaimana etika berkendara. Setiap peserta yang lulus workshop nantinya akan diberi sertifikat dari Astra Honda Motor. Waaah.... menarik sekali yaah acara workshop nanti. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Semoga acara ini berjalan sukses seperti yang diharapkan oleh para peserta nantinya. Amiiin...

Salam Biker,

29 September 2011

Mengisi Liburan Pendek Di Kota Tua


Mau dirumah saja? Bete. Mau ngetrip luar kota? Nggak cukup waktu...
Ditengah kebingungan mengisi liburan di akhir pekan nanti, tiba-tiba smarthphoone ku bergetar, perlahan aku lihat, ternyata sebuah pesan singkat  BB dari seorang teman mengabarkan bahwa seorang sahabat dari Bandung akan berkunjung ke Jakarta, dan minta ditemani jalan ke monas dan komplek wisata kota tua di pesisir Jakarta. Berita itupun tersebar di forum group jejaring sosial tempat kami berkumpul dan berdiskusi jika akan merencanakan perjalanan luar kota. Sontak komentar dan sahutan mengisi forum diskusi yang biasa kami pakai. Ada beberapa sahabat backpacker yang dapat meluangkan waktunya untuk Dhea, si sahabat backpacker asal Bandung yang ingin keliling kota tua di hari minggu nanti.

Sepakat meeting point di stasiun kota, kami pun bertemu disana pkl. 10:00 wib. Sebanyak 7 orang termasuk si Dhea, kami berkumpul. Sambil menunggu sore hari untuk bersepeda ria, kami sepakat untuk keliling museum Fatahillah setelah sebelumnya menyantap makanan dan jajanan khas yang dijajakan oleh pedagang di sekitar komplek  museum dan kota tua. Senang rasanya bisa kopdar dan mengejewantahkan semua ekspresi dalam dunia nyata setelah sekian lama kita bergaul, bercakap, bersenda gurau hanya di dunia maya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah museum Fatahillah. Dengan hanya membayar tiket Rp. 2.000/org kami berkeliling komplek museum dan gambaran masa lampau mampu menembus alam ilusi kami begitu kami berada di komplek museum.

Tak terasa waktu sore yang dinantikan datang. Bersama itu pula, satu lagi sahabat backpacker datang. Lengkap 8 sahabat backpacker berkumpul, 4 cowok, dan 4 cewek. Kami bersiap keliling dan menikmati suguhan pemandangan kota tua dengan menggunakan sepeda onthel. Sewa sepeda Rp. 25.000 per 2 orang berboncengan, plus aksessories topi khas menir dan nyonya Belanda, ditambah dengan seorang guide yang siap menunjukkan eksotisme pemandangan kota tua yang bersejarah. Kami menuju 5 lokasi bersejarah yang menceritakan cikal bakal terbentuknya sebuah kota bernama Jayakarta atau dikenal didunia dengan nama Jakarta, yaitu : Pelabuhan Sunda Kelapa, Dermaga, Museum Bahari, Jembatan Merah, dan Toko Merah.
Berikut cerita bergambar nya :
Di pelataran museum Fatahillah
 Dek Kapal yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa
 Diatas Kapal - Pelabuhan Sunda Kelapa
 Toko Merah, 
Salah satu bangunan bersejarah dan saksi bisu pembantaian oleh tentara Jepang
 Ujung Kapal Pelabuhan Sunda Kelapa
 Bersepeda di area Pelabuhan Sunda Kelapa
 Jembatan Merah
Saksi bisu pembantaian massal warga Indonesia Tionghoa oleh tentara Jepang
Es Potong,
Jajanan khas area museum Fatahillah dan Kota Tua


Salam backpacker,

22 September 2011

Mengenal Baduy 4 – Cerita Aneh Seputar Baduy Dalam

Bangun pagi adalah kegiatan paling menyebalkan bagi gueh jika dirumah. Namun beda cerita saat gueh berada di kampung baduy Dalam. Gueh bangun pkl 02:30 pagi. Gueh penasaran, pengen tau kegiatan penduduk Baduy dikala pagi. Sedikit gue mengintip saat ibu mursid bangun saat ayam berkokok, yaitu pkl. 03:00 wib. Di kampung Baduy Dalam nggak ada cerita ayam berkokok diluar jam segituh, tidak seperti di kota, para ayam berkokok seenak perut. Kata orang tua jaman dulu, kalo ayam berkokok diluar jam 3 pagi (jam 8 -12 malam), berarti pertanda akan ada anak perawan yang hamil diluar nikah (pantes ajah ayam-ayam di kota pada berkokok di malam hari, soalnya di kota kan banyak anak perawan yang hamil diluar nikah... ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
”Pada saat gue bangun pagi dan menuju sungai untuk ambil air wudlu pkl. 04:15wib. Saat itu, Dwi dan Nuzul membawa batere, sedang gue ga bawa apa-apa. Saat mendekati sungai dengan jarak 20 meter terlihat di tengah sungai ada bara menyala. Kami kaget dan saling menegur, diawali dengan si Dwi, ”hei..., lihat! Apa’an itu...” ucap dia membuka omongan, si Nuzul menimpali dan gueh hanya diam (bukan sekali ini gueh ngeliat yang kayak gitu. Dikampung jika mati lampu sering gueh liat benda semacam itu, berbentuk bara seperti arang menyala tanpa api, terbang dengan ketinggian sebatas tinggi manusia, dan ini terjadi di kampung Baduy), gue hanya berucap, sudah cuekin ajah, mungkin itu orang Baduy sedang membawa obor, ucapku lirih kepada mereka. (padahal gue tau banget, orang Baduy Dalam sangat dilarang membawa api keluar rumah, itu sebabnya tungku untuk masak mereka pasang di dalam rumah, tidak seperti suku pedalaman lainnya yang doyan maen api unggun di luar rumah, demi menenangkan mereka, gueh santai ajah). Mereka berduaTiba di tepi sungai, gueh lekas ambil air wudlu dan meninggalkan mereka yang saat itu kebelet buang hajat. Si Dwi terlihat menjauh menuju posisi bara api barusan yang sudah menghilang, entah karena kebelet buang hajat atau cuek, dia tidak sadar posisinya sudah di bekas bara api yang menghilang, nyatanya disana tidak ada orang lain selain kita bertiga. Rasa curiga Dwi hilang terkikis oleh rasa kebelet buang hajat kali yah?? Pikirku dalam hati. Ya sudahlah, gueh tinggalin mereka dan gueh menuju rumah untuk siap-siap sholat subuh. Sehabis sholat gueh melupakan kejadian itu, dan sekarang gueh baru bisa cerita tentang kejadian itu.

Sehabis sholat subuh, hari pun mulai terang, para kurcaci mulai bangun dari tidur nya diiringi dengan perang kentut di pagi hari (haha ha... yang merasa kentutnya paling banyak ngacung!! #Colek si Pante’ dan Gusti). Cerita heboh antar kurcaci pun ramai dibicarakan,  sekedar tau ajah, para kurcaci pimpinan tante Esthi ini paling hobi ngerumpi ngomongin kebiasaan aneh, ada yang bilang si Magdalena tidurnya ngorok, si Pante kalo tidur kentut nya beruntun mirip bom atom hiroshima dan nagasaki, lha gueh sendiri lebih aneh..., kalo tidur sendirian koq pas bangun bisa berdua...?! (# berati bujang ting ting.. ha ha ha).
Sarapan pagi sudah dihidangkan oleh ibu Mursid dengan menu yang sama, yaitu Spagethi dan Steak ikan Salmon ala Baduy (bo’ong ding..!, menunya mie istant sama ikan asin goreng... he he he). Sementara gueh melahap hidangan makan pagi, di teras telah berkumpul beberapa orang Baduy Dalam menjajakan hasil kerajinan tangan mereka, antara lain, pernak-pernik gelang yang dijual satunya goceng (5 rb), kalung yang dijual ceban perbiji, gantungan kunci kalo bisa nawar dapet ceban tiga, cincin harganya cuman seceng (seribu), baju khas Baduy dihargai cepek goban (150 ribu), kain tenun baduy dijual goban (50 ribu), dan yang paling khas adalah madu hutan Baduy yang dijual oleh pa Mursid seharga 80.000/botol gede. Kamih pun menggelar pasar dadakan di teras rumah pa mursid. Para ibu-ibu jama’ah mamah dedeh,selain jago ngaji, mereka juga jago nawar dan bisa menjadi kaum hedonis dadakan.
Pasar dadakan berlangsung hanya beberapa jam saja karena dibubarkan oleh dua orang oknum satpol PP, yaitu pa Agus Bule dan tante Esthi yang teriak teriak mengingatkan para kurcaci agar berbenah untuk melanjutkan perjalanan menuju jembatan akar dan meninggalkan kegiatan shoping centre di kampung Cibe’o (untung ajah tuh satpol PP nggak nemu banci kaleng, kalo merekah nemu pasti ceritanya bakal seru karena musti kejar kejaran sampe ngejebur ke kali... ha ha ha....)

Setelah semua merasa siap, kamih pun berpamitan dan bergegas menuju jembatan akar. Satu persatu para kurcaci dadah-dadah dengan keluarga pa Mursid mirip acara halal bi halal keluarga besar ikan asin (ha ha ha... si Pante’ laku keras, ikan asin dan terasinya ludes diborong penduduk Baduy Dalam, untung banyak kali tuh si preman pasar dagangannya laris manis...). Sebelum meninggalkan tempat, seperti biasa tante Esthi memimpin do’a mau makan (halaah!! Makan lagi makan lagi...! ngaco’ melulu ceritanya, itu mimpin do’a mau melanjutkan perjalanan..., dasar dodol!!)
Perjalanan menuju jembatan akarpun di mulai dengan medan yang jauh lebih extreme, karena penuh tanjakan di tengah hutan, dan posisi tanah habis diguyur hujan gerimis semalam. Sebelum itu gueh sempat nyetok air buat bekal di perjalanan sama pa mursid, gueh isi penuh botol milik si Dwi, soalnya di perjalanan nanti gak bakalan ada penjual minuman. Kami menempuh perjalanan dengan rute yang berbeda.

Perjalanan beberapa kilometer kami langsung bertemu dengan jembatan bambu sebagai perbatasan Baduy Dalam dan Baduy Luar, disini jiwa artis para kurcaci kambuh, tangan gatel para fotografer mulai di aktifkan, paras artis mereka pasang di muka masing-masing, nggak sadar bahwa mereka dari kemarin belum mandi, tanpa bercermin dan tanpa bersolek, masing-masing menempatkan diri berperan tanpa skenario (memalukan!!,#ekpresi sinis tingkat propinsi sambil nyikut pake tangan kanan).
Setelah melewati naik turun bukit dengan pemandangan yang nyaris 100% hijau dan rindang,  akhirnya kamih pun tiba di jembatan akar. Disini kami mandi bersama di sungai besar dengan air jernih yang berada 15 meter dibawah jembatan akar, sedangkan empat anak Baduy Dalam bersama Pa Agus Bule dengan setia menunggu kami. Ooh... andaikan gueh jadi anak Baduy Dalam dan pa Agus Bule, pasti gadis-gadis gatot kaca yang lagi mandi itu gueh curi pakaiannya, biar merekah nggak bisa balik, trus diancam biar jadi istri, trus pakaiannya gueh umpetin dilumbung padi disana, dan gueh bisa kawin ala adat Baduy Dalam, gueh punya anak dan setelah puluhan tahun lumbung padinya kosong ketahuan deeh pakaian merekah gueh umpetin disitu. Daaan...., sudah tau dong cerita selanjutnya bagaimana...?? (kayaknya mirip cerita legenda jaka tarub yang mencuri pakaian bidadari yang mandi disungai deeh...., waah!! Ada unsur plagiat nih ceritanya...! parah!!).
Acara mandi-mandi berlangsung sekitar satu jam, biarpun mandi tanpa sabun dan kawan kawannya, tapi kami sangat puas (padahal posisi sudah di Baduy Luar, tapi kami masih menghormati Baduy Dalam, siapa tau sungai itu mengalir kesana). Kamih melanjutkan perjalanan  setelah berkemas dari jembatan akar. Sebelum bergegas gueh sempat mengamati bawa’an si Dani..., tas nya penuh dengan botol minuman kosong... waah rupanya ini rahasia si Dani bisa sampai ke Baduy Dalam...

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (1) :
SiDani ternyata orangnya cinta lingkungan dna sangat menghormati adat istiadat suku Baduy Dalam, diah tidak mau membuang sampah plastik di area Baduy, makanya dia kumpulkan sisa botol minuman untuk dibuang di terminal nantinya, niat baik itulah yang membuat suku baduy Dalam begitu menghormati kami, dan atas dorongan mereka lah si Dani berhasil menyabet rekor Agus Bule Award (selama 15 tahun bo!! Pa Agus Bule jadi guide, baru kali ini diah melihat peserta segede Dani bisa menggapai puncak Baduy Dalam!! ).
Selain itu, rahasia lainnya adalah, di tas si Dani penuh dengan coklat. Rupanya dia bekal coklat buanyak sehingga mampu menyimpan energi hingga tiba di Baduy Dalam.
Si Dani juga rajin teriak-teriak saat jalan turun naik bukit, jadi peredaran darah otak nya lancar dan rasa capek pun bisa dinetralisir.

Perjalanan ke terminal Ciboleger masih kira kira 5 km lagi... bagi kami yang sudah menempuh 14 km, jarak itu sangatlah mudah untuk di taklukkan.., apalagi disana ojeg sudah menjemput kami. Rasanya jarak 5 km kalo bisa diperpanjang lagi deeeh..., ketagihan pengen lama tinggal di Baduy Dalam... (sombong!! #pasang muka udang goreng). Tak berapa lama kamih jalan kaki, perumahan penduduk Baduy Luar pun kamih lewati dan titik akhir perjalanan pun akhirnya kamih gapai. Perjalanan ke Ciboleger pun dilanjutkan dengan naik ojeg meski jalan masih terjal dan naik turun. Terngiang cerita aneh yang diucapkan oleh pa Agus Bule saat kami melontarkan pertanyaan sambil jalan, ”kenapa warga Baduy Dalam tidak mau menerima tamu Warga Negara Asing?”  pa Agus Bule bercerita :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (2) :
               Dahulu pernah warga Baduy Dalam menerima WNA untuk berkunjung ke kampungnya, tapi mereka kebanyakan melanggar peraturan yang sudah di tetapkan, nggak boleh foto dan menggunakan zat kimia, tapi mereka melanggarnya. Suatu saat Bule asal Australia berkunjung bersama istri nya. Si bule membawa kamera dan foto-foto di kampung Baduy Dalam, si Bule berbohong kalo yang dibawa bukanlah kamera, tapi senter (padahal itu kamera + lampu sorot), selain itu dia melanggar amanat sang Pu’un agar tidak mandi di tempat tertentu,  tapi dia malah mandi di tempat itu dan menghilang begitu saja. Para pu’un pun berkumpul dan mencoba menerawang keberadaan si Bule yang pelesiran ke alam gaib. Seharian nggak ditemukan, akhirnya sang Pu’un berhasil menemukan si Bule dalam keadaan penuh luka.
Dan menurut cerita si Bule, dia dibawa oleh wanita cantik dan dibawa ke istana si wanita itu pada saat dia mandi, seolah dia menginap di istana, padahal di alam nyata, tempat itu adalah tebing curam bebatuan penuh dengan rimbunan pohon. Untung saja kamera si Bule ditinggal di semak-semak dipinggir sungai, jadi proses pelacakan nya pun sedikit mudah.

Selain itu, ada juga kisah kisah aneh lainnya :

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (3) :
Selain cerita Bule diatas, alkisah ada backpacker yang terdiri dari lima anak mahasiswa dari perguruan ternama di Jakarta yang berkunjung ke kampung Baduy Dalam, mereka meminta izin untuk mandi di sungai. Guide dan penduduk Baduy Dalam pun berpesan agar tidak mandi di tempat yang dilarang. Namun salah satu dari mereka melanggarnya. Apa yang terjadi?? Mahasiswa tersebut langsung menemui ajal di posisi dia mandi (ngeri juga yaah??). Ucapan sang Pu’un memang tidak sembarangan. (ck ck ck ck...).

Cerita aneh di Kampung Baduy Dalam (4) :
Cerita aneh ke empat ini gueh sendiri yang ngalamin, pada saat meninggalkan kampung Baduy Dalam, gueh sempet nyetok air minum di rumah pa Mursid, tempat kami menginap. Pada saat posisi masih di kampung Baduy Dalam, air yang gueh bawa begiru terasa segarnya di tenggorokan. Gueh pun rajin menenggak air pemberian pa mursid itu sambil jalan menyusuri hutan. Namun keganjilan muncul saat gueh melintasi jembatan bambu perbatasan Baduy Dalam dan Luar, seperti kebiasaan gueh,  gueh rajin neggak minuman dari pa mursid sambil jalan, anehnya rasa air itu sudah berubah tidka seperti yang gueh rasain pada saat posisi gueh di kampung Baduy Dalam (waaah... air yang aneh..., gumamku dalam hati yang tidka sempat gueh ceritain sama temen-temen rombongan tante Esthi).

Perjalanan berkahir di terminal Ciboleger. Kami makan siang bersama di rumah pa Agus Bule. Kemudian perjalanan melewati rute yang sama, yaitu via Elf bang Riva’i hingga ke stasiun Rangkasbitung. Kami berpisah di stasiun Tanah abang saat kami berhompimpa menirukan adegan opening unyil ucrit, dan usro kemarin pagi. Kenangan hudip bersama suku Baduy Dalam merasuk kedalam jiwa raga kami. Dan yang mengesankan lagi adalah, dua hari setelah kami berkunjung kesana, anak Baduy dalam (si Jali, Juli, Sapri dan seorang temannya) melakukan kunjungan balik ke Jakarta dengan berjalan kaki. Mereka menempuh perjalanan selama 4 hari hingga tiba di Jakarta dari hari Selasa dan tiba di Jakarta hari Sabtu. Hubungan kami dengan para Baduy Dalam pun semakin harmonis, mereka kami ajak jalan jalan keliling monas dna museum.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya..........

Next trip :
  1. Mulung di Pulau Tidung – Kepulauan seribu selatan
  2. Backpackeran ke gunung Krakatau

19 September 2011

Mengenal Baduy 3 – Menginap di Rumah Baduy Dalam



Tak sia-sia para kurcaci pimpinan Jama’ah tante Esthi menjelma menjadi Ninja Hatori. Seperti sya’ir lagunya, para kurcaci mendaki gunung dan lewati lembah, dan bahkan menyusuri hutan dimana syaeful Jami bergelantungan (maksudnya DUREN wkwkwk...). Akhirnya perjuangan kamih yang penuh dengan peluh dan keringat membuahkan hasil. Mungkin keringat kamih kalo dikumpulin bisa menghasilkan satu drum ukuran minyak pertamina (halah..!! hiperbolis mode ON). Keringat terbanyak dikumpulkan oleh Dani, disusul Magdalena, terus siTina, si Pante’, gueh dan sisanya adalah hasil sumbangan keringat para peserta yang lainnya (mereka adalah murid setianya vicky Burki, Venna Melinda dan Olive si bininya Popeye yang mengusung semboyan ”Jodoh, rezeki, dan maut itu ditangan Tuhan, sedangkan berat badan ditangan kita”. wakakakaak...).

Begitu kamih menginjakkan kaki di jembatan bambu ketiga, semangat para kurcaci semakin membahana. Dari kejauhan pak Agus bule ngasih aba-aba, ”ini adalah batas kalian tidak boleh berfoto, tidak boleh menggunakan zat kimia yang merusak alam.”, kamipun menyimpan segala peralatan gadget yang kami miliki, hanya senter dan lilin yang bisa dipergunakan untuk penerangan.
Setelah melewati jembatan, terdengar suara anak kecil Baduy Dalam diatas perbukitan 50 meter diatas kami yang teriak dengan nada teratur. Kamih menanyakannya ke pa Agus Bule, apa arti nyanyian itu. Ternyata anak-anak itu bermaksud menyambut kami (waaah... ramah sekali tu anak Baduy Dalam), kami menyambut dengan mengikuti teriakan berirama yang mereka lakukan ”haa aa aah... o yae yooo..., begtitu kamih membalasnya”. Akhirnya kamih bersahut sahutan. Rasa penat pun hilang dengan berteriak-teriak seperti itu. Posisi kamih bersahutan adalah medan ekstreme dengan tanjakan mencapai 50o sepanjang lebih dari 60 meter. Tiba diatas kamih rehat sejenak. Kami bernafas lega akhirnya betis betis mungil milik peserta bisa di istirahatkan.
Kurang lebih berjalan 500 meter, kami memasuki salah satu perkampungan Baduy Dalam, bernama kampung Cibe’o. Kampung ini adalah kampung terdekat Baduy Dalam, di balik bukit sana terlihat kampung Cikatawarna dan Cikeusik.
Memasuki kampung Cibe’o serasa memasuki ke zaman kerajaan dalam film-film silat zaman dulu (saur sepuh, misteri gunung merapi, dll.). Sungguh suasana yang tenang dan asri. Bangunan pertama yang kamih lewati adalah sekumpulan bangunan tempat penyimpanan padi (lumbung). Konon padi yang tersimpan di dalam lumbung bisa bertahan mencapai puluhan tahun, bahkan hingga mencapai seperempat abad. Rata-rata orang Baduy Dalam memiliki usia 80-100 tahun. Orang Baduy Dalam membuat lumbung terpisah dari rumah merekah, dan lumbung dibuat berkelompok dalam satu kawasan yang berjarak 50 meter dari perumahan.

Memasuki perkampungan kaum Baduy Dalam, kamih pun mengumbar senyum palsu kepada mereka (ketauan banget senyum itu palsu, soalnya semua pada menyembunyikan letihnya ha ha ha...). Nampak ibu-ibu dan anak-anak pada lesehan di beranda rumah merekah yang hanya berukuran 6x7 meter berbentuk panggung dengan tinggi panggung 1 meter dan beratapkan daun rumbia kering/ijuk. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu, lantai rumah terbuat dari kopyok (batang bambu yang di jembrengin membentuk lembaran), pintu rumah berbentuk mirip pagar bambu dengan anyaman kasar, jarak antar rumah sekitar 3 meter. Suasana di perkampungan sunyi tanpa bising kendaraan, tanpa polusi asap, tanpa terdengar alat alat elektronik, apalagi bunyi mesin printer dan telepon kantor yang bikin stress di telinga, enggak banget!!. Yang ada hanyalah musik alam berupa bunyi bunyian belalang hutan dan jangkrik, semuanya diam termasuk Melly Goelaw di album pertama, sedangkan haji Rhoma Irama ber Judi, dan Caca Handika menunjuk angka satu (perasa’an kitah nggak ngajakin merekah.., koq merekah jadi ada di cerita ini yaah?? Hmmm.. cerita yang aneeh..ck ck ck....)

Langkah kamih berhenti di depan rumah Pa Mursyid, oleh pa Agus Bule kamih di tampung di rumah keluarga pa Mursyid. Kamih pun mengumpulkan segala bekal berupa mie instant dan beras untuk diserahkan kepada keluarga pa Mursyid untuk kamih makan selama berada disana. Sementara si kuli pasar yang membawa seserahan, Pante, membuka barang bawa’an seserahan untuk dibagikan kepada masing-masing keluarga Baduy Dalam disana. Dari jarak 20 meter dari rumah pa Mursyid terdengar suara angklung membahana membentuk irama khas sunda. Ternyata disana ada kumpulan anak-anak Baduy Dalam yang sedang memainkan angklung dalam rangka menyambut kami. Waaah.... ramah sekali mereka... kita jadi ge’er sekaligus ngeri. Ini musik penyambutan atau musik upacara persembahan yah?? Jangan-jangan ini upacara persembahan untuk leluhur meraka dan kami adalah salahsatu persembahan merekaa?? Hmmm... andaikan itu musik upacara persembahan, pasti aku akan menunjuk yang berbadan gede dulu sebagai korban...cos dagingnya pasti buanyaaak dan merekah bisa kenyang...(ha ha ha... si Dani kayaknya menjadi objek cerita untuk kesekian kali...). Kalo enggak si Dani, akuh pasti akan menunjuk si Nuzul, Pante, Dwi, Adam, Hakim, Gusti, Fredy, dan Adi untuk akuh serahkan ke marekah sebagai persembahan dewa, sedangkan akuh nanti bisa bersama para gadis gatut kaca untuk bersenang-senang di kampung Baduy Dalam (ha ha ha... rasain loeh cowok mata keranjang gueh korbanin, akhirnya gueh bisa berpoligami ria ngikutin syeh Puji... ha ha ha... puas.com). #Enggak ding!! Suku Baduy Dalam bukan termasuk Karnivora dan bukan pula golongan kaum kanibalis koq!!, merekah termasuk herbivora dan cenderung suka makan umbi-umbian#.

Kamih tiba di rumah pa Mursyid pkl. 18:05 wib setelah berjalan selama 4.5 jam naik turun perbukitan. Rasa capek seakan hilang karena teriakan kamih dan sambutan ramah para penduduk kampung Cibe’o.
Malam pun datang. Kamih memasuki rumah pa Mursid. Didalam rumah hanya ada satu lentera berbahan bakar minyak kelapa yang digantungkan di tengah ruangan, sedangkan tungku api untuk memasak berada di pojok rumah dan pojok kamar keluarga pa mursid yang tanpa daun pintu. Lantai rumah pak mursid di gelar tikar hasil anyaman sendiri sebagai alas tidur kitah nanti. Sementara dibawah kamih tidur, terdapat ayam piaraan pa  Mursid yang dimanfaatkan sebagai tanda pagi telah datang, mengingat warga Baduy Dalam tidak mengenal jam (busyeet!! Kita tidur diatas kandang ayam!!).
Kamih datang disambut dengan hujan gerimis, menambah suasana kampung Baduy Dalam seperti nyata di film Saur Sepuh (asal jangan mirip film misteri Nini Pelet ajah, gue paling ngeri sama Nini Pelet dan Ki rempah Mayit suaminya yang suka mencari mangsa ke kampung-kampung di bulan purnama, dan andaipun Nini Pelet datang, gue mau korbanin para cowok mata keranjang biar tinggal gue sendiri bersama para gadis gatut kaca ha ha ha.. kali gue puas menang dua kali wkwkwk...)

Selepas hujan, kamih baru menyadari sedari pagi kamih belum mandi. Kamih pun menuju sungai yang berjarak 50 meter untuk mandi di malam hari #pura-puranya sih mandi..., padahal disana yang mandi Cuma tiga orang. Gueh, Pante, sama si Dwi, yang lain pada kayak kucing, cuma cuci muka dan bersihin ketek doang ha ha ha....  (dikira gueh nggak merhati’in kalian apah biarpun gelap ha ha ha...).
Mandi kamih mengikuti adat setempat, yaitu setengah berbugil ria dan berendam digenangan air sungai yang saat itu sedang surut karena musim kemarau (hmmm...., suasana gelap membuat kami bebas, biarpun airnya dingin namun sangat sejuk...). Kamih mandi tanpa sabun, tanpa odol, tanpa shampo.., semuanya diharamkan disana.
Selepas mandi kamih sholat maghrib berjama’ah dilanjutkan dengan sholat isya’ berjama’ah. Kemudian makan malam bersama yang sudah di siapkan oleh ibu Mursyid. Biarpun lauknya hanya ikan asin dan mie instan rebus, tapi kamih makan dengan lahapnya. Entah karena lapar atau karena suasana gelap, jadi makanan mie isntant seolah spagheti dan ikan asinnya berubah menjadi steak ikan salmon, he he he... rupanya kamih sudah menjelma menjadi anak Baduy Dalam, formasi tempat duduk kami seperti pesta suku pedalaman dimana ditengah-tengah hanya ada satu lentera, sedangkan gelas minum terbuat dari bambu yang di potong, makan tanpa tanpa sendok, sementara disamping kamih adalah tungku api yang bisa menghangatkan suasana sehabis hujan. Posisi kami melingkar dengan pak Mursyid sebagai objek pembicaraan yang menjawab semua penasaran kamih tentang suku Baduy Dalam (konon jika ada undangan dari pemerintah, pa Mursyid ini yang menjadi juru bicara nya, bahkan beliau pernah diundang oleh presiden SBY di kediamannya di Cikeas..., salutnya lagi pa Mursyid dan rombongan ke Cikeas dengan berjalan kaki!! Ck ck ck ck....).

Acara makan begitu cepat berlalu, acara kami lanjutkan dengan interview dengan pa Mursid sebagai narasumber. Kamih para kurcaci melontarkan banyak sekali pertanyaan kepada pa Mursid, adegan ini mirip sesi tanya jawab di sebuah forum seminar, bedanya yang ini seminar ala Baduy dengan setting tempat mirip film Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi besutan sutradara ternama dari kampung gueh bernama Imam Tantowi. Pak Mursid begitu bijak menjawab pertanyaan dan mampu mewakili pertanyaan kami. Hanya saja ada satu pertanyaan yang hingga saat ini masih belum gueh lontarkan dan masih penasaran gueh dibuatnya, yaitu : ”warga Baduy Dalam pakai celana dalam nggak ssiiiiiih...???”, gue nggak tega melontarkan pertanyaan itu kepada pa Mursid ha ha ha... #pak mursid tau nggak yaa gue menyimpan pertanyaan RAHASIA?? Soalnya pa mursid terkenal sebagai orang pinter dikampung Cibe’o., xixixi jadi malu tingkat SMA gueh, bentar lagi malu nya masuk perguruan tinggi wkaakakak#

Acara seminar ala Baduy dibarengi dengan suguhan minuman seadanya dengan gelas dari bambu, dan ditambah dengan minuman racikan khas Baduy, yaitu racikan daun Keras Tulang. Konon daun ini berfungsi sebagai penghangat tubuh. Daun ini banyak kita jumpai di hutan Baduy. Cara menyeduhnya sangat gampang, beberapa daun cukup ditaruh di mangkok, terus disiram pakai air mendidih. Jadi deh tuh minuman segar yang rasanya mirip seduhan daun sirih. Kamih semua mencoba minuman itu. Dengan harapan suasana dingin sehabis hujan bisa kamih lawan.

Meningkat acara selanjutnya adalah sesi kongkow kongkow di beranda rumah Baduay Dalam yang akan diikuti oleh seluruh hadirin yang ada disana (Halah!! Jiwa MC nya kambuh dah!!). kitah ngobrol di beranda rumah pa Mursid dengan ditemani cemilan dan celotehan segar dari kelompok kami dan beberapa anak-anak Baduy Dalam. Kamih begitu akrab dengan merekah. Suasana mulai hening pada pkl. 21:00 wib. Agaknya penduduk Baduy Dalam terbiasa tidur pada jam tersebut. Kamipun mulai siap siap tidur diatas kandang ayam ha ha ha ...(tapi dijamin bersih koq..!!). Gueh masih bisa tidur, bukan karena posisi diatas kandang ayam, tapi karena rasa pengen tau suasana malam di kampung Baduy. Mata ini terpejam pas tengah malam.
Tak berapa lama gueh terbangun jam setengah tiga pagi, karena suasana nya memang dingin banget. Pas pkl. Tiga pagi ayam pun mulai berkokok bersahutan, pertanda hari sudah pagi. Gueh setengah sadar melihat ibu Mursyid bangun dari tidurnya. Si Ibu langsung menyalakan tungku dan memasak makanan untuk kita di pagi hari (waaah..., jadi terharu sama kebaikan ibu mursid...).
Beberapa kurcaci juga terlihat bangun dipagi itu. Gueh bersama Dwi dan Nuzul menuju sungai untuk berwudlu jam 4 pagi, suasana masih begitu sepi. Ada yang aneh disungai itu... hmmm... tapi nanti gue ceritain di edisi cerita berikutnya deeh...

kisah lainnya :
                        Detik-Detik Perjalanan Menuju Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Tentang Suku Baduy Dalam
                  4.   Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam

Kini giliran foto yang bercerita...
(foto ini bukan di Baduy Dalam, karena disana kita diharamkan pakai foto dan kilatan cahaya, kecuali sorotan batere).
Lumbung Padi Suku Baduy 
Goa
Jembatan Akar
Terbuat dari akar pohon yang dikaitkan satu dengan lainnya
Sungai Suku Baduy Dalam
 
Anak suku Baduy Dalam bisa juga berpose lho...
Pagar perbatasan Baduy luar dengan Baduy dalam






15 September 2011

Mengenal Baduy 2 - Perjalanan menyusuri Hutan dan Sungai

Di terminal Ciboleger kami ditampung di rumah pa Agus Bule yang difungsikan sebagai warung makan, tepat di samping Alfamart dan dibelakangnya adalah pasar tradisional. Ciri terminal ini adalah adanya tugu dan patung petani beserta dua anak dan istrinya, mirip tugu tani di daerah menteng, bedanya yang ini agak dekil. (maklum lah..., namanya juga Baduy, jadi harus menyesuaikan dengan keadaan he he he...).

Kamih pun dipersilahkan duduk dan disuguhi makan siang yang sudah dianggarkan oleh sang kepala suku, Esthi. Sehabis acara makan-makan, ada kejadian mengejutkan di rumah pak Agus. Selain adanya 4 anak suku Baduy Dalam yang sudah standby disana, perangai si Esthi tiba tiba berubah menyeramkan (aw aw aw!! Kenape tuuuh...????!). Si Esthi berubah peran menjadi seorang preman mata duitan yang segera beraksi memalak dan mengambil paksa uang kamih. Kamih di palakin satu demi satu. Dan anehnya tak satupun dari kamih mampu melawan (ck ck ck..., hebat juga si Esthi itu yaah...??!, nggak nyangka seorang murid terbaik mamah dedeh bisa berbuat sesadis itu..., *Tuhan ampunilah diah, sadarkanlah diah... aamiiin...). Kini gilirankuh dipalak si Esthi, akuh pun mengeluarkan selembar uang merah, selembar uang biru, dan selembar uang hijau (ceritanya gueh sudah mulai agak ke Baduy-Baduy an gitu.., jadi nggak kenal angka, kenalnya warna doang.. xixixi...). Total dompetku terkuras sebanyak Rp. 170.000,-. Semoga duit itu bisa menjadi manfaat buat akuh, buat sayah, dan buat gueh (halah...!! sama aja buat loeh semua!). Yups ! betul sekali..., uang itu adalah budget anggaran untuk biaya tiap kurcaci selama kitah melakukan perjalanan 2 hari 1 malam di kampung Baduy. (aktualnya sih 150.000, tapi buat jaga-jaga ditambahin 20.000). Tak terasa adegan menyeramkan yang diperankan Esthi telah berlalu, lagu Meggy Zet pun selesai dinyanyikan oleh para peserta (”Sungguh teganya dirimu teganya teganya teganya....” ha ha ha...).
Wajah sumringa dan penuh semangat
(hhhmmh! awas! lihat saja nanti, nggak bakal bisa lagi nampilin paras artisnya! ha ha ha)

Pkl. 13:30 wib kamih berangcut menuju perbukitan, sebelumnya kamih siapkan oleh-oleh berupa terasi dua gepok dan ikan asin beberapa kilo. Konon orang Baduy sangat senang jika di bawain ikan asin dan terasi (maklum..., merekah kan orang gunung, jarang sekali ketemu ikan dan makanan laut lainnya).
Kali ini yang ketiban piket bawain oleh oleh adalah si Pante’. Secara dia pas banget kalo lihat perawakannya yang gede mirip kuli pasar (ha ha ha.... bo’ong ding...! pante’ itu baik hati, ganteng, cute, cool... cuma agak sedikit pelit ha ha ha, nyela’ lagi deeh..!!, dosa besar tuh jelekin orang... *sssst..!! jangan bilang bilang sama Pante’ yah kalo gue jelekin dia...??!).

Rombongan iring-iringan para kurcaci yang mirip acara lamaran pengantin lengkap dengan seserahan pun mulai berjalan menyusuri rumah penduduk dan jalan gang selebar 2.5 meter. Sementara gueh milih posisi di urutan paling depan dengan harapan kalo difoto pasti kena ukuran full face... he he... (sayang sekali ga ada yang mau foto-foto saat itu...).
Baru berjalan kurang dari 500 meter kamih disuguhi dengan medan curam penuh tanjakan dan turunan. Rumah dan gang sempit pun berubah menjadi jalan bebatuan dan undakan, membuat kaki ini lemas. Secara gueh pake sepatu traveling yang beratnya setara dengan sepuluh anak (ajiiiibbb...!!! sepatu apa’an tuuh?) *anak tikus maksudnya :-p
Sepatu gueh lepas pada saat menyeberangi sungai kecil di perkampungan yang agak sudah mulai sepi penduduk, gueh ganti dengan sandal gunung. Sementara sepatu gueh kalungkan di leher untuk meyakinkan para hadirin yang melihat foto gue nantinya, biar mereka percaya perjalanan ke Baduy Dalam memang penuh tantangan ha ha ha....
Jalan naik turun tidak membuat para kurcaci kehilangan jiwa artisnya. Merekah dengan sigap memposisikan diri mencari peran tanpa skenario, setiap tanjakan mereka abadikan. Candaan dan obrolan segar keluar tanpa permisi dari mulut-mulut imut mereka lengkap dengan senyum simpul para pemilik kawat gigi ala gatot kaca (semboyan gigi kawat tulang besi berubah menjadi gigi kawat tulang remek karena ternyata kaki ini mulai pegel dengan medan naik turun undakan). Gueh berkhayal andaikan kawat giginya si Mida, si Dani, dan si Beni melakukan tos dan adu panco, pasti adegannya mirip pertarungan antara Lasmini melawan Mantili dengan pedang. (cring! Cring! Cring!, pasti bunyi pedangnya begitu terasa sampai dilidah.. ha ha ha).

Dua kilometer pertama berhasil kami lewati walau muka penuh ja’im terlihat dari para kurcaci menahan pegel kaki. Berhubung info nya 13 km lagi, maka kamih pun malu-malu kucing kalo menyerah kecape’an, padahal kaki ini meronta ingin berhenti di halte Blok M (ngawur.com... jangan percaya!).
Gueh si Aki Demang, Retno yang Tomboy dan bawa banyak stok cemilan, Mida si gatot kaca dengan gigi kawatnya, dan Beni si finalis Muslimah Beuty 2011, masih memimpin dibarisan paling depan.
Disusul dengan si tomboy dan pemilik suara dengan nada 8 oktav Tina, Lena si fotografer, Adi si guru bahasa Indonesia tingkat SMA, Nuzul si Bugis yang suka nyetock makanan, Hakim yang mirip irfan Hakim (kalo dari sedotan ha ha ha), Gusti yang kalem, Fredy si korban perplonco’an di kereta, Pante si ikan asin pembawa seserahan, mereka berada di barisan tengah bersama 4 anak Baduy, Sapri, Juli, Jali, dan Idong.
Sementara Dwi si bos nya blewah dot com, Dani yang dengan setia mendampingi Dwi di bisnis blewah dot com nya. Esthi si rempong yang suka bolos di pengajiannya mamah dedeh gara-gara mau ngetrip ke Baduy, Risma si copasnya Syahrini, Adam si  calon menteri keuangan, merekah berperan sebagai tim penyapu bersama pa Agus Bule yang sibuk menjawab banyak sekali pertanyaan dari kamih yang bergantian nanya tentang Baduy Dalam. Sesekali sambil wawancara, para kurcaci mengambil gambar untuk dokumentasi dan ajang pamer jika sudah pulang ke Jakarta nantinya.

Para kurcaci terbuai oleh cerita-cerita pa Agus Bule yang gaul dan supel. Tak segan pa Agus menceritakan pengalaman mengantar tamu dari berbagai daerah. Baik dari kalangan pejabat, anak sekolah, anak kuliahan, bahkan sampe para pengusaha yang bangkrut dan ingin bertemu sang Pu’un hanya ingin meminta jampi-jampi agar usahanya lancar.

Di kilometer ketiga nampaknya kejujuran para kurcaci mulai kelihatan. Semua nya kompak minta istirahat. Kamih pun istirahat di sebuah rumah yg menjual makanan dan minuman di tengah perkampungan Baduy Luar, untuk sekedar membeli minum, makanan, dan rokok. Diseberang sana nampak seorang nenek tua yang sedang membuat kain tenun khas Baduy. Sayang sekali si nenek tidak faham dengan bahasa Indonesia, kamih hanya berfoto dan bertegur sapa sewajarnya. Di kilometer empat kamih melewati sungai dan jembatan bambu pertama. Sekedar informasi, untuk mencapai kampung Baduy Dalam, kitah harus melewati tiga jembatan bambu yang unik, hanya menggunakan ikatan untuk penyambungan antar bambu, nyaris tidak ditemukan paku disana. Diatas jembatan kami berfoto ria sambil pasang gaya.
Pada kilometer kelima dan ke enam, pak Agus tidak lagi sibuk menjawab pertanyaan seputar Baduy Dalam dan tamu-tamunya, melainkan sibuk menjawab pertanyaan yang sama dari para kurcaci, yaitu : ”Pa, MASIH JAUH YA PAK?”
Ha ha ha ha..., gueh rasa merekah sudah mulai  kehabisan energi untuk sampai di Baduy dalam (huh..! katanya petualang sejati, baru segini ajah sudah letoyy...!!, *ekspresi mulut monyong kekiri sedikit memble sambil mata merem melek liat atas bawah dan badan balik kanan biar nggak keliatan ekspresinya sama yang lain dengan maksud menyindir).

Pak Agus Bule yang menghadapi bertubi-tubi pertanyaan yang sama hanya dapat menghibur merekah dengan sedikit berbohong, ”sedikit lagi nyampe koq...!”. Tips ampuh pak Agus sedikit berhasil mengelabuhi mereka. Sekali dua kali dengan jawaban yang sama, agaknya para kurcaci mulai mengendus kebohongan pak Agus Bule. Sekalinya pak Agus menjawab satu tanjakan bukit lagi sampe, mereka langsung menyahut : ”SAMPAI MANA PAK?? sampai MONAS??!”  (ekspresi kecewa anak kecil yang kapok dibohongin sama orang tuanya ha ha ha...). Kontan saja celetuka itu disambut dengan tawa oleh yang lainnya, termasuk empat anak Baduy Dalam yang sedari tadi membawakan tas para peserta yang merasa tidak sanggup lagi berjalan kaki dengan beban tas dipunggung.
Ayo... semangaaat!! ini baru separuh perjalanan...!!

Sekedar informasi saja, merekah para Baduy Dalam biasa membawakan tas para tamu dengan dipikul, nantinya kitah bisa memberi imbalan uang berkisar antara 50-60 ribu. Merekah dengan senang hati menerimanya. Bagi seorang Dani, keberadaan mereka amat sangat membantu. Bayangkan saja, untuk membawa badan sendiri yang setara dengan sekarung beras nya orang Baduy saja diah sudah kewalahan, bagaimana jika ditambah beban tas dan bekal?! Bisa mati kelelahan diah... he he he... Jangankan Dani yang gagal masuk atlet sumo, si Risma yang berbadan imut saja sampe menitipkan tas dan bawaannya kepada anak Baduy Dalam koq..., bisa di bayangkan betapa panjang dan berliku perjalanan kami...

Setelah melewati jembatan pertama dan sesi foto-foto ditambah istirahat yang lama, kamih melanjutkan perjalanan dengan medan hijau dan adem. Nampak diatas rimbunan pohon ada banyak sekali Syaiful Jamil bergelantungan, dulu Ray Sahetaphy, Pasha Ungu dan Jeremy Tomas juga sempat bergelantungan disini, tapi karena merekah sudah menemukan jodohnya jadi merekah pensiun bergelantungan disini. Tinggal Syaiful Jamil yang sekarang masih bertahan bergelantungan diatas pohon di tengah hutan Baduy yang sedang kamih lewati.
(Ini ngomongin apa siih?? Koq jadi bahas infotainment?? *maksudnya syaiful Jamil, Ray Sahetapy, Jeremy Thomas dan Pasha ungu adalah DUDA KEREN alias DUREN, jadi maksudnya kitah ngomongin DUREN tauuuuww..... *LOLA alias Loading Lambat niih!! Perlu di upgrade!! Payaah...).

Gueh jadi inget pesan seorang teman sebelum berangkat ke Baduy, diah bilang kalo ke Baduy nanti, jangan lupa untuk mencicipi Duren Hutan nya Baduy. Dijamin bakal ketagihan. Tapi sayang sekali duren-duren itu masih muda dan sedang nggak musim. Jadi gueh nggak tega mengambil Syaiful Jamil dari tempat gelantungannya.. ha ha ha... Kamipun istirahat sejenak melepas lelah. Kali ini rombongan terpecah jauh, kayaknya kekompakan nya sudah mulai berkurang nih..., ada yang ingin buru-buru sampai, ada yang biasa-biasa saja.., dan ada juga yang kecape’an membawa badan sendiri.

Setelah disuguhi pemandangan hijau, kamih melewati jembatan bambu kedua, dan medan selanjutnya adalah bukit gersang tanpa pohon rindang, kata pa Agus itu adalah sawah nya orang Baduy Dalam. Mereka menanam padi tidak seperti sawah pad aumumnya yang selalu tergenang air, tapi mirip menanam biji-bijian. Mereka menamakan nya dengan istilah Gogoh. Hamparan bukit gersang itu kami lewati. Dan medan selanjutnya adalah tanjakan curam. Tanjakan ini adalah tanjakan terakhir dan terberat menurut pa Agus. Banyak para tamu yang tidak sanggup sampai tanjakan sini, dan dengan kecewa serta terpaksa mereka tidak bisa sampai di kampung Baduy Dalam dan akhirnya menginap di kampung Baduy Luar. Beruntung kami bisa kuat sampai disini, sebentar lagi tiba di perkampungan. Kami coba tanya ke pa Agus, berapa lama lagi tiba di perkampungan. Jawaban pa Agus kali ini membuat kami menjadi semangat kembali. Jarak menuju kampung Baduy Dalam tinggal 3 km lagi. Horeee...
Rombongan sudah mulai terpisah pisah (waah... gawat niih!!)

Menurut cerita guide kami pa Agus, diah sempat pesimis kelompok kamih bisa tiba di Baduy Dalam, melihat kondisi Dani yang sangat mengenaskan. Beliauh salut atas semangat Dani yang bisa bertahan hingga menjelang memasuki perkampungan Baduy Dalam. Selama 15 tahun beliauh menjadi guide, baru kali ini pemilik badan segede Dani bisa berhasil sampai jembatan bambu ketiga, yang artinya 500 meter lagi tiba di perkampungan Baduy Dalam. Waah selamat ya Dani... Kamu memang the best. Berita gembira ini langsung gueh umumin bersama teman-teman yang lainnya pada saat rehat sehabis melewati jembatan ketiga. Dan sambutan tepuk tangan pun membahana. Wajah Dani yang sedari tadi pucat pasi kehabisan tenaga mendaki dan menuruni bukit menjadi senyum sumringah ditambah senyum gatot kaca nya yang khas...


Bagaimana Rahasia Dani bisa melewati rintangan menuju kampung Baduy Dalam? Rahasianya ada di cerita berikutnya saat perjalanan menuju jembatan akar....

Bersambung....

kisah lainnya :
                        Detik-detik Perjalanan Ke Baduy Dalam
                        Anggapan Salah Mengenai Suku Baduy Dalam
4.      Mengenal Baduy 4 - Cerita aneh seputar Baduy Dalam.