18 November 2016

3 Cara Jitu Selamatkan Keuangan Kita





Rezeki, Jodoh, Maut, dan Nasib adalah rahasia Tuhan, tak ada satupun manusia yang tahu
Manusia hanya berencana, dan Tuhan yang menentukan

Bro dan Sist tentunya sudah hafal dengan kalimat sakti itu kan..?. Kalo iya, berati kita sama *toss.
Tapi, apa dengan dasar kalimat sakti tersebut lantas kita malas untuk mengatur perencanaan? Jika iya, maka Sorry to say, kita beda pandangan gais...

Sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan di hari ini, akan bisa merubah nasib kita di masa yang akan datang?. Saya sih percaya (pakek banget), meskipun katanya nasib di tangan Tuhan, tapi nasib kita di masa depan masih bisa loh kita rubah. Tentunya dengan usaha dan ikhtiar yang kita lakukan di hari ini. Percaya atau tidak ya itu kembali kepada persepsi masing-masing (kalo aku sih iyes yah, nggak tahu kalo mas Anang he he he *abaikan).

Saya ambil contoh analogi sederhana nya yah. Nggak usah jauh-jauh deh, aktifitas kita sehari-hari juga banyak koq contohnya. Saya ambil contoh pada kehidupan saya saja ni yah...

Tiap hari saya menempuh jarak 40 km pulang pergi ke kantor dengan sepeda motor butut. Nah, itu ban sepeda motor saya diprediksi usia pakainya adalah dua tahun. Tapi karena saya rajin merawat dan melakukan service rutin *uhuk, sampai sekarang motor kesayangan saya belum “minta” ganti ban. Just to know aja yah, saya terakhir membeli ban untuk motor saya di tahun 2012 lalu, dan sekarang kondisi ban masih bagus dan oke. So what?

Artinya, segala sesuatu kalau di maintain dengan bagus, maka hasilnya akan bagus juga. Begitupun dengan nasib keuangan kita di masa depan. Jika di maintain dengan baik dari sekarang, niscaya kedepannya akan menjadi baik.

Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang akan menimpa kita dan keluarga kita, semuanya masih misteri. Namun setidaknya, dengan segenap tindakan preventif yang dilakukan hari ini, akan bisa membawa manfaat untuk menghadapi kejadian yang tidak diinginkan di masa mendatang. Paling tidak, resiko yang ada bisa di minimalisir.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan keuangan kita di masa depan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut saya temukan pertengahan Oktober lalu, pasca mengikuti Seminar Keuangan bersama teman-teman Komunitas Warung Blogger, yang di selenggarakan oleh Sinar Mas MSIG Life. Bertempat di gedung Plasa Telkom Kebon Sirih Jakarta Pusat, seminar yang mengambil tema #YukAturUangmu itu berhasil membuka cakrawala saya dalam mengatur keuangan saya. Waktu penyelenggaraan di akhir pekan membuat saya merasa cocok untuk menghadirinya.

Peserta Seminar #YukAturUangmu yang semuanya usia Produktif 
sedang khikmat mengikuti jalannya seminar

Meski acara seminar dibatasi hanya untuk 35 orang saja dengan syarat usia dibawah 35 tahun, tapi ternyata peminatnya lumayan banyak. Tadinya waktu panitia menyebar pengumuman di group komunitas, saya sempat bertanya-tanya dalam hati (malahan sempat nyinyir segala he he), kenapa musti membatasi usia peserta, bikin baper saja... he he

Tapi ditengah materi seminar, saya baru sadar kenapa peserta seminar usianya dibatasi. Ternyata usia produktif yang rentan terhadap kesalahan pengaturan keuangan berada pada range usia tersebut. Itu sebab peserta seminar diharuskan berusia dibawah 35 tahun.


Pakar keuangan Rini Mieke Sutikno sedang membawakan materi Pengelolaan Keuangan

Menurut pakar keuangan Mike Rini Sutikno yang menjadi narasumber di acara seminar, di Indonesia tingkat literasi keuangan masyarakatnya masih minim, di kisaran 24%. Jika tingkat literasinya rendah, maka bisa diindikasikan tingkat kesadaran mengenai pentingnya asuransi juga akan rendah. Artinya, pengaturan finansialnya masih sebatas menabung dan menyimpan uang saja, tanpa disertai dengan perhitungan yang matang mengenai pengolahan asset dan pengalihan resiko yang akan terjadi.

Usia produktif merupakan usia keemasan bagi seseorang. Di Usia tersebut, orang sedang lucu-lucunya giat-giatnya menyusun rencana hidup, dan sedang agresif-agresifnya mengejar karir serta impian hidupnya. Tidak sedikit dari mereka mengalami kemapanan secara finansial di rentang usia produktif tersebut.

Tapi sayangnya, kesuksesan tersebut tidak dibarengi dengan pengetahuan mengenai perencanaan keuangan yang baik, tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, sehingga apa yang mereka dapatkan di puncak karirnya itu mudah sekali raib ketika memasuki usia senja dan menjelang pensiun. Penyesalan pun datang dan hanya bisa pasrah menerima nasib, menunggu uluran tangan dari generasi selanjutnya. Padahal generasi selanjutnya juga memiliki beban yang sama untuk masa depannya kelak.

Maka dari itu, perlu edukasi pengaturan keuangan sejak usia produktif, karena pada usia produktif adalah waktu yang tepat untuk menanamkan mindset mengenai literasi dan perencanaan keuangannya.

Lebih lanjut Rini Sutikno memaparkan tentang pentingnya menabung, berasuransi, dan berinvestasi. Karena ketiganya merupakan kunci sukse mengatur keuangan, yang akan menjaga asset yang kita miliki supaya aman dan terjaga.

#Menabung Untuk Masa Depan

Istilah menabung pastinya sudah kita kenal sejak kecil bukan? Malahan saya sendiri telah mengenal dan praktik menabung sejak usia Taman Kanak-Kanak. Hmmm, tapi ada yang aneh dengan definisi menabung yang saya pahami waktu kecil. Menabung di identikkan dengan menyisihkan uang yang dimiliki (saat itu) untuk disimpan, agar bisa dipergunakan kelak di kemudian hari.

Setelah mengikuti seminar keuangan dari Sinar Mas MSIG Life, saya mulai sadar bahwa deskripsi menabung yang saya pahami selama ini salah, dan bisa terjebak dalam mind set yang menyesatkan. Sekarang saya lebih suka mengartikan menabung itu sebagai kegiatan mengalokasikan dana pendapatan tetap untuk disimpan, bukan sekedar menyisihkan.

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara kata “menyisihkan” dengan “mengalokasikan”. Menyisihkan mengandung arti sisih atau tersisih, yang artinya uang lebihan yang disisihkan. Sedangkan mengalokasikan berarti meng-anggarkan atau membagi anggaran, artinya anggaran yang ada harus dibagi, tidak menunggu sisa, baru kemudian ditabung.

Gaya hidup menjadi kendala utama dalam program disiplin menabung. Agar tidak terjebak dalam gaya hidup, Rini Sutikno membagikan tips kepada para peserta seminar, yaitu harus pandai membedakan mana kategori kebutuhan dan mana kategori keinginan.

Lalu, berapa besaran anggaran untuk menabung yang ideal menurut ahli keuangan?

Dalam seminar, Mbak Rini mewajibkan 10% dari pendapatan agar bisa ditabung. Jadi misalkan pendapatan kita standar UMR 3 juta, idealnya 300 ribu harus ditabung tiap bulan. Sedangkan sisanya bisa di bagi untuk kebutuhan lainnya, seperti : 30% untuk membayar hutang dan cicilan, 50% untuk biaya hidup sehari-hari, dan 10% lainnya untuk asuransi.

Asuransi, Cara Efektif Mengalihkan Biaya Resiko

Tujuan utama dari asuransi adalah untuk mengantisipasi dan mengalihkan biaya yang timbul akibat resiko, baik itu resiko sakit, resiko kematian, ataupun resiko hilangnya harta benda.

Disadari atau tidak, segala sesuatu dalam kehidupan pasti memiliki resiko. Entah itu resikonya besar atau kecil. Nah, agar harta dan tabungan kita aman, maka diperlukan asuransi untuk memproteks, sehingga resiko yang menimpa ke kita bisa dicover oleh asuransi. Bisa dibilang, pada saat membeli produk asuransi, pada hakekatnya kita membeli resiko, yang tertuang dalam polis asuransi.

Seberapa Pentingkah Asuransi?

Pada waktu sakit, orang cenderung menghabiskan dana tabungannya untuk membiayai sakitnya, baik untuk membayar biaya rumah sakit atau menebus obat. Rata-rata orang akan menghabiskan setengah isi tabungan yang dimilikinya untuk biaya mereka pada saat terjadi sakit.

Bagi orang yang memiliki asuransi, resiko berkurangnya uang tabungan tidak akan terjadi, karena biaya rumah sakit dan obat sudah dicover oleh asuransi. Bandingkan dengan orang yang tidak memiliki asuransi, setengah tabungan yang ia kumpulkan dari hasil keringatnya akan raib.

Dari analogi tersebut, tentu kamu sudah tahu dong, seberapa pentinya memiliki asuransi...

Saat ini banyak sekali pilihan produk asuransi yang ditawarkan oleh perusahaan keuangan, baik asuransi jiwa, asuransi harta benda, dan bahkan ada produk asuransi plus investasi, dimana sambil menabung kita bisa berasuransi. Jenisnya juga beragam, ada yang konvensional dan ada juga yang syari’ah, tinggal pilih sesuai dengan budget dan kebutuhan kita.

Oiya, besaran alokasi dana untuk asuransi menurut ahli keuangan idealnya adalah 10% dari pendapatan bulanan.

Investasi

Kunci ketiga untuk menyelamatkan keuangan kita menurut mbak Rini adalah dengan cara berinvestasi, yaitu memanfaatkan dana dengan harapan untuk memperoleh keuntungan atas dana yang di investasikan.

Tujuan utama dari investasi adalah untuk memperoleh passive income dan sebagai growth atas harta yang diinvestasikan.

Dalam berinvestasi, berlaku hukum bahwa semakin tinggi return yang ditawarkan maka semakin tinggi pula resiko yang harus ditanggung oleh investor. Investor bisa saja mengalami kerugian bahkan lebih dari itu, bisa kehilangan semua modalnya.

Rini Sutikno merekomendasikan Saham, Obligasi, dan Reksadana untuk menjadi piliha berinvestasi. Jika dulu bermain investasi membutuhkan modal besar, zaman sekarang lebih mudah dan produknya juga beragam. Malahan ada juga model investasi yang nilainya dibawah 1 juta-an.

-----000------

Tidak hanya teori tentang keuangan saja yang dibahas dalam seminar #YukAturUangmu, Panitia seminar juga mengajak peserta untuk bermain permainan Smart Money, yang mengajarkan peserta untuk praktik langsung bijak mengelola keuangan. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, yang terdiri dari 6 orang untuk mempraktikkan permainan Smart Money.

Sambutan dari Perwakilan Komunitas Warung Blogger,


Cara bermain Smart Money mirip dengan permainan monopoli. Masing-masing peserta permainan memilih peran profesi, kemudian akan diberi modal awal berupa uang (mainan) untuk dikelola. Setiap pergerakan kas wajib dicatat dalam lembar pencatatan. Peserta melempar dadu secara bergiliran. Setiap jumlah angka yang muncul pada dadu menentukan jumlah langkah peserta dalam menjalankan aktifitas atas profesi yang dipilihnya.

Ditengah permainan Smart Money, saya sempat mendokumentasikan serunya bermain games edukatif ini.




Jujur, ini pengalaman pertama saya bermain Smart Money. Awalnya saya bingung cara memainkannya, tapi lama kelamaan ternyata permainan ini asik juga. Mengandung nilai-nilai edukatif dalam mengelola keuangan.

Sepulang acara seminar, saya merasa mendapatkan begitu banyak masukan dan pengetahuan bagaimana mengelola keuangan dengan baik dan bijak.

Terimakasih kepada Sinar Mas MSIGLife dan Komunitas Warung Blogger yang sudah memberikan fasilitas dan akses nya, sehingga saya bisa mengikuti seminar berharga ini.

Semoga di lain waktu   bisa di adakan kembali untuk memberi kesempanan kepada rekan rekan Blogger lainnya. Salam sukses dan always #SmileWithMe .