14 Juni 2016

AIA Sakinah Membantu Mewujudkan Keluarga Yang Sakinah Wa Rohmah

Menuju Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah

Siapapun yang sudah berkeluarga, memiliki anak adalah suatu anugerah terindah yang patut untuk disyukuri. Betapa tidak, diluar sana banyak sekali pasangan suami istri yang mendambakan keturunan, tapi mereka belum dikaruniai anak. Malah sebagian dari mereka rela untuk mengeluarkan biaya puluhan jutaan rupiah untuk mengikuti program kehamilan demi mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu memiliki anak. Ketika diberi momongan, rasanya seperti mendapat rezeki nomplok dan menjadi orang pilihan yang dberi amanah oleh Allah swt.


Seperti yang saya dan istri rasakan, ketika diberi momongan, kami begitu merasakan adanya kebahagiaan dan kelengkapan membina rumah tangga. Namun, memiliki anak bukanlah suatu kemenangan dan puncak dari kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Justru sebaliknya, hadirnya seorang anak justru menambah tugas saya dan istri untuk lebih giat lagi belajar dan lebih dewasa dalam bersikap, ilmu sabar kudu diterapkan. Apalagi tahun ini anak kami sudah bertambah, dengan hadirnya si bungsu, Fathan. Dengan dua orang anak, Ilmu baru dalam rumah tangga kamipun menjadi bertambah selain ilmu sabar, yaitu ilmu Adil. Kami harus menyiapkan ilmu adil dan menerapkannya kepada anak-anak kami, supaya mereka tidak ada rasa cemburu karena diperlakukan tidak adil.

Karena menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah tanggungjawab orangtua, maka saat kami dikaruniai anak, segenap perencanaanpun mulai kami diskusikan, dari mulai perencanaan pendidikan, pola pengasuhan, dan yang lebih penting adalah perencanaan kesehatan. Semuanya kami lakukan demi masa depan mereka.

Perencanaan Pola Asuh

Karena saya dan istri sama sama kerja, maka penerapan pola asuh ini benar benar menjadi konsentrasi kami. Betapa banyak diluar sana anak-anak yang kedua orangtuanya sibuk bekerja, dan anaknya ditinggal sendiri dirumah bersama pembantu yang notabene tidak ada hubungan keluarga. Hanya sedikit sekali waktu kebersamaan mereka dengan orangtuanya, sehingga hubungan anak dan orangtua menjadi jauh. Si anak lebih dekat dengan pembantunya daripada dengan orang tuanya. Efeknya, jika menghadapi masalah, bukannya orang tuanya yang menjadi tambatan, melainkan orang lain yang menjadi pelariannya. Artinya, kontrol tumbuh kembang anak berada di tangan orang lain.

Contoh tersebut membuat saya kawatir dan cemas, kawatir hal tersebut akan terjadi pada keluarga kami. Meski bekerja, saya menekankan istri untuk tidak lama-lama berada dikantor. Beruntung kami tinggal bersama orang tua (mertua), dan mempekerjakan saudara dekat (masih keluarga) untuk menjadi pengasuh. Jadi meskipun ditinggal bekerja, si anak masih dibawah pengawasan keluarga besarnya. Tidak hanya itu, kami juga sepakat untuk membangun quality time dengan anak selama kami dirumah. Dengan begitu anak merasa masih berada di dalam naungan orang tuanya.

Perencanaan Pendidikan

Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai”  Kira kira begitulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan pentingnya pendidikan bagi anak-anak menurut saya.

Saya sepenuhnya menyadari, masa depan anak itu sangat bergantung kepada sistem pendidikan yang akan kita terapkan. Oleh karenanya, semenjak lahir anak pertama, saya dan istri sudah merencanakan sistem pendidikan untuk anak kami kelak, baik itu memilih sekolahnya, maupun menyiapkan biaya untuk pendidikannya.

Mahalnya biaya pendidikan dan tingginya angka inflasi di Indonesia membuat kami mengambil langkah antisipasi. Semenjak usia 6 bulan, anak-anak sudah kami buatkan tabungan yang dananya diambil dari pendapatan kami. Tabungan tersebut akan diambil kelak saat anak akan menempuh pendidikan. Sayapun mencoba menghitung estimasi alokasi anggaran untuk biaya pendidikan anak anak kami.

Dan ini dia besarannya:
Kalkulator Pendidikan Anak

Dari perhitungan kalkulator pendidikan anak, ternyata untuk sekolah Sains di Indonesia untuk jenjang universitas saja, saya harus mengalokasikan dana minimum 350 ribu an per bulan, dimulai dari anak berusia 1 tahun hingga memasuki usia kuliah. Dana tersebut belum termasuk biaya sekolah SD, SMP, dan SMA loh.... Dan estimasi biaya akan lebih besar lagi jika kelak si anak mengambil jurusan kedokteran atau teknik.


Karena pendidikan bagi saya adalah kebutuhan ruhani anak, kami juga tidak sembarangan memilih bank untuk menyimpan dana pendidikan anak. Sebisa mungkin biaya pendidikan anak diperoleh dengan cara halal dan proses penyimpananannya juga harus secara halal, dijauhkan dari unsur riba. Maka dari itu kami memilih bank syariah sebagai tabungan untuk menyimpan dana pendidikan anak. Kalo bisa sih, dana pendidikan ini bisa difungsikan juga sebagai asuransi, jadi lebih safety.

Selain dua perencanaan penting diatas, ada satu lagi perencanaan yang tak kalah penting, yaitu perencanaan kesehatan.

Perencanaan Kesehatan

Khusus untuk perencanaan kesehatan ini, saya dan istri masih berbeda pandangan. Istri memilih untuk memiliki asuransi jiwa dan investasi, sedangkan saya memilih untuk menabung konvensional. Untuk meng-cover biaya tak terduga akibat sakit, saya masih mengandalkan produk asuransi kesehatan dari kantor, baik itu rawat jalan maupun untuk rawat inap. Tapi seringkali saya “nombok” dan menguras tabungan manakala biaya pengobatan keluarga ternyata diatas platform dari perusahaan.

Sebenarnya saya ingin sekali menggunakan asuransi, terutama asuransi jiwa dan investasi, namun saya masih ragu mengenai status hukum asuransi dipandang dari segi hukum syari’at. Memang sih sekarang sudah banyak asuransi yang berbasis syariah, tapi saya tidak mau sembarangan dan salah langkah dalam menentukan pilihan untuk keluarga saya tercinta, makanya saya sangat jeli memilih jenis asuransi dan investasi.

Perencanaan Keuangan Keluarga

Beruntung dalam acara Blogger & Beyond yang diadakan oleh Valuklik dan AIA Insurance hari minggu kemarin saya bertemu dengan mas Frizt Ananda, dari Asuransi Jiwa Syariah AIA. Beliau adalah Marketing Business Partner nya PT AIA Financial.


Menurut mas Frizt, semua orang pada dasarnya tidak ingin kena musibah, baik musibah kecelakaan, sakit atau meninggal. Akan tetapi semua orang juga memiliki peluang untuk menghadapi resiko itu, yang mana setiap resiko itu mengandung kerugian.

Lalu bagaimana kita bisa meminimalisir kerugian saat terjadi resiko? Satu-satunya jalan adalah dengan ber asuransi. Mas Frizt kembali menjelaskan, bahwa mengikuti program asuransi itu mirip mirip dengan kita mengikuti arisan, pada waktunya pasti akan kena giliran, demikian juga musibah, pada gilirannya musibah itu akan datang dalam kehidupan kita. Ironisnya, musibah itu tidak bisa diprediksi kapan datangnya, sehingga kita patut untuk waspada dan berjaga jaga, salah satunya dengan mengikuti asuransi.  

Sistem asuransi pada dasarnya adalah suatu sistem transfer resiko, yang kita bayar dengan premi untuk mendapatkan manfaat. Pada sistem asuransi konvensional, premi dibayarkan kepada perusahaan penyelenggara asuransi, kemudian perusahaan akan memberikan manfaat ketika salah seorang dari anggota asuransi mengalami resiko.

Sistem Asuransi Jiwa Konvensional

Bagaimana dengan sistem Asuransi Syariah?

Sistem Asuransi Syariah didasarkan pada  akad mudhorobah sesuai prinsip syariah, yaitu saling menolong, melindungi dan menanggung risiko antar sesama peserta asuransi jiwa syariah.

Masing-masing anggota asuransi membayar dana “UJRAH” yang dikumpulkan di suatu tempat, yang disebut dana Rabarru’, kemudian dana tersebut dipergunakan jika ada salah satu anggota yang menghadapi risiko, berupa manfaat asuransi. Dana Rabarru' juga dikelola oleh perusahaan untuk diinvestasikan ke perusahaan perusahaan yang bergerak dibidang syari'ah, sehingga bebas dari sistem bunga. Setiap tahun dana Rabarru' yang diinvestasikan ini dikembalikan kepada para peserta.

Lalu  dimana peran dan keberadaan perusahaan asuransi dan bagaimana perusahaan bisa untung?

Perusahaan asuransi pada sistem Asuransi Jiwa Syariah AIA berperan sebagai pengelola dana Rabarru’. Perusahaan akan mendapatkan “upah” dari pengelolaan dana Rabarru’ tadi, yang besarannya sudah ditentukan dan disepakati oleh seluruh peserta asuransi.

Sistem Asuransi Jiwa Syari'ah
Lebih simpelnya, bedanya asuransi konvensional dengan asuransi syariah itu, ibarat kita menyembelih dua ayam, yang satu disembelih dengan membaca basmalah dan satunya tidak membaca basmalah. Secara kasat mata kedua ayam itu sama-sama berdaging dan dagingnya bisa dimakan.

Berikut beberapa tips memilih asuransi yang sisampaikan oleh mas Frizt dalam acara Blogger & Beyond kemarin:
1. Pilihlah perusahaan asuransi yang memiliki kredibilitas dan pengalaman yang mumpuni.
2. Pilih jenis asuransi sesuai dengan kebutuhan dan budget.
3. Pahami pertanggungan atau polis atas produk asuransi yang dibeli.
4. Pahami sistem asuransi tersebut, terutama prosedur klaim untuk mendapatkan manfaat dari asuransi.

Lebih jelasnya menganai Asuransi Jiwa Syariah AIA bisa dilihat pada video berikut ini :


Terimakasih mas Frizt Ananda sudah berbagi ilmu mengenai asuransi, terutama asuransi syariah. Saya menjadi tercerahkan setelah pulang dari acara, dan tidak ragu lagi untuk mengambil langkah terbaik untuk keluarga saya, demi menuju keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, sesuai yang dicita-citakan oleh seluruh keluarga di dunia ini.