24 Juni 2009

Anjing Kintamani - Bali

Dear Diary... Pengalaman ini aku dapatkan di pulau dewata, setelah aku tinggal kurang lebih 3 bulan di kampung Peguyangan Kaja - Denpasar. Salah satu ikon Bali adalah anjing kintamani yang notabene termasuk keluarga anjing hutan, kalo ngeliat postur tubuh dan bentuk biologisnya mirip dengan srigala. Dari mulai moncong hidung, rahang, mata, hingga bulunya yang berumbai kayak kucing anggora.... Tak ayal banyak orang mengembang biakkan anjing ini dengan sengaja pergi ke pelosok kintamani (daerah dekat ubud di kaki gunung batur) untuk mencari bibit anjing ala srigala itu. Sebenarnya kita tidak membahas ras anjing ini sih... cuma aku punya pengalaman tidak mengenakkan dengan anjing disini, awal kedatangan di Bali aku sudah mulai adaptasi dengan lingkungan "beranjing", tetangga kiri kanan, dan pada bulan pertama rasa parno terhadap anjing sudah bisa terkikis. Paranoid terhadap anjing itu datang lagi secara ngga sengaja aku melambaikan tangan ku manakala anjing berada didepanku menghalangi akses jalanku yang sempit, sembari berujar hus hus... aku usir tu anjing biar minggir... Tapi apa yang terjadi??? justru sebaliknya, anjing itu seolah tidak terima dengan tingkahku yang dianggapnya menantangnya...(mungkin karena belum kenal aku juga kali ya...? xixixi) si anjing menggonggong dengan garangnya, dengan gaya anak kecil maen silat dengan jurus cikabur, aku lari tunggang langgang, tak ayal anjing itu menggigitku dengan taringnya... huf.. sampai berdarah kaki aku dibuatnya (dasar anjing luh!!!). Semua temen tu anjing yang berada dilingkungan tersebut ikutan menggonggong disiang bolong dan hampir saja mengeroyokku..., spontan aku lari menuju pura yang dipagar kututup pintu pagar dan selamatlah aku dari kejaran si anjing sialan itu (padahal tradisi Bali melarang keras masuk pura tanpa menggunakan "anteng" dan "udeng", pakaian khas Bali untuk ritual keagamaan, tapi agaknya si pemilik pura memaklumi ku... syukur alhamdulillah, benakku berucap). Orang-orang yang dari tadi melihat acting film laga antara aku dengan si anjing tertawa terbahak-bahak, ada juga lho yang simpati dan ngasih obat anti anjing he he he... (itu orang yang punya anjing merasa dosa membiarkan anjingnya nggigit orang ganteng he he he), namanya ibu Putri, atau di panggil Mei Putri (Mei : panggilan Ibu untuk orang Bali), kebetulan anak perempuannya bernama Putri, jadi aku manggilnya Mei Putri (ngarep mantu nii yeee?? xixixixi). Semenjak kejadian itu aku menjadi paranoid dengan semua anjing..., termasuk orang-orang yang berkelakuan kayak anjing... (he he he itu beda lagi istilahnya).

Hampir 10 bulan paranoid terhadap anjing aku rasakan, setiap kali ada anjing, biarpun jinak, tetep saja bayangan itu muncul.

Jawaban anti takut/paranoid terhadap anjing kudapatkan secara tidak sengaja. Pada saat itu aku sholat isya di Masjid di sekitar tempat tinggal ku di Jl. A. Yani Denpasar, yang dikenal dengan Kampung Jawa (disana bermukim 90% adalah suku jawa dan muslim). Meskipun muslim dan komuintas orang jawa, tetep saja yang namanya Bali memang tempatnya anijng, tetep saja buanyak anjing yang dipiara sama penduduk sekitar.

Selepas sholat isya dengan busana khas jawa (menggunakan kain sarung dan baju koko), aku nggak langsung pulang ke kost, tapi mampir untuk makan dan ngobrol di rumah orang tua angkatku di Bali (Bp. H. Sunar dan Ibu Halimah), mereka sudah seperti keluargaku sendiri.

Tak sadar ngobrol ngalor ngidul, ternyata waktu sudah larut malam, jam menunjukkan pkl. 23:30 wib, warung si Ibu pun sudah mulai sepi, lalu aku pamit pulang. Dalam perjalanan pulang jalan kaki (jarak rumah H. Sunar dan kost ku sekitar 300 meter), aku baru sadar kalau jam segitu adalah saat saat anjing pada berkeliaran di jalan, yang apabila ada orang lewat, gonggongannya langsung menggema bak melihat musuh, apalagi cuaca saat itu habis hujan dan sepi, ditambah aku harus melewati komplek pura dan pohon besar tinggi yang konon kata penduduk setempat adalah tempat bersemayamnya leak (hantu khas Bali) dan pernah muncul di saat nyepi (iiiihhh...,tambah merinding aja aku dibuatnya), ditambah dengan pengalaman ibu damping kost yang asli Madura yang pernah melihat kuntilanak di sekitar pohon itu, dan pernah sekali si ibu bercerita pernah melihat anjing jadi-jadian sebesar Sapi berada di Depan komplek Pura yang muncul diatas jam 24:00 WITA (si ibu biasa bangun jam 3 pagi untuk sholat dan memasak, biarpun si suaminya bandar togel, si Ibu dengan sabarnya menghadapi sang suami yang ornang Lombok dan berharap suaminya sadar.., hmmm kuat juga iman si Ibu itu, dalam hatiku bergumam).

Larut dalam ketakutanku, didepan ku anjing-anjing jalanan yang dilepaskan oleh pemiliknya berkeliaran di depanku sambil menatap ku penuh curiga, aku pun mulai panik dan spontan menghentikan langkahku. Dalam posisi panik sempet otakku berfikir, apakah aku harus balik lagi dan menginap di tempat pak haji? atau aku lanjutkan pulang ke kost, padahal rumah pa haji sudah tutup, aku nggak enak sekaligus gengsi kalo aku bilang mau nginep cuma gara-gara di hadang anjing-anjing sialan di tengah jalan, bisa di ketawain sama bapak dan Ibu, ucapku dalam hati, sementara jika aku meneruskan pulang, maka aku harus menghadapi segerombol anjing-anjing sialan itu, dan bersiap menerima kekalahan dan gigitan anjing untuk kedua kalinya.

Dalam kalutku, spontanitas aku lepas kain sarungku, aku tiba tiba teringat, dulu pernah berbuat iseng menakuti ponakan teman SD ku saat aku belajar kelompok di rumahnya, aku tutupi sekujur badanku dengan kain sarung dan aku naikkan tangan dan jari telunjukku dibalut dengan kain sarung sehingga tertutupi semua kepala dan badanku, aku acungkan tangan yang terbalut kain sarung ke arahnya, ternyata keponakan temanku ketakutan dan menangis meronta seperti melihat makhluk aneh (jin).
Dalam benakku berkata, kenapa aku tidak mencoba lakukan hal serupa dengan anjing-anjing sialan ini? hmmm..., segera aku praktikkan hal yang iseng yang aku pernah lakukan pada ponakan teman SD ku puluhan tahun silam, daaannn...., aku kaget setengah mampuss..., ternyata segerombolan ajnjing yang tadi menggonggong dan siap menerkamku spontan terdiam dan seolah saling berbisik satu sama lain. Aku tambah Pede dibuatnya. hmmmm..., aku baru tahu kalo anjing itu kalo melihat makhluk aneh tanpa mata, kepala dan tangan, dia akan ketakutan. xixixixxi,... aku terus melanggang dengan santainya diantara anjing-anjing sialan tersebut. daaan..., sampailah aku di tempat kost ku dengan selamat.

Aku terkulai lemas dengan pandangan kosong seolah tidak percaya dengan kejadian yang aku alami barusan. Dibalik ketakutanku ternyata ada jawaban dan pengalaman berharga yang Tuhan berikan melalui hambaNya yang pantang menyerah dan mau menghadapi permasalahan.

Ini pelajaran hidup yang tidak sengaja aku terima langsung dari Nya. terimakasih ya Rabb...

22 Juni 2009

Bahasa Tubuh

Kadangkala bahas tubuh tidak bisa mewakili pesan yang kita sampaikan kepada penerima pesan. Dan sebaliknya, bahasa lisan adakalanya juga tidak mampu mewakili pesan yang hendak kita sampaikan agar sampai pada si penerima, dalam komunikasi kita sehari-hari.

02 Juni 2009

HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Selalu ada hikmah dibalik musibah, mungkin kata itu sudah basi kita dengar... tapi disaat kita mengalami sendiri musibah yang datang... kata itu acapkali keluar tanpa kita pikirkan, seolah sudah terekam kuat di memori otak kita.

Kejadian yang baru-baru ini aku alami adalah kehilangan ponsel, sekaligus 2 buah.
ponsel kesayanganku hilang karena diambil orang saat aku taruh di kamar kost ku saat aku terlelap dan terbuai dalam mimpi dikejar anjing (maksudnya saking capeknya jadi ketiduran)......

Aku baru menyadarinya pas bangun mau sholat subuh....
aku raba-raba body teman kesayanganku itu (maksudnya ponsel nokia ku), eh nggak dapat diraih oleh tanganku yang nggak punya mata, abiz waktu itu mata yang di kepala belum melek betul (kebiasaan buruk aku kalo bangun liat jam di ponsel, kalo masih pagi.., setan di hatiku bilang "tar aja bangunnya dikiiit lagi, tidur aja dulu sebentar barang 5-10 menit...")
Tapi pagi itu benar-benar lain... aku gak peduli dengan bisikan yang tiap pagi gak pernah absen datang, aku baru menyadarinya kalo teman tidurku sudah raib di gondol maling, aku liat di sekelilingku.... oh... my god... ponselku yang satunya juga raib...!! padahal aku semayamkan dia di peraduan yang lebih tinggi alias diatas lemari.

Aku hanya diam tak berkata...
hanya mampu tuk mengira-ngira... ada apa di balik semua ini?
Tak seheboh kebanyakan orang yang habis kemalingan.... tetangga kiri kanan langsung dikasih berita aktual layaknya infotainment.
Aku sengaja diam untuk mencari tahu ekspresi orang-orang di sekelilingku....
setelah kesimpulan aku dapat, aku baru cerita, itupun hanya segelintir orang saja yang sifatnya netral sama aku....
Dua minggu kemudian aku baru mengurus surat-surat ke kepolisian setempat, itupun karena ada persyaratan dari kantor (maklum aku dikasih amanat sama kantor untuk dipegangi ponsel untuk operasional kerja, ya! ponsel satunya adalah ponsel inventaris kantor).

Aku cuman bisa berharap, kalo kejadian ini adalah sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kehidupanku, untuk lebih bijaksana lagi dalam menjalani hidup...