19 Mei 2016

Baper Ngadepin Delay Pesawat? Fast Traveller Aja...!!

Bandara Rahadi Oesman - Ketapang

Buat kamu pernah mengalami delay pesawat saat bepergian, tenang.... kalian berati teman senasib saya. Bulan lalu saya mengalaminya waktu perjalanan dinas ke kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Ini pengalaman saya pertama kali singgah di Kab. Ketapang dan mengalami delay pesawat. Bete, kesel, sudah pasti, malahan sempat baper nungguin kepastian jadwal pesawat penggantinya.  Tapi tenang.... buat kalian yang pernah ngalamin kejadian yang saya alami, mulai besok, nggak usah pake baper segala. Waktu diciptakan untuk dinikmati, bukan dibuat baper.... ya nggak?! Hi hi hi....

Seperti yang saya lakukan waktu kena delay di bandara Rahadi Oesman, Ketapang. Di sela nunggu waktu delay, saya memanfaatkannya untuk Fast Travelling keliling kabupaten Ketapang.  Wow! Koq bisa?? Seru nih kayaknya.

Jadi critanya, delay pesawat kan 4 jam, daripada nambah baper nungguin 4 jam di dalam bandara, mendingan saya jalan jalan saja disekitaran bandara. Begitu berada di parkiran, seorang lelaki setengah baya menghampiri saya dan menawarkan jasa ojek, namanya pak Herman. Dari situlah muncul ide untuk meng explore destinasi wisata di sekitaran bandara, semacam Fast Traveller gitu.

Cocok banget nih pak Herman datang, dan kebetulan asli pribumi, jadi sudah apal daerah Ketapang, lengkap dengan estimasi waktu tempuh nya. Tujuan destinasi utama saya adalah Pantai Tanjung Belandang, sebab selain pantai terdekat, menurut pak Herman pemandangan di pantai ini juga bagus. Setelah tanya ina inu dan deal harga, akhirnya saya nangkring di jok belakang motor nya pak Herman dan siap keliling Ketapang selama 3 jam kedepan. Tarik maaang...!!

Ini dia destinasi wisata yang saya kunjungi :

Klenteng tua Pek Kong - Ketapang

Klenteng Tua "Pek Kong" Ketapang
Lokasinya Klenteng ini dekat banget dengan bandara, hanya 5 menit perjalanan ojek. Disana saya banyak belajar, dari mulai belajar sejarah awal mula etnik Tionghoa bisa menetap di kota Ketapang, sampai dengan belajar menggali uniknya arsitektur bangunan klenteng. Di belakang tempat sembahyang, terlihat patung dewi kuan im dan dewa dewa yang familiar dan duka wara wiri di film nya Sun Go Kong. Uniknya, patung dewa dewi itu menjulang setinggi 4 meter. Saya sendiri baru pernah menemukan patung dewa dewi di klenteng setinggi itu, dan saya bilang sih ini unik.

Wisata Kuliner di Warung Kedondong 
Sebenarnya destinasi ini tidak ada di rencana saya dengan pak Herman, cuman  kebetulan waktu ke Klenteng saya sempat ngobrol dengan kokoh pemilik toko elektronik yang ada di samping klenteng, dan kebetulan juga saya belum sarapan dari pagi, dan pas nanya nanya warung makan khas Ketapang, si kokoh merekomendasikan warung Kedondong. Cocok banget kan...., itulah kelebihan seorang yang supel alias cerewet kayak saya. (tapi tetep kasih tips lebih ke pak Herman dong... paling tidak, ngajak makan bareng lah yah... he he)

Lokasi Warung Kedondong hanya 10 menit dari Klenteng Pek Kong. Beragam kuliner khas Ketapang ada disini dengan rasa yang khas banget. Trus, mengenai status ke halalannya? jangan kawatir, meskipung di Ketapang banyak etnis Tionghoa, dan arsitektur warung ini penuh dengan ornamen mirip klenteng, tapi pemilik warung ini 100% muslim, jadi jangan kawatir mengenai status ke halalannya. Lagian sebagian menu yang disajikan kebanyakan seafood, karena Ketapang kan memang terkenal dengan hasil laut nya yang melimpah.

Dari sekian banyak menu yang disajikan, saya memilih Ale Ale dan Peceri Nanas. Menurut pak Herman, kedua makanan ini sama sekali tidak bisa ditemukan selain di Ketapang. Oke deh, saya coba yah pak....!

Ale ale, Peceri Nanas, dan Tumis Kangkung Khas Ketapang

Ale ale adalah makanan dengan bahan dasar kerang yang sudah dikupas cangkangnya, di oseng seperti oseng telur puyuh, rasanya gurih dan khas banget. Lalu Peceri Nanas? itu dia makanan yang bikin saya penasaran. Jika selama ini saya mengenal nanas sebagai buah pencuci mulut, di Ketapang malah buah nanas dijadikan menu lauk bersama nasi, kebayang kan kalo Nasi dan Nanas jadian, lalu bermesraan di mulut saya? sensasi itulah yang membuat saya penasaran dan pengen mencicipinya. Ternyata saya tidak salah pilih, saya benar benar menikmati menu kedua makanan khas Ketapang itu. Saya janji, lain kali kalau saya berkunjung ke Ketapang lagi, pasti akan reunian dengan kedua menu ini. 

Jembatan Pawan II
Meski jembatan ini hanyalah jembatan penghubung kecamatan ketika saya menuju pantai Tanjung Belandang, tapi menurut saya, jembatan ini memiliki peran besar bagi kehidupan perekonomian warga Ketapang, sehingga layak masuk ke dalam list destininasi dalam misi Fast Traveller saya (jieee!). Yang saya kagumi dari jembatan ini adalah konstruksinya yang kuat dan mampu membelah sungai kapuas yang super lebar. Dari atas jembatan, saya bisa menyaksikan view berupa aliran sungai kapuas yang luasnya 5 kali ukuran sungai terbesar di Jawa yang pernah saya lihat. Kebayang kan betapa lebarnya sungai Kapuas, dan betapa panjang nya jembatan Pawan ini. Begitu tiba di Pawan, saya langsung kasih komando ke pak Herman untuk menepi, dan.... Cekrek! Cekreek!! Jadilah foto ini....
Jembatan Pawan II, saksi bisu kegiatan perekonomian warga Ketapang
 
Aliran Sungai Kapuas dibawah Jembata Pawan II

Taman Makam Pahlawan Tanjung Pura
Masih dalam perjalanan menuju Tanjung Belandang, tepatnya di Tanjung Pura, saya menemukan destinasi penting yang tak mungkin saya abaikan, destinasi ini bisa menguak sejarah dan informasi penting lainnya mengenai daerah tempat saya singgah saat itu. inilah... Taman Makam Pahlawan Tanjung Pura, Ketapang.
Taman Makam Pahlawan Tanjung Pura, Kab. Ketapang

Ya!, menurut kebanyakan orang, Taman Makam hanyalah sebuah kuburan saja, tapi bagi saya inilah salah satu tempat dimana saya bisa mengorek informasi mengenai sejarah perjuangan, dan asal usul masyarakat disana, sehingga saya bisa mengetahui adat istiadat, budaya, dan kultur masyarakat setempat, Sehingga mudah bagi saya untuk beradaptasi dengan masyarakat setempat.

Pantai Tanjung Belandang
Yey...!! setelah sejam lebih saya duduk manis diatas jok motor nya pak Herman, akhirnya saya sampai juga di destinasi utama saya, Pantai Tanjung Belandang. Sulit dipercaya, di pulau terbesar Indonesia bernama Kalimantan, ternyata saya masih bisa menemukan pantai.... Yeayy!! Destinasi ini menurut pak Herman adalah destinasi terjauh yang bisa ditempuh oleh orang orang yang bernasib seperti saya, kena Delay Pesawat, he he he...
Dan ini dia penampakan pantai Tanjung Belandang :
Pantai Tanjung Belandang – Ketapang
Saung diantara titian kayu

Tempat saya ambil foto ini adalah diatas bibir pantai Tanjung Belandang, jadi dibawah saya adalah bibir pantai Tanjung Belandang. Pantai ini memiliki ombak kecil, berpasir tebal dan dangkal, waktu saya kesana kebetulan air lautnya sedang surut. di sepanjang jembatan gantung yang terbuat dari kayu kalimantan ini, berjejer puluhan saung dengan ukuran 2x3 meter, yah cukup lah untuk ngariung ber 5 atau ber 6, sambil menikmati sejuknya kelapa muda dan semilir angin serta suasana pantai. Kebayang kan kalo kesini pas pagi hari atau sore menjelang sunset, suasananya pasti sangat romantis.

Menurut pak Herman, pantai ini ramai saat weekend dan penuh sesak saat hari raya lebaran, malahan jalanan yang tadi saya lewati, yang terlihat lengang, saat lebaran akan macet total saking banyaknya masyarakat yang berbondong bondong menuju pantai Tanjung Belandang. Keren kaan...!!

Udah gitu doang??!

Tungguu!!, saya masih ada satu kenangan lagi yang tak bisa saya lupakan saat transit di kab. Ketapang, yaitu foto dengan background yang membuat saya bangga. ini dia fotonya :

 "Kenali Negerimu, Cintai Negerimu, Mari Menjelajah Nusantara"


Abaikan gaya saya, dan fokuslah pada tulisan yang ada pada papan di belakang saya. Baca, renungi dan hayati, dijamin kamu pasti bangga menjadi bagian dari tanah air Indonesia. Saya menemukan kata kata indah yang bisa membuncahkan gejolak di dada ini saat melintas di gapura Tanjung Belandang, dan saat itu juga saya minta pak Herman untuk berhenti dan mengambil gambar ini. Cekreek..!!

Saking terpesona nya saya dengan keindahan pantai Tanjung Belandang, membuat saya lupa waktu. ditengah menikmati suasana pantai dan kekaguman saya dengan potensi wisata kab. Ketapang, tiba tiba pak Herman menghampiri saya dan mengingatkan saya untuk segera kembali ke bandara, karena takut ketinggalan pesawat.

Berat rasanya saya meninggalkan pantai indah ini. Tapi apa boleh buat, saya harus kembali bertugas menyelesaikan pekerjaan saya dinas luar kota di Kalimantan, kalo enggak, bisa bisa tiket pesawatnya hangus. 

Ini dia pahlawan anti Baper saya, Pak Herman.
Kalo pengen keliling Ketapang, call aja pak Herman 08524560 0339

Perjalanan kembali ke bandara dirasa lebih cepat dibanding saat berangkat, sebab pak Herman langsung mengambil jalan pintas, itulah kenapa saya memilih menggunakan sarana Ojek untuk misi Fast Traveller ini. Saya menganggap perjalanan singkat ini adalah bonus buat saya dari kantor, sebab tanpa ada dinas luar, mungkin perjalanan ini tidak akan menjadi kesan dan cerita indah hidup saya. Saya senang bisa mengenal kab. Ketapang dari sisi panorama wisata nya yang memukau dan sangat potensial untuk dikembangkan.

Selamat tinggal Kabupaten Ketapang, semoga saya diberi umur panjang dan ditugaskan lagi ke sana. Aamiin...